Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasratku Padamu

Hasratku Padamu

Tinggal bersama sahabat berubah menjadi rumit sejak aku bertemu kakaknya, Octavio. Pria yang dua belas tahun lebih tua itu adalah mantan atlet sepak bola sekaligus pelatihku di kampus. Octavio sangat arogan dan suka meremehkanku, namun ketegangan di antara kami justru memicu gairah yang membara. Meski hubungan ini terlarang dan penuh risiko, aku tak bisa berpaling darinya. Dia adalah sosok yang seharusnya tidak kumiliki, namun dialah satu-satunya yang sangat kuinginkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aroma alkohol dan dentuman musik langsung menyergapku begitu aku memasuki pesta universitas. Ruangan itu dipenuhi lampu berkedip, tawa, dan percakapan yang bercampur dalam kekacauan yang memabukkan. Aku hanya ingin bersantai setelah beberapa hari pertama di bawah atap Octavio, membiarkan kota menelan sebentar hidupku, meski hanya beberapa jam.

-Virginia! -teriak seorang teman, sambil mengangkat gelas-. Santai saja, malam ini untuk bersenang-senang!

Aku mengambil gelas itu dengan senyum paksa, berharap tak ada yang melihat betapa aku ingin melarikan diri dari ketegangan yang Octavio ciptakan dalam hidupku sehari-hari. Setiap tegukan bir membakar tenggorokanku, dan musik berdentum melalui dadaku, membuatku pusing sekaligus memberi kebebasan sejenak.

Aku tak ingat kapan mulai kehilangan kendali. Rasa pusing itu datang perlahan, hingga dunia menjadi kabur, dan setiap tawa terdengar jauh. Saat itulah aku melihatnya: seorang pria asing yang mendekat terlalu cepat.

-Hei... mau menari denganku? -ucapnya, dengan senyum yang berusaha ramah, tapi membuatku waspada.

-Tidak... -coba aku mundur, tapi dia bersikeras, meletakkan tangannya di pinggangku.

Seketika rasa tidak nyaman menjalar. Aku mencoba menjauh, tapi keseimbangan tubuhku yang goyah tidak membantu. Aku merasa hampir jatuh, dan setiap kali mencoba melepaskan diri, dia semakin mendekat.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Octavio.

Dia berdiri di dekat pintu, ekspresinya serius dan matanya menyala marah, membuat darahku membeku. Sebelum aku sempat bereaksi, dia melangkah maju dengan langkah panjang dan pasti. Dia tidak berkata apa-apa. Tidak perlu kata-kata. Dengan gerakan cepat, dia menyingkirkan pria itu dariku, dengan kekuatan yang membuatku menahan napas.

-Jauhi dia! -dengan suara serak dan tegas, seolah dia memiliki hak atasku, dan pria itu mundur, gemetar.

Kontrolnya atas situasi itu mutlak. Setiap gerakannya, setiap otot yang tegang, memberitahuku bahwa tak ada tempat untuk melarikan diri dari otoritasnya... namun entah kenapa, aku merasa aman. Sebuah getaran menjalar di tubuhku, campuran ketakutan dan sesuatu yang tak bisa kujelaskan.

-Terima kasih... -bisikku, tak mampu menatap matanya langsung.

-Jangan sampai membahayakan dirimu lagi -ucapnya, dengan suara rendah dan berat yang membuatku merinding-. Mari kita pulang.

Aku tak menentang. Tak bisa. Rasa aman di bawah perhatiannya mengalahkan setiap dorongan pemberontakan. Saat kami berjalan menuju pintu, aku bersandar sedikit padanya, menyadari bahwa aku membenci dan membutuhkannya sekaligus. Aku membenci cara dia mengontrol setiap aspek hidupku, tetapi rasa lega karena dilindungi membuatku merasa rentan dengan cara yang aneh dan baru. Aku menyukainya, aku akui.

Perjalanan pulang ke rumah berlangsung hening, kecuali napasku yang cepat dan suara langkah kami di trotoar yang basah karena hujan gerimis malam. Aku merasa aneh: bersyukur, frustrasi, takut, tapi juga... anehnya terangsang. Kekacauan emosi membuatku menoleh padanya, dan dia, seperti biasa, tampak tak tergoyahkan.

