
Hello, My Husband
Bab 3
"Mau kemana?" Aku yang baru keluar kamar dengan dress hitam selutut dikejutkan dengan bariton tak menyenangkan.
Aku diam, melengos seraya menutup pintu.
"Aku tanya, mau kemana?! Setahun tak bersua denganmu, sepertinya kamu menjadi bisu?!" Ponsel yang kugenggam erat ingin melayang ke arahnya, tepat di wajah gagah yang selalu diagung-agungkannya.
Aku masih membungkam mulut, seolah tak mendengar cicitan kasar dari pria yang bertitel suamiku itu. Mengayunkan kaki, cepat-cepat ingin keluar dari rumah yang sejak pagi berubah menjadi neraka.
Baru dua langkah kaki mengayun, sebuah benda melewatiku secepat cahaya. Lalu ....
Prang!
Benda berbahan kaca berbenturan dengan tembok tak jauh dariku berdiri. Dia, melemparkan benda berbahaya ke arahku? Entah memang sengaja atau tidak, aku bersyukur tembakannya meleset.
Aku beringsut, memundurkan langkah seraya melindungi wajah dengan lengan. Ini berbahaya.
Belum selesai keterkejutanku, kini hal yang tak kalah mengejutkan kembali tersaji. Tangan kokoh pria berpostur tinggi tegap itu mencengkeram kuat lenganku, menariknya kasar ke belakang hingga mentok di pintu kamar.
Aku meringis, tak kuasa menarik diri. Pasrah satu-satunya cara untukku bertahan dalam kondisi tak kondusif begini.
Kupalingkan wajah saat pria berwajah kaku itu kian mendekat.
"Aku tanya, mau kemana? Sesulit itu kah menjawab?" katanya penuh penekanan. Terlalu dekat, hingga hembusan napas memburunya menerpa wajah.
Hening sejenak, rasa takut menguasai diriku.
"Bu-bukan urusanmu!" Aku tergagap.
"Oh ... bukan bisu melainkan gagu!" ejeknya semakin menguatkan genggamannya pada lenganku. Mataku terpejam, bibir bawah tergigit kuat saat tangannya yang bebas memindai wajahku.
"Awas! Aku mau pergi!" Debaran dalam rongga dadaku semakin tak terkendali. Aku ketakutan, sangat takut.
Gian mengendurkan tangannya, menarik dirinya menjauh.
"Mau kemana? Sebagai suamimu, aku berhak tahu kemana pun istriku pergi." Intonasinya menurun drastis. Ada apa dengannya? Tadi seperti kesetanan, sekarang mirip mentega dipanaskan.
Suami? Istri? Menggelikan.
Kuusap lengan yang terasa nyeri dan sepertinya merah lebam. "Ke rumah bunda."
"Bun-da?" tanyanya tak yakin dengan apa yang barusan melewati gendang telinganya. "Siapa bunda?" ulangnya.
Aku yang biasanya memanggil orang tuaku dengan ayah-ibu, dan kedua mertuaku dengan mamih-papih, kini menyebut bunda? Pasti terdengar aneh di pendengarannya.
"Bunda Tia," jawabku menyebut nama ibunda dari Ravis. "Bundanya Ravis," imbuhku saat melihat kerutan dalam di dahinya.
"Oh ...." Dia manggut-manggut, sebelah sudut bibirnya terangkat. "Rupanya kamu masih terngiang-ngiang orang mati itu?!" Tangannya bersedekap, melihatku dengan sorot ... entahlah.
"Jangan seperti itu," tegurku tak terima saat dia menyebut Ravis dengan 'orang mati itu'.
"Kenapa, kamu nggak terima?" Dia maju lagi. Dengan sigap tanganku terulur, hingga telapak tanganku menyentuh dada yang hanya tertutup singlet putih.
Apa ini? Jantungnya ... berdebar tak normal. Berpacu lebih cepat.
"Gian, kamu deg-degan?" Entah bisa disebut polos atau terhimpit keingintahuan yang kuat, aku menanyakan itu padanya.
Pria berdada bidang itu memalingkan wajah, terlihat salah tingkah terbukti dari telinganya yang memerah.
"Itu karena aku hidup!" Dia masih enggan melihatku. "Kalau nggak deg-degan aku mati!" selembut apa aku berucap, sekhawatir apa aku bertanya, jawabannya tetap tak bersahabat.
Terserahlah dia ngomong apa. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
"Aku pergi," pamitku. Belum juga kaki terangkat, dia kembali meraih lenganku. Menarik ke arahnya.
"Nggak! Aku nggak kasih ijin!" Tatapan kami bertemu.
