Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel I'm The Queen

I'm The Queen

Ratu Elea yang bijak menghadapi kehancuran saat Raja Flynn lebih memilih Beatrice, selir ambisius yang sedang mengandung. Di tengah fitnah kejam dan gugatan cerai yang memalukan, posisi Elea di Istana Landbird terancam runtuh. Namun, Raja Alaric dari Veridion hadir menawarkan perlindungan dan dukungan tak terduga. Kini, Elea terjebak dalam intrik politik dan pengkhianatan, memaksanya memilih antara mempertahankan takhta atau menempuh jalan hidup baru yang penuh risiko.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bab 2 bayang bayang di balik senyuman.

Di sudut lain istana, Beatrice berdiri di balkon kamarnya. Angin malam yang dingin menerpa kulitnya, namun ia tampak tak terganggu. Tatapan matanya mengarah pada menara tempat Raja Flynn berada. Senyum kecil bermain di sudut bibirnya.  

"Bagaimana mungkin tempat ini begitu indah dan megah?" gumamnya pelan, seolah berbicara pada diri sendiri.  

Namun, di balik senyum itu, ada kilatan ambisi yang tersembunyi. Ia menatap cincin berlian yang kini melingkar di jarinya, hadiah dari Raja Flynn. Dalam pikirannya, ia melihat gambaran dirinya sebagai ratu di istana ini, menggantikan Elea yang tampak sempurna namun rapuh.  

Beatrice memejamkan mata, mengingat kembali hari ketika Flynn menemukannya di hutan. Ia tidak sepenuhnya berbohong tentang masa lalunya, tetapi ia juga tidak mengatakan seluruh kebenaran. Ia tahu betul bahwa air matanya adalah senjata, dan kelemahannya adalah alat untuk membangkitkan simpati.  

"Flynn," bisiknya pelan, "kau akan memberiku segalanya."  

***

Keesokan paginya, Elea memutuskan untuk mengunjungi Istana Lily. Ia ingin memastikan Beatrice telah beradaptasi dengan baik. Namun, ia juga punya tujuan lain: untuk mengenal lebih jauh wanita yang telah menyita perhatian suaminya.  

Daisy berjalan di samping Elea, membawa sekeranjang bunga segar. Meskipun tugasnya sederhana, ia tetap menunjukkan ekspresi serius. "Yang Mulia, apakah perlu Anda mengunjungi Beatrice sendiri? Biarkan saja pelayan yang mengurusnya."  

"Tidak, Daisy," jawab Elea tenang. "Aku harus melihatnya sendiri. Lagipula, aku ingin memastikan ia memahami perannya di istana ini."  

Ketika mereka tiba di kamar Beatrice, Elea mengetuk pintu dengan lembut. Tak lama, pintu terbuka, dan Beatrice menyambut mereka dengan senyuman lebar. Ia sudah tampak jauh berbeda dari pertama kali dibawa ke istana. Rambut peraknya tertata rapi, dan gaun sederhana yang ia kenakan menonjolkan kecantikannya yang alami.  

"Yang Mulia," Beatrice menyapa dengan suara lembut. "Merupakan kehormatan besar Anda datang ke kamar saya."  

Elea melangkah masuk, matanya mengamati setiap sudut kamar. Semuanya tampak bersih dan teratur, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.  

"Aku ingin memastikan kau sudah nyaman di sini," ujar Elea. "Bagaimana keadaanmu sejauh ini?"  

Beatrice tersenyum, ekspresinya penuh rasa terima kasih. "Sangat baik, Yang Mulia. Istana ini seperti surga bagi saya. Saya berhutang segalanya pada Raja Flynn dan... pada Anda."  

Elea hanya mengangguk kecil. Namun, dalam diamnya, ia mencoba membaca sikap Beatrice. Apakah rasa syukur itu tulus, atau hanya sekadar permainan?  

***

Setelah percakapan singkat, Elea dan Daisy meninggalkan kamar Beatrice. Ketika mereka berjalan kembali ke ruang utama istana, Daisy akhirnya tak bisa menahan diri lagi.  

"Yang Mulia, wanita itu terlalu licin. Senyumnya terlalu sempurna," gumam Daisy.  

Elea melirik Daisy dengan senyum kecil. "Kau terlalu curiga, Daisy. Mungkin dia hanya ingin terlihat sopan."  

Namun, jauh di dalam hatinya, Elea tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Beatrice. Ia hanya belum menemukan bukti untuk menguatkan firasatnya.  

