Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel IPAR ADALAH BIRAHI

IPAR ADALAH BIRAHI

Kisah ini merupakan sebuah narasi dewasa yang dirancang khusus bagi para pembaca dengan ketahanan mental yang kuat. Alur ceritanya mengeksplorasi dinamika hubungan yang kompleks dan provokatif dalam konteks modern. Dengan tema yang sangat sensitif, pembaca akan dihadapkan pada situasi emosional yang intens dan menantang. Pastikan Anda sudah cukup dewasa dan siap secara psikologis sebelum menyelami lika-liku kehidupan yang penuh gejolak di dalam novel ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi harinya, Elisa bangun dengan perasaan lega. Dia meregangkan tubuhnya dan menghela napas sejenak sebelum turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Elisa lalu pergi menuju ke dapur, dilihatnya Ronald sudah berpakaian lengkap, siap untuk pergi ke kantornya juga Ravatar sudah siap berangkat sekolah. Sementara Jeany sedang bersama Yati, sang baby sitter.

Tak lama kemudian Revatar dianterin sama sopir ke sekolahnya, sementara Ronald sedang duduk di meja makan sambil membaca koran pagi, menyeruput secangkir kopi hangat dan sesekali membuka ponselnya. Elisa lalu duduk di hadapan Ronald. Sesaat hawa dingin yang terasa cukup menekan karena mereka berdua saling terdiam tanpa bicara sebelum akhirnya Ronald mulai angkat bicara.

“El, bagaimana keputusan kamu soal pernikahan aku dan Evelyn?” tanya Ronald langsung pada pokok permasalahan.

Begitu mendengar pertanyaan Ronald, segera darah Elisa kembali naik ke ubun-ubun melihat bagaimana suaminya itu sangat tergila-gila pada Evelyn. Elisa nyaris mengamuk kembali, namun dia teringat nasihat kakaknya semalam. Elisa pun berusaha menjaga emosinya dan bersikap seolah dia pasrah dengan pernikahan suaminya itu. Bagaimanapun agar rencananya berhasil, bisa membalaskan dendam pada Evelyn bahkan sebelum dia resmi dinikahi suaminya.

“Sudahlah Mas, kalau itu memang keinginanmu dan tak bisa dirubah lagi, aku sebagai istri hanya bisa pasrah dan mengikuti semuanya,” tutur Elisa dengan nada lirih yang dibuat-buat.

Ronald langsung tersenyum sumringah begitu mendengar perkataan Elisa itu. Walau dalam hatinya ada sedikit kebingungan dengan sikap Elisa yang berubah drastis dibandingkan tadi malam.

“Kamu sudah yakin, El?” tanya Ronald sedikit keheranan.

“Iya Mas. Kemarin aku sudah bicara dan dinasehati oleh Kak Erna. Memang sebagai istri, aku harus membuat suamiku bahagia. Karena aku mau dirimu bahagia, aku rela kalau kamu mau memperistri Evelyn. Lagi pula perkataan Mas Ronald kemarin memang benar, Evelyn bukan orang asing bagi kita, aku kenal baik dengan Evelyn, makanya aku setuju,” kilah Elisa.

“El, aku benar-benar bahagia, akhirnya kamu mau mengerti juga perasaan suamimu ini.” Ronald tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya lagi.

“Tapi Mas Ronald harus berjanji kalau kamu bisa membagi kasih sayang dengan kami secara adil dan berimbang. Terus, jangan lupakan juga anak-anak kita. Mereka tidak boleh menjadi korban akibat pernikahan yang kedua papanya.” Elisa menunduk, berpura-pura sedih dan pasrah.

“Iya, pasti! Kamu kan juga istriku, El? Bagaimana mungkin aku melupakan kamu? Terlebih lagi dengan anak-anak kita. Kamu, Evelyn, Ravatar dan Jeany tidak mungkin aku lupakan!” ujar Ronald.