Sesampainya di rumah, dia meninggalkanku di ruang tamu dan pergi ke dapur tanpa berkata sepatah kata pun. Pikiran mencoba memproses apa yang baru saja terjadi: campuran ketakutan, rasa terima kasih, dan sesuatu yang belum ku mengerti sepenuhnya. Aku tak bisa menyangkal ketegangan yang muncul di antara kami, maupun getaran aneh yang kurasakan saat berada di bawah perlindungannya.

-Kamu baik-baik saja? -akhirnya dia bertanya, menoleh padaku dengan pandangan yang mencoba netral, tapi gagal menyembunyikan kekhawatiran.

-Ya... -jawabku, dengan suara gemetar, meski mencoba terdengar tegas.

Dan kemudian terjadi sesuatu yang tak pernah ku duga. Dengan gerakan alami, seolah kekhawatiran membuatnya lengah, dia melepas jaketnya. Mataku tak sengaja tertuju ke dadanya dan aku merinding saat melihat bekas luka yang membentang di kulitnya. Tanda masa lalu yang menyakitkan, sebuah kecelakaan yang kini nyata di hadapanku.

Aku melihatnya rentan. Bukan pria dingin dan dominan yang membuatku terbakar frustrasi dan keinginan, tetapi seseorang yang pernah menderita, yang membawa luka terlihat dan tak terlihat. Jantungku mengecil, dan campuran emosi menghantamku keras: belas kasih, rasa ingin tahu, ketakutan, dan sesuatu yang lebih dalam yang tak bisa ku sebutkan.

-Octavio... -suara ku sedikit patah, terkejut oleh intensitas momen itu.

Dia menegang, sadar bahwa aku menatapnya terlalu lama. Ekspresinya kembali mengeras, dan sesaat, pria dominan itu muncul kembali, menghapus semua tanda kerentanan.

-Jangan menatapku -ucapnya, dengan suara tegas, meski napasnya lebih lambat dari biasanya, seolah mengontrol setiap emosi butuh usaha besar.

Aku mengangkat bahu karena takut Mariana mendengar, tapi tidak. Dia sibuk dengan dunianya sendiri...

Aku menggigit bibir, mencoba memproses semua yang kurasakan dalam beberapa jam terakhir. Ketertarikan dan frustrasi, rasa terima kasih dan ketakutan, bercampur dalam pusaran yang tak bisa ku kendalikan. Kerentanannya menyentuhku dengan cara yang tak terduga, membangkitkan sesuatu di dalam diriku yang tak bisa diabaikan.

Dan saat aku tetap di sana, menatapnya, aku mengerti bahwa apa yang awalnya menggangguku darinya kini justru menarik. Kontrolnya, kekuatannya, dan masa lalunya yang menyakitkan bukan hanya membuatku jengkel, tapi juga memikat. Aku terjebak dalam bahaya yang memikat.

Saat dia mendekat memastikan aku sudah tenang, aku melihatnya menundukkan pandangan ke dadanya lagi, dan untuk sesaat, matanya yang biasanya membakar dengan dingin kini dipenuhi sesuatu yang belum pernah kulihat: kerentanan. Aku ingin tahu lebih banyak tentang ceritanya, menghiburnya, dan menemukan alasan di balik permusuhan yang begitu kuat.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JAQ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JAQ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Liar Pria Introvert
9.0
Kisah ini menyajikan perpaduan unik antara ketegangan yang mencekam dan bumbu komedi yang mengocok perut. Di tengah jalinan romansa yang memikat, terselip unsur mistis yang menambah kedalaman misteri dalam alurnya. Pembaca akan dibawa menyelami petualangan emosional yang tak terduga, di mana setiap rahasia perlahan terungkap. Sesuai judulnya, narasi ini mengeksplorasi sisi lain pria introvert yang penuh gairah dalam balutan atmosfer modern yang sangat intens.
Sampul Novel Gigolo Kampungan
8.9
Alex adalah pemuda tampan yang bertahan hidup sebagai gigolo di kota besar. Meski dikelilingi kemewahan dan wanita yang mencari kehangatan, ia merasa hampa karena profesi ini hanya bersifat sementara. Terdorong kebutuhan ekonomi sejak muda, Alex mahir memikat hati klien demi nafkah. Namun, di balik pesonanya, ia memendam kesepian mendalam dan krisis identitas. Setiap malam usai bekerja, ia merenungi nasibnya dan mendambakan kehidupan yang lebih bermakna.
Sampul Novel Hasrat Cinta Terlarang CEO
8.8
Ditinggal pergi