Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ibu Pengganti untuk Bayi Bapak Kos

Ibu Pengganti untuk Bayi Bapak Kos

Eva terjerat dalam pernikahan kontrak sebagai ibu pengganti bagi bayi milik bapak kosnya. Awalnya, ia mengira tugasnya hanya sebatas mengasuh sang buah hati, namun kenyataan berkata lain. Di tengah statusnya sebagai istri, Eva masih menjalin kasih dengan pacarnya. Kini ia terjebak dilema besar saat sang suami terus menuntut balasan cinta. Akankah Eva memilih kesetiaan pada kekasihnya, atau justru luluh oleh perhatian intens dari bapak kosnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Berulang kali, Eva membolak-balik tubuhnya sambil menutupi telinganya dengan bantal. Dia berusaha tertidur lagi, tapi terganggu oleh suara tangisan bayi. Bahkan, dia sudah menyumpal telinga dengan earphone dan memutar instrumen penenang jiwa. Usaha untuk melanjutkan tidur tetap saja gagal gara-gara bayi itu.

"Anak siapa sih yang nangis terus? Emak bapaknya nggak kasihan apa liat anaknya nggak berhenti nangis?"

Eva melempar asal bantalnya, lalu terduduk. Dia mengembuskan napas kasar.

"Padahal ini hari pertama aku bisa istirahat setelah seminggu penuh ujian akhir semester. Aku relain nggak pulang biar bisa tenang di kos. Tidur puas tanpa dengar ceramah mama papa yang selalu nyuruh cepat lulus."

Eva merupakan mahasiswa tingkat akhir jurusan ilmu komunikasi. Dia mahasiswa yang pintar tapi minim kepedulian terhadap nilai dan mata kuliahnya sehingga semuanya menjadi berantakan dan nilai-nilainya anjlok.

Hari ini menjadi hari kebebasannya setelah berperang dengan materi-materi kuliah, makalah atau laporan pengganti ujian dan soal-soal ujian. Dia berencana menghabiskan harinya dengan tidur sepuasnya.

Pagi tadi, teman-teman kosnya sudah pamit pulang ke kampung halamannya masing-masing. Meninggalkan Eva sendirian di kos. Libur panjang setelah ujian akhir semester memang disambut bahagia oleh semua mahasiswa, kecuali Eva.

"Ini nggak bisa dibiarin, aku harus marahin emak bapaknya tuh bayi. Masa nggak ada usaha buat tenangin anaknya sih?"

Eva bangkit berdiri. Menarik sembarangan kardigan untuk menutupi pakaian tidurnya yang lusuh. Dia menutup pintu kamarnya dengan membanting keras.

"Eh, aduh. Bodoh banget sih Eva." Dia mengutuk dirinya setelah menyadari kesalahan yang diperbuatnya. "Itu pintu susah dibuka dari luar. Gagang pintunya rusak. Nanti cara kamu masuk gimana? Otak nggak dipake sih kalau udah kesel. Main banting-banting segala."

Eva mengata-ngatai dirinya sendiri yang kadang tidak bisa mengontrol emosinya. Meskipun belum menemukan solusi membuka pintunya, dia berjalan mengikuti sumber suara tangisan bayi.

Dia terhenti di depan rumah pemilik kos atau sering disebut rumah utama. Dia memandangi pintu rumah itu tanpa melakukan apapun.

"Masa iya, bapak kos udah balik. Bukannya dia tinggal di rumah kakaknya ya?"

Eva mengingat perkataan bapak kosnya bahwa ibu kos yang meninggal setelah melahirkan anaknya. Bapak kosnya akan tinggal di rumah kakaknya sementara waktu agar anaknya terurus. Kejadian itu sudah berlalu tiga bulan lalu. Selama itu, rumah utama sengaja dikosongkan. Itu kali terakhir, Eva bertemu dengan bapak kosnya. Eva tipe anak kos yang jarang bertemu bapak kos, kecuali jika pintu kamarnya bermasalah lagi atau toiletnya sedang buntu. Kebetulan saja hari itu, dia ikut mengantar jenazah istri bapak kos.

"Apa itu suara anaknya bapak kos? Kasihan banget anak itu. Ibunya meninggal di hari kelahirannya."

"Apakah bayi itu sudah besar? Waktu aku gendong, dia masih merah."

Eva mengangkat tangannya hendak memencet bel, namun tertahan di udara. Dia tidak tahu harus menegur bapak kosnya yang membiarkan bayi itu menangis kencang dan menganggu istirahat Eva. Atau Eva membiarkan saja bayi itu menangis. Tapi, Eva tidak tega mendengarnya. Dia khawatir kalau bapak kosnya ketiduran dan tidak melihat bayinya yang jatuh, mungkin.

