
IDOL
Bab 2
“Sudah berapa kali kubilang, bawa anak itu pergi dari sini. Membuat susah saja. Menghidupi kita sendiri saja sudah sangat sulit dan kau malah membawa masalah lebih besar lagi ke rumah ini!”
Suara nyaring wanita paruh baya terdengar sampai ruang tengah, posisi mereka yang sedang berada di meja makan tidak menyadari sama sekali kehadiran gadis muda yang baru saja pulang dari sekolahnya. Dengan perlahan dia berjalan tanpa memperdulikan omongan mereka yang sangat melukai perasaannya.
“Lalu siapa lagi kalau bukan kita? Dia masih sekolah, setidaknya tunggu hingga dia lulus!” teriak seorang pria yang sangat Raelyn kenal, adik dari ibunya.
“Itu urusanmu, jika sampai minggu depan dia masih ada di sini, maka aku saja yang pergi!”
Istri Pamannya itu berjalan mendekatinya, langkahnya sempat terhenti karena menyadari kehadiran Raelyn. Dia menatapnya dingin dan berlalu begitu saja, Pamannya melihat Raelyn dengan kaget lalu menghampirinya.
“Raelyn? Kemarilah, maafkan Tantemu, ya. Kita tidak bermaksud—”
“Hm, tidak apa, Paman. Rael paham.” Raelyn berjalan begitu saja setelah memotong ucapan Pamannya.
Dengan posisi yang sangat canggung, Pamannya membiarkan Raelyn pergi. Dia mengerti bahwa Raelyn butuh waktu, baru saja minggu ketiga sejak dia datang ke mari. Pasti melelahkan terus berpindah dari saudara satu menuju saudara lainnya.
“Hah...,” desah Raelyn penuh dengan penekanan.
“Delapan belas,” lirihnya tanpa tenaga.
Dilepasnya baju yang sudah mulai lusuh, dia berdiam sesaat setelah mengganti pakaiannya. Menatap sendu jendela yang sudah tertutup tirai lalu merebahkan badannya dengan perlahan. Kedua tangannya menutup seluruh bagian wajahnya dengan erat, lalu matanya terbuka, hanya cahaya-cahaya kecil yang keluar dari celah tangannya.
Perlahan tangannya menyingkir, membuat pandangannya terfokus pada langit kamar. Dia mengusap matanya perlahan, pandangannya memburam, dia kembali mengusap matanya lagi. Hal seperti itu terus terulang hingga ia mulai lelah untuk menyeka air mata yang terus menggenangi penglihatannya.
***
Min Ho melangkah dengan perlahan menuju Dae Ssik, pria yang hanya berbeda empat tahun darinya itu sedang sibuk mengatur jadwal Min Ho yang mulai padat kembali. Dengan amat hati-hati Min Ho terdiam di belakang Dae Ssik tanpa mengeluarkan suara apapun, hingga ia menahan napas agar Dae Ssik tidak menyadari kehadirannya.
“Sedang apa kau di sana, Minho? Segera hapus make up mengerikanmu,” ujar Dae Ssik datar.
Min Ho hanya bisa menatap Dae Ssik dengan datar, begitu bodohnya dia. Terlihat dengan jelas pantulan dirinya dan Dae Ssik di depan cermin. Saking semangatnya ingin menjahili Dae Ssik, Min Ho sampai lupa kalau ruangannya memiliki kaca yang sangat besar hingga seluruh sudut ruangan bisa terlihat dengan jelas.
“Hm.”
Min Ho berbalik dan berlalu menghampiri penata riasnya untuk segera menghapus make up Zombie diwajahnya.
Dae Ssik hanya melirik kepergian Min Ho dari kaca di depannya, dia kembali membuka artikel yang sempat menggemparkan nama baik Min Ho beberapa tahun ke belakang. Di saat dirinya mulai melejit, di saat dirinya mulai mengenal banyak orang. Dan di saat dia mulai mengerti bagaimana cara kerja dunia ini.
“Menyusahkan sekali.”
***
Ruangan 7x7 menyambut kedatangan Raelyn, dia melihat banyak sekali orang dengan jas lab sedang meneliti sesuatu di ruangan yang terbilang kecil untuk sebuah penelitian besar-besaran terhadap virus yang masih belum diketahui penanganannya. Seorang pria mulai menyadari kedatangan Raelyn dan melepaskan jasnya lalu mendatani Raelyn dengan wajah cerianya.
