
Hawa Nafsu Kekasihku
Bab 3
Entah apa yang harus dilakukan oleh sang Direktur Utama, sekaligus satu-satunya perempuan yang memegang jabatan setinggi itu di perusahaannya, pada situasi semacam ini, Affry benar-benar sudah pasrah, ya, wanita yang mengenakan jas hitam itu sepertinya harus mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi kerugian yang sangat besar serta kehilangan saham senilai ribuan dolar Amerika. "Apa-apaan anak magang itu, bisa-bisanya dia seceroboh ini?" Wanita pemilik marga Yuu itu menggeram penuh rasa kesal, ingin rasanya wanita cantik tersebut mengeluarkan si anak magang dari perusahannya, tetapi ada aturan tertentu yang menghalangi niat wanita berambut cokelat panjang tersebut untuk mengeluarkan si anak magang, pun demikian, pada saat seperti ini, satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh wanita pemilik netra cokelat itu adalah menahan kesal, seraya terus menunggu dokumen yang hancur dicetak ulang oleh si anak magang yang sangat ceroboh.
"Bu Affry, apa anda sedang berada di dalam?" Sebuah suara baritone terdengar dari luar pintu, sepertinya itu adalah salah satu direksi yang bekerja bersama wanita cantik itu. "Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan bersama anda."
"Masuk saja, Tae Wang," balas sang wanita pemilik marga Yuu itu seraya merapikan penampilannya yang sempat sedikit acak-acakan akibat rasa frustrasi yang muncul akibat perbuatan laki-laki berwajah oriental yang amat tampan yang merupakan anak magang itu. "Ada apa? Katakan saja padaku." Sang Direktur Utama berkata lagi seraya menetak-netakkan kukunya yang sedikit memanjang. Pintu kayu cedar lagi-lagi dibuka lalu ditutup, seorang pria bertubuh sedang yang juga menggunakan jas hitam berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut dengan langkah yang dapat dikatakan rapi dan teratur khas petinggi perusahaan sekali.
Tae Wang namanya, pria berperawakan tinggi besar itu menatap atasannya dengan tatapan datar, seperti biasa, selalu serius seolah tidak memiliki waktu untuk sekedar berbincang-bincang bahkan untuk bergurau. Laki-laki berambut hitam itu lantas duduk di depan wanita berambut cokelat panjang tersebut seraya menghela nafas panjang. "Tuan Charles sudah berada di perjalanan untuk mengurus kontrak dengan kita, anda sudah menyiapkan kontrak tersebut, kan, Bu Affry?" Laki-laki pemilik netra cokelat itu menatap atasannya sendiri dengan tatapan serius.
Yang ditanya menghela nafas panjang, lantas menjawab bahwa kontrak itu telah dihancurkan secara tidak sengaja oleh si anak magang alias Chaing He. Mendengar perkataan wanita pemilik netra cokelat di hadapannya, Tae Wang tertegun, terdiam seribu bahasa, laki-laki berkulit kuning langsat itu hanya bisa mematung tanpa bisa berkata apa-apa seolah benar-benar terkejut atas kejadian yang terjadi. Tampaknya, pemuda berdarah Asia Timur itu tidak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi, lagipula, bagaimana bisa si anak magang tidak tahu seberapa penting isi dokumen tersebut? Sebuah rasa khawatir menyelinap di relung hati laki-laki berambut hitam itu, tentu saja hal tersebut bisa terjadi karena Tae Wang merupakan karyawan yang sangat loyal serta peduli terhadap perusahaan milik wanita yang mengenakan jas hitam yang berada di hadapan yaitu. Laki-laki pemilik netra cokelat itu hanya bisa terdiam, menatap atasannya sendiri dengan tatapan terkejut, bahkan pada situasi ini laki-laki yang biasanya berotak sangat cerdas itu tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Orang yang pemuda pemilik marga Tae itu maksud adalah memang orang yang dimaksud Afri sebelumnya, ya pada situasi tertentu, seperti saat ini, memang kesalahan semacam ini mungkin saja terjadi, tetapi rasanya hampir-hampir tidak mungkin ketika akan terjadi rapat besar semacam ini, kesalahan sebesar menghancurkan dokumen yang sangat penting terjadi. Bahkan, sebenarnya, anak magang terendah sekalipun pasti diberitahu jika dokumen itu sangat penting. Tidak hanya itu, sebenarnya ada sebuah kecurigaan di hati laki-laki yang berkulit kuning langsat itu ketika tahu bahwa dokumen tersebut telah dihancurkan oleh anak magang, seolah ada sesuatu yang memang sengaja dihancurkan di dalam dokumen itu. Sejauh pandangan laki-laki berwajah oriental yang amat khas itu, tidak ada yang salah di dalam dokumen tersebut, hanya ada kerjasama yang biasa-biasa saja tetapi bernilai sangat tinggi dan saham bernilai beberapa puluh ribu dolar Amerika.