"Aku harus mengeceknya," kata Eva kemudian memencet bel.

Hanya sekali dan dia memilih menunggu sang empunya rumah. Jika lama tidak ada yang keluar, Eva akan menerobos masuk untuk memeriksa kondisi bayi itu.

"Eh, suara tangis bayi kok hilang?" Eva menempelkan telinga ke daun pintu.

Dia bisa mendengar langkah kaki menuju pintu. Cepat-cepat Eva menjauhi daun pintu dan berdiri agak jauh.

Seorang pria yang Eva kenali sebagai bapak kos keluar sambil menggendong bayi. Pria itu tampak kaget melihat keberadaan Eva di depan rumahnya.

"Pak, anaknya kenapa?" tanya Eva. Dia tidak lupa menampilkan senyuman pada pria itu.

"Ternyata kamu," ucap bapak kos terlihat kecewa dengan kedatangan Eva. "Ada apa, kamu perlu sesuatu?"

Pertanyaan itu yang selalu Eva dengar ketika berkunjung ke rumah utama. Wajar saja, penyewa kos datang ke rumah utama tentu membutuhkan atau melaporkan sesuatu.

Berbeda kali ini, Eva menunjuk bayi dalam gendongan bapak kos dan mengulang pertanyaannya, "Anak Bapak kenapa menangis?"

Sejujurnya, Eva merasa kurang nyaman jika memanggil pria itu dengan sebutan bapak. Yang terlihat, bapak kos itu belum terlalu tua. Umurnya sekitar 28 tahun. Lebih cocok dipanggil Mas. Tetapi atas dasar kesopanan dan segan, akhirnya semua anak kos memanggilnya bapak kos.

"Ini nih, dia lagi pup. Saya bingung cara gantinya." Dengan suara berbisik, bapak kos tampak malu mengatakannya.

"Saya bantuin ganti popoknya, boleh?" Eva menawarkan diri. Lenyap sudah kemarahannya Eva, menyisakan rasa kasihan pada bayi itu.

"Kamu bisa?" tanya bapak kos tampak ragu.

"Aku pernah menggantikan popoknya bayi, sekali." Evan mencicit di akhir kalimatnya. Dia pun ragu menggantikan popok bayi bapak kos. Atas dasar kasihanlah yang mendorongnya untuk menawarkan diri membantu.

Bayi yang pernah Eva gantikan popoknya adalah ponakannya sendiri yang berumur 2 tahun saat itu. Meskipun sama-sama batita, Eva yakin cara menggantinya tetap sama. Eva hanya perlu tempo yang lebih pelan dan halus untuk menggantikan popok bayi mungil bapak kos.

"Baiklah. Kamu masuk dulu." Bapak kos mempersilahkan. Ada binar-binar bahagia di wajahnya yang sempat tertekuk dan sedih sebelumnya.

Eva mengekor di belakang bapak kos memasuki rumah. Bapak kos meletakkan bayi mungil itu di karpet berbahan super lembut di ruang tengah. Dia berlalu menuju salah satu kamar di rumah itu.

Eva memperhatikan bayi mungil itu yang sudah sejak tadi berhenti menangis, namun bekas-bekas amukannya masih tersisa di wajahnya yang memerah. Eva tersenyum melihatnya.

'Sangat menggemaskan,' batin Eva tidak tahan ingin mencubit pipi gembul bayi itu.

Ada getaran aneh yang Eva rasakan ketika bertatapan mata dengan bayi itu. Eva yakin, bayi itu sudah bisa melihatnya. Dan Eva dibuat jatuh cinta oleh pandangan pertama bayi itu.

Eva sangat tertantang untuk mencium bayi itu. Dia mendekatkan wajahnya ke bayi mungil yang sedang memainkan tangannya. Ketika hampir menyentuh dahi bayi itu, Eva mendorong wajahnya dengan tangannya sendiri agar tidak lancang mencium bayi itu.

"Nakal banget sih pikiran gue. Mau sosor anak orang."

Eva memarahi dirinya sendiri yang hampir melewati batas. Daripada mencium bayi itu, Eva hanya menoel-noel pipinya. Eva juga mengajaknya berinteraksi dengan menggerakkan kepala dan mulutnya. Membentuk berbagai macam ekspresi untuk ditunjukkan pada bayi itu. Eva memulai aksi komunikasi bayi.

Bapak kos kembali bergabung dengan peralatan bayi yang diletakkan di samping Eva.

"Eva, saya mau minta bantuan kamu satu hal lagi," pinta bapak kos kurang enak.

"Apa itu, Pak?" tanya Eva.

"Popok bayi saya nggak ada. Kamu mau jaga anak saya saja di sini atau bantu saya beli popok." Bapak kos memberi pilihan.

"Jaga dia!" Eva menunjuk bayi itu tanpa ragu dan penuh semangat.

