Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel IMPERFECT BOSS

IMPERFECT BOSS

Kehidupan Elgar sebagai bos sempurna hanyalah topeng belaka. Kedamaiannya terusik sejak Lea, karyawannya sendiri, mengetahui rahasia kelam yang ia sembunyikan rapat-rapat. Takut reputasinya hancur, Elgar melakukan segala cara demi membungkam gadis itu. Namun, tekanan yang ia berikan justru memicu rasa bersalah karena telah menindas sosok yang lemah. Seiring berjalannya waktu, kebencian Elgar luluh dan benih cinta mulai tumbuh mekar di hatinya yang dingin.
Bab
Bagikan

Bab 1

Seorang perempuan yang sedang berjalan terburu-buru dengan tampilan baju yang tampak acak-acakan itu sudah menyusuri pelataran kantor tempatnya bekerja. Langkahnya terus berpacu cepat dengan berlari tunggang langgang saat melihat arloji yang melingkar di pergelangan kirinya sudah menunjukkan pukul enam lebih lima puluh lima menit, yang mana itu artinya ia hampir terlambat untuk datang di hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan besar ternama di kota yang ia tinggali sejak dua bulan yang lalu. Bisa-bisa ia akan terkena masalah jika hal itu terjadi.

Derajat hidupnya seakan berubah saat tahu jika ia resmi diangkat sebagai karyawan baru di sana. Meskipun berperan sebagai karyawan biasa, wanita yang akrab disapa dengan panggilan Lea itu sudah sangat beruntung dan juga bersyukur. Lantaran masuk dan diterima sebagai karyawan resmi di perusahaan itu sangatlah susah dan juga ketat dengan seleksi.

"Permisi permisi."

Ia sampai menyerobot beberapa orang di depan yang menurut perempuan itu sudah menghalangi jalannya. Tanpa sengaja Lea menabrak seseorang hingga membuat dirinya terjatuh sebab kalah fisik. Tak bisa menyalahkan siapapun, karena gadis itu sendirilah yang melakukan kecerobohan.

Bugh!

"Aduh."

Ia terhuyung ke belakang hingga jatuh dan terduduk di lantai dengan cukup keras. Rasanya seperti menabrak sebuah tembok besar dan juga keras. Tentu saja itu terasa sangat menyakitkan bagi dahi yang tak sengaja menubruk objek keras tersebut hingga pantatnya yang menjadi korban benturan dengan lantai pelataran kantor.

"Kamu kalau jalan hati-hati dong! Apa kamu tidak tahu diri sampai berani menabrak-"

Ucapan seorang perempuan bertubuh langsing dan juga semampai itu langsung terpotong saat seorang pria di sampingnya menahan dengan isyarat tangannya agar bisa berhenti. Bahkan ia tak lagi berani membantah walaupun hal itu untuk membelanya. Selain diam dan menundukkan kepala, tak ada lagi yang perlu dilakukan olehnya saat ini.

"Ma-maaf, saya tidak sengaja. Karena saya sedang buru-buru," ucap Lea dengan menundukkan kepala dan berusaha bangkit dari posisi duduknya.

Namun ucapan maaf itu tidak ditanggapi serius oleh seorang korban yang ditabrak olehnya tadi. Justru ia malah menarik name tag atau id card miliknya yang menggantung di leher itu lantas membaca nama yang tertera di sana. Hingga membuat Lea sampai terbelalak dan semakin merasa deg-degan.

"Aleanora Fidelya," ucap pria itu untuk melafalkan nama Lea dari kartu pengenalnya.

Perlahan Lea mengangkat pandangannya untuk melihat seseorang yang ada di depannya saat ini. Tatapan tajam bak elang dan rahang yang tercetak sempurna membuat kesan tegas wibawanya terpancar. Walaupun ia tak mengenalnya, Lea rasa pria itu adalah seniornya di sini.

"Saya tandain kau, jika lain kali saya tahu kau mengulangi hal yang sama, maka jangan harap posisimu akan baik-baik saja di sini. Karena saya tidak suka dengan orang ceroboh," lanjutnya dengan nada sarkas dan juga tatapan yang tajam.

Lea pun menelan salivanya dengan susah payah. Jantungnya yang semula berdebar cepat, kini semakin berpacu tak keruan. Tatapan mata bak elang yang ia lihat itu seakan sudah menusuk jiwanya dengan kecepatan kilat. Ia mengerjap sekali sebelum akhirnya berdeham pelan sebelum menimpali ucapannya.

"Maaf, Pak. Bapak tidak bisa memecat saya dengan sepihak tanpa alasan yang jelas terlebih dahulu, lagipula bapak ini siapa? Kenapa bapak bisa mengancam saya seperti itu?" jawab sekaligus tanya Lea dengan enteng.

