
I'm Baby Doll
Bab 3
“Jangan lakukan ini, Tuan Darby!” erang Gea ketakutan.
Ia tak pernah menghadapi Tuan Darby yang mengamuk! Selama ini, lelaki itu hanya teler dan langsung masuk ke dalam mobil dan diantarkan pulang olehnya.
Tampaknya, kesabaran lelaki itu telah habis. Selama lima bulan, hanya iming-iming omong kosong dari Davidson yang mengatakan kalau Gea akan menjadi penghangat ranjangnya!
Telah lama Tuan Darby menunggu, ia tak mampu membendung nafsunya yang menggebu!
“Kalau kau tak mau melakukannya di hotel, maka akan kulakukan dengan cepat di basement!”
Lelaki tua bangka itu segera mendekat kepada Gea. Ingin mencabulinya. Tak peduli dengan kondisi yang terbuka di basement, tangannya mulai menyentuh bagian atas tubuh Gea!
“Lepaskan aku, Tuan Darby! Aku tak mau!”
Gea sudah hampir menangis. Air matanya membludak.
Gadis lemah itu mulai menjerit-jerit, tetapi percuma. Segalanya sia-sia.
Tuan Darby semakin menghimpit Gea. Ia merasakan bagian tubuh Gea yang menyenangkan dan melebihi ekspektasinya! Ia tak menyangka memainkan benda besar teramat menggoda!
Kaki Gea melemas. Ia bahkan tak bisa bergerak satu inci pun.
Gea terus merintih meminta tolong. Air matanya sudah menderas. Ia tak ingin dipegang-pegang oleh tua bangka ini!
Di saat itu, tiba-tiba saja ...
BUAGGG!!
Seorang lelaki yang entah datang dari mana bak superman menyelamatkan Gea. Gadis itu terperenyak jatuh. Sementara Tuan Darby merasakan perih yang nyata di pipinya!
Tuan Darby melemparkan tatapan sinis kepadanya. “Siapa kau?! Berani-beraninya kau mengangguku!”
“Hei, Tuan! Apakah kau tidak lihat wanita itu?! Dia bahkan sama sekali tak menikmati sentuhanmu yang kasar itu!”
“Persetan! Apa pedulimu!”
“Ini memang bukan peduliku, tetapi aku sama sekali tak mau melihat pria yang mencabuli wanita di depan mataku!”
BUAKK! DUAK!! DAKK!!
Serangan bertubi dilancarkan oleh lelaki tersebut. Gea melihatnya dengan perasaan cemas dan takut.
Pukulan dari lelaki tak dikenal itu begitu keras sampai Tuan Darby tepar dan pingsan.
“Ini mobilnya?!” teriak lelaki tersebut ke Gea.
Gea mengangguk.
Lelaki itu segera memasukkan Tuan Darby ke dalam mobil.
Melemparkan jasnya, memberikannya kepada Gea. “Kembalikan jasku nanti.”
Kartu nama diberikan kepada Gea. Melihat nama yang terpampang di sana... Cale Vertoghen. Seorang CEO dari produk fashion terkemuka, Vertoghen Stories. Ia adalah konglomerat di negara ini!
Gea mengerjap. Ia mendongak. Pahatan wajah Cale adalah mahakarya dari Tuhan. Ketampanannya luar biasa. Dengan sepasang alis yang tebal, bibir yang tipis, serta hidung yang mancung.
Gadis itu mematung memandanginya.
“Kau bisa pulang sendiri, kan?”
Lamunan Gea buyar seketika. Dengan suara merintih dan serak akibat habis menangis, Gea berujar. “Te-terima kasih...”
Cale hendak meninggalkan Gea, tetapi jauh dari lubuk hatinya berubah merasa bersalah. Gadis itu akan pergi seorang diri. Bagaimana jika ada sesuatu yang menimpanya lagi? Walaupun Cale tak mengenalnya, ia mendadak iba.
“Untuk malam ini, kuantarkan kau pulang.”
“A-apa?”
Gea tersentak.
* * *
Mobil sport Ferarri yang seharga puluhan ribu dollar itu melintasi jalanan Kota Cassey. Gadis itu terperangah dan cukup tidak nyaman duduk di dalam mobil mewah itu. Di sampingnya, lelaki yang baru saja dikenal itu menyetir, mengendarai mobil.
‘Apakah aku terlalu gampangan untuk diantarkan oleh lelaki ini?’
Gea secara spontan menerima tawarannya di tengah kondisi cukup terguncang. Kini, dia tengah menyesali keputusannya sendiri.
Bisa saja, dia baru saja keluar lubang buaya justru masuk ke kandang harimau.
Tidak ada yang tahu betapa ganasnya seorang lelaki.
“Kau bisa turun kalau canggung denganku. Tetapi dengan tampilanmu saat ini, kau hanya akan menjadi sasaran empuk pria brengsek.”
Gea menyetujui dalam hati. Ia dalam kondisi yang mengenaskan.
