
Ibu Mertuaku, Godaanku
Bab 3
Malam itu, setelah percakapan yang menggantung di antara mereka, Nathan merasa gelisah. Tidak ada jawaban yang memuaskan, hanya kebingungannya yang semakin dalam. Elira sudah pergi tidur lebih dulu, meninggalkan Nathan di ruang tamu yang sepi, dengan pikirannya yang berputar-putar. Ia menatap sekeliling rumah mereka-tempat yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan, namun kini terasa seperti perangkap yang menunggunya.
Beban yang berat ada di pundaknya. Ia harus menghadapi Elira, mengungkapkan apa yang selama ini ia sembunyikan, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia takut kehilangan istrinya, takut bahwa setelah semuanya terungkap, tidak ada lagi yang tersisa untuk mereka berdua. Namun, di sisi lain, ia tahu ia tidak bisa terus hidup dengan rahasia ini, terutama ketika Seraphine, ibu mertuanya, seakan hadir dalam setiap langkahnya.
Elira mungkin sudah merasakannya, tapi apakah dia tahu sepenuhnya? Bagaimana jika ia benar-benar mengetahui betapa besar pengaruh Seraphine terhadap hidupnya, dan bagaimana hal itu mulai merusak segalanya?
Nathan memutuskan untuk tidak tidur malam itu. Ia merasa seperti ada sesuatu yang tak bisa ditunda. Ia perlu berbicara dengan Seraphine, mengklarifikasi segala sesuatunya, meskipun ia tahu itu adalah keputusan yang berbahaya. Ia merasa terjepit antara rasa tanggung jawabnya pada Elira dan ketertarikannya yang tidak bisa ia jelaskan pada ibu mertuanya.
Pagi-pagi sekali, saat matahari belum sepenuhnya muncul, Nathan sudah keluar dari rumah, mengemudi menuju rumah Seraphine. Jalanan kota yang sepi menciptakan suasana yang hampir hening, tetapi di dalam dirinya, kegelisahan itu menggelegak. Setiap detik terasa berat, seolah-olah semakin dekat dengan Seraphine, semakin dekat pula ia dengan kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Sesampainya di rumah Seraphine, ia disambut dengan sikap hangat dan ramah, seperti biasa. Tetapi kali ini, Nathan merasakan ketegangan yang berbeda, yang hampir bisa ia sentuh. Seraphine menyapanya dengan senyum manis, namun tatapan matanya seperti memendam sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tak ingin ia akui.
"Selamat pagi, Nathan. Ada yang bisa aku bantu?" suara Seraphine terdengar lembut, tetapi ada kesan yang berbeda kali ini. Ia seakan-akan mengetahui ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Nathan.
Nathan menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. "Aku ingin berbicara denganmu, Seraphine," ujarnya, suaranya lebih rendah dari biasanya, mencerminkan ketegangan yang ia rasakan.
Seraphine mengangguk, lalu mempersilakan Nathan duduk di ruang tamu yang tenang. Ruangan itu tampak seperti rumah yang penuh dengan kenangan-kenangan yang mungkin akan segera dihancurkan oleh percakapan ini.
"Ada apa, Nathan? Aku tahu kamu datang dengan sesuatu yang penting," kata Seraphine, suaranya tenang, tetapi ada sesuatu di balik kata-katanya yang membuat Nathan merasa semakin cemas.
Ia menunduk sejenak, merasakan beratnya kata-kata yang hendak ia ucapkan. "Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi... aku merasa ada sesuatu yang tidak beres antara kita. Aku tidak tahu apa itu, tetapi aku merasa... ada ketegangan yang tumbuh."
Seraphine tetap diam, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Beberapa detik berlalu sebelum ia membuka mulut. "Nathan, aku tahu betapa pentingnya hubunganmu dengan Elira. Kau mencintainya, bukan? Dan aku tahu, sebagai seorang ibu, aku selalu ingin yang terbaik untuk anakku. Tetapi terkadang, dalam kehidupan kita, ada hal-hal yang lebih sulit daripada yang bisa kita bayangkan."
Nathan merasa jantungnya berdegup lebih cepat. "Apa maksudmu?" tanyanya, suara yang hampir tak terdengar karena ketegangan yang menguasainya.
Seraphine menyandarkan dirinya pada kursi, matanya menatap jauh ke depan, seolah berpikir keras sebelum berbicara. "Ada banyak hal yang terjadi di masa lalu yang mungkin tak pernah kau ketahui, Nathan. Ada banyak lapisan dalam hubungan kita-dalam hubungan keluarga ini-yang tak bisa kita lihat dengan mudah."
Nathan menggigit bibirnya, merasa seolah-olah ia sedang berada di ujung jurang yang gelap. "Aku tidak mengerti," katanya, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Seraphine tersenyum pahit. "Kadang-kadang, seseorang harus membayar harga untuk kebahagiaan mereka, Nathan. Tidak semua hal bisa terjadi tanpa ada pengorbanan."
"Apakah kamu berbicara tentang dirimu?" Nathan bertanya, mencoba mencari tahu apakah ia mendengar dengan benar.
Seraphine mengangguk perlahan, matanya kini menatap langsung ke mata Nathan dengan tatapan yang sulit untuk diungkapkan. "Aku tidak menginginkan ini, tetapi kadang-kadang, kebahagiaan datang dengan harga yang sangat tinggi. Dan aku... aku hanya ingin memastikan bahwa Elira tidak akan terlalu terluka."
Kata-kata itu menghantam Nathan seperti tamparan keras di wajahnya. Ia merasa seperti terjebak dalam jaring laba-laba yang tak terlihat-di satu sisi, ia mencintai Elira dengan sepenuh hati, tetapi di sisi lain, ia merasa terikat pada Seraphine dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
"Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, Seraphine?" tanya Nathan, suaranya semakin serak. "Apa yang kamu sembunyikan?"
Seraphine terdiam sejenak, seolah merasakan beratnya pertanyaan itu. "Ada banyak hal yang tidak kau ketahui, Nathan. Hal-hal yang tak bisa aku ungkapkan begitu saja. Tapi, jika kau ingin tahu, kau harus siap menghadapi kenyataan yang akan mengubah segalanya."
Nathan merasa seperti berada di persimpangan jalan. Ia bisa merasakan kebenaran yang tersembunyi, tetapi ia tidak tahu apakah ia siap untuk menghadapinya. Apa yang akan terjadi jika ia menggali lebih dalam? Apa yang akan ia temukan jika rahasia yang selama ini tersembunyi akhirnya terungkap?
Sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, pintu terbuka dan langkah kaki terdengar di lorong. Seraphine menatap Nathan sejenak, lalu berdiri dan pergi menuju pintu. "Ini sudah cukup, Nathan. Kau tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya."
Nathan hanya bisa diam, terperangkap dalam kebingungannya sendiri, tidak tahu harus melangkah kemana.
Anda Mungkin Juga Suka





