Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku

I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku

Alan, wanita kutu buku, terjebak pernikahan tanpa cinta dengan CEO arogan, Gavin Wildberg. Gavin justru menjalin hubungan gelap dengan adik angkat Alan, Aluna. Derita Alan memuncak saat ibu mertuanya mengusir dan memaksanya bercerai karena dianggap buruk rupa. Di titik terendah saat ingin mengakhiri hidup, seorang pria menyelamatkannya dan mengungkap identitas asli Alan. Kini, sebagai pewaris takhta konglomerat, Alan kembali untuk menuntut balas pada mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pemandangan kota Brigston, kota besar di sebuah negara bagian di Amerika, tak secerah biasanya. Langit mendung sejak senja mulai menapaki langit.

Alan berdiri di depan balkon kamarnya. Rambut keriting sebahu berwarna pirang terlihat acak-acakan. Wanita lugu dengan kacamata berbingkai tebal berbentuk kotak itu mendekap erat tubuhnya. Hingga suara langkah kaki membuatnya berpaling dari pemandangan kelam di hadapannya.

"Kau sudah selesai," ucap Alan yang melihat sosok suaminya berdiri tak jauh darinya. Alan melihat dari atas sampai bawah. Penampilan Gavin sangatlah memukau malam ini. Lihat saja tubuhnya yang kekar memakai kaos berwarna putih dengan kerah berwarna hitam, dan celana selutut berwarna mocca. Alan sempat terpesona dengan laki-laki bermata biru tersebut. Namun, kini hatinya tercubit nyeri, dia ingat jika Gavin bukan lagi miliknya seorang. Lagipula, laki-laki ini tak mengenakan pakaian yang dia pilihkan untuknya.

Mata coklatnya melirik ke arah ranjang. Satu set pakaian yang dia siapkan untuk suaminya, masih tertata rapi di posisi yang sama. Tak tersentuh sama sekali.

"Aku akan tidur dengan Luna, malam ini."

Bibir pucatnya dia gigit kuat-kuat. Berusaha meredam rasa sakit yang bergejolak di hatinya. Memang sudah satu minggu ini Luna menjadi istri sah kedua suaminya.

"Kau tidak punya hak melarangku." Ucapan Gavin menyentak tubuhnya. Dia lantas menunduk, membenarkan letak kacamatanya yang hampir melorot, juga lensanya yang buram terpapar air matanya.

"Tidak bisakah, kau tidur denganku malam ini, Gav," ucapnya. Namun buru-buru dia tepis, "Maaf, maksudku hanya malam ini saja, karena sudah satu minggu kau tidur dengan Luna."

"Aku harus menuruti keinginannya, Luna sedang hamil, dan kau tidak." Terkesan tanpa intonasi kasar, namun mampu mencabik hati Alanair Welington.

Wajah lugu Alan, mendongak seketika. Buliran bening itu mengalir tanpa dirinya suruh. Selama ini, Alan dengan sekuat tenaga berusaha menyembunyikan lara di hatinya. Berusaha untuk tidak menjadi cengeng agar pantas bersanding dengan laki-laki sempurna di hadapannya ini.

"Iya, kau benar. Luna sedang hamil, dan aku tidak."

"Itu kau tahu, kan. Jangan jadi wanita cengeng, aku benci itu. Aku tidak suka  jika ada orang menangis di depanku, itu memuakkan."

Alan buru-buru mengusap kasar wajahnya, dengan kedua tangannya. Tidak peduli wajahnya akan berantakan. Memangnya siapa yang peduli, toh sejak awal tidak ada yang mau peduli seperti apapun penampilannya.

"Maafkan aku." Alan kembali menunduk.

"Untuk apa, aku tidak peduli kau mau menangis seharian, asal jangan di depanku. Aku muak. Kau tahu kenapa aku lebih menyukai Luna daripada kau, kau itu membosankan, wanita lemah yang hanya bisa menangis," ujar Gavin, dan memilih mengacuhkan wanita itu.