Entah mengapa bagi Tae Wang, kejadian semacam ini lebih mirip sabotase daripada sekedar kecerobohan biasa. Entah Affry juga memikirkannya atau tidak, wanita berambut cokelat panjang itu hanya bisa tercenung, seolah sedang berusaha berpikir keras bagaimana jalan keluar terbaik yang bisa mereka dapat jika skenario yang paling buruk benar-benar terjadi. Kedua laki-laki dan perempuan yang duduk berhadapan itu berdiam dengan pikiran mereka masing-masing tanpa ada satupun diantara mereka yang berniat untuk membuka suara untuk sekedar memberi usul atas apa yang harus mereka lakukan tentang kerjasama yang akan segera terjadi. Tetapi sepertinya, kekhawatiran semacam ini tidak perlu terjadi, maksudnya, si anak magang telah kembali seraya membawa sebuah map berwarna cokelat tua, di mana map tersebut berisi surat yang telah dihancurkan oleh Chaing He beberapa saat yang lalu, karena kali ini suara ketukan kembali terdengar di pintu yang berbahan dasar chedar. Tanpa banyak berkata-kata, tetapi dengan sedikit berteriak, wanita pemilik netra cokelat itu meminta untuk siapapun yang mengetuk pintu itu masuk saja dan tidak usah banyak bicara.
Ketika pintu terbuka, wanita yang menjabat sebagai Direktur Utama tersebut tertegun, benar-benar terdiam seolah tidak menyangka kalau si anak magang benar-benar menepati omongannya sendiri, yakni memperbaiki serta mencetak ulang dokumen yang hancur. Sebenarnya, ada satu hal di mana wanita itu berpikir bagaimana mungkin si anak magang yang jelas-jelas tidak pernah diberitahu banyak hal tentang rapat dan isi dokumen itu, bisa-bisanya memiliki salinan dokumen itu secara lengkap, seolah-olah pemuda berdarah China itu juga dilibatkan di dalam kegiatan tersebut, tetapi ya bagaimanapun lagi, mereka sudah cukup terdesak, sudah tidak bisa lagi menunda-nunda atau bahkan sekedar berbincang santai.
"Bu!!" Seseorang lagi-lagi menerobos masuk, benar-benar dengan seenaknya saja menerobos masuk ke ruangan sang Direktur Utama. "Mr. Charles sudah datang! Beliau sudah menunggu di ruangan rapat." Orang itu adalah Pretty, satu-satunya sekretaris wanita di antara sekretaris para jajaran eksekutif dan direksi perusahaan pada saat itu, dan tampaknya begitu pula untuk kedepannya.
Perkataan gadis keturunan Afrika itu tentu saja mengejutkan wanita berambut cokelat panjang itu, ya, beliau tidak menyangka bahwa Charles bisa datang secepat itu, untung saja pada saat seperti ini, dokumen hancur tersebut telah berhasil diperbarui. "Benarkah? Astaga, kalau begitu kita cukup beruntung karena dokumen ini sudah selesai. Baiklah, ayo kita hadiri rapat kali ini." Wanita pemilik netra cokelat itu menghela napas, lalu menoleh untuk menatap si anak magang pengacau. "Kamu, ikut saya ke ruang rapat. Kamu harus mulai mempelajari sesuatu dari sana."
Anda Mungkin Juga Suka





