
Intuition
Bab 2
Hanna memegang pelipisnya yang masih sedikit perih, dan merasakan sesuatu menempel disana. Dipaksakan nya untuk membuka mata, yang masih terasa berat. Bau obat-obatan menyengat menusuk indra penciuman.
“Ugh!” Hanna mencoba untuk bangkit, satu tangannya memegangi kepalanya yang sakit saat digerakkan.
“Hei, kau sudah sadar! Tenanglah! Jangan banyak bergerak dulu, aku akan memanggilkan dokter untukmu.” Seorang wanita muda menghentikan gerakan Hanna, dia membantu Hanna kembali berbaring di atas tempat tidur.
“Dimana aku?” tanya Hanna. Matanya menyapu ke seluruh ruangan, dan menyadari kalau dirinya sedang berada di sebuah ruang perawatan. Mungkin, ini Rumah Sakit, fikirnya.
“Kau berada di Rumah Sakit. Tenanglah!” wanita muda yang ternyata seorang perawat itu, menjawab pertanyaan Hanna, agar gadis itu tenang. Hanna mengangguk, dan kembali memejamkan mata. Sementara wanita muda tadi, keluar dari ruangan itu, setelah memberikan suntikan pada Hanna.
***
10 jam yang lalu
Ngiiingg ...
Suara sirene polisi terdengar dari kejauhan. Pria bertopeng yang telah berhasil mendobrak pintu, kamar tidur orang tua Hanna, merasa panik dan bingung mau melakukan apa pada gadis itu. Dipandanginya tubuh Hanna, dan sebuah ide pun muncul di kepalanya.
Pria itu menyeret tubuh Hanna dengan cepat ke ruang tengah rumah itu, dimana tergeletak tubuh William dan Stephanie yang sudah tak bernyawa. Di letakkannya tubuh Hanna agak jauh dari kedua orang tuanya, lalu mengambil samurai yang tadi dipakai nya menghabisi nyawa William dan Stephanie, dan meletakkannya di dalam ganggaman Hanna yang sedang tak sadarkan diri.
Kemudian pria itu membersihkan semua jejak dirinya dari rumah itu. Termasuk sidik jari dan jejak sepatu. Merasa yakin sudah tidak meninggalkan jejak apapun, pria itu keluar lewat pintu belakang, tepat saat mobil patroli polisi berhenti di depan rumah.
“Halo tuan William! Apakah anda di dalam?” seorang petugas patroli masuk ke pekarangan dan memanggil pemilik rumah. Tak ada jawaban.
“Kami mendapat pengaduan telepon, dari rumah ini, apakah terjadi sesuatu? Halo? Kami akan memaksa masuk jika anda tidak menjawab!” petugas tadi, dan seorang temannya berdiri di depan pintu, bersiap dengan pistol di tangan.
Karena tak ada jawaban, mereka pun mendobrak pintu dan masuk ke dalam rumah. Kedua petugas itu terkejut melihat tiga orang tergeletak di ruang tengah rumah itu dalam keadaan mengenaskan.
“Hubungi pusat! Ada korban!” salah satu petugas memerintahkan temannya. Lima belas menit kemudian, polisi dan ambulance sampai dan menutup TKP untuk umum.
Hanna pun, langsung di bawa ke Rumah Sakit. Sementara petugas mengamankan barang bukti, dan tempat kejadian perkara.
Seorang pria memakai setelan hitam, datang dan langsung meminta laporan sementara kasus pembunuhan yang baru saja terjadi.
“Dua orang tewas, pasangan pengusaha kaya, Tuan William Ansley, dan istrinya seorang model papan atas Stephanie Jhonson. Di duga penyebab kematian mereka karena luka tusukan, menggunakan benda tajam, dan kehabisan darah.” Seorang petugas berseragam lengkap, menyerahkan laporan tertulis, kepada pria bersetelan hitam tadi, yang menerimanya tanpa mengalihkan pandangan dari samurai yang berlumuran darah, di dalam sebuah kantong plastik transparan.
“Pelaku sudah dapat di identifikasi?” pria tadi bertanya dengan pandangan masih pada tempat yang sama. Samurai.
“Tidak ada sidik jari lain, kecuali sidik jari ketiga orang korban, Pak!”
“Apa maksudmu? Bagaimana dengan samurai itu? Apa tidak ada sidik jari disana?” kening pria itu sedikit berkerut, mendengar penjelasan anak buahnya.
“Hanya ada sidik jari tuan William dan putrinya pada samurai itu, dan anehnya, samurai itu berada dalam genggaman putrinya.”
“Itu tidak masuk akal. Cari semua bukti sampai dapat. Saya mau laporannya, secepatnya!” petugas berpakaian lengkap itu, mengangguk dan menerima kembali laporan yang di sodorkan pria bersetelan hitam padanya.
“Mr. Smith! Anda mau kemana? Seluruh area sudah kami tutup, anda tidak boleh masuk kesana.” Pria bernama Mr. Smith itu mendengkus kesal, dan mengabaikan petugas forensik yang tadi mencoba menghentikannya.
