
His Darling Debtor
Bab 2
Dalam kegelapan kamar, tubuh Clara terhempas di ranjang bagaikan terlempar ke dunia mimpi yang menakutkan. Dia segera duduk dan bergeser mundur sambil menatap waspada ke satu arah-Tuan Blackwell, pria yang sedang membawa ancaman untuknya.
"T-tolong ... jangan ...!" seru Clara, dengan air mata yang membasahi pipinya tanpa henti.
Tuan Blackwell melepaskan dasi yang tergantung longgar, lalu melangkah naik ke ranjang. "Richard harus menyadari dampak dari perbuatannya. Dia akan kehilangan kebahagiaan putri yang begitu gigih diperjuangkannya."
"Ayahku pasti akan datang! Dia pasti akan datang dan membawakan uangmu, kita hanya perlu menunggunya sebentar ...!"
Kata-kata Clara terhenti saat Tuan Blackwell mencengkeramnya di kedua bahu, membuat dia tak bisa lagi merasakan ranjang yang baru saja diduduki. Tubuh pria itu menguasai bayangannya, tatapan sadis pun kian dekat dan berhasil mengguncang hidupnya.
"Berhenti mengatakan hal yang tak mungkin terjadi, ayahmu takkan lolos dari tanganku setelah kembali!"
"Aku akan melakukan apa pun, kecuali menjadi gundikmu. Pekerjaan rumah atau apa pun yang kau inginkan. Tuan Blackwell, aku mohon ...."
Tuan Blackwell menyeringai dengan kecerdasan yang tajam. "Kenapa? Apa karena tak ingin keperawananmu dirampas?"
Clara menggeleng cepat. "Tidak! Aku bahkan tak memilikinya lagi, jadi tak ada hal bernilai yang bisa didapatkan dari menyentuhku."
Wajah Tuan Blackwell menunjukkan keraguan, kemudian kemarahannya meletup. "Percobaan yang bagus, Nona Whitmore. Kau berbohong hanya untuk membuatku ingin melepaskanmu. Sayangnya, kau tak berhasil mengelabuiku."
"Aku tak berbohong!"
"Oh, ya? Kalau begitu, mari kita buktikan saja."
Merasa gagal melakukan tawar-menawar, Clara menggigit kuat tangan yang mencengkeramnya. Dia tak ragu untuk langsung meninggalkan kamar dan melangkah menuju pintu keluar. Dengan hati yang berdegup kencang, dia berusaha mencari cara untuk membuka pintu. Saat itu dia baru menyadari bahwa akses ke penthouse membutuhkan Tuan Blackwell.
Clara memandang sekelilingnya dengan harapan menemukan jalan keluar alternatif. Dia melihat sebuah pintu di dekat dapur, lalu dengan langkah tergesa mendekatinya. Dari pintu itu dia menemukan halaman asri yang disuguhi pemandangan lampu-lampu kota yang bersinar. Pagar setinggi pinggang melingkupi halaman tersebut, dan cahaya bulan yang lembut menyentuh air kolam renang yang tenang. Dia terdiam sejenak, terpesona oleh keindahan yang tiba-tiba muncul di tengah pelariannya.
"Jangan berpikir untuk meloncat dari gedung ini." Keindahan itu terputus oleh suara Tuan Blackwell.
Clara segera menoleh ke sumber suara, sosok Tuan Blackwell ada di kedua matanya. Dengan perlahan, dia mundur hingga pinggangnya menyentuh pagar.
Tuan Blackwell tetap maju, tatapannya tak berkedip saat dia memeriksa bekas gigitan di tangannya. "Rasanya seperti diserang oleh hewan liar."
Pandangan Clara terarah pada pagar besi yang dia pegang. Gedung ini terlalu tinggi, tak bisa dibayangkan seberapa parah luka yang akan didapat jika dia melompat bebas. Jujur, dia masih ingin hidup, ingin bertemu dengan ayahnya meski tak tahu bagaimana kabarnya. Namun, dia juga tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Tuan Blackwell berkeinginan menjadikannya seorang gundik.
"Tolong, lepaskan aku ...."
"Kau hanya membuang energi, Nona Whitmore," desis Tuan Blackwell dengan suara dingin.
Tanpa mengenal kata menyerah, Clara menggeleng keras. Langkah nekat membawanya memanjat pagar, tapi tak lama kemudian tubuhnya terjatuh dalam genggaman kuat Tuan Blackwell.
Tuan Blackwell mendorong Clara agar menjauh dari pagar, lalu berucap tegas, "Tak ada tempat untuk pelarianmu."
Clara menolak penyelamatan itu, pikirannya bercampur aduk dan hasrat untuk kabur memandu langkahnya. Dengan penuh tekad, dia mencoba memanjat lagi demi sebuah pembebasan, tanpa menyadari bahwa Tuan Blackwell sudah siap mengambil langkah drastis. Dengan gerakan tiba-tiba, tubuh Clara diangkat dan dilemparkan ke kolam renang. Suara air memecah keheningan malam, menandai akhir dari niat putus asa Clara untuk melompat dari gedung tinggi.
Napas Clara terengah-engah saat berhasil mencapai permukaan, lalu dengan sekuat tenaga dia meraih ke tepi kolam sambil memulihkan pandangan yang buram. Tuan Blackwell hanya menyaksikan tanpa ekspresi-perjuangan Clara naik ke daratan, berakhir mematung di suatu sudut, dan memeluk tubuh yang gemetar. Angin kencang melanda ketinggian pada malam hari, menambah ketidaknyamanan pada tubuh Clara yang baru saja keluar dari kolam dengan pakaian basah.
Tuan Blackwell menghampiri Clara, mengulurkan tangan dan berkata, "Masihkah kau ingin mati?"
Tatapan dendam melintas di mata Clara. Dia tak habis pikir dengan kata-kata yang diucapkan Tuan Blackwell.
"Ternyata Richard memiliki seorang putri yang keras kepala," ucap Tuan Blackwell sambil menarik paksa Clara ke dalam ruangan.
"Lepaskan aku!"
Tuan Blackwell segera membalikkan tubuhnya sesaat mereka berada di ruang tertutup, mencengkeram erat bahu Clara, dan dengan tegas mengatakan, "Aku tak punya banyak waktu untuk mengurus hal tak penting seperti ini, Nona Whitmore. Jika kau masih ingin ayahmu hidup, sebaiknya perhatikan tingkahmu!"
Meskipun penuh kebencian, Clara tak bisa membantah jika itu tentang keselamatan ayahnya. Dia hanya bisa diam, tanpa mengubah ekspresi kebencian.
Tuan Blackwell melepaskan cengkeramannya, memandang Clara dengan penuh evaluasi. "Kau membuat keadaannya menjadi rumit dan merepotkan." Dia bersedekap, lalu lanjut berkata, "Kau bisa mengeringkan tubuhmu di kamarku."
Clara memang kedinginan, tapi dia tak berniat menerima kebaikan dari pria yang memperlakukannya dengan kasar.
Memahami sifat keras kepala Clara, Tuan Blackwell menyuarakan tawaran lain, "Ingin aku mengeringkannya untukmu? Tapi aku tak bisa menjamin kendali diriku jika melihatmu tanpa pakaian."
Clara bergeser mundur, kesadarannya disadari oleh Tuan Blackwell, yang menerbitkan senyuman licik.
Tuan Blackwell menyentuh leher Clara, pandangan intensnya menelusuri tubuh wanita itu. "Air kolam sudah membuat pakaianmu basah, sehingga aku bisa melihat jelas lekuk tubuhmu yang indah."
Clara melebarkan mata, segera menjauh sambil menutupi tubuhnya dengan tangan. Namun, mata Tuan Blackwell terus memandanginya. Tak punya opsi lain, Clara terpaksa mengikuti perkataan Tuan Blackwell untuk mengeringkan tubuhnya di kamar pria itu.
Tuan Blackwell menatap kepergian Clara, lalu dia menyulut sebatang rokok dengan gerakan tenang. Dia menikmati waktu menunggu sambil menatap pemandangan kota New York yang terbentang di luar jendela penthouse.
***
Tuan Blackwell merasa sudah menunggu begitu lama. Dia menuju kamarnya, masuk tanpa mengetuk pintu, hanya untuk menemui sesuatu yang melampaui prediksinya.
Clara tak berusaha kabur kali ini. Sebaliknya, wanita itu ditemukan tertidur di lantai, memeluk lutut dengan kepala bersandar pada meja nakas. Tuan Blackwell membaringkan Clara di ranjang. Saat hendak menarik selimut, dia baru menyadari bahwa pakaian yang dikenakan oleh wanita itu adalah kemejanya. Senyum tipis muncul di bibir Tuan Blackwell, menertawakan keadaan di mana dia lupa perkara pakaian ganti dan Clara dengan berani mengambil kemejanya dari dalam lemari.
Setelah menyelimuti, Tuan Blackwell tak segera pergi, dia memandangi betapa pulasnya tidur Clara. "Hanya perlawanan kecil sudah membuat seorang putri keras kepala kelelahan. Mari kita lihat hal apa lagi yang akan kau lakukan besok untuk menolak takdirmu."
Anda Mungkin Juga Suka





