Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ikuti Saja Mau-Nya

Ikuti Saja Mau-Nya

Sering kali manusia merasa bahwa takdir yang digariskan Tuhan terasa tidak adil. Namun, kisah ini menyoroti perjalanan seorang hamba yang memilih untuk menjalani setiap skenario hidup tanpa keluhan berlebih. Dengan keyakinan penuh, ia percaya bahwa waktu akan membuktikan bahwa setiap keputusan Sang Pencipta adalah jalan terbaik. Melalui ketaatan dan kesabaran, ia membuktikan bahwa rencana Ilahi selalu membawa hikmah mendalam bagi hamba yang mau berserah diri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Esok malamnya aku kembali mencoba, namun sengaja jalan lebih awal agar datang tepat waktu di tempat yang ramai pembeli, setelah sholat Maghrib tepatnya.

Namun, malam ini bukan hanya kopi dan cemilan, Nayla juga menyiapkan sedikit gorengan sebagai pendamping kopi. Siapa tahu jadi menarik pembeli—katanya.

"Ini Nay buat dari uang yang Abang kasih kemarin, semoga laris ya, Bang."

"Aamiin. Abang jalan dulu ya, Dek."

Nayla mencium punggung tanganku dengan takzim, tidak lupa ku kecup kening kedua anakku yang sudah tertidur pulas di atas kasur tipis nan usang.

"Bismillahirrahmanirrahim."

Kulakukan motorku membelah dinginnya malam, berharap malam ini akan jauh lebih baik dari malam kemarin.

Setibanya di pangkalan biasa ojek online mangkal, ternyata masih kosong di sana. Mungkin penjual lain baru akan datang nanti.

Berkat itu, aku dapat beberapa orang pembeli. Tidak banyak memang, karena katanya ini adalah jam sibuk para pengemudi transportasi online, mengingat banyak para customer yang baru saja pulang kerja.

"Kopi mix, Bang."

"Tunggu ya, Bang. Silahkan gorengannya sekalian, mumpung masih panas."

"Boleh deh, saya ambil dua. Jadi berapa? Enam ribu, Bang."

Lelaki itu menyerahkan uang dengan jumlah yang pas. Dengan semangat aku membuatkan pesanannya, ini adalah pembeli ke enam yang kulayani sejak beberapa saat lalu sampai.

"Ini kopinya, Bang. Terima kasih."

Senang sekali rasanya, belum ada satu jam saja sudah lima puluh ribu ku dapat. Sepertinya aku harus mencoba mencari tahu jam sibuk para pengemudi ojek online ini, supaya bisa menyesuaikan waktu berjualan dan membuat pangkalan sendiri.

Saat sedang menunggu kembali pelanggan, dua orang penjual kopi lain datang menghampiriku. Mereka menatapku dengan sinis.

"Heh, jangan sembarangan jualan. Ini pangkalan kita punya," ucapnya dengan nada sinis.

"Maaf Bang, saya pikir bebas saja berjualan di sini. Saya bisa geser ke ujung sana jika Abang mau, tapi jangan menghalangi saya ikut berjualan."

"Dari dulu ini pangkalan tempat kita, kalau kamu ikut jualan juga, yang ada pembeli jadi terbagi. Pokoknya nggak bisa, cari pangkalan lain."

"Tapi, Bang—"

"Pergi atau panjang ini urusan?!"

Beberapa pasang mata mulai tertuju pada kami, aku pikir tadinya tidak akan masalah ikut berjualan ditempat seluas ini, tapi ternyata malah jadi masalah.

"Baik, Bang. Maaf, saya permisi."

Kurapikan barang daganganku yang tidak seberapa, tentu saja dari segi itu saja aku kalah telak. Lihatlah mereka, bukan hanya kopi bahkan ada juga es dan aneka cemilan lainnya. Kenapa mereka harus takut tersaingi denganku yang tidak seberapa ini?

Kulajukan kembali motorku menuju halte bus tempat aku mangkal kemarin malam, semoga saja di sana masih bisa berjualan meski memang lokasinya tak cukup strategis dan sepi pembeli.