Bayi itu memiliki magnet yang membuat Eva tidak bisa meninggalkannya. Eva tersenyum bahagia ketika bayi itu menangkap telunjuknya dan menggenggam erat.

"Lihat pak! Anak bapak melarang saya pergi. Dia nahan saya. Bapak saja yang pergi beli popok. Percayakan bayi bapak sama saya." Eva tersenyum lebar sehingga menampilkan deretan giginya yang sedikit kuning.

Eva lupa menggosok gigi sebelum ke rumah bapak kos. Untung saja, Eva tidak bau mulut. Kemarahannya tadi yang dia niatkan akan ditumpahkan kepada bapak kos berubah haluan. Dia menjadi bahagia dalam sekejap hanya dengan melihat bayi mungil yang cantik itu.

Bapak kos itu geleng-geleng melihat perempuan muda ini yang penuh antusiasme.

"Baiklah. Nak, Kamu sama Kakak Eva dulu ya. Papa mau keluar sebentar. Jangan rewel dan jadi anak penurut sama Kak Eva. Ok?" Bapak kos menjawil pipi bayinya dan menciumnya.

Interaksi bapak dan anak itu tidak lepas dari penglihatan Eva. Perasaannya menghangat melihat bapak kos begitu mencintai dan penuh kasih pada bayinya.

"Pak, aku mau cium juga." Eva keceplosan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ID-PD76
9.0
Selama tiga tahun, Evelyn merawat Aidan yang amnesia dan menjadi kekasih rahasianya. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Aidan hanya berpura-pura lupa ingatan. Lebih tragis lagi, Aidan dan cinta masa lalunya ternyata terlibat dalam kematian ayah Evelyn. Tak tinggal diam, Evelyn mengumpulkan bukti dan menjebloskan mereka ke penjara tepat di hari pernikahan. Saat Aidan menyadari cinta sejatinya, Evelyn sudah menutup hati dan memilih pergi selamanya.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Yasmin yang baru berusia 20 tahun terjebak dalam pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Namun, konflik memuncak saat Galih memberikan pilihan sulit antara Vira, anak sambungnya, atau Anggara. Meski Yasmin sangat mencintai Vira, keraguan hatinya memicu amarah Galih. Pria itu akhirnya menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan sisa harapan dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel Istri Pengganti Sang Miliarder
8.7
Hailey terpaksa membalas budi keluarga Brantley setelah rahasia identitas aslinya terungkap. Dia dipaksa menggantikan kakaknya untuk menikahi miliarder yang kabarnya sudah tua. Namun, kejutan besar terjadi di pelaminan saat sosok sang suami ternyata pemuda tampan bernama Mathias. Ketegangan memuncak pada malam pertama ketika Mathias menyudutkan Hailey ke dinding. Dia membongkar fakta bahwa dia tahu Hailey bukanlah putri sulung yang seharusnya dinikahinya.
Sampul Novel Madu Untuk Suamiku
8.4
Namanya Fransiska Damayanti (33 tahun) dan suaminya bernama Arya Praptama (35 tahun) mereka adalah sepasang suami istri yang sangat bergelimang harta, namun kisah cinta mereka tak sesempurna yang orang pikirkan, 10 tahun pernikahan mereka belum juga dikaruniai anak. Hingga suatu hari Siska menjodohkan suaminya dengan gadis belia berusia 17 tahun, yang bernama Dinda Kinara, gadis yatim piatu yang tinggal didesa bersama nenek dan adik laki laki satu satunya, Sejak usia 10 tahun Dinda sudah menjadi yatim piatu. bagaimana dengan kisah cinta mereka?
Sampul Novel My Sugar Daddy
8.7
Demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya, seorang gadis miskin rela memikul beban berat sebagai tulang punggung keluarga. Terdesak kebutuhan ekonomi, ia terpaksa terjun ke dunia sugar baby yang penuh risiko. Di tengah peliknya perjuangan hidup dan konflik batin yang menguras emosi, ia justru menemukan cinta sejati. Meski harus melewati rintangan berat seorang diri, keteguhan hatinya akhirnya berbuah kebahagiaan yang abadi.
Sampul Novel PERNIKAHAN DINI
8.8
Anara Quinzy Prayoga dan Andika Surya Gutama terpaksa menikah di usia muda setelah terjebak cinta satu malam. Perbedaan kasta menjadi penghalang besar, di mana Anara hanya putri buruh pabrik sementara Dika berasal dari keluarga kaya. Demi mempertanggungjawabkan kehamilan Anara, Dika rela kehilangan seluruh fasilitas mewahnya. Kini, ia harus berjuang keras menghidupi istrinya sendirian tanpa bantuan orang tua setelah diusir oleh ayahnya yang murka.