
Hidupku yang Kaya Mendadak
Bab 3
Semakin Trevor mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya, semakin sedih perasaannya.
Dari sudut matanya, Trevor melihat beberapa botol bir yang teman sekamarnya taruh di bawah tempat tidur. Trevor mengambil satu botol bir dan meminumnya tanpa menuangkannya ke dalam gelas.
Trevor mengambil satu botol lagi setelah menghabiskannya. Trevor terus minum bahkan saat kepalanya mulai berputar. Akal sehatnya sudah menghilang, dan Trevor mulai kehilangan kendali atas emosinya. Tidak tahan lagi, Trevor berbaring di lantai dan mulai menangis.
"Itu sangat tidak adil! Aku mungkin miskin, tapi aku tidak mudah menyerah!
Uang, uang, uang. Yang mereka pikirkan hanyalah uang! Sylvia, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membuatmu menyesali apa yang telah kamu lakukan padaku."
Mata Trevor merah dan berlinang air mata. Pada saat itu, Trevor menuangkan semua kesedihannya di dalam hatinya.
Namun, bahkan setelah menangis, Trevor tidak merasa jauh lebih baik. Sebaliknya, Trevor merasa lelah dan kepalanya menjadi lebih berat.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, menghentikan tangisannya. Itu adalah sebuah panggilan tak terduga dari luar negeri. Tanpa berpikir panjang, Trevor langsung menjawabnya.
"Trevor, dengarkan baik-baik. Ulang tahunmu yang ke-19 tinggal beberapa hari lagi. Aku tidak bisa menyembunyikan kebenaran darimu lagi. Sebenarnya, keluarga kita tidak semiskin kelihatannya. Kita sebenarnya kaya dan berkuasa. Kita tidak mengatakan yang sebenarnya karena ada aturan dalam keluarga kita bahwa anak-anak harus hidup miskin sebelum mereka mencapai usia 19 tahun. Tapi sebenarnya, keluarga kita terlibat dalam berbagai bisnis industri di seluruh dunia. Faktanya, kita tidak hanya memiliki tambang emas di Afrika, tetapi juga sumur minyak di Timur Tengah."
Di ujung telepon yang lain adalah suara familier yang telah didengar oleh Trevor di sepanjang hidupnya.
Namun, Trevor malah mencibir dan bukannya kagum akan fakta itu, "Ayah, apa Ayah baru bangun? Bisakah Ayah berhenti berfantasi tentang menjadi kaya? Sejak aku masih kecil, Ayah terus mengatakan bahwa Ayah telah membeli helikopter di Amerika dan sebuah kapal pesiar di Venesia. Lihatlah aku. Aku harus berjuang untuk mendapatkan biaya kuliahku sendiri dengan bekerja keras. Tidakkah Ayah pikir Ayah konyol dengan berbicara seperti itu?"
Pria di ujung sana berhenti sejenak dan menghela napas berat sebelum berkata, "Trevor, Ayah mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Ayah tahu kamu tidak akan bisa menerima fakta ini dengan segera. Ketika Kakekmu mengatakan hal seperti itu kepada Ayah, Ayah juga mengira beliau hanya sedang bercanda. Tapi, Trevor, Ayah sedang mengatakan yang sebenarnya padamu. Ayah akan mentransfer 200 Miliar padamu sebagai uang sakumu."
Awalnya, Trevor mengira suara pria itu mirip dengan suara Ayahnya. Tetapi semakin Trevor mendengarkannya, semakin dia tidak percaya. Trevor tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu benar-benar Ayahnya. Ini pasti sebuah penipuan!
"Pembohong! Enyahlah!" Trevor meraung sekuat tenaga saat ponselnya didekatkan pada mulutnya.
Trevor kemudian menutup telepon dengan segera setelah dia selesai berbicara. Trevor telah mabuk dan pikirannya sedang kacau saat ini.
Trevor telah melampiaskan semua kepahitan di hatinya dengan menenggak beberapa botol bir dan menangis. Dan sekarang, Trevor merasakan kelelahan yang lebih dari sebelumnya.
Trevor memejamkan mata dan tertidur di lantai, di kaki tempat tidur.
Keesokan paginya, Trevor merasa seolah-olah kepalanya hampir pecah. Trevor memijat pelipisnya yang berdenyut, kemudian perlahan bangkit.
Tadi malam, Trevor bermimpi Ayahnya menelepon dan mengaku bahwa keluarga mereka sebenarnya adalah keluarga kaya raya.
"Aku pasti sudah kehilangan akal tadi malam sampai aku bermimpi seperti itu. Aku hanyalah seorang mahasiswa miskin yang harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Bagaimana aku bisa bermimpi menjadi kaya?"
Trevor tidak bisa menahan senyum mengejek pada dirinya sendiri. Dan sampai sekarang, matanya masih penuh dengan kepahitan atas apa yang telah menimpanya kemarin. Pada saat itu, Trevor mengambil ponselnya yang diletakkan di sampingnya dan melihat ada sebuah pesan masuk yang belum dibaca.
"Saldo rekening bank Anda dengan angka akhir 666 adalah Rp. 200.000.007.120, -."
Trevor tercengang ketika menemukan ada sejumlah uang sebesar 200 Miliar di rekening banknya.
Tiba-tiba, mata dan mulut Trevor melebar karena terkejut. Trevor menghitung angka itu dengan hati-hati berulang kali. Itu benar-benar nyata. Memang ada 200 Miliar yang telah masuk di rekening banknya!
Trevor dengan cepat masuk ke aplikasi mobile banking miliknya dan memeriksa saldonya.
"Apa!? Apa-apaan ini!? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku sedang bermimpi? Aku benar-benar dari keluarga kaya raya?"
Trevor buru-buru mencari nomor Ayahnya dan segera menghubungi nomor itu.
"Ayah?" Trevor dengan hati-hati bertanya begitu panggilan itu dijawab.
"Nak, apa kamu sudah sadar sekarang? Ayah telah meneleponmu tadi malam dan menyadari ada yang tidak beres denganmu. Omong-omong, Ayah akan pergi ke Timur Tengah untuk memeriksa penambangan sumur minyak baru. Kita bisa membicarakannya saat Ayah sudah sampai di sana," panggilan itu dijawab oleh suara yang familier.
Trevor telah tinggal bersama Ayahnya selama yang dia bisa ingat. Trevor 100% yakin bahwa pria yang sedang dia ajak bicara saat ini benar-benar Ayahnya.
"Ayah, apa ini semua nyata? Katakan padaku. Bagaimana Ayah bisa mendapatkan uang sebesar 200 Miliar dan mengirimkannya padaku?" Trevor bingung karena dia masih tidak bisa memproses apa yang baru saja dikatakan oleh Ayahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





