
HITAM
Bab 3
Heni termasuk orang yang memiliki kenangan tersendiri dengan Tintrim. Dulu waktu pertama ke Tintrim, dia baru saja benar-benar menjadi istri Hasan dan dia harus malu dan sangat malu karena terus digoda oleh Fadli. Selain itu Tintrim juga menjadi tempat Heni pertama kali bertemu dengan Bai. Seorang ustadz fenomenal yang meruqyah dengan cara yang berbeda.
Ah, sampai sekarang Heni sangat ingin memiliki suami atau anak seperti Bai. Heni mencebik, selama ini Hasan hanya sama galaknya saja dengan Bai, selebihnya tidak ada yang sama. Heni tertawa sendiri. Dia malah jadi berpikir yang tidak-tidak.
Hasan melirik kepada Heni dengan galak dan kemudian masuk ke dalam rumah Setiyadi dengan Azzam. Heni semakin geli, benar, kan? Hasan itu galak sekali, tidak jauh beda dengan Hasna. Mereka berdua galak sekali, kalau sudah bertengkar mirip benar dengan Faiz dan Faizah.
"Budhe!" teriak seseorang, Heni menoleh dan melihat Faizah yang berlari ke arahnya. Heni senang sekali bertemu dengan keponakannya itu.
"Faizah," sapa Heni. Mereka berpelukan.
"Mana yang lain?" tanya Faizah.
Heni tahu maksud Faizah, dia mencari Faiz. Heni menggelengkan kepalanya.
"Entah. Tadi yang ikhwan langsung masuk ke dalam. Budhe di luar saja, panas, Zah," jawab Heni, "ummimu juga masuk sepertinya."
Mereka berdua menahan tawa. Mereka tahu seperti apa Hasna. Kadang Hasna galak tak terkira, kadang Hasna merajuk dan manja pada Hasan. Ah, Heni tak tega. Dia kasihan melihat Hasna tinggal sendirian di pesantren ruqyah. Dia tidak mau diajak tinggal di rumah Faiz. Alasan Hasna pun sangat mengena.
"Aku ingin meninggal di pesantren," jawab Hasna ringan.
Hasan mendelik kepadanya.
"Bilang seperti itu lagi dan kutampar kamu!" teriak Hasan. Hasna diam saja dan malah menangis.
"Aku ingin meninggal di sini seperti ummi," kata Hasna lagi. Hasan terdiam, dia tidak bisa berkata-kata lagi kalau Hasna sudah berbicara tentang Saras --ummi mereka-- dan Galang. Kadang Heni merasa begitu iba kepada mereka berdua. Mereka seperti dua orang anak yang saling memiliki, tidak punya siapa-siapa lagi. Hasan pernah kehilangan Ami dan Hasna kehilangan Galang. Membayangkannya saja membuat Heni meneteskan air mata. Dia sangat iba pada mereka berdua.
Prosesi pemakaman akan segera dimulai. Azzam yang semula ikut Hasan, segera dikembalikan kepada Heni, karena Hasan akan ikut ke makam. Azzam pun mulai menangis karena ingin ikut abinya, Heni yang mulai merasa gerah dan kepananasa pun mulai ikut murka, untung ada Aini, istri Ilyasa, yang mengajak Azzam bermain ke rumahnya. Azzam langsung mau karena Aini menjanjikan ada adik kecil dan juga kolam ikan di rumahnya.
Heni tidak sempat berpesan apa-apa, karena dia melihat seorang wanita yang dikelilingi anak-anaknya sedang melepas kepergian imam keluarga mereka. Ah, Heni ikut menangis melihat kesedihan di wajah wanita itu. Rasanya nelangsa sekali. Wanita itu cantik molek, dengan pipi yang agak tembam sedikit dan kulit yang kuning langsat, mungkin wanita itu sudah tua, tetapi kecantikannya yang klasik tetap melekat di wajahnya. Tetapi sekarang kecantikan itu ternoda oleh kesedihan mendalam pada wajah wanita itu. Sepertinya wanita itu sangat ingin menjerit.
Heni melihat Arini, istri Ilyas, di dekat wanita cantik itu. Ah, dia juga menangis. Kasihan sekali. Dan Heni melihat perut Arini. Oh, hamil lagi nampaknya. Mau tak mau Heni tersenyum juga, dia akan mendapat cucu lagi, seperti Yasna. Ah, dia ingin seperti Yasna, punya banyak cucu.