***

Malam itu, Flynn mengundang Elea untuk makan malam bersama. Itu adalah tradisi mereka setiap kali Flynn kembali dari perjalanan jauh. Elea datang dengan mengenakan gaun biru tua, rambutnya disanggul dengan anggun, mempertegas auranya sebagai seorang ratu.  

Namun, ketika ia tiba di ruang makan, ia terkejut melihat Beatrice sudah duduk di sana. Flynn tersenyum lebar dan melambai pada Elea.  

"Elea, maafkan aku. Aku mengundang Beatrice untuk bergabung. Dia harus belajar tentang adat kerajaan, dan siapa yang lebih baik mengajarinya selain kau?"  

Elea mengangguk perlahan, meskipun hatinya terasa sesak. Ia duduk di kursinya, menjaga senyum tetap menghiasi wajahnya.  

Sepanjang makan malam, Flynn terus berbicara dengan antusias tentang masa depan kerajaan dan peran Beatrice di dalamnya. Elea mendengarkan dengan tenang, meskipun setiap kata terasa seperti duri yang menusuk hatinya.  

Beatrice, di sisi lain, tampak menikmati momen itu. Ia sesekali melirik Elea, seolah-olah ingin mengukur reaksi sang ratu. Namun, Elea tidak menunjukkan apa pun.  

Namun, di balik ketenangan Elea, ada rencana yang mulai terbentuk. Jika Flynn bertekad untuk mempertahankan Beatrice di istana, maka Elea harus menemukan cara untuk melindungi posisinya-dan kerajaannya.  

Ia menatap Flynn dengan mata yang penuh ketenangan, namun di dalam pikirannya, ia berkata pada dirinya sendiri, *Aku tidak akan membiarkan istana ini jatuh ke tangan orang yang tidak pantas.*  

Seminggu telah berlalu sejak Beatrice secara resmi tinggal di Istana Lily. Flynn semakin sering menghabiskan waktu bersamanya, meninggalkan Elea dengan kesendirian yang mulai terasa menyesakkan. Namun, Elea tetap menunjukkan sikap anggun di depan semua orang. Ia tahu bahwa satu langkah keliru dapat meruntuhkan martabatnya sebagai ratu.  

Sementara itu, Daisy, yang selalu setia berada di sisi Elea, mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia telah lama melayani ratu dan mengenali perubahan halus dalam sikap Flynn sejak kedatangan Beatrice.  

"Yang Mulia," ujar Daisy suatu malam ketika mereka berdua berada di kamar Elea, "saya merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Kehadirannya bukan hanya mengancam posisi Anda sebagai ratu, tetapi juga sesuatu yang lebih besar."  

Elea yang sedang membaca sebuah buku tebal menutupnya perlahan. Ia menatap Daisy dengan ekspresi serius. "Apa maksudmu?"  

"Saya merasa, Beatrice bukan wanita biasa," jawab Daisy, suaranya menurun seolah takut ada yang mendengar. "Ada cara dia berbicara dan bertingkah laku yang terasa terlalu... sempurna. Seolah dia tahu cara membuat Raja Flynn sepenuhnya berada di bawah kendalinya."  

Elea tidak langsung menjawab. Dalam hatinya, ia mengakui bahwa ada sesuatu tentang Beatrice yang membuatnya tidak nyaman. Namun, ia tidak memiliki bukti untuk mendukung kekhawatiran Daisy.  

"Kita akan melihat apa yang sebenarnya ia inginkan," ujar Elea akhirnya. "Aku akan memancingnya untuk menunjukkan warna aslinya."  

***

Keesokan harinya, Elea mengundang Beatrice untuk minum teh di taman istana. Undangan ini mengejutkan Beatrice, namun ia menerimanya dengan senang hati. Ketika mereka duduk di bawah kanopi bunga mawar, Elea memperhatikan cara Beatrice berbicara dan membawa dirinya.  

"Kau tampak sangat menikmati waktumu di sini," ujar Elea dengan senyum lembut.  

Beatrice mengangguk. "Bagaimana mungkin saya tidak menikmatinya, Yang Mulia? Istana ini adalah tempat yang luar biasa, dan Raja Flynn begitu baik hati pada saya."  

Elea menyesap tehnya perlahan, matanya tidak lepas dari wajah Beatrice. "Aku dengar kau sangat dekat dengan Raja Flynn. Apakah kau merasa kau telah menjadi bagian dari keluarga ini?"  

Beatrice tersenyum kecil, sedikit menundukkan kepalanya. "Saya berharap demikian, Yang Mulia. Saya ingin menjadi seseorang yang berarti bagi Raja... dan juga bagi Anda."  

