Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hello, My Secret Boyfriend

Hello, My Secret Boyfriend

Pasca pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Daniar berjuang melewati masa sulit di kampus. Di tengah keputusasaan, ia menemukan kebahagiaan baru melalui kencan anonim dengan akun @heroisme34. Namun, hidupnya kian rumit saat ia harus berurusan dengan Sabda, senior ambisius calon Presiden BEM. Interaksi dengan Sabda memicu keberaniannya melawan ketidakadilan. Kini Daniar terjebak di antara dua pria yang mengubah dunianya. Siapakah yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Jangan bilang kamu ambil pilihan untuk ke Kampusnya Marvel?"

Daniar menunduk, gagu. Ia memang telah memilih kampus yang juga dihuni oleh Marvel. Lebih menyedihkan lagi, Daniar memilih jurusan yang sama dengan Marvel di pilihan pertamanya.

“Apakah aku harus berdoa untuk tidak diterima di kampus itu?” tanya Daniar dalam hati.

"Astaga Dan! kamu beneran bucin ternyata! Kupikir kamu jadi ambil kampus yang sama dengan pilihanku. Kenapa berubah pikiran?"

"Aku bukan berubah pikiran. Memang aku ingin ambil jurusan teknik. Di kampus pilihanmu tidak ada jurusan teknik, bukan?" sangkal Daniar. Namun ia juga sedang mencari alasan untuk bisa bertahan dari pertanyaan ‘bagaimana jika aku diterima dan satu jurusan dengan Marvel?’ Daniar menggaruk kepalanya, bingung. What’s going on, my life?

"Bukannya kamu bilang sendiri kalau fisika bukan jalan ninjamu?"

“Ah, kenapa Maya malah ngingetin kalau aku nggak bisa fisika sih? kesel!” gumamnya.

Daniar keluar dari kamarnya untuk mengambil minuman. Kali ini, Ia memilih kopi hitam sebagai penenang. Ia meneguk kopi hitam dingin yang ia racik sendiri. Namun, mengapa perasaannya masih belum tenang?

“Menyebalkan! Tapi, masih ada kesempatan tahun depan, kan? Aku masih bisa berdoa untuk tidak diterima. Perasaan malu hanya sementara.. tenang Mama, papa, aku akan jadi dokter seperti kak Dina tahun depan jika aku tidak keterima tahun ini. Hahahaha!” kata Daniar berbicara sendiri.

Daniar merasa pikiran yang baru saja lewat adalah solusi yang menenangkan. Setidaknya, ada solusi untuk apa yang terjadi. Memang tidak benar-benar solusi, hanya pelarian sementara jika Daniar tidak melakukan ‘denial’.

Ia kemudian masuk kembali ke kamar. Tetapi, sesuatu mulai memasuki alam pertimbangannya.

“Tapi, gimana-gimana, kalau aku nggak keterima tahun ini, mama dan papa pasti malu dong? Konsekuensiku untuk dibanding-bandingkan dengan kak Dina semakin besar? Mereka semakin merasa kalau aku nggak sama kayak Dina. Dan, pasti mama bakalan bilang, “Makanya Niar, belajar tuh kayak kak Dina..” dan sejenisnya?” Daniar menggelengkan kepala seraya mengumpat,”NYEBELIN! MARVEL NYEBELIN!”

"Kamu nggak logis waktu ambil pilihan itu, Dan. Kamu sendiri bilang berminat di sastra. Kenapa beda gini sih?" Ingin sekali Maya mengatakan 'ya kan sudah kubilang..' atau 'bener kan yang aku bilang..' tapi ia menahan untuk menjaga hati Daniar. Maya menghela nafas dalam-dalam, memandang sahabatnya yang terluka cukup dalam. Maya memahami posisi Daniar yang sangat mencintai Marvel, terlebih Marvel adalah cinta pertama untuk Daniar.

Hati Maya pun merasa sakit. “Pasti sulit buatmu, Dan. Tapi semua ini harus dilalui.” tukasnya dalam hati.

Maya memeluk Daniar, sedangkan Daniar melanjutkan tangisannya.

Daniar tak menampik jika alasannya mengambil jurudan dan kampus itu karena Marvel. Ia membayangkan akan belajar hal yang mirip dengan Marvel, melakukan penelitian bersama, saling mendukung, dan lain-lainnya. Ia benar-benar melupakan tokoh bernama Klara yang siap menggempur kehidupan impiannya sewaktu-waktu

**

"Urusan sama Daniar sudah selesai, sayang?"

"Udah. Maaf ya, sudah buat kamu nunggu agak lama." Kata Marvel.

"Nggak apa-apa. Waktu untuk menunggumu menyelesaikan hal itu tidak sebanding dengan pengorbananmu untuk kembali denganku." gadis itu tersenyum kemudian meneruskan, "dan tidak bisa juga membuatku merasa lebih baik jika mengingat apa yang pernah aku lakukan padamu dulu." gadis itu menunduk seperti akan menangis.

