
Suamiku Meminta Restu Untuk Menikahi Wanita Yang Menyakitiku
Bab 3
Suara ombak di pantai kecil itu menjadi satu-satunya irama yang menemani detik demi detik hening di antara mereka. Citra masih berdiri dengan ponsel menempel di telinganya. Pipinya basah oleh air mata, dan angin laut mengibarkan ujung kerudungnya yang sudah kusut.
"Citra..." suara Bagas terdengar berat di ujung telepon. "Kamu di mana sekarang?"
Citra menggigit bibirnya. Ia ingin mematikan telepon. Ingin menghapus nomor itu lagi seperti ratusan kali sebelumnya. Tapi kali ini, ia tak bisa.
"Di kota kecil di pesisir selatan," jawabnya akhirnya, suara parau. "Aku buka toko bunga di sini."
Sejenak hening.
"Aku bisa ke sana?"
Citra terdiam lama sebelum menjawab pelan, "Aku tak tahu apakah itu ide yang bagus."
"Aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan tetap datang."
Klik. Sambungan terputus.
Citra memandang layar kosong ponsel. Suara Bagas masih bergema di telinganya. Setelah sekian lama, nada itu tidak terdengar dingin. Tidak datar. Tapi penuh rasa bersalah dan... rindu?
Kedatangan yang Mengguncang
Dua hari kemudian, hujan turun deras membasahi atap toko bunga Citra. Ia sedang merangkai bunga anggrek putih ketika pintu terbuka dan lonceng kecil di atasnya berbunyi.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu, mantel panjangnya basah, dan tongkat di tangan kanannya menjejak lantai kayu dengan suara berat.
Citra menghentikan gerakannya.
"Bagas..." ucapnya nyaris tak terdengar.
Pria itu hanya berdiri, memandangi wajah Citra. Sorot matanya begitu asing namun begitu familiar. Ada luka di sana, sama dalamnya seperti yang dimiliki Citra.
"Aku datang bukan untuk memaksamu kembali," katanya akhirnya. "Aku hanya ingin bertemu."
Citra memaksakan senyum. "Kamu basah kuyup. Duduklah sebentar."
Ia mengajaknya masuk ke ruang kecil di belakang toko. Disana, Citra menyeduhkan teh hangat dan menyodorkannya tanpa bicara.
Bagas meminumnya perlahan. Mereka duduk berhadapan, namun tidak saling menatap.
"Setelah kamu pergi, semuanya berubah," ujar Bagas pelan. "Restoran menurun, Maya menjual sahamnya diam-diam, dan Ayahmu..."
"Sudah kubilang sejak awal, Maya bukan wanita yang bisa dipercaya," potong Citra tajam.
Bagas mengangguk, menerima. "Dan aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Aku pikir aku berutang sesuatu padanya. Tapi ternyata aku... kehilangan segalanya."
"Kamu tidak kehilangan apapun," Citra bangkit. "Kamu hanya kembali ke titik awal. Dan aku... bukan bagian dari titik itu lagi."
Bagas menunduk. "Apa kamu bahagia di sini?"
Citra menatapnya lama, sebelum menjawab, "Tenang. Tapi bukan berarti sembuh."
Luka yang Tidak Sembuh
Bagas tidak langsung pergi hari itu. Ia menyewa kamar kecil di penginapan dekat pantai, dan selama tiga hari berturut-turut ia datang ke toko bunga hanya untuk duduk diam dan melihat Citra bekerja.
Warga kota kecil itu mulai berbisik. "Itu siapa?" tanya seorang pelanggan tua. "Suamimu?"
Citra hanya tersenyum. "Bukan. Mantan."
Hari keempat, Citra tak tahan lagi. Ia menghampiri Bagas saat toko mulai sepi.
"Kamu tidak bisa terus begini," katanya tegas.
"Aku tidak bisa pergi tanpa tahu kamu benar-benar baik-baik saja."
"Dan kamu pikir kamu bisa menebus semuanya hanya dengan duduk diam di toko bungaku?"
Bagas menatap Citra dalam-dalam. "Tidak. Tapi aku bisa mulai dari situ."