"Diijinkan ataupun tidak, aku tetap pergi! Janganlah bertingkah seperti suami sungguhan, itu membuatku ingin terbahak!" Aku membuang wajah, tak sanggup berlama-lama bersitatap dengan sepasang mata sipit bermanik hitam pekat itu.
"Terserah mau ngomong apa! Sekarang, kembali masuk kamar!" Dia menyeretku ke ruangan pribadiku. Melemparnya hingga aku terperosok di lantai. Langkah lebarnya menuntunnya keluar seraya menutup pintu kasar.
Aku bangkit, mengejar pria yang yang kini sudah di bar dapur, tengah menenggak segelas air.
"Mau kamu apa sih?" Kutarik bahunya, membuat air yang masih tersisa dalam gelas berceceran menimpa dadanya.
Matanya melotot dengan pupil memerah, rahangnya mengeras, menciutkan nyali yang sempat berkobar.
Kuangkat wajah saat air bening yang menggenang di pelupuk mata memaksa ingin keluar.
"Kalau kamu pulang hanya untuk merenggut kebebasanku, secepatnya lepaskanlah aku!" Tangisku pecah, aku tak sanggup lagi menahan. Gegas membalikkan tubuh berjalan cepat menuju pintu.
"Rara!" panggilnya lantang, aku tak acuh, tetap mengayunkan kaki.
"Fazaira!" teriaknya membuat langkahku terhenti. Sontak memutar tubuh, menghadap pria yang masih berdiri di tempatnya. Tatapan tajamnya bagai ribuan jarum yang melesak, menusuk ulu hati.
"Apa?! Kamu bakal melempar gelas lagi padaku?!" tantangku tanpa berkedip. Sesak dalam dada mengalahkan ketakutan. Gian meletakkan gelas dari tangannya ke meja, lantas menujuku. Namun, tanganku langsung mencegahnya.
"Berhentilah, jangan mendekat lagi. Gian dewasa membuatku takut." Suaraku bergetar, menggigit bibir bawah agar tak mengeluarkan isak.
Aku membuka pintu apartemen, keluar dengan berlari. Sesekali menoleh ke belakang, syukurlah dia tidak mengejar.
***
Siang hari di makam terasa begitu syahdu. Mega kelabu tepat di atas kepalaku. Tepat pukul sebelas siang aku baru sampai di tempat Ravis berada.
"Hai, Vis. Ini aku, Rara." Tahun ini pun aku datang, ke pusara terakhirmu.
Aku berjongkok, meletakkan buket mawar putih ke atas bingkai nama yang tertera.
"Kamu jahat, jahat banget." Air mataku tumpah. "Sesulit itukah memaafkanku? Mimpi itu datang lagi, sudah tiga hari, dan datang setiap tahunnya." Aku tak ingin menangis, tapi air mata ini tak bisa diajak kerjasama.
"Tanpa kamu ingatkan pun, aku bakal tetap datang kok." Aku menyusut hidung. Membelai rerumputan hijau muda di atas makam. Sepertinya, bunda sudah datang, terlihat dari taburan kelopak mawar putih baru menyelimuti permukaannya.
"Gian pulang." Kuhela napas panjang. "Seharusnya ini momen yang aku inginkan. Rasanya sesak, dan terkekang bersamaan. Aku harus bagaimana? Aku ingin terlepas darinya, namun hati kecilku enggan menerima." Walau tak ada respon, aku tetap saja berceloteh, mencurahkan apa yang mengganjal dalam dada.
Seperti dulu, Ravis lah manusia tempatku mencurahkan isi hati.
Aku menyusut hidung, tangan mengusap pipi yang basah. "Kabarnya baik. Tidakkah kamu merindukannya? Sudah lama dia tak berkunjung kan. Apa kamu juga mengunjunginya beberapa malam ini, seperti apa yang kamu lakukan padaku?" Aku terkekeh, bertanya pun tak akan ada jawaban, jika benda mati yang kujadikan lawan berbincang.
"Rara ..." Sebuah tepukan di bahu membuatku menoleh ke belakang. Senyuman ramah dari wanita berwajah teduh itu menghangatkan hatiku.
"Bunda ...." panggilku manja, gegas bangkit dan memberikannya pelukan.
"Udah dari tadi, Ra?" tanyanya membuatku mengerutkan kening melihat tangannya yang membawa keranjang berisi kelopak bunga tabur.
"Belum lama," kataku masih memandang keranjang itu.
"Bunda, kenapa balik lagi?" Ragu-ragu memandang wajah berhias keriput halus itu.
"Balik lagi apa? Bunda baru datang, kok," ucapnya membuatku semakin kebingungan.
"Loh, kamu bawa bunga tabur juga?" Bunda melihatku penuh tanya. Aku harus jawab apa sekarang?
Jika bukan bunda yang menabur bunga, lantas siapa?
Anda Mungkin Juga Suka