"Nggak apa-apa, sayang. Perasaanku tidak berubah, bahkan saat aku bersama Daniar."

"Sungguh?"

"Tentu."

Gadis itu memberikan pelukan hangat pada Marvel. Tanpa mereka sadari, seseorang memerhatikan mereka dari jauh dengan seksama.

"Vel, aku ke toilet dulu, ya." gadis itu beranjak kursinya meninggalkan Marvel yang tersenyum mengangguk. Sepeninggal gadis itu, gadis lain datang.

"Nggak gini caranya Vel. Kamu nggak bisa memperlakukan Daniar kayak gini!" seorang gadis menggebrak meja di depan Marvel.

"Maya? Ya Ampun. Aku udah putus sama Daniar. Tenang saja. Bukankah dari dulu kamu memang tidak setuju dengan kita berdua?

"Tentu saja aku tidak setuju dengan kalian berdua. Kamu nggak pantas untuk orang setulus Daniar.”

"Aku nggak mau berdebat denganmu." kata Marvel memalingkan wajahnya.

"Kamu akan selalu bertemu dengan orang seperti Daniar. Tapi kamu tidak akan bisa mendapatkan orang seperti Daniar lagi. Bahkan Klara? Oh My God! Semua orang tahu dia suka mempermainkan laki-laki dengan kecantikan dan sok keluguannya. Bahkan dia masuk PTN dengan.. semacam bantuan?"

Marvel memegang tangan Maya dengan cukup kencang. "Jangan ngomong apapun tentang Klara!"

"Kamu lupa, aku ikut bela diri?" Seketika tangan Marvel terbalik dan posisi pun berubah.

"Aaaahhhhhh!" keluh Marvel kesakitan.

"Mungkin Daniar memilih kampus yang sama denganmu, Vel. Tapi kamu nggak akan punya kesempatan kedua untuk bareng lagi sama Daniar." Maya menghela nafas sejenak dan meneruskan, "Dasar senior bucin nggak tahu diri! Semoga kalau kalian sekampus, Daniar sudah mendapatkan yang lebih baik." Maya melepas cengkramannya kemudian pergi meninggalkan Marvel.

"Dasar! Kalian berdua sama saja!" imbuh Maya sambil melihat Klara yang berjalan ke arah mereka berdua.

Maya melangkah dengan amarah yang tersisa di benaknya. “Gila tuh cowok! Sudah dikasih hati, malah dibuang. Daniar juga sih, dibilangin kalau Marvel sama Klara nggak ada bedanya. Tetap aja!” Maya mengambil ponsel dan menghubungi Daniar.

"Halo Daniar? Kamu di rumah kan? Aku ke sana ya? Tapi ayahmu lagi nggak di sana kan? Oke sip. Meluncur! Bye!"

**

Seorang laki-laki berambut sedikit panjang memandang langit yang hendak menggelap. Ia meneruskan perjalanannya menyusuri trotoar yang melingkar. Trotoar itu mengelilingi lahan rumput dengan logo sebuah kampus di tengah.

"Sabda!" Suara seorang perempuan membuat laki-laki itu membalikkan badannya.

"Rapatnya jadi di mana?" tanya Sabda lugas tanpa basa-basi, juga tanpa menyapanya terlebih dahulu.

"Kamu nggak bisa kasih aku senyum sedikit saja?" tanya gadis itu dengan muka memelas, "ah, aku memintamu setiap hari dari zaman kita mahasiswa baru juga nggak pernah dapat."

Sabda menyunggingkan bibirnya. Ia tersenyum, hanya sedikit.

"Oh Tuhan! Imut bangeet!" gadis itu senang bahwa laki-laki yang diam-diam disukainya itu memberikan senyuman walaupun hanya ‘seuprit’.

Hari ini kau memberikan senyuman. Di masa depan kau akan memberikan hatimu, ‘kan? Harapan Raya selalu tinggi

"Setampan itukah aku sampai kamu senyum-senyum sendiri dan tidak menjawab pertanyaanku? Aku tidak suka rapat malam-malam. rapat ini harus segera diselesaikan atau aku langsung kembali ke kosan.”

Gadis itu menarik lengan Sabda dan memimpin 'perjalanan' mereka menuju ruang rapat yang baru saja diralat.

"Raya, harus banget lenganku ditarik seperti ini? Lebih mudah dan efektif jika kamu cukup menjawab pertanyaanku."

Raya menghentikan langkahnya kemudian melepaskan tangannya. "Maaf, maksudku biar cepet. Hehe."

"Orang-orang bisa salah sangka sama kita, Ray. Kita kan selama ini berteman baik."