Citra terdiam.
"Kamu tidak harus mencintaiku lagi," lanjut Bagas. "Tapi izinkan aku mencintaimu, walau dari jauh."
Kilas Balik Cinta yang Hilang
Malam itu, Citra duduk di jendela kamar kosnya, memandangi lampu pelabuhan dari kejauhan. Ingatannya melayang ke malam-malam pertama pernikahan mereka.
Bagas yang dingin, kaku, selalu menjaga jarak. Tapi ia tidak pernah menyakitinya. Ia sopan. Bertanggung jawab.
Dan lama-kelamaan, dingin itu mencair. Ada teh hangat di pagi hari, selimut tambahan di malam hari, dan sesekali pijatan ringan di kaki Bagas saat nyerinya kambuh.
Cinta itu tumbuh diam-diam. Perlahan. Tapi nyata.
Hingga Maya kembali, dan semuanya runtuh.
Citra memejamkan mata, menahan tangis.
Konfrontasi
Pagi hari, saat membuka toko, Citra dikejutkan oleh suara keras.
"Aku tahu kamu di sini!" suara itu-tajam dan penuh emosi.
Maya berdiri di depan toko, mengenakan pakaian mewah dan kaca mata hitam. Di belakangnya, mobil sport berhenti dengan sopir menunggu.
Citra menahan napas. "Maya?"
"Kamu pikir kamu bisa sembunyi di kota kecil ini? Aku tahu kamu mengambil sebagian saham itu!"
"Aku hanya mengambil bagianku."
Maya mendekat, wajahnya penuh amarah. "Kamu pikir kamu bisa menang? Bagas kembali padamu? Dia bukan milikmu! Dia milikku!"
"Kalau begitu kenapa kamu tinggalkan dia lagi?" serang Citra.
Maya menamparnya.
Bagas yang tiba-tiba muncul dari balik gang langsung berlari memisahkan mereka. "Cukup!" teriaknya.
Maya menatap Bagas, tangisnya meledak. "Aku mencintaimu, Bagas!"
Bagas menatap Maya dengan mata kosong. "Tidak. Kamu mencintai uangku. Kekuatanku. Kamu tak pernah mencintaiku."
Ia menggandeng tangan Citra dan membawanya masuk ke toko.
"Jangan pernah datang lagi," katanya dingin pada Maya.
Dan untuk pertama kalinya, Maya tak bisa membalas. Ia hanya berdiri, lalu pergi.
Menata Ulang
Hari-hari berikutnya, Citra dan Bagas mulai berbicara. Tentang masa lalu. Tentang rasa sakit. Tentang kesalahan.
"Mungkin aku terlalu banyak diam," kata Bagas suatu malam.
"Mungkin aku terlalu banyak berharap," balas Citra.
Mereka tertawa, kecil, getir.
Bagas membantu Citra merapikan toko, membangun ulang ruang belakang menjadi ruang konsultasi bunga untuk acara pernikahan dan pemakaman.
"Kita pasangan yang aneh," ujar Citra suatu siang sambil menyiram bunga.
"Tidak. Kita pasangan yang nyata," balas Bagas.
Pilihan
Satu sore, Bagas membawa Citra ke tepi pantai.
"Aku tidak tahu apakah kamu bisa memaafkanku," katanya sambil menatap matahari terbenam. "Tapi aku ingin menebus semuanya. Bukan dengan janji kosong. Tapi dengan tindakan."
Citra terdiam.
"Aku ingin menikah lagi," lanjut Bagas. "Tapi kali ini... karena cinta. Karena kamu."
Citra menatap wajah pria itu. Masih ada luka. Tapi juga ada harapan.
"Jika kamu mau... kita bisa mulai dari awal."
Citra tersenyum, mata berkaca-kaca.
"Bagas, kita tak bisa menghapus masa lalu. Tapi mungkin... kita bisa menulis bab baru."
Dan saat ombak menyapu kaki mereka, dua hati yang terluka saling menemukan kembali jalannya.
Anda Mungkin Juga Suka