Sontak saja jawaban dari perempuan itu sudah mengundang banyak sorotan mata dan juga perhatian dari banyak orang di sana. Para karyawan yang lain sampai terperangah karena mendengar penuturan Lea barusan. Antara sengaja atau tidak, hal tersebut tetap tak seharusnya untuk dikatakan karena dianggap tidak sopan.

"Bukankah alasan yang saya ucapkan barusan kurang jelas bagimu? Saya tidak suka dengan orang yang ceroboh!" jawab pria itu yang tak kalah enteng.

"Berani beraninya kamu berbicara kasar dan menentang boss?" imbuh perempuan yang ada di sampingnya sejak tadi.

Ucapan dari seorang perempuan bertubuh semampai tadi berhasil membuat Lea langsung bungkam suara. Nyalinya semakin ciut hingga refleks memundurkan langkah sedikit menjarak. Situasinya benar-benar rumit hingga membuat sang empu mati gaya.

"B-boss?" ulang Lea pelan seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

"Sudah cukup. Waktu saya sudah terbuang tiga menit dengan sia-sia hanya untuk meladeni seorang karyawan seperti dia," potong pria itu setelah melihat arloji di pergelangan tangan kirinya lantas membenarkan jasnya dan pergi berlalu meninggalkan Lea begitu saja.

Tanpa membalas atau mengatakan apapun lagi, seorang perempuan yang sejak tadi berada di sisi pria tersebut sudah melenggang pergi menyusulnya. Sedangkan Lea sendiri masih kerepotan untuk mengatur laju pernapasannya dengan baik. Belum lagi ia juga harus terburu-buru melanjutkan langkahnya meski dengan jantung yang masih berpacu cepat akibat insiden yang baru saja terjadi.

Boss?

Kata itu terus terngiang dalam pikirannya. Bagaimana bisa ia tidak mengenali atasannya sendiri di perusahaan itu? Bisa bahaya jika setelah ini ia tidak segera meminta maaf dan mengakui kesalahannya pada pria yang disebut dengan boss oleh perempuan yang menyebalkan tadi.

"Leaa!"

Seruan dari seseorang yang posisinya tak jauh darinya sudah membuat Lea tersadar dari lamunannya dan berhenti untuk melangkah lagi.

"Hera."

"Kamu kenapa ceroboh banget sih. Kamu tahu kan, barusan berurusan sama siapa?" cerocos Hera dengan napas yang memburu akibat berlarian kecil tadinya.

Lea pun mengangguk dengan takut juga wajah yang memelas. Sedangkan Hera sampai berdecak dengan meraup wajahnya frustasi. Mereka berdua benar-benar terancam terkena masalah.

"Terus aku harus gimana, Ra? Aku nggak tahu kalau dia itu boss di sini," ungkapnya tampak sangat menyesal atas kejadian yang baru saja menimpanya.

"Kamu sih udah dibilang harus hati-hati kalau mau kerja di sini. Mau itu boss atau nggak, jaga ucapan dan juga perilaku jika masih ingin posisi kita aman."

"Kalau udah begini, mau nggak mau kamu harus minta maaf sama Pak Elgar. Paling nggak rubah sikap ceroboh dan suka telatmu ini dengan yang lebih baik. Karena Pak Elgar paling nggak suka sama orang yang menyimpang," lanjut Hera yang masih bisa didengar dengan baik oleh Lea.

"Menyimpang? Maksudnya gimana sih, Ra?"

"Ya pokoknya menyimpang dari ketetapan atau aturan beliau di sini, Leak!" pungkas Hera lagi dengan menambahkan panggilan kesayangannya untuk Lea.

"Iya deh iya. Nanti aku bakal minta maaf sama dia."

"Beliau. Bukan dia," bisik Hera sangat lirih sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar, takut-takut jika ada seseorang yang juga bisa mendengar ucapan Lea tadi.

Sedangkan Lea sudah menghela napas dengan berat, pikiran serta hatinya benar-benar sedang berkecamuk sekarang. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Akankah dengan meminta maaf bisa mengembalikan suasana hati pria yang sangat menyebalkan baginya itu?

"Ya udah ayo cepetan! Malah ngelamun. Kerjaa!"

"Eh tunggu, Ra."

"Ada apa lagi sih, Leak?"

"Bukannya boss perusahaan ini kemarin udah tua ya-"

"Sstt, suka sembarangan banget sih kalau ngomong!" Hera sampai langsung membungkan mulut Lea dengan tangan kanannya.

"Iya, maaf. Tapi itu maksud aku kenapa sekarang bossnya jadi beda? Aku nggak salah lihat kan? Jelas-jelas usia pria tadi sama pria yang aku lihat kemarin saat pulang interview sangat berbeda jauh."