Elisa merasa lega. Setidaknya Ronald dapat masuk dalam perangkap lebih mudah dari yang dibayangkannya tadi malam. Sekarang Elisa hanya perlu mengatur agar dia benar-benar ikut terlibat dalam acara pernikahan suaminya dengan calon madunya itu.

“Mas Ronald, kalau boleh, aku juga mau ikut membantu acara pernikahan kalian nanti,” ucap Elisa.

“Boleh saja. Tapi kenapa kamu juga mau ikut membantu? Sebenarnya kita sudah merencanakan kalau kamu tidak perlu ikut. Kata Evelyn tidak enak kalau kamu ikut repot, makanya dia mau berusaha sendiri,” ucap Ronald agak penasaran.

“Sudah tenang saja, Mas. Bagaimana pun Evelyn itu adik angkatku, Mas tahu sendiri kalau aku hampir menganggap Evelyn sebagai adik kandungk. Tentu saja aku dan seluruh keluarga besar harus ikut membantu kalian,” dalih Elisa.

“Kamu tidak repot nantinya?” tanya Ronald lagi, dan Elisa hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Ronald dan tersenyum.

“Syukurlah, El. Aku benar-benar senang punya istri yang pengertian seperti kamu,” puji Ronald.

“Iya, Mas,” jawab Elsa samnbil menunduk.

“Ya, mungkin kamu nanti bisa membantu Evelyn untuk mempersiapkan dirinya. Kamu kan sudah pernah menikah, mungkin bisa mengajari Evelyn atau membantunya mempersiapkan dirinya.” Wajah Ronald pun semakin semringah.

“Iya Mas, nanti aku juga akan datang menemui Evelyn di rumahnya, dan bicara baik-baik, aku harap sih dianter sama Mas Ronald.” Elisa kembali menatap wajah suaminya.

“Oh iya, tapi sepertinya minggu-minggu ini tidak bisa. Soalnya Pak Antoni, sedang cuti. Aku harus menyelesaikan tugas-tugasku, juga tugas-tugas Pak Anton selama cuti, kurang lebih dua minggu dia akan berada di Singapore, dan jadwal kerja aku pun pastinya berubah, lebih banyak ke luar kota,” jelas Ronald.

“Iya gak apa-apa, Mas. Nanti aja kalau Mas Ronald sudah ada waktu, soalnya memang ini harus kita bicarakan serius enam mata, sebelum hari H pernikahan kalian tiba.”

“Terima kasih, Sayang, atas pengertiannya,” balas Ronald dengan ceria. Dalam hati Elisa jauh lebih ceria dari Ronald.

Sekarang sebagian besar kendali berada di tangan Elisa. Dia tertawa-tawa dalam hati melihat bagaimana gampangnya rencananya berjalan, dan bagaimana semesta seolah mendukungnya. Elisa kembali merasa sebagai ratu drama seperti yang dulu-dulu lagi.

Ronald pun segera berangkat ke kantor, sebelumnya akan mengantarkan Ravatar dulu ke sekolah. Sementara Elisa langsung memberikan perintah kepada Yati untuk mengajak Jeanny keluar atau main ke rumahnya Evelyn. Nanti siang Yati diminta menjemput Ravatar dan membawanya ke rumah Evelyna juga. Elisa sangat yakin jika suaminya bukan sibuk dengan pekerjaannya, tapi ingin bersenang-senang di rumah Evelyn.

‘Silahkan kamu bersenang-senang dulu Anak Panti Sialan! Sebelum hidupmu benar-benar hancur berkeping-keping,’ geram Elisa menahan amarah dan cemburunya.

[Hallo Lis, udah bangun?] sebuah pesan dari Erna, masuk ke nomor Elisa.

[Sudah kak, boleh aku nelpon? Kakak tidak sibuk kan?] balas Elisa.

