
Hati yang Sedang Berperang
Bab 3
Rumah besar Asia itu diselimuti keheningan yang hampir tak nyata. Bahar, dengan jiwa yang terkoyak, berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong marmer, setiap langkahnya bagaikan sebuah kalimat. Sehari sebelumnya, kakeknya, Nasuh Aslan Asian, telah memberinya perintah yang akan mengubah hidupnya selamanya: perjodohan dengan Hakan Ersoy, seorang pengusaha yang akan menguntungkan keluarga. Tetapi dia tidak akan menerimanya.
Suara langkah sepatunya bergema di dinding saat dia mendekati aula besar tempat Nasuh menunggu. Kakeknya duduk di kursi kayu yang megah, punggungnya tegak dan tatapannya dingin, seolah-olah tidak ada dan tidak seorang pun yang dapat menantang otoritasnya. Bahar merasakan udara di sekitarnya menjadi mencekam.
"Bahar," suara Nasuh dalam dan serius, seperti biasa. "Duduklah."
Bahar tetap berdiri, menatap kakeknya dengan campuran kemarahan dan kesedihan. Dia tahu percakapan ini tidak akan mudah, tetapi dia tidak tahu apa yang menantinya.
"Mengapa?" "Mengapa kau memaksaku melakukan ini?" tanyanya, suaranya bergetar karena amarah, meskipun ia berusaha tetap tenang. Nasuh menatapnya, wajahnya tanpa ekspresi. Tidak ada jejak kasih sayang, hanya beban otoritas yang selalu dipegangnya atas dirinya.
"Pernikahan ini perlu, Bahar. Hakan Ersoy adalah pria yang dapat memperkuat keluarga kita. Dialah yang kita butuhkan untuk mempertahankan kekuasaan dan posisi kita. Dan kaulah yang akan menyatukannya dengan kita." Bahar merasakan gelombang keputusasaan melanda dirinya. Bagaimana mungkin kakeknya sendiri berpikir ia bisa memaksakan hal seperti ini padanya? Yang ia inginkan hanyalah kehidupan sendiri, bebas dari harapan keluarga, tetapi itu tidak pernah menjadi pilihan.
"Tidak!" teriaknya, tak mampu menahan amarahnya. "Aku tidak akan menikah dengannya! Kau tidak bisa memaksaku melakukan ini!"
Respons Nasuh langsung dan tegas.
"Ini perintah, Bahar!" Suaranya meninggi, tajam seperti pisau. "Kehormatan keluarga ini lebih tinggi dari keinginanmu. Pernikahan ini akan memperkuat posisi kita. Kau tidak berhak menolak."
Bahar mundur selangkah, merasa seolah seluruh dunianya runtuh. Kata-kata kakeknya adalah hukuman yang tak bisa ia hindari. Namun sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk melawan, untuk menentang semua yang diperjuangkan kakeknya.
"Aku tidak ingin menjadi pion dalam permainan kekuasaanmu, Kakek!" serunya, matanya berkaca-kaca. "Aku cucumu, bukan benda!" Nasuh terdiam sejenak, mengamatinya dengan tatapan dingin dan penuh perhitungan. Baginya, Bahar hanyalah bidak di papan catur keluarga besarnya, dan perasaannya tidak berarti apa-apa.
"Kau harus mengerti, Bahar," katanya dengan nada yang lebih lembut, tetapi sama tegasnya. "Ini demi kebaikan semua orang. Jika kau tidak menikahi Hakan, kita akan kehilangan semua yang telah kita raih." Loyalitas keluargamu bergantung pada ini.
Bahar merasa seolah tekanan besar menghancurkan dadanya. Kata-kata kakeknya terus menghantam wajahnya, dan dia tidak bisa berhenti memikirkan betapa tidak adilnya semua ini. Mengapa dia selalu harus mengorbankan keinginannya sendiri demi keluarga?
Tiba-tiba, tanpa tahu mengapa, dia berlari ke pintu, langkahnya cepat dan panik, mencoba melarikan diri dari beban berat yang menimpanya. Dia butuh udara, dia perlu melarikan diri dari kakeknya dan semua yang diwakilinya.
Nasuh, tanpa terpengaruh, memperhatikannya pergi, tahu bahwa dia tidak punya pilihan selain kembali. Dia tidak akan menyerah pada keinginan Bahar. Dia sudah mengambil keputusan, dan tidak seorang pun, bahkan cucunya, dapat mengubahnya.
Bahar berlari melalui koridor, diliputi rasa sakit dan amarah. Dia pergi ke taman, di mana angin sejuk membelai wajahnya, tetapi tidak ada yang bisa menenangkan gejolak yang berkecamuk di dalam dirinya. Hidupnya selalu menjadi bayangan di bawah kehendak kakeknya, tetapi sekarang situasinya telah mencapai titik kritis.
Dia jatuh ke tanah, mencengkeram lututnya erat-erat. Air mata akhirnya mulai mengalir, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak berusaha menghentikannya. Seluruh penderitaan hidupnya, penghinaan terus-menerus dari Nasuh, kurangnya cinta dan rasa hormat-semuanya meledak pada saat itu.
"Aku tidak bisa melakukannya!" bisiknya di antara isak tangis, menatap langit. "Aku tidak bisa menikahi pria yang tidak kucintai!"
Sementara itu, di kejauhan, Emir Demir mengamati pemandangan itu dari sudut taman. Ia datang ke Midyat dengan satu tujuan: untuk membalas dendam pada keluarga Asia, yang ia salahkan atas kematian orang tuanya. Tetapi sesuatu di mata Bahar, rasa sakitnya yang nyata, membuatnya meragukan semua rencananya. Ia telah mendengar desas-desus tentang kecantikan wanita muda itu, tetapi ia tidak pernah membayangkan bahwa penderitaannya begitu nyata.
Mata mereka bertemu sesaat, dan meskipun tidak ada kata-kata, udara di antara mereka dipenuhi dengan ketegangan yang tidak biasa.
Emir menyadari bahwa balas dendamnya, yang sampai saat itu tampak sebagai satu-satunya tujuan hidupnya, tidak lagi begitu jelas. Sesuatu sedang berubah dalam dirinya.
Bahar, tanpa menyadari tatapan Emir, perlahan bangkit dari tanah, dengan tekad yang baru. Dia tidak akan membiarkan orang lain menentukan hidupnya. Sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa dia harus berjuang, bahwa dia harus menemukan takdirnya sendiri, terlepas dari apa yang kakeknya atau takdir rencanakan untuknya.
Namun jalan itu tidak akan mudah. Nasuh telah mengambil keputusan, dan bayangan keluarga Demir semakin mendekat lebih dari yang bisa dia bayangkan.
Perang akan segera dimulai, dan Bahar, tanpa disadari, sudah berada di pusatnya.
Di cakrawala, sosok Emir menghilang ke dalam bayangan, sementara Bahar, hatinya dipenuhi keraguan, mulai berjalan menuju masa depan yang tidak pasti.
Anda Mungkin Juga Suka