Davidson yang semestinya bertanggungjawab malah tak mengangkat telepon. Keluar dari mobil dengan keadaan ini hanya akan mengundang paparazzi.
“Terima kasih telah membantuku, Tuan Cale.”
“Cale saja.”
Gea menganggukkan kepala kecil. Matanya terantuk ke arah tangan Cale yang menyetir.
Ruas jarinya terluka akibat dia menyelamatkan Gea. Hantamannya kepada Tuan Darby pasti sangat kuat sampai-sampai dia lecet.
Manakala Gea sudah tiba di depan gedung apartemen, ia mengangsurkan plester kepada Cale. “Ini untuk mengobati luka di tanganmu.”
Cale mengernyit, memeriksa lukanya sendiri. “Ah, ini bukan apa-apa. Aku bisa mengobatinya nanti.”
“Sekecil apa pun luka itu, tetap saja terasa sakit.” Gea membuka plesternya, menyentuh tangan Cale. Memasangkan plester tersebut.
Cale mengamati Gea yang telaten mengobati tangannya. Padahal ini tak seberapa.
Meskipun demikian, Cale tak mengucapkan terima kasih sama sekali. Ia justru mengeratkan rahangnya, memberikan jarak. “Kembalikan jasku ketika kau sudah selesai menggunakannya.”
Gea berterima kasih sekali lagi. Ia sunggguh tak tahu apabila tidak ada Cale. Mungkin dia sudah diperkosa oleh Tuan Darby.
Gadis itu bergidik ngeri. Membayangkan dia harus tidur dan kembali melayani seorang pria di ranjang mengingatkannya pada sikap kejam Davidson padanya satu tahun lalu.
Meskipun setelah itu Davidson tak lagi meminta memuaskannya, tetap saja itu semua menjadi masa lalu yang kelam bagi Gea.
Ia masuk ke dalam apartemen. Sungguh tak ingin terjerat dalam masa lalu yang gelap itu lagi.
* * *
BRAKKK!
“BERANI SEKALI KAU MENOLAK TUAN DARBY!”
Suara Davidson menggelegar. Menerobos masuk ke dalam apartemen secara cepat, memarahi Gea yang baru saja terbangun dari tidurnya akibat suara itu.
“GEA MEXALLA! Jangan berpikir kalau kau sudah menjadi model papan atas dan berani menolak Tuan Darby! Kesuksesanmu saat ini juga karena keikhlasan Tuan Darby!!”
Gea ingin marah, ia baru saja bangun dan harus mendengar omelan Davidson.
Namun hanya menghela napas panjang, “Kau tidak tahu seberapa menderitanya aku tadi malam.”
“Kita sudah membaharui kontrak tiga bulan sejak aku disebut artis yang naik daun! Sejak itu, aku tak akan melayani pria sampai ke ranjang. Kenapa kau menyuruhku tidur dengan Tuan Darby?!”
Gea bukanlah pekerja seks komersial. Ia seorang model. Seorang manager tak seharusnya menjual modelnya sendiri.
“Astaga! Aku tak percaya kau mengatakan itu! Kau tak tahu uang yang telah dikucurkan Tuan Darby untukmu!!”
“Pada hari ini juga, kau harus bertemu dengan Tuan Darby dan meminta maaf atas segalanya! Aku telah memintanya meluangkan waktu pukul empat di Kafe X.”
Davidson melemparkan kertas tepat di wajah Gea. “Ini jadwalmu. Aku tak mau menemanimu hari ini. Aku muak dengan sikapmu yang seenaknya, Gea!”
DUM!!
Pintu berdebam kencang. Sosok Davidson telah pergi dari apartemennya.
“Mungkin aku harus mengganti sandi pintu apartemenku. Supaya Davidson bajingan itu tak main seruduk masuk!” Gea membuang napas keras. Tak mau lagi melihat Davidson yang marah-marah.
Gea melihat jadwalnya yang padat. Padahal dengan jadwalnya sebagai bintang iklan saja sudah membuahkan uang banyak, kenapa dia masih membutuhkan sponsor?
Kenapa dia harus menemui Tuan Darby?
Gea tak yakin dia akan selamat jika bertemu dengan Tuan Darby nanti. Karena sudah pasti, Tuan Darby menyiapkan hotel untuk menjelajahi tubuhnya.
Bangun dari tempat tidur, bersiap, dan langsung menuju lokasi pemotretan. Membuang pemikiran untuk bertemu dengan Tuan Darby.
Hanya di tempat pemotretan, Gea aman. Banyak orang yang begitu baik kepadanya.
Gea terpaksa mengulaskan senyuman, berpura-pura bahwa dia baik-baik saja.
Akan tetapi, seorang make up artist tak pernah bisa melewatkan perubahan wajah Gea. Ia pun bertanya manakala mendandani Gea. “Semalam apakah terjadi sesuatu kepadamu, Nona Gea?”
“Eh? Apa maksudmu?” Gea terkejut. Ia melihat ke arah make up artist yang mencurigainya.
* * *
Anda Mungkin Juga Suka