[Ini lagi meeting, tapi kalau chat masih bisa. Gimana udah bicara belum sama si Ronadl?] Erna selalu sinis pada Ronald, adik iparnya itu, karena pernah ada iniden yang kurang mengenakan di masa lalunya.

[Beres. Semua lancar tanpa ada halangan] Elisa membalas dengan ditambah emotion senyum bahagia.

[Good, Kakak juga sudah ngehubungi Bram, yang akan jadi relawan itu, mungkin nanti siang dia akan menghubungi kamu. Sebaiknya jangan bertemu di rumah. Silakan kalian atur saja janjian di luar. Ingat ya, El, ini harus benar-benar matang perencanaannya, jangan sampai carut marut seperti kasusnya Vina Cirebon, karena yang mengatur skenarionya kurang cerdas.]

[Iya Kak, nanti Bram suruh aja menghubungi aku dulu.]

[Sudah dulu ya, El. Kakak mau presentasi dulu, jangan dibalas]

Hari yang sangat cerah dengan udara yang sangat sejuk. Elisa memanfaatkan keberpihakkan alam dengan berkebun. Merawat aneka tanaman bunga kesayangannya yang sebagian daun dan tangkainya mulai menua dan kuning.

“Selamat pagi,” Elisa menjawab panggilan masuk dari nomor tak dikenal, dia menduga itu nomor seseorang yang akan menjadi sukarelawannya.

“Selamat pagi. Benar ini dengan adiknya Tante Erna?” jawab orang di seberang telpon.

“Benar Bang, saya Elisa. Ini betul Bang Bram?” tanya Elsia antusias.

“Salam kenal dengan saya, Bram. Saya menapat info dari Tante Erna kalau Tante Elisa sedang butuh jasa saya. kira-kira seperti apa ya pekerjaannya?” tanya lelaki yang mengaku Bram itu penasaran.

“Oh, Kak Erna belum menjelaskan ya?” Elisa balik bertanya.

“Belum.” Bram menjawab singkat.

“Oke kalau begitu kita harus bertemu. Kapan Bang Bram bisa ke Bogor?”

“Bagaimana kalau besok atau lusa, soalnya hari ini saya masih di Semarang.”

“Boleh Bang. Nanti kasih kabar lagi aja kalau sudah siap bertemu. Saya juga banyak waktu kok.”

“Siap. Terima kasih, Tante. Selamat siang!”

“Selamat siang, sampai jumpa nanti ya, Bang Bram.”

Elisa kembali tersenyum, hatinya berbunga-bunga. Ternyata semesta benar-benar mendukung segala renacanya. Dia pun lantas melanjutkan aktivitas berkebunnya dengan senang hati.

[Lis, hari ini aku mendadak harus dinas ke Bandung, mungkin agak lama, sekitar lima hari atau seminggu] Tak lama kemudian masuk juga pesan ke ponsel Elisa dari suaminya.

[Iya Mas, hati-hati ya. Kalau ada waktu coba sekalian ketemu sama Kak Erna] balas Elisa sambil tersenyum. Erna tinggal di Bandung.

[Iya gimana nanti aja. Kalau kamu sibuk atau banyak kegiatan di luar, sebaiknya Ravatar dan Jeany dititipkan aja di rumah Evelyn. Dia bilang mau libur, kebetulan cuti dia belum diambil dalam setahun terkahir. Katanya sih mau jalan-jalan juga, biar aja mereka liburan bareng, kalau perlu sekalian aja sama Bi Yati]

[Iya Mas, gampang itu, nanti aku atur sama Evelyn. Jangan lupa ya, kalau ketemu Kak Erna, sampaikan salam, kalau dia ada waktu, ajak sekalian ke sini, Mas. Aku udah lama juga gak ketemu dia.]

[Kak Erna kan orang sibuk. Mana bisa main ke sini. Nanti aja kamu main ke Bandung kalau sudah ada waktu.]