Prosesi pemakaman itu berjalan lancar. Heni sangat terharu melihat wanita itu menangis tersedu melihat keranda suaminya diberangkatkan ke makam. Heni sangat terharu ketika melihat begitu banyak orang yang mengantarkan Setiyadi ke peristirahatannya yang terakhir. Heni tahu, seseorang itu dicintai atau tidak dilihat dari banyak atau sedikitnya orang yang mengantarkannya ke peristirahatannya yang terakhir. Dan sekarang Heni tahu, Setiyadi dicintai begitu banyak orang.
Heni melihat banyak orang. Bahkan Heni melihat Bai. Oh, Bai berjalan bersama dengan seorang pria sepuh yang menangis tersedu ketika ikut mengantarkan jenazah itu. Bai menghibur orang itu.
Ah, Heni ikut menangis melihat betapa banyak ustadz-ustadz terkenal yang ikut mengantarkan Setiyadi ke makamnya. Sedihnya. Rasanya Heni --yang bahkan sama sekali belum mengenal Setiyadi-- merasa tidak ikhlash dengan kepergian ustadz itu. Rasanya kasihan sekali.
Heni melihat Bambang juga menangis, wajahnya basah oleh air mata. Tak heran, Setiyadi, kan asisten Bambang dalam waktu yang cukup lama, mereka pasti sudah saling mengenal satu sama lain dengan sangat dekat.
Sedihnya ....
"Ustadzah Heni?"
Heni mendongak dan melihat Annisa dan Yasna mendekatinya. Mereka berdua nampak habis menangis.
"Mampir ke rumah saya saja, njih, Ust. Sepertinya Mbak Arini dan keluarga belum dapat dikunjungi," kata Annisa. Heni mengangguk dan menyanggupi ajakan Annisa.
"Eh, tapi, tadi Azzam main dengan Aini," kata Heni khawatir.
Annisa tertawa.
"Oalah Ustadz Ilyasa? Rumahnya satu RT dengan saya. Dekat, Ustadzah, jangan khawatir. Monggo ke rumah saya saja sekalian ambil Azzam. Eh, la, tadi Asma mana, to? Katanya mau bareng?" Annisa malah kemudian pergi mencari Asma.
Yasna duduk di samping Heni.
"Panas banget, ya, Hen? Aku paling nggak suka di Tintrim karena panasnya itu, lo!" keluh Yasna. Heni tertawa. Ternyata untuk masalah tidak suka dengan panas, dia tidak sendirian.
"Salma ikut, Mbak?"
Yasna menggeleng.
"Tadi sepertinya di suruh ke pesantren saja sama Ustadz Fiki. Kita tadi sudah berangkat waktu mereka baru sampai," jawab Yasna, tetapi dia keliru, ternyata Salma malah mendekati mereka dan menyalami Yasna dan Heni.
"Astaghfirullah! La kok ikut ke sini?" tanya Yasna keheranan, sekaligus agak panik. Salma tertawa.
"Ada teman Ustadz Fiki yang dari sini, kami diminta menempati rumahnya. Kita ke sana saja, yuk, Buk. Di sini panas sekali," kata Salma.
Heni tertawa, semua mengeluhkan tentang panas, tetapi entah kenapa, sepertinya hari ini memang lebih panas dibandingkan biasanya. Panas sekali.
****
Nurul Ikhlash mendesah. Setiyadi. Nama yang sangat dikenalinya beberapa tahun yang lalu, saat dia dan Karima sedang membina beberapa rumah tahfidz di Ketanggungan dan Gang Manggis.
Nama Setiyadi adalah jaminan kesabaran, kebijakan, keteduhan dan ketenangan. Ah, sayang sekali, ustadz sepuh itu harus dipanggil Allah. Nurul Ikhlash berusaha tidak menangis, mengingat dulu dia selalu berkonsultasi pada Setiyadi tentang masyarakat Ketanggungan, tentang berbagai macam masalah dan halangan dan rintangan yang mereka hadapi. Nurul Ikhlash memejamkan matanya. Sedihnya mengingat itu semua.
Nurul Ikhlash mengingat sambutan hangat Setiyadi. Senyum dan keramahan Setiyadi yang tiada duanya, bahkan menurut Nurul Ikhlash sepertinya Setiyadi termasuk ustadz paling ramah dan paling sabar di Tintrim.
Beberapa orang menyapa dan menyalami Nurul Ikhlash, tetapi tentu saja yang paling ditunggu Nurul Ikhlash adalah bertemu dengan biang ngeyel bermata aneh itu. Ah, rupanya 'trouble maker' itu sudah melihat Nurul Ikhlash terlebih dahulu. Nurul Ikhlash berusaha bersikap tenang dan mendelik ke arah Fiki yang sepertinya akan tertawa kepadanya. Fiki sepertinya paham, dan berpura-pura menyalami dan mencium tangan Nurul Ikhlash dengan takzim.