“Duduklah, ingin minum apa? Biar kubelikan. Kopi? Jus? Atau teh? Jus saja, ya? Perjalan dari rumahmu ke mari sangatlah jauh, pasti melelahkan. Jangan menolak dan minumlah.”
Pria itu terus menyeloteh tanpa henti, Raelyn hanya menatap datar dia yang terus bercerita banyak hal. Di mulai dari penelitiannya sampai masalah pribadinya.
“Dan aku baru sadar kalau semua itu hanya mimpi, kaget sekali saat aku terbangun di kamarku sendiri. Hal mengerikan itu masih membuatku ngeri. Ah, aku lupa menanyakan hal ini. Bagaimana sekolahmu? Lalu kenapa kamu jauh-jauh datang ke mari? Kamu sudah izin kepada Ibumu, bukan?”
Ceritanya yang sangat panjang lebar itu akhirnya selesai dengan sebuah pertanyaan yang enggan untuk Raelyn jawab. Pertanyaan sensitif yang tidak pernah pria itu sadari jika pertanyaan itu begitu menyakiti perasaan Raelyn.
Pria itu mengulurkan tangannya, dia mengecek suhu tubuh Raelyn lalu bertanya kembali, “Wajahmu pucat, kamu sakit? Ada apa, Rael? Tumben sekali kamu datang secepat ini. Ada masalah dengan keluargamu lagi?”
“Lucien.”
Tangan Lucien yang masih menempel didahi Raelyn ditepis dengan kasar. Lucien sendiri dibuat kaget lalu menyadari betapa salahnya dia menanyakan perihal keluarganya. Raelyn berdiri tepat di samping Lucien dengan tatapan sendu.
“Kapan terakhir kali aku ke mari?” tanyanya dengan datar.
Lucien menatap gadis itu dengan bingung, dia ikut berdiri dan menghadap kearah Raelyn. Tangannya memegang kedua pundak Raelyn dengan perlahan, dia menatap wajah Raelyn yang sangat muram dibanding dengan terakhir kali dia bertemu.
“Lima bulan yang lalu, ada apa?” tanya Lucien.
Dia menunggu jawaban dari Raelyn. Namun, gadis itu sama sekali tidak berbicara. Tak sengaja ia menatap jam tangannya, jam sudah menujukkan pukul delapan malam, dia kaget karena tidak menyadari waktu.
“Aku antar pulang, perjalanan menuju rumahmu akan memakan waktu yang sangat lama. Akan aku pesankan tiket yang paling pagi, kamu bisa tidur di rumahku selama menunggu jam penerbanganmu, akan kubangunkan nanti. Aku akan mampir ke toko kue kesukaan Ibumu, dia pasti akan menyu— ”
Raelyn tiba-tiba menyentuh lengan Lucien. “Ada apa? Kamu tidak ingin pulang?” tanyanya dengan khawatir.
Raelyn menghentikan langkahnya saat Lucien membahas perihal Ibunya. Pria itu tidak pernah mengerti, mulutnya selalu menyakiti perasaan Raelyn. “Enam tahun.”
“Hah?” tanya Lucien sedikit kebingungan. Lucien mencoba mencerna ucapan Raelyn.
“Sudah enam tahun berlalu sejak aku kemari,” ucapnya, datar. Raelyn menarik napas dengan perlahan, sulit sekali untuk melanjutkan apa yang terjadi selama enam tahun itu.
“Ha-ha, sudah enam tahun, ya? Pantas saja kamu berbeda sekali, semakin dewasa. Kalau begitu menginap saja di rumahku, tak terasa aku sudah menghabiskan banyak waktu di ruangan tertutup ini. Aku akan mengambil cuti dan mengajakmu menikmati pemandangan di sini. Akan kuhubungi Ibumu, tunggulah di sini. Sebentar lagi waktu kerjaku selesai.”
“Lucien....”
“Kenapa, Rael? Tunggulah sebenta—”
Langkahnya terhenti, kemejanya menyakut pada sesuatu. Dia memegang tangan Raelyn yang berusaha menahan kepergian Lucien, tangannya begitu gemetar, wajahnya juga semakin sendu.
“Jangan hubungi dia.”
Lucien tersenyum lebar, dia mengusap kepala Raelyn dengan lembut dan berlalu menuju ruangannya kembali. Raelyn menundukkan kepalanya dan menyeka air mata yang akan keluar dari matanya. Dia harap, Lucien tidak melihat wajahnya sekarang.
Anda Mungkin Juga Suka