Kata-katanya terdengar tulus, namun Elea merasakan sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Ia memutuskan untuk menggali lebih dalam.  

"Beatrice," Elea berkata dengan nada lembut namun tegas, "ada banyak wanita di kerajaan ini yang ingin berada diposisimu. Bagaimana jika mereka tidak menyukaimu? Apakah kau siap menghadapi konsekuensinya?"  

Beatrice terdiam sejenak. Namun, kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatap Elea dengan mata yang penuh keyakinan. "Jika ada yang tidak menyukai saya, itu adalah hak mereka. Namun, saya tidak akan membiarkan apa pun menghalangi saya untuk mendukung Raja Flynn."  

Jawaban itu membuat Elea yakin bahwa Beatrice memiliki ambisi yang lebih besar dari sekadar menjadi seorang selir.  

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Captain's Ravenge
9.4
Arya Bimantara terpaksa meninggalkan posisinya di perbatasan Kalimantan setelah menerima berita duka yang mendadak. Aryo, saudara kembarnya, ditemukan tewas bersama istrinya tak lama setelah mereka saling berkirim pesan. Saat pulang untuk menghadiri pemakaman, Arya mencium adanya kejanggalan. Penyelidikan mandiri mengungkap bahwa pasangan itu sebenarnya dibunuh secara terencana. Kini, sang kapten harus melacak pelaku di balik tragedi berdarah ini demi membalaskan dendam keluarganya.
Sampul Novel DENDAM MERTUA MAFIA
8.2
Akibat kebencian mendalam, Ratih Darmi menukar janji masa lalu ayahnya demi melenyapkan cucunya sendiri, Farid Abdullah. Bocah itu diculik oleh raja mafia kejam, Razzore, untuk dieksekusi di istana bawah tanah. Diandra Safaluna, sang ibu yang memiliki masa lalu sebagai mafia, harus berjuang di tengah kehancuran jiwanya demi menyelamatkan Farid. Luna bersumpah akan menembus istana monster tersebut meski harus mengorbankan nyawanya sendiri demi sang putra.
Sampul Novel Devano Lauder
9.1
Kisah Devano Lauder mengungkap beban masa lalu yang memicu dendam membara dari musuh lama. Selama dua dekade, sang tokoh utama berjuang menyelesaikan konflik yang tak kunjung usai. Di tengah perselisihan dan pembantaian, ia pun terjebak cinta segitiga saat remaja. Memasuki usia dewasa, ia mengambil tanggung jawab penuh dan nyaris tewas demi mengakhiri segalanya. Meski musuh terus mengintai, takdir akan membawa semua pada titik penyelesaian yang semestinya.
Sampul Novel Istriku Disiksa Sampai Gila
9.4
Kepulanganku yang tak terduga dari Taiwan ke kampung halaman justru disambut oleh kenyataan pahit yang menghancurkan jiwa. Aku menemukan istri tercintaku telah kehilangan kewarasannya, sementara buah hati kami dikabarkan sudah tiada. Di balik duka ini, muncul kecurigaan mendalam terhadap kebenaran yang ada. Benarkah semua kesaksian dari pihak keluargaku bisa dipercaya? Aku harus mengungkap misteri kelam di balik tragedi yang menimpa keluargaku.
Sampul Novel LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian
8.4
Lintang, agen elite Telik Sandi 69, menggunakan pesonanya untuk menjebak Bernardo demi mencari petunjuk. Meski targetnya hanya pria mesum, misi ini jauh lebih besar. Bersama empat rekannya, Lintang mengemban tugas kerajaan guna menyelidiki teror di Benua Swarna Dwipa. Perjalanan mereka bermuara di Tanah Kematian, wilayah tanpa hukum yang penuh kebrutalan. Kini, mereka harus membongkar konspirasi gelap yang mengancam seluruh nyawa manusia di Jagad Mayapada.
Sampul Novel Menuntut Balas
8.4
Xavier terpaksa menyaksikan momen mengerikan saat nyawa ayahnya direnggut secara keji oleh kelompok mafia. Tragedi berdarah tersebut menyisakan luka mendalam dan amarah yang membara di hatinya. Enggan membiarkan para pelaku bebas begitu saja, ia bertekad menuntut balas. Xavier pun mulai mengasah kemampuan bela diri dengan keras demi mempersiapkan diri menghadapi organisasi kriminal yang telah menghancurkan hidupnya serta menuntaskan dendamnya.