"Assalamualaikum, sehat, Ustadz?" tanya Fiki menggoda. Nurul Ikhlash diam saja, dia tambah mendelik pada Fiki. Fiki mendongak dan menahan tawanya.
"Wau dipadosi Ustadz Nurul Islam, Ust, (Tadi dicari Ustadz Nurul Islam, Ust,)" lanjut Fiki. Nurul Ikhlash diam saja, dia menjawab dengan dengusan.
"Jangan becanda, Fik!" seru Nurul Ikhlash dalam desisan. Fiki menahan tawanya dan mengangguk. Mereka berpelukan.
"Mana anakmu?"
"Ada di rumah temanku. Aku punya teman akrab dari Tintrim dan aku diminta menempati rumahnya selama kami di sini," jawab Fiki.
"Bohong!"
"Astaghfirullah, Ustadz. Janggan suudzon dulu!" seru Fiki menggoda lagi. Nurul Ikhlash nyaris murka dan hampir saja dia mencubit Fiki agar diam, tetapi wajahnya sudah menggambarkan kegelian. Dia mencondongkan tubuhnya pada Fiki.
"Jangan sampai aku marah, Fik!" desis Nurul Ikhlash.
Mereka berdua tertawa tertahan.
"Setelah bertakziah kita ke rumah temanku saja. Kita buktikan aku bohong apa tidak," kata Fiki serius. Nurul Ikhlash menganggukkan kepalanya.
"Ada makanan? Sepertinya Karima berniat puasa, tetapi katanya dia tadi haidh dan belum sempat membatalkan puasanya," bisik Nurul Ikhlash.
Fiki terdiam sejenak, jiwa tengilnya muncul lagi.
"Mungkin ada. Kita lihat nanti," jawab Fiki menggoda. Nurul Ikhlash terpaksa harus mendelik lagi.
****
Mobil kesekian masuk ke halaman rumah yang luas itu. Fadli keheranan dari mana Fiki bisa mendapatkan pinjaman rumah sebesar ini. Ah, dia jadi curiga.
"Ustadz," sapa beberapa orang pada Fadli, Fadli agak terkejut dan melihat Fiki, Nurul Islam dan Nurul Ikhlash mendatanginya. Masya Allah, ustadz-ustadz muda yang sangat mumpuni dalam ruqyahz sekaligus sangat ngeyel dan keras kepala. Fadli nyaris tertawa membayangkan mereka bertiga saling bertengkar dan kemudian salah satu akan pergi dengan marah, dan dua yang lainnya pun melanjutkan pertengkaran lagi. Ah, mantap sekali, seharusnya mereka hidup jaman Sapto, pasti akan ramai sekali dunia ini.
"Sehat, Ust?"
"Alhamdulillah, sehat, asatidz sekalian. Panjenengan semua juga sehat, kan?"
Mereka bertiga saling mengangguk.
"Monggo ustadz masuk saja, silahkan duduk di dalam. Di sini panas sekali, kan?" kata Fiki.
Mereka semua mengikuti Fiki dan membenarkan perkataan Fiki, di luar memang panas sekali. Panas sekali.
"Ustadz mangertos griya meniko kagungane sinten? (Ustadz tahu rumah ini milik siapa?)" tanya Fadli pada Nurul Islam. Nurul Islam melengak, dia agak terkejut.
"Tidak, Ust. Fiki hanya bilang ini rumah temannya. Saya kurang tahu siapa teman yang dimaksud Fiki," jawab Nurul Islam dengan sangat sabar dan diplomatis, mengingatkan Fadli pada Bambang.
Fadli menganggukkan kepalanya. Dia malah semakin curiga.
Di dalam ramainya luar biasa. Begitu banyak anak-anak dan balita di sana. Rashif dan Aidan menarik-narik tangan Fadli.
"Mbah, di dalam ada kolam renang, lo!"
"Iya, Mbah. Bagus, Mbah! Ayo, lihat, Mbah!"
Fadli tertawa dan akhirnya mengikuti kedua cucunya itu untuk melihat kolam renang yang mereka maksud. Ah, ternyata rumah ini memiliki begitu banyak kamar. Bukan selayak rumah tinggal. Fadli semakin curiga dan dia sangat ingin berbicara dengan Fiki, tetapi rupanya Fiki sedang sibuk di dapur dengan beberapa pria yang tidak dikenali Fadli.
Iqbal dan Naim mendekati Fadli yang duduk di tepi kolam dengan kedua cucunya. Naim tersenyum.