Hati Elisa makin berbunga-bunga, ini kesempatan emas yang tak pernah diduga-duga sebelumnya. Suaminya akan berdinas cukup lama, sehingga bisa lebih matang merencanakan segalanya.

‘Inilah kalau istri solehah yang dizolimi, membuat perhitungan. Semuanya serba dimudahkan, hehehe,’ batin Elisa penuh kebanggaan.

^*^

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HTR" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HTR
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Mengunci Keluarga Suamiku
9.0
Saat perayaan ulang tahun pernikahan, aku menemukan catatan kehamilan di ponsel lama suamiku, James Vance. Isinya penuh cinta untuk seorang janin, padahal aku tidak pernah mengandung. James berdalih itu milik sahabatnya, namun aku menemukan foto USG atas nama Amelia Harper di folder terhapus. Sambil memendam amarah atas pengkhianatan ini, aku tersenyum getir dan segera menghubungi ibu mertuaku, Margaret. Rahasia gelap keluarga mereka kini mulai terkuak.
Sampul Novel Di Sudut Memori
8.6
Citra terjebak dalam kepedihan mendalam setelah Dwiyan pergi meninggalkan luka yang membekas di ingatannya. Di tengah duka itu, ia harus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Kehadiran Panggih kemudian membawa secercah harapan dan mulai menyembuhkan trauma masa lalunya. Kini, Citra dihadapkan pada pilihan sulit: bangkit demi kebahagiaan baru bersama Panggih atau selamanya terbelenggu oleh bayang-bayang kenangan pahit yang tak kunjung sirna.
Sampul Novel Godaan Bini Orang
8.7
Masa lalu kelam Rhido kini membayangi pernikahan bahagianya dengan Lisda. Saat Lisda hamil, gangguan mistis misterius membuatnya kesakitan tiap kali berhubungan intim. Rhido yang berusaha setia terpaksa menahan diri hingga tugas kerja membawanya ke pedalaman Jawa dan Kalimantan. Di sana, godaan nafsu terus menguji imannya. Mampukah sang mantan bajingan ini menjaga kesetiaan, ataukah teror gaib masa lalunya akan menghancurkan nasib istri dan bayinya?
Sampul Novel Kemauan Dalam Hatiku
9.2
Caiden Fowler hanya memiliki sisa waktu tujuh hari untuk hidup. Di ambang kematian, ia justru meminta Alexandra Clayton menandatangani surat cerai demi mengejar cinta sejatinya, Leyla. Caiden memilih meninggalkan istri dan anaknya tanpa ragu demi keinginan pribadinya. Namun, setelah pengkhianatan itu, kini ia justru bersimpuh penuh air mata memohon maaf. Bisakah Alexandra memaafkan pria yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka demi wanita lain?
Sampul Novel Obsesi Sang Pewaris
8.3
Pasca lulus sekolah, Ambar Tri Handayani hanya ingin fokus kuliah dan bekerja. Namun, ancaman keselamatan memaksanya menikahi Diraja Sakala Sudibyo, pengusaha gila kerja di Sudibyo Corporation. Diraja sendiri terpaksa menerima perjodohan ini demi mempertahankan posisinya setelah diancam oleh sang ayah. Meski awalnya hanya sebuah kontrak dingin demi ambisi masing-masing, takdir mulai mengacaukan rencana hidup yang telah mereka susun dengan rapi.
Sampul Novel Pasienku adalah Istri Mantan
7.9
Dunia Adelia Nareswari mendadak terguncang saat menyadari pasien yang ia tangani ternyata istri dari mantan kekasihnya. Penampilan dan karakter Adelia yang kini jauh berbeda justru memicu kembali percikan asmara di hati sang mantan. Namun, situasi menjadi kian pelik karena saat ini ada Dokter Andi yang sedang berusaha mendekati Adelia secara serius. Terjebak di antara kenangan masa lalu dan harapan baru, siapakah yang akhirnya akan Adelia pilih?