Nyatanya rasa bingung sekaligus penasaran dari Lea itu masih bersarang dalam benaknya. Tentu insiden perlawanannya tadi bukan karena disengaja. Karena pada dasarnya boss yang ia kenal bukanlah pria muda seperti yang ia jumpai tadi.

"Yang kamu lihat kemarin adalah boss besar, sedangkan pria yang kamu kacaukan barusan adalah boss muda. Alias putra boss besar, yang jelas-jelas akan menjadi pemimpin sekaligus pemilik berikutnya bagi perusahaan ini," jelas Hera.

"Mati aku!" gumam Lea dengan wajah memerah.

"Jangan mati dulu, selesaikan dan perbaiki dulu reputasimu sebelum posisimu dan posisiku terancam!"

"Kenapa kamu juga harus terlibat? Di sini hanya aku yang terkena masalah."

"Karena aku yang sudah merekomendasikan dan membawamu datang ke perusahaan ini sebagai seorang calon karyawan yang kompeten, Leak! Kamu lupa?"

Setelah ini Lea akan melewati hari-harinya yang panjang dan juga menyedihkan karena sebentar lagi harus berurusan dengan atasannya untuk meminta maaf. Mungkin pria tersebut tidak menginginkan perminta maafan darinya, namun Lea harus tetap melakukan itu guna memperbaiki reputasi dan mempertahankan posisinya karena sudah tidak sengaja membuat atasannya kesal dengan insiden tadi. Ibarat kata sudah terjatuh, Lea tak akan membiarkan tertimpa tangga setelahnya.

"Pak Elgar?" gumam Lea sembari mengingat nama pria yang ditabraknya tadi dari sebutan Hera beberapa menit lalu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich
8.9
Hans merupakan pewaris takhta keluarga Adalrich yang tampak sempurna, namun ia menyimpan rahasia besar mengenai trauma psikologisnya terhadap wanita. Demi menutupi rasa jijik yang ia derita, Hans selalu bersikap angkuh dan dingin. Segalanya berubah saat ia bertemu Sashenka, putri dari rival bisnis bebuyutannya. Kehadiran gadis itu justru membangkitkan gairah yang selama ini mati. Kini, Hans harus berjuang menaklukkan hatinya di tengah perseteruan keluarga.
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Cintaku Padam Bersama Kobaran Api
7.9
Setelah dikhianati Darryl yang menikahi wanita lain, Ariel menerima perjodohan dengan pewaris konglomerat bernama Vincent. Tujuh tahun pernikahan yang penuh limpahan kasih sayang ternyata palsu. Ariel tidak sengaja mendengar Vincent mengaku hanya menjadikannya tameng demi melindungi cinta sejatinya, seorang aktris bernama Avril. Menemukan ratusan foto rahasia mereka, Ariel yang hancur akhirnya nekat memalsukan kematiannya dalam kebakaran besar agar bisa bebas selamanya.
Sampul Novel Gairah Tuan Besar
8.2
Zain adalah pengusaha sukses yang tampak sempurna, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak kecelakaan tragis lima tahun lalu akibat pengkhianatan istrinya, ia menderita disfungsi seksual. Bella memanfaatkan kondisi ini untuk berselingkuh secara bebas demi memeras harga diri Zain. Namun, pertemuannya dengan Yvone di sebuah kelab malam membangkitkan kembali gairah Zain yang lama padam. Masalah besar muncul karena Yvone ternyata adalah kekasih Daniel, anak tirinya sendiri.
Sampul Novel Hari Pernikahanku Menjadi Kematian Ibuku
8.5
Hari pernikahan impian berubah menjadi tragedi kelam dalam novel romantis miliarder Hari Pernikahanku Menjadi Kematian Ibuku. Di saat sang ibu mengembuskan napas terakhir akibat syok karena Ezra mengganti pengantinnya dengan Naila, Ezra justru menuntut pernikahan tetap berjalan. Menolak perintah kejam itu, sang protagonis memilih pergi membawa jasad ibunya. Di tengah duka, ia harus menyaksikan kemesraan Ezra dan Naila yang memamerkan hubungan mereka tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Sampul Novel Melarikan Diri dari Pernikahan
8.4
Kehamilan tak terduga membuat Andika Senjaya, pria yang selalu menghindari komitmen, tiba-tiba melamar Cathy. Di tengah kebahagiaannya, Cathy menerima lamaran tersebut tanpa ragu. Namun, tepat di hari pernikahan mereka, sebuah kebenaran kejam terungkap. Cathy tidak sengaja mendengar percakapan Andika dengan temannya. Andika mengaku terpaksa menikahinya demi masa depan anaknya bersama Nancy, karena ibunya menolak latar belakang Nancy. Andika bahkan merendahkan Cathy dan menyebutnya sangat membosankan.