"Ini rumahnya Ustadz Fiki, Pak. Bagus, kan? Mau jadi rumah tahfidz yang kedua di Tintrim. Tadi aku bicara sedikit dengan Haikal dan Habibi," bisik Naim.
Fadli benar-benar melongo mendengar perkataan Naim dan melewatkan adegan Iqbal menceburkan diri ke dalam kolam renang dan berenang dengan Rashif dan Aidan. Mereka berdua tertawa ketika melihat begitu banyak ibu-ibu yang resah karena tingkah laku Iqbal. Iqbal juga tertawa.
"Yang boleh masuk kolam renang yang sudah makan dulu, ya?" teriak Iqbal, membuat kehebohan baru di ruang makan. Fadli tersenyum simpul, ah, Iqbal memang pintar menjadi seorang yang menarik perhatian banyak orang. Fadli tidak memungkiri kharisma Iqbal memang luar biasa.
"Monggo, Pak, minum dulu," kata Fiki.
Fadli mengangguk dan meminta Fiki duduk di sampingnya. Fiki tersenyum, dia tahu Fadli akan mengajak bicara mengenai rumah ini.
"Kalau ustadz ingin bertanya tentang rumah ini, ya, ini adalah rumah saya, Ust. Insya Allah akan saya gunakan untuk rumah tahfidz khusus Ikhwan. Rumah tahfidz yang dulu juga akan direnovasi dan digunakan sebagai rumah tahfidz khusus akhwat ...."
"Semua biaya renovasi ditanggung oleh Ustadz Fiki, kan?" potong Naim sambil tersenyum penuh makna, semua mata memandang ke arah Naim dan kemudian Fiki. Fiki merona dan tertawa.
"Astaghfirullah, Mas Naim. Biayanya tidak seberapa. Bukan apa-apa, kok," jawab Fiki dan langsung mengalihkan pembicaraan ke masalah yang lain. Fadli paham, dia tahu Fiki malu dan tidak terlalu berkenan ketika semua yang dilakukannya diberitahukan kepada orang lain.
Fadli hanya heran, kenapa Fiki tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia adalah orang yang sebegitu kaya dan sebegitu dermawannya. Ah, Fadli merasa tidak mengenali menantunya sendiri.
"Jadi saya sering izin ke Tintrim untuk berkonsultasi dengan Ustadz Bambang dan Ustadz Setiyadi, Ust. Beberapa bulan terakhir saya selalu ke Tintrim dan menanyakan kira-kira apa uang dibutuhkan atau dipersiapkan untuk membuat rumah tahfidz atau pesantren," kata Fiki, "dari situlah saya mengenal Ustadz Setiyadi lebih dekat. Ah, beliau sosok yang sangat sabar dan bijaksana. Salah satu nasihat beliau yang selalu saya ingat adalah bahwa kalau hendak melakukan suatu kebaikan, lebih baik kita simpan dulu dan tidak usah kita sebarluaskan ...." Fiki terdiam, dia terlihat merenung.
"Ustadz Setiyadi membina banyak rumah tahfidz di sekitar sini sampai Ketanggungan, dan tidak banyak yang tahu tentang hal itu, orang-orang hanya tahu kalau sampai sepuh pun Ustaz Setiyadi masih tetap meruqyah ke mana-mana, padahal selain meruqyah, beliau juga menengok rumah tahfidz yang beliau bina, untuk melihat perkembangan dan kemajuannya, juga untuk menanyakan masalah atau hal yang menghalangi perkembangan rumah tahfidz itu. Ah, setahu saya, Ustadz Setiyadi adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan penuh dengan kasih sayang," kata Fiki, air mata membayang di pelupuk matanya. Nurul Islam menepuk-menepuk bahu Fiki.
"Beliau memang pemimpin yang luar biasa," bisik Nurul Islam. Semua menyetujui pendapat Nurul Islam itu.
****
Fiki tahu dia berhutang penjelasan kepada bapak mertuanya, sehingga dia menyempatkan diri berduaan dengan Fadli dan menjelaskan semuanya.
"Sebenarnya saya sudah akan memberitahu bapak tentang hal ini cukup lama, tetapi Salma bilang, lebih baik bapak diberitahu setelah semua selesai saja, soalnya nanti bapak akan jadi cemas dan ikut memikirkan semuanya," kata Fiki.
Fadli tersenyum geli.
"Betul sekali, Ust. Biasanya saya selalu membagi masalah saya kepada Yasna. Kalau saya tahu hal ini, pastilah Yasna juga tahu dan dramanya akan dimulai, Ust," jawab Fadli. Mereka berdua tertawa.