Tangan Alan semakin meremat satu sama lain. Bahunya yang sempit bergetar hebat. Mencoba menepis rasa sesak yang bersarang. Dia memberanikan diri untuk menatap wajah tampan Gavin yang berhias kumis tipis.

"Kenapa, kenapa kau dulu mau menikah denganku," ucapnya, walau terselip nada was-was di dalamnya.

Laki-laki dengan hidung mancung dan bibir yang tipis itu menatap datar ke arah Alan. Mata birunya menyipit, namun hanya sesaat, dan dia memilih berjalan ke arah pintu kamarnya. Tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus mencengkeram handle pintu. "Kau cukup tahu, Papa memaksaku, aku tidak ingin didepak dari keluarga Wildberg. Dan lagi, aku ingin seorang penerus dari keluarga terhormat."

Gavin membuka pintu dengan cukup kasar, lalu menutupnya kembali hingga bunyi brakk cukup membuat hati Alan terusik.

Tangan yang sejak tadi saling tertaut di atas perutnya, kini terkulai tak berdaya. Berganti meremas dress bunga-bunga yang ia kenakan. Bulir-bulir air matanya pecah kembali. Sesakit inikah jika mencintai sebelah pihak. Bodoh, seharusnya dia bisa membuang perasaan sialan ini.

"Aku bukannya tak bisa untuk tidak menangis, namun setiap saat kau menyakitiku, Gav. My heart really hurts, it hurts so much, that sometimes I forget where it is."

Alan meremat kencang dadanya yang terasa begitu sesak. Sampai kapan dia akan bertahan dengan perasaan cinta yang setiap hari mencabik-cabiknya.

***

Nay menghembuskan napasnya berkali-kali. Hari ini ia rela bolos kuliah untuk menemani sahabat sekaligus kakak iparnya meratapi jalan takdirnya. Mereka berdua tengah duduk di gazebo yang terletak di taman belakang mansion mewah keluarga Wildberg.

Cuaca hari ini cukup cerah di kota Brigston. Seharusnya dia ingin mengajak Alan berjalan-jalan, namun wanita itu memilih menyendiri di taman belakang mansion keluarganya.

Mata Nay yang berwarna biru persis seperti Gavin, melirik ke samping di mana sosok Alan masih senang dengan kebisuan yang menemaninya.

Nay gemas sekali, ingin rasanya dia memukul kepala Alan. Bagaimana bisa kakak iparnya ini menerima dirinya dimadu oleh kakaknya, apalagi wanita picik itu yang menjadi madunya. Sampai mati pun Nay tak rela, apa Alan tak sakit hati dengan semua yang telah wanita lugu itu alami. Jika itu dirinya, dia pasti sudah nekat mencekik wanita itu hingga mati. Terdengar kejam memang, tapi hati wanita yang memiliki rambut coklat bergelombang ini memang tak sekuat Alan, yang hanya diam menerima takdir yang begitu menyakitkan.

Kembali, napasnya ia buang kasar. Ingin bertanya tapi dia masih tak enak hati melihat kakak iparnya terlihat terpuruk satu minggu ini, tepatnya setelah pernikahan Gavin dan Luna yang digelar besar-besaran dan dihadiri relasi bisnis keluarga Wildberg.

Nay tahu sangat tahu, pasti Alan merasa sakit hati. Pernikahannya dengan kakaknya itu hanya digelar di gereja kecil secara tertutup tanpa tamu undangan, bahkan tidak ada yang tahu jika Gavin telah resmi menikah. Ide gila Grifida yang menginginkankan pernikahan putra sulungnya disembunyikan dari publik. Grifida malu memiliki menantu seorang yang tidak tahu asal usulnya, apalagi Alan berstatus anak pungut di keluarga Welington, mungkin saja Alan adalah anak seorang gelandangan atau anak seorang jalang yang dibuang, dan Grifida tak ingin kehilangan harga diri.

"Al," panggil Nay pelan. Muak dengan kesunyian yang membuat suasana menjadi canggung. Biasanya ia selalu berceloteh apa saja dengan wanita di sampingnya ini, menggodanya yang membuat Alan selalu tersenyum malu-malu.

"Aku tidak apa-apa, kenapa kau membolos kuliah." Akhirnya bibir yang terbungkam itu kini terbuka juga.

Nay tersenyum tipis dan segera memeluk tubuh kurus milik Alan. Untuk ukuran wanita seusia Alan, tubuhnya memang terlihat kurang gizi. Mungkin beban pikiran yang membuatnya seperti ini. "Aku senang, akhirnya kau mau bicara, aku mengkhawatirkanmu, Al."

"Tidak dengan bolos kuliah, bukankah kau sudah berada di semester akhir, bagaimana jika kau tak lulus." Seketika raut bahagia gadis manis itu luntur berganti wajah tertekuk dan bibir mengerucut. Ia melepas pelukannya pada tubuh Alan dan melipat kedua lengannya di depan dada.

"Jangan menyumpahiku, Al."

"Maafkan aku, aku hanya bercanda begitu saja marah."

"Aku tidak marah, hanya saja .., aku sedih melihat keadaanmu sekarang, kenapa kau tidak menghentikannya, aku tahu kau begitu terluka saat Gavin mengucap janji suci di depan altar dengan si nenek sihir itu. Kau tahu, saat itu aku ingin menyihir wanita itu jadi burung unta." Bibir berpoles lipstick warna peach itu berkomat-kamit.

Sorot mata Alan kembali semakin redup. Bohong jika dia tidak merasakan sakit. Dia juga manusia biasa tentu saja saat itu dadanya sesak serasa ditikam ribuan jarum, tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa. Luna tengah mengandung anak suaminya, bagaimana dirinya tega memisahkan anak dan ayahnya. Bukankah lebih baik ia yang mengalah, itu lebih baik bukan.

 "Aku hanya tidak ingin menjadi egois, Nay. Adikku tengah mengandung anak Gavin, bagaimana bisa aku .., hiks.." Tangisnya mulai pecah. Kedua telapak tangannya menutup wajahnya yang kini sembab. Mengingatnya membuat perasaannya tercabik-cabik.

Nay yang tak tega melihat keadaan kakak iparnya. Dia kembali merengkuh tubuh kurus itu, mendekapnya erat mencoba menyalurkan rasa nyaman. "Jangan menangis, Al. Ada aku di sini."

"Di sini .., di sini rasanya sakit Na .., hiks, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Luna adalah adikku, dan mana mungkin aku tega karena Tuan Wlington sudah baik padaku, menampungku hingga aku tidak perlu lagi hidup di jalanan, merasakan kelaparan dan kedinginan, aku tak bisa jika harus menyakiti perasaan Luna." Dia berbicara dengan tangan meremat dada kirinya.

"Tapi tidak dengan mengorbankan perasaanmu, Alan. Aku tahu sebesar apa kau mencintai Kakakku yang bodoh itu."

"Tapi, Gavin tidak mencintaiku, itu faktanya." Gurat-gurat sedih kembali menghias wajah polosnya diiringi untaian kristal bening yang kini meluncur bebas membasahi pipinya yang pucat.