***

Sebenarnya menurutku Halte ini cukup nyaman, dengan ukuran yang besar serta dekat dengan pusat perbelanjaan, hanya saja posisinya yang menjorok dan agak gelap membuatnya tak cukup strategis untuk para pengemudi ojek online.

Padahal tidak jauh dari halte ini ada juga Halte lain, tapi di sana malah ramai sekali pengendara ojek online yang mangkal. Kalau menurut info yang ku dapat, di sanalah mereka sering dapat banyak orderan. Padahal lokasinya saja kurang nyaman, mereka harus rela duduk di sembarang tempat karena kondisi Halte sudah rusak parah.

Aku hanya bisa mengandalkan orang yang turun dari Bus, itu pun jarang. Tapi aku yakin, selagi kita mau berusaha pasti akan ada hasilnya, entah itu banyak atupun sedikit.

Sudah dua jam aku di sini, tapi baru dapat dua orang pembeli saja, kebanyakan dari mereka akan langsung melanjutkan perjalanan pulang ke rumah karena sudah lelah.

Andai saja tadi pedagang kopi itu mengizinkanku untuk berjualan bersama, mungkin daganganku akan habis dalam waktu sekejap, mengingat jumlahnya saja tidak begitu banyak.

Aku mulai merasa frustasi saat tak ada lagi pembeli, tapi kuingat kembali pesan Almarhum Bapak; usaha, usaha, usaha dan serahkan hasilnya pada Allah.

Kini aku sudah berusaha, biarlah aku pasrah dengan hasil yang Tuhan akan berikan atas usaha yang kulakukan. Jika memang rezeki hanya sebatas ini, maka aku akan menerimanya dengan ikhlas.

Sudah pukul sebelas malam, lalu lintas memang masih ramai tapi pembeli tetap saja sepi. Sepertinya aku harus sudahi dulu untuk malam ini, biarlah kita coba lagi esok malam.

Namun saat hendak merapihkan dagangan, tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya bak air yang tumpah, untung saja aku bawa jas hujan.

Tapi hujannya begitu lebat, terlalu bahaya jika dipaksakan pulang menerobos derasnya guyuran air hujan. Jadi, ku putuskan untuk menunggu sejenak, setidaknya sampai agak reda.

Dari balik hujan aku melihat satu persatu orang menghentikan laju motor mereka di Halte tempatku mangkal, sebagiannya juga pengendara ojek online yang tengah membawa penumpang.

Kini Halte penuh sesak dengan orang, padahal beberapa saat tadi sepi hanya aku seorang diri menanti. Saatnya aku mulai beraksi, menawarkan daganganku pada mereka, siapa tahu akan ada satu atau dua orang pembeli.

"Pak, kopi hitam satu," ucap salah seorang dari mereka yang langsung menghampiriku.

Alhamdulillah, padahal tadi aku sudah pasrah dan nyaris menyerah, tapi ternyata Tuhan berikan jalan melalui hujan yang dia turunkan.

Bukan hanya satu, kini sudah ada empat orang lainnya yang ikut memesan, untuk menghangatkan badan—katanya.

Gorengan buatan Nayla juga sudah ludes terjual, bahkan kopi dan cemilan saja kini hanya tersisa beberapa bungkus saja.

Hujan masih turun dengan lebatnya, sampai akhirnya satu persatu nekat menerobos lebatnya hujan karena merasa sudah terlalu larut jika menunggu hujan reda.

Ku rapikan kembali barang daganganku yang sudah habis terjual, menyisakan sampah yang berceceran. Ku raih sampah-sampah itu lalu membuangnya ke dalam tong sampah yang berada tepat di samping Halte.

Selagi menunggu hujan agak reda, ku intip uang hasil penjualanku hari ini. Betapa bahagianya aku saat melihat tumpukan uang dengan aneka pecahan memenuhi tasku.

Memang, kalau sudah rezeki tak akan tertukar. Padahal, tadi aku sempat berpikir untuk menyerah setelah pedagang lain mengusirku dari lapak yang ramai, namun nyatanya di mana pun kita berikhtiar, Tuhan pasti akan memberikan hasil yang setimpal.

Setelah hujan sedikit reda, aku segera bergegas merapikan kembali barang-barang milikku, memastikan tidak akan ada yang tertinggal.