"Kami berdua sama-sama histeris. Saya akan berteriak dan dia akan menangis. Penonton drama kami adalah Pak Sapto, beliau penikmat drama kami. Beliau tidak seperti orang lain yang akan mengingatkan kami, " kata Fadli, dia tertawa. Fiki tersenyum sopan, dia takut kalau tertawa dianggap anak yang tidak sopan.
Fadli memgusap air matanya.
"Saya tidak bisa berkata banyak, Ustadz. Saya hanya menyampaikan beribu rasa terima kasih saya pada ustadz sudah berpikir jauh ke depan, sangat jauh ke depan. Jazakallah sudah membuat saya sangat bangga dan bahagia, semoga apa yang dilakukan Ustadz Fiki menjadi amal jariyah Ustadz Fiki," kata Fadli, dia menangis dan memeluk Fiki.
Fiki juga menangis, walaupun hanya sedikit, tetapi dia tidak tega melihat bapak mertuanya menangis haru.
"Semoga apa yang diajarkan Ustadz Setiyadi pada ustadz menjadi amal jariyah bagi beliau, karena dengan nasihat beliau, Ustadz Fiki menjadi berbuat begitu banyak kebaikan," bisik Fadli. Fiki mengangguk takzim, dia mencium tangan Fadli untuk sekali lagi meminta doa restu pada Fadli atas semua yang akan dilakukannya.
****
Dia juga ikut melayat ke rumah ustadz yang meninggal itu. Bahkan dia juga ikut ke makam untuk mengantarkan ustadz penyabar itu ke rumahnya yang terakhir di dunia ini.
Ya, dia ikut karena selain dia adalah tetangga Setiyadi, dia juga melihat keadaan. Dia melihat seperti apa teman-teman Setiyadi yang telah sedikit mengacaukan tapa bratanya kemarin, dan dengan satu jentikan jari, dia berhasil membawa Setiyadi kembali ke alam baka.
Dia tertawa dan kemudian menyembah asap hitam yang membubung di depannya. Asap hitam hasil pembakaran menyan khusus. Dia tertawa. Kesukaan peliharaannya adalah asap hitam. Pokoknya semua yang serba hitam.
****
Bambang dan Firman duduk berdua di teras rumah Bambang setelah pemakaman Setiyadi tadi siang.
"Apa ada pesan sebelum Ustadz Setiyadi meninggal, Ust?" tanya Firman.
Bambang memgerjapkan matanya. Dia lupa tentang pesan Setiyadi padanya, karena saking sedihnya Bambang.
Bambang mengangguk dan menceritakan bisikan Setiyadi padanya malam itu. Mereka berdua berpandangan.
"Apa kiranya maksud Ustadz Setiyadi, ya, Ust?" tanya Firman mereka berpandangan dan saling menggeleng. Jelasnya mereka berdua tidak ada yang tahu.
****
Joyo Kartiko namanya. Dia sebenarnya secara resmi bukan dukun, tetapi dia bisa berkomunikasi dengan mahluk halus, bisa menjadi pawang hujan, bisa ditanyai nomor togel yang akan keluar besok, bisa mengetahui jenis kelamin janin di kandungan, dan seribu satu kemampuan Joyo Kartiko yang lain, yang akhirnya membuat Joyo Kartiko diangkat menjadi dukun jadi-jadian.
Joyo Kartiko sama sekali tidak memusingkan orang-orang yang datang kepadanya untuk minta bantuan, minta petunjuk, minta wangsit, dia tidak peduli. Yang dipedulikan Joyo Kartiko hanya satu, yaitu anak laki-lakinya.
Anak itu tidak bisa diajak kerja sama.
Joyo Kartiko sangat mengharapkan anaknya akan menggantikannya kelak, sehingga Joyo Kartiko mulai mengajarkan ilmu-ilmunya pada anaknya, tetapi anak lelakinya itu sama sekali tidak peduli. Ketika disuruh tapa berendam, anak itu malah pergi dengan teman-temannya entah ke mana, ketika disuruh tapa pendem, sekali lagi sang anak malah pergi entah ke mana. Disuruh begini malah begitu, disuruh begitu malah begini. Dan Joyo Kartiko tak sabar lagi.
Dia berulang kali menghajar, menyeret, mencambuki dan menyiksa anaknya di dalam rumah maupun di depan teman-temannya, agar anaknya menurut padanya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, anaknya malah semakin memjauhinya.
Joyo Kartiko kehabisan cara. Dia mengeluh panjang. Dia merasa lelah.
****
Anda Mungkin Juga Suka