"Seharusnya, aku tak boleh mencintai Kakakmu 'kan, Nay. Seharusnya aku membuang saja perasaan bodoh ini, tapi kenapa rasanya sulit sekali, aku sudah mencoba untuk menghempaskan rasa itu pada Gavin. Namun, selalu kembali lagi. Rasanya begitu sakit apalagi melihatnya bersama adikku. Aku seharusnya ..., hiks, hiks. Apa yang harus kulakukan, Nay. Apa! Aku .., aku." Kini tangannya beralih memukul dadanya. Air matanya semakin deras mengalir tak sanggup dia bendung. Sesak di dadanya semakin menjadi mengingat kini Gavin bukan lagi miliknya seorang, walaupun dari awal ia tak pernah mampu menjangkau lelaki itu, tapi kini semuanya semakin menyiksanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 100 Hari Menikah Dengan Si BOS
9.7
Xavi Alonso bukan hanya taipan bisnis yang tak terkalahkan, tapi juga sosok dingin yang menjebak wanita incarannya dalam pernikahan. Saat sang istri merasa tertipu dan menuntut cerai karena perilaku dominannya, Xavi justru memberikan segalanya. Seluruh harta, perusahaan, hingga dirinya sendiri ia serahkan demi memanjakan sang istri. Di balik kemegahan hartanya, sang penguasa angkuh ini ternyata adalah iblis yang tak punya batas dalam mencintai pasangannya.
Sampul Novel Aku Menikahi Kakak Pembunuh
8.6
Malam pernikahan berubah maut saat Carlos Fowler membiarkan aku tewas di tangan penculik demi wanita lain. Di saat terakhir, kakak laki-lakinya yang lumpuh, Vincent, datang membalaskan dendamku. Kini aku terlahir kembali untuk memperbaiki takdir. Di depan altar, kubatalkan pernikahan dengan Carlos secara mengejutkan. Aku justru melamar Vincent yang terabaikan di kursi rodanya. Carlos mengira ini hanya gertakan, namun ia akan segera kehilangan segalanya.
Sampul Novel His Darling Debtor
9.2
Dunia Clara runtuh saat ayahnya kabur membawa uang milik Tuan Blackwell. Tanpa pilihan lain untuk menebus utang tersebut, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya dan menjadi wanita simpanan sang miliarder. Di balik perjanjian dingin ini, Clara terjebak dalam pusaran emosi terlarang dan rahasia masa lalu yang perlahan terkuak. Hubungan penuh konflik ini pun menjadi ujian berat yang akan mengungkap seberapa kuat ikatan sejati di antara mereka berdua.
Sampul Novel Malam Pertama dengan CEO
9.7
Kehidupan Kara hancur saat suaminya menjualnya kepada Angkasa, seorang CEO kaya, di malam pernikahan mereka. Wajib melayani Angkasa selama sebulan, Kara justru hamil. Namun, Angkasa menolak mengakui janin itu karena salah paham dan mengusirnya. Di tengah tekanan mantan suami dan mertua, Kara berjuang sendiri hingga sukses jadi desainer. Saat Angkasa kembali untuk memohon maaf, akankah Kara bersedia membuka pintu hatinya yang telah terluka?
Sampul Novel MENGASUH TUAN MUDA
8.7
Edmund Bryan adalah pria kaya raya dengan pesona memikat yang mampu menaklukkan wanita mana pun. Namun, nasib sial menimpa Emerald saat ia secara tidak sengaja memecahkan guci antik milik Edmund yang sangat mahal. Terjerat utang sebesar $500.000, Emerald terpaksa menjadi pelayan pribadi pria angkuh tersebut. Di balik tekanan pekerjaan dan sikap keras sang tuan muda, Emerald perlahan mulai mengungkap rahasia terdalam yang selama ini disembunyikan oleh Edmund.
Sampul Novel Pengantin Wanita yang Dicemoohnya Ternyata Legendaris
8.4
Fernanda sering diremehkan sebagai gadis desa yang kasar setelah kembali ke keluarganya. Namun, ia hanya menanggapi ejekan itu dengan santai. Situasi memanas saat Cristian, pria yang rasional, dikabarkan hilang akal karena mencintainya. Fernanda tidak tinggal diam saat kekasihnya difitnah. Perlahan, identitas aslinya sebagai desainer hebat, gamer genius, pelukis ternama, hingga pengusaha sukses terungkap. Ternyata, selama ini dialah yang membodohi mereka semua.