
HILDA PERAWAN TUA
Bab 2
Aku duduk berpangku tangan di atas kursi roda, kulihat anakku Hilda segera memotong sayuran dan meracik bumbu-bumbu. Tangannya begitu cekatan melakukan semua pekerjaan dapur.
Aku masih mengamatinya dari belakang, kesabarannya selama ini membuatku merasa sangat iba dengan nasibnya.
"Hilda," panggilku lirih. Ia menoleh padaku. Tampak kedua bola matanya masih berkaca-kaca, aku semakin tak kuasa melihatnya.
"Kenapa, Mak? Apa Emak ingin buang air besar?" Ia bertanya dengan lembut.
"Tidak, Hilda. Emak hanya kasihan padamu." aku menggigit bibir bawahku, berusaha untuk menahan kucuran air mata yang sudah menggantung pada kelopak mataku. Hilda mengernyit, menggeleng pelan sambil menatapku.
"Kenapa Emak kasihan padaku? Aku percaya, jodohku ada di tangan Tuhan, jadi Emak jangan khawatir," senyum Hilda merekah. Aku tahu itu hanya senyuman palsu untuk tidak membuatku semakin sedih dan di hantui perasaan bersalah. Oh Tuhan, sebening itukah hatimu, Hilda.
Aku menemaninya di dapur hingga ia selesai melakukan pekerjaannya. Ia segera mengatur hidangan di atas meja, lalu menyuapiku dengan telaten, setelah itu, ia membawaku ke kamar mandi dan memandikanku seperti biasanya.
"Mak, aku ke kampus dulu ya, kalau Emak mau makan, semuanya sudah aku siapkan di atas meja kecil." Ujar Hilda sambil memasangkan pampers dewasa di tubuhku. Ya, bila Hilda sedang di luar rumah, aku selalu memakai pampers dewasa karena Hilda tak ingin aku ke kamar mandi sendirian, ia sangat takut aku jatuh di kamar mandi apalagi di rumah tak ada siapapun selain diriku.
"Kalau Emak kenapa-napa, Emak boleh menghubungiku, ini gawainya aku taruh di meja ya, Mak." Lanjut Hilda sambil menaruh gawaiku di atas meja kecil.
Aku mengangguk, menatap Hilda yang berjalan keluar rumah sambil menenteng sebuah tas berwarna silver kesukaannya.
POV Hilda Pramusti Kusuma
Langkah ini begitu berat, tak tega rasanya meninggalkan Emak seorang diri di rumah, namun apa hendak di kata, hanya akulah yang bisa menjaga Emak karena Angga dan Risa sudah berkeluarga dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
Aku berjalan di lorong-lorong kampus melewati beberapa mahasiswa yang sedang berkerumun. Mereka mengangguk hormat, ada pula yang acuh tak acuh. Segerombolan mahasiswa tertawa terbahak-bahak, bisik-bisik yang tak bisa kudengar jelas. Entah mengapa tiba-tiba hatiku seperti teriris.
"Bu, bolehkah saya bantu Ibu membawa buku-buku paket itu?" Rafael, seorang mahasiswa semester lima menghampiriku untuk menawarkan bantuan walaupun sebenarnya aku tidak begitu repot dengan buku-buku paket yang sedang aku bawa.
"Yuuuhuy, pacaran nih," celutuk seorang mahasiswa teman Rafael lalu disambut dengan tawa dari teman-temannya. Untuk kesekian kalinya, hatiku terasa sakit.
"Tak usah, Ibu bisa bisa sendiri. Makasih, Rafael." Aku pergi meninggalkan Rafael yang melihatku dengan lesu. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa tingkah anak itu semakin aneh.
Aku menghela nafas berat, masuk ke salah satu ruangan dan duduk di kursi kerjaku. Membuka laptop dan mengecek email sambil menunggu jam mengajar tiba. Kebetulan sekali pagi ini baru ada aku dan seorang dosen lainnya.
"Pagi, Bu Hilda," sapa Pak Edi, seorang dosen hukum yang selama ini selalu mendekatiku. Ia berdiri di depan meja kerjaku.
"Pagi juga, Pak Edi." Aku melirik sekilas dan kembali membaca beberapa email yang masuk hari ini.
"Bu Hilda, habis mengajar nanti, apa Bu Hilda ada waktu? Bisa enggak kalau Ibu menemani saya makan siang?" Pak Edi menatapku penuh harap.
Aku menghentikan jariku yang sedang menari-nari di atas laptop.
"Aku sepertinya enggak bisa menemani Bapak, Emak menungguku di rumah." Aku mengangguk sekilas sambil tersenyum padanya.
"Bu Hilda selalu menolak saya, apa Bu Hilda tidak tahu kalau saya mencintai Ibu? Ibu ini sudah dewasa bahkan sudah pantas mempunyai anak, tapi mengapa Ibu selalu menutup hati buat saya?" Pak Edi menahan nafas kesal, berjalan hendak menuju meja kerjanya.
"Pak! Bapak tidak pantas berbicara seperti itu!" Hatiku sedikit kesal mendengar ucapannya. Pak Edi menoleh ke arahku, ia menghentikan langkahnya.
"Bu Hilda ini memang egois! Seharusnya Ibu tidak menolak saya."
"Tapi Bapak sudah beristri?"
"Itu bukan masalah besar. Aku serius mencintaimu. Aku bisa menikahimu," ujar Pak Edi tanpa tedeng aling-aling.
Aku menggigit bibir bawahku, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar paru-paruku tidak terasa sesak.
Kulihat para dosen yang lainnya telah datang satu persatu. Aku tak ingin keributan ini menjadi gosip terhangat di kampus.
"Jam pelajaran sudah tiba, aku mau masuk dulu ke kelas." Aku berjalan melewatinya, membiarkannya yang sedang menatapku tanpa berkedip.
Oh Emak, bagaimana dengan perkataan Pak Edi tadi? Apakah aku harus menerima atau menolaknya? Ia memang sudah mempunyai isteri, tapi...sekarang usiaku sudah sangat mapan, kepalaku berdenyut-denyut, memasuki kelas dengan membawa segudang masalah pribadiku yang kerap mengganggu pikiranku.
"Baiklah, aku akan meminta petunjuk padanya di sepertiga malam ku. Ya Allah, berikanlah petunjuk mu," batinku gusar.
Baru saja aku selesai memberikan pelajaran sesuai dengan jadwal mata kuliah hari ini, aku merasakan gawaiku bergetar. Cepat aku mengambil gawaiku di dalam tas dan menekan tombol bergambar telpon itu. Aku berbicara di telpon sambil melangkah keluar kelas.
(Saya menunggu Ibu di parkiran, kita akan makan siang di restoran langgananku.) Suara Pak Edi terdengar jelas di telingaku.
(Tapi, Pak, aku enggak bisa, maaf)
(Jangan begitu, Bu, jangan menolak, saya janji, setelah ini saya tidak akan mengajak Bu Hilda makan siang bersama lagi. Please, hanya kali ini saja)
Aku terbengong-bengong di tempat. Berpikir apa yang seharusnya aku lakukan. Beberapa saat gawaiku menempel di telingaku tanpa ada suara apa pun dari mulutku.
(Bu, apa Ibu masih di situ?)
(Oh, i...iya, Pak, saya masih di sini)
(Ibu menerima ajakan saya kan?)
(Iya, Pak)
Aku segera menutup telpon ku dengan hati yang gundah. Apakah aku tidak salah menerima ajakan makan siangnya? Hanya makan siang biasa, aku akan selalu ingat bahwa ia pria yang sudah mempunyai keluarga.
Emak, aku ingat Emak, aku harus meminta izinnya terlebih dahulu, batinku.
Sambil berjalan menuju parkiran kampus, aku menekan tombol gawaiku mencari nama Emak.
(Mak, hari ini aku pulang agak Sorean ya) kataku setelah sebelumnya mengucapkan salam pada Emak.
(Lho, hari ini kamu kan hanya mengajar di dua kelas saja? Memangnya mau kemana dulu?)
(Aku di ajakin makan siang sama Pak Edi, Mak)
(Oh, Pak Edi yang dosen itu ya? Yang pernah kamu ceritakan pada Emakmu? Ya sudah, kamu terima saja ajakan makan siangnya, tak baik lho nolak rezeki hehehe)
Suara Emak terdengar sangat bersemangat. Aku tahu, dari dulu Emak menginginkan aku berjodoh dengan seseorang yang menurut Emak sepadan denganku dan pantas menikahiku. Mungkin Pak Edi ia anggap sebagai orang yang masuk kriterianya.
(Iya, Mak) aku menjawab singkat.
(Ingat ya, jangan mengecewakannya. Kalau ia melamarmu, jangan kamu tolak, ingat dengan usiamu yang tak lagi muda)
(Tapi, Mak, ia sudah...)
Tut Tut Tut. Tiba-tiba Emak menutup telpon tanpa mengucapkan salam. Aku menghela nafas berat, hatiku masih sangat gusar.
Setelah aku sampai di parkiran kampus, kulihat Pa Edi sedang berdiri menungguku.
"Hari ini Bu Hilda enggak bawa kendaraan sendiri kan? Ibu naik mobil saya saja biar nanti saya antarkan pulang sekalian." Dengan sigap, Pak Edi membukakan pintu mobilnya. Aku menaiki mobilnya dan duduk di samping Pak Edi.
"Terima kasih, Bu Hilda," ujar Pak Edi, melirik padaku sekilas sambil tersenyum lalu kembali fokus pada jalanan di depan.
"Buat apa Bapak bilang terima kasih pada saya?"
"Buat waktunya menemani saya makan siang walaupun ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya." Pak Edi terkekeh di balik kemudi.
"Iya sama-sama, Pak."
"Andai saja Bu Hilda mau jadi isteri saya..." Pak Edi menggantungkan kalimatnya di udara. Ia tersenyum-senyum sendirian.
Aku hanya terdiam menatap jalanan, entah mengapa hatiku saat ini sangat berkecamuk. Kubiarkan lelaki di sampingku ini meracau tak jelas.
Di sebuah restoran khas Jepang, aku duduk di sebuah kursi berhadap-hadapan dengan Pak Edi menunggu makanan yang telah di pesan.
"Ibu cantik sekali, sayangnya ibu masih belum punya pendamping. Padahal ada kok laki-laki yang selalu menunggu ibu," ujar Pak Edi, tersenyum menatapku. Aku tahu arah pembicaraan Pak Edi, namun aku tak bereaksi sedikitpun. Saat ini aku tak tahu harus berbuat apa, yang jelas, aku sangat khawatir dengan usiaku yang terus beranjak menuju tua apalagi bila melihat Emak yang menginginkan aku segera menikah, hatiku begitu terenyuh. Namun aku pun tak akan menerima seorang pria tanpa persetujuan dari Emak, aku sangat sayang pada Emak dan aku tahu surgaku ada pada telapak kakinya.
Apakah Pak Edi sosok yang tepat untuk menjadi pendampingku? Ia pria yang di inginkan Emak untuk jadi menantunya. Tidak Hilda, ia sudah beristri. Hatiku ikut mengingatkanku di saat aku sedang bimbang.
"Bu, apakah Bu Hilda bersedia menjadi isteriku?" Seperti tahu kegundahan hatiku, Pak Edi bertanya, sebuah senyum hangat tersungging di bibirnya. Memang pria ini tak pernah bisa berbasa basi, ia selalu langsung mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Gawai di saku celanaku tiba-tiba berdering, kembali Emak meneleponku.
(Iya, Mak, ada apa?)
(Hilda, adikmu Risa dan anaknya baru saja datang. Katanya ia akan tinggal bersama kita untuk sementara waktu.)
(Lho, kenapa, Mak?)
(Risa sudah tak punya uang, suaminya sudah tak bekerja, ia telah di PHK dua bulan yang lalu dari tempatnya ia bekerja)
Aku terhenyak. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Suami Risa di PHK? Mereka kini tak punya lagi penghasilan. Dan sekarang Risa sudah tak bekerja lagi di rumah makan karena kelahiran Dafa membuatnya sedikit repot. Aku tercenung sesaat, tak menyadari kalau seorang pelayan telah datang mengantarkan pesanan ku.
"Bu Hilda? Ibu baik-baik saja kan?"
Anda Mungkin Juga Suka