“Anda tidak bisa mengacaukan pekerjaan kami!”
“Aku tidak butuh izinmu! Ini kasusku!”
Petugas forensik itu mencebik kesal dan berlalu pergi, meninggalkan Smith disana. Pria berusia sekitar 30-an itu berjalan-jalan di sekitar rumah, memperhatikan tiap benda, dan apapun yang menarik perhatiannya. Dia juga masuk ke kamar tidur William, memeriksa kamar itu dengan matanya, tanpa memegang apapun. Hanya memperhatikan! Tapi dia tidak menemukan apapun. Tempat itu bersih!
Ck! Dia berdecak. Raut wajah nya terlihat kesal. Aku punya firasat, kasus ini akan berakhir tidak bagus. Tapi saat dirinya memasuki ruangan kerja William, tanpa sengaja dia menemukan sebuah kancing, di sudut pintu sebelah dalam. Diambilnya menggunakan saputangan, dan segera memasukkannya ke dalam kantong. Setelah puas berkeliling, dan memeriksa, pria itu pergi dari TKP tanpa memberitahukan penemuannya.
***
Di Rumah Sakit
“Bagaimana perasaanmu, nona kecil?” sapa sang dokter pada Hanna, yang sudah bangun dari tidurnya. Gadis kecil itu, berusaha memaksakan senyum, menghormati keramahan dokter tadi.
“Anak pintar! Oh, iya! Kenalkan, saya Dokter David.” Dokter itu mengulurkan tangan, dan disambut Hanna dengan sedikit ragu. Gadis itu kelihatan takut.
“Kenapa?” tanya sang dokter, mengulurkan tangan hendak menenangkan Hanna. Tapi gadis kecil itu malah histeris, dan berteriak ketakutan. Perawat cepat-cepat menyuntikkan obat penenang pada selang infusnya, hingga membuat gadis itu tertidur kembali.
Dr. David menggeleng pelan, seraya menghela nafas. “Saya rasa anak itu mengalami trauma,” ucapnya sedih. Dr. David merasa prihatin atas kejadian tragis yang menimpa Hanna.
“Siapapun, pasti akan trauma, Dok! Apalagi anak sekecil Hanna.” Suster yang menemani Hanna, pun turut merasakan kesedihan yang dirasakan sang Dokter.
Kedua orang itu, keluar dari kamar Hanna, dan bertemu dengan Mr. Smith di depan pintu. “Bagaimana keadaan anak itu, Dok?” tanya Smith.
“Saya rasa anak itu mengalami trauma. Dia terlihat sangat ketakutan saat aku mencoba untuk mendekatinya.” Dr. David memberikan penjelasan.
“Separah apa, trauma yang dialaminya?”
“Untuk saat ini, hanya trauma psikplogis biasa. Belum ada tanda-tanda lainnya. Kita tunggu saja perkembangannya. Saya berharap dia bisa melewati semua ini.”
“Sebaiknya, begitu! Karena jika tidak, maka anak itu bisa di dakwa telah membunuh kedua orang tuanya dengan sadis.”
“What the .., kau serius? Anak sekecil itu! Oh come on! Kalian membuat aku muak!” Dr. David mempercepat langkah, meninggalkan Smith yang menurutnya, sangat memuakkan.
Bagaimana bisa dia mengatakan anak sekecil itu membunuh kedua orang tuanya? Apa mereka para polisi sudah gila?
“Tunggu! Saya belum selesai, Dok!" Smith mengejar langkah David, hingga kini mereka kembali bersisian dan masuk ke ruangan sang dokter.
“Saya datang kesini, untuk meminta bantuanmu!” Kening dokter itu berkerut, mencoba menebak arah pembicaraan lawan bicaranya.
“Katakan!” ujarnya, bersedekap.
“Sembuhkan anak itu secepatnya, agar dia bisa bersaksi di pengadilan. Jika dia tidak sembuh sampai sidang di gelar, maka bantulah dia dengan membuat catatan kesehatan palsu untuknya.”
“Apa maksudmu?”
“Jika kau tidak bisa menyembuhkannya, tepat waktu, buatlah seolah-olah dia mengalami gangguan mental, dan harus mendapatkan terapi. Hanya dengan cara itu, dia tidak di jebloskan ke penjara federal.”
“Kau gila!”
“Ini memang terdengar gila. Tapi asal kau tahu, aku juga percaya dan simpati pada anak itu. Ini hanya untuk berjaga-jaga. Kurasa kasus ini akan berakhir tidak baik. Jadi tak ada salahnya, membuat rencana.”
Dr. David tampak berfikir, dia mondar-mandir di depan meja kerjanya. Sementara Smith menunggunya dengan tidak sabar.
“Kau harus berjanji, membantu anak itu!” Smith mengulangi permintaannya. Melihat kesungguhan dimata, Smith, akhirnya Dr. David pun berjanji untuk melakukan apa yang diminta oleh Smith.
Anda Mungkin Juga Suka