Kulajukan motorku membelah dinginnya malam, menerobos sang langit malam yang masih gencar menurunkan air hujan.

Di perjalanan, tanpa sengaja aku berpapasan dengan para pedagang yang tadi mengusirku. Meski begitu, aku tetap menyapa mereka dengan senyuman, meski pada akhirnya tatapan sinis yang ku dapatkan. Kejahatan tidak harus dibalas dengan hal serupa. Siapa tahu, suatu hari kami bisa menjalin hubungan baik.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Wanita Biasa
8.6
Madina kembali bertemu Adnan, mantan suami yang mengusirnya akibat fitnah perselingkuhan. Setelah tiga tahun bertahan hidup sebagai buruh kasar karena ijazahnya dirusak, Madina kini ditawari rujuk. Adnan terobsesi mengambil kembali putra mereka demi warisan keluarga, meski dulu ia menelantarkannya. Di tengah trauma dan kehadiran pria lain yang tulus, Adnan berusaha membersihkan nama Madina. Akankah Madina luluh atau memilih bangkit dari luka masa lalu?
Sampul Novel CEO My Husband
8.6
Hidup Tasya berubah menjadi penuh tekanan sejak kehadiran Revan, bos barunya yang sangat menyebalkan. Sebagai CEO muda yang baru saja mengambil alih takhta perusahaan milik ayahnya, Revan terus-menerus mengusik ketenangan hidup Tasya tanpa henti. Setiap hari, Tasya harus menghadapi gangguan dari sang atasan yang membuat hari-harinya tidak pernah damai. Kisah ini mengikuti dinamika antara karyawan yang kewalahan dan bos miliarder yang dominan.
Sampul Novel DENDAM SI PELAYAN SEKSI
9.4
Kehidupan Daren dan istrinya, Carolina, terganggu oleh mimpi buruk yang terus berulang. Kehadiran Eliana sebagai pelayan baru membawa godaan yang membuat Daren terpesona sekaligus memicu ingatan asing. Eliana sebenarnya datang membawa misi balas dendam untuk menghancurkan Daren. Namun, seiring rahasia masa lalu terungkap, ia justru mulai terpikat oleh sang majikan. Akankah dendam Eliana sirna karena perasaan, atau misinya tetap berjalan tuntas?
Sampul Novel Ditinggal Nikah, Aku Langsung Menikahi Putra Mahkotan
9.3
Hari pernikahan impianku hancur saat tunanganku kabur bersama asistennya, sementara sahabat masa kecilku justru mempermalukanku di depan umum demi menyenangkan wanita itu. Mereka mengira aku tidak akan berani pergi dan menerima penghinaan ini begitu saja. Namun, mereka salah besar. Di tengah kekacauan itu, adik mantan tunanganku mengajakku ke kantor catatan sipil. Tanpa ragu, aku langsung menghubungi putra mahkota Keluarga Lessy untuk meresmikan pernikahan kami di hari yang sama dengan mereka.
Sampul Novel GEJOLAK GAIRAH DILAN
9.1
Dilan dan Nessa menjadi sangat dekat hanya dalam tiga kali pertemuan. Namun, momen ketiga itu justru membawa luka hati bagi Dilan. Sebuah insiden tak terduga terjadi saat Nessa berada di bawah pengaruh obat perangsang, memaksa Dilan melanggar janjinya sendiri untuk menjaga kehormatan wanita yang ia cintai. Kini, hubungan mereka dipertaruhkan. Mampukah Nessa memaafkan Dilan, dan akankah kesalahpahaman besar di antara mereka akhirnya menemukan jalan keluar?
Sampul Novel Koleksi Kisah Nakal (21+)
9.2
Dalam dinamika hubungan modern yang penuh warna, setiap pertemuan selalu menyimpan rahasia yang tak terduga. Koleksi narasi romansa dewasa ini mengeksplorasi berbagai momen intim yang dipenuhi dengan kejutan tak terbayangkan di setiap babaknya. Pembaca akan dibawa menyelami lika-liku gairah dan emosi yang mendalam, di mana situasi biasa seringkali berubah menjadi peristiwa yang menggoda dan sangat berkesan bagi para tokoh di dalamnya.