Haruskah kau selalu mengatakan bahwa kita hanya berteman, Sab? Apakah tidak ada tempat di hatimu buatku? Raya hanya tersenyum, menyembunyikan sendunya.

"Iya iya, maaf. Di lantai dua tempat kita akan rapat bareng ormaju Arsitek."

"Oke." Sabda mengambil langkah mendahului Raya yang berjalan di belakangnya. Sesekali Sabda melihat ke belakang memastikan Raya masih di belakangnya. Ia menghela nafas. Sampai kapan ini akan berakhir? Sampai kapan Raya berharap lebih?

Sabda sebenarnya tahu bahwa Raya memiliki perasaan padanya. Ia hanya tak sanggup mengatakan pada Raya bahwa ia belum memiliki niat untuk berhubungan dengan perempuan lebih dari sekadar teman.

Sabda menghentikan langkahnya, dan tanpa disadari Raya tertabrak olehnya. "Aw! Kenapa berhenti Sab?"

"Makasih ya Ray, you are my best friend." Sabda secara terang-terangan menunjukkan kejelasan bahwa ia dan Raya hanya sekadar teman. Tidak lebih. Raya hanya tersenyum. Walaupun kalimat itu berulang kali ia dengar, ia tak pernah berhenti berharap.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
9.5
Adara Paramitha dan Garen Wijaya hidup bahagia hingga kecelakaan tragis mengancam nyawa Garen. Di ambang keputusasaan, Adara bertemu konglomerat Rian Kusuma yang menawarkan bantuan dana medis. Namun, bantuan itu menuntut imbalan yang mempertaruhkan kesetiaan Adara. Sementara itu, Kirana Senja, kekasih Rian, mulai merasakan ancaman pada hubungannya. Kini, mereka terjebak dalam pusaran rahasia dan pengorbanan yang menguji keteguhan cinta serta keutuhan rumah tangga.
Sampul Novel Istri Memalukan
9.7
Bagi Yudha, istri hanyalah simbol status untuk menunjukkan kesuksesannya sebagai manajer. Namun, penampilan Yasmin saat acara pengukuhannya justru dianggap memalukan, hingga Yudha tega mengusirnya sebelum pesta dimulai. Di tengah keretakan hubungan mereka, muncul sosok wanita penggoda yang mulai mendekati Yudha. Akankah Yasmin tetap bertahan dalam pernikahan yang hambar ini, ataukah kehadiran orang ketiga akan mengakhiri segalanya selamanya?
Sampul Novel Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit
8.9
Tiga tahun aku membuang karier hukumku demi menjadi istri idaman Baskara Wijoyo. Namun, kesetiaanku dibalas luka saat dia lebih memilih melindungi mantan kekasihnya, Aurelia, dari tumpahan kopi panas hingga membiarkan lenganku melepuh parah. Saat itulah aku memutuskan untuk pergi. Kini, aku kembali ke ruang sidang sebagai Nemesis, pengacara legendaris yang tak terkalahkan. Aku siap menghancurkan reputasi Baskara dalam kasus terbesar yang pernah ia hadapi.
Sampul Novel Kembalinya Mantan Istriku yang Luar Biasa
8.8
Tiga tahun Elsa menikah tanpa pernah bertatap muka dengan suaminya yang misterius. Saat diceraikan demi wanita lain, Elsa memilih bangkit dan meninggalkan identitas lamanya. Dunia pun terkejut saat mengetahui ia adalah peretas jenius, agen rahasia, hingga ilmuwan hebat. Melihat bakat luar biasa sang mantan istri, pria itu kini bersujud memohon ampun. Ia rela menyerahkan harta dan nyawanya demi mendapatkan kembali cinta Elsa yang dulu ia sia-siakan.
Sampul Novel MEMBALAS HINAAN BAPAK
9.6
Sumi terus menerima hinaan dari sang ayah karena belum bekerja meski sudah disekolahkan tinggi. Dibandingkan dengan adiknya yang hidup terjamin, Sumi merasa terluka hingga doanya terjawab saat bertemu Hiraka Yamada, bos otomotif ternama. Namun, di tengah jalan menuju kesuksesan, Sumi kehilangan Zaki, sahabatnya yang pergi membawa perasaan cinta terpendam. Akankah kejayaan barunya membawa kebahagiaan sejati saat separuh hatinya terasa kosong?
Sampul Novel My Husband Is My CEO
7.9
Aghata tidak bisa menerima keputusan pasangannya untuk bertunangan dengan seorang karyawan biasa. Dengan penuh obsesi, ia mendekat dan menegaskan bahwa cintanya tak boleh dimiliki orang lain. Meski ditolak mentah-mentah, Aghata justru menangis tersedu, merasa sakit hati karena telah dibuang demi wanita yang dianggapnya rendah. Ketegangan memuncak saat ia berusaha menggoda kembali pria yang dicintainya di tengah penolakan yang sangat keras.