
Ibu untuk Yana
Bab 3
Jam lima sore, aku mengendarai mobil menuju mall untuk membeli kado. Iya, kado buat anaknya si Bisma, teman pemaksa supaya aku menjenguk bayinya yang sudah memasuki usia dua bulan. Jalanan mulai dipadati pengendara. Pas lampu merah, aku teringat sesuatu lalu menepuk kening lumayan keras.
Astaga. Kelupaan kalau aku ada janji sama Yana jalan-jalan. Memukul setir seraya menggeram kecil. Ya ampun, kenapa bisa lupa begini. Mau putar balik percuma. Mall sudah ada di depan mata. Sehabis lampu merah, maju beberapa meter sampai deh.
Lampu berganti warna hijau. Menginjak pedal gas sambil mengambil ponsel di saku celana bahan.
Si*l?! Baterainya lowbatt alias mati total. Janji, dirinya akan beli kado sebentar. Kemudian pulang ke rumah serta mengajak Yana menjenguk anaknya Bisma.
Setibanya di toko baju khusus bayi, aku menggaruk alis yang tiba-tiba gatal. Lupa, aku gak ingat anak Bisma itu cewek apa cowok. Huft, penyakit lupanya kambuh.
"Warna biru kali ya?" monologku teruntuk diri sendiri, "putih aja," lanjutku dengan mengambil baju sepaket warna putih. Enggak lupa beli topi juga selimut. Hm, jadi keinget sewaktu Yana masih bayi. Semua pakaiannya serba kecil.
Sepuluh menitan di dalam toko tersebut, aku segera membayar lalu keluar dari sana terburu-buru. Takutnya macet, nanti Yana tambah marah. Karena tidak memperhatikan sekitar, aku gak sengaja menabrak anak remaja. Kisaran ... lima belas tahunan?
"Sorry?" Hanya ucapan permintaan maaf yang aku bisa. Soalnya gawat darurat. Dirinya harus tiba di rumah secepatnya.
Saat melewati wahana anak-anak, mataku gak sengaja melihat dua orang yang nampak tak asing. Mundur dua langkah, mata disipitkan guna memastikan apakah penglihatannya nggak salah, "Benar kok. Dia Yana sama ... Kiran?" Kedua kakiku melangkah lebar ke sana. Aku pangil-panggil namun mereka tak sadar. Posisinya memang lagi ramai sih, jadi maklum semisal aku teriak pun tidak terdengar.
Akhirnya aku minta tolong pada pegawai yang tengah berjaga. Tidak berselang lama, Kiran menghampiriku dengan Yana tiba-tiba cemberut padahal aku lihat dia tersenyum sumringah di dalam sana.
"Ayah jahat!"
Eh?
Yana mengumpat di belakang tubuh Kiran, "Yana? Ayah baru saja mau pulang. Nih, baru saja beli kado buat Dedek bayi temannya Ayah," ujarku menampilkan senyum lembut walau ekspresi anak tercinta sebaliknya.
Enggak ada respon darinya, aku menoleh kepada Kiran--Adik kandungku, "Kapan pulang?" Sedari Yana kecil, Kiran emang selalu dekat bersama anakku itu. Jadi gak aneh, Kiran pulang dari luar kota enam bulan sekali, Yana langsung menempel bak permen karet tanpa merasa canggung.
"Habis subuh, Mas. Gue nginep di kost temen, baru deh tadi siang ke rumah Mas," tutur Kiran sambil menyodorkan tangan kanan berniat salim.
"Enggak di telepon??" Membalas uluran tangannya serta berceletuk dengan mataku mengarah pada sosok Yana, masih setia bersembunyi.
"Hm, diteror mulu gue sama dia," kulihat Kiran meringis. Aku beri kode bertanya ada apa, "biasa, anaknya Mas kanibal. Gigit tangan gue anj... " aku melotot tajam. Sebagai ungkapan Kiran gak boleh melanjutkan perkataannya.
"Oh iya. Mami mau ngomong sama elu, Mas. Katanya ponsel Mas gak bisa dihubungi," aku tahu Kiran sedang mengalihkan pembicaraan, "lowbatt," jawabku singkat.
"Nih," Kiran menyodorkan ponselnya.
Aku menjauh sebentar, "Assalamualaikum, Mi?" Terdengar helaan nafas dari seberang sana.
"Kemana aja, Sena?! Mami kirim pesan, telepon berkali-kali, nggak ada tuh direspon sama sekali," sembur Ria.
Aku memejamkan mata sesaat, "Ponsel Sena lowbatt," cicitku jujur.
"Enggak mau tau. Pokoknya nanti malam Sena harus kencan sama anak temannya Mami. Tenang saja, biayanya sudah Mami urus. Tinggal kalian datang dan saling bincang satu sama lain."
Tut
Panggilan diakhiri secara sepihak. Belum juga membujuk Yana yang lagi ngambek. Ini bertambah pula atas perintah Ibu negara. Nasib duda anak satu gini amat, ya ampun.
Anda Mungkin Juga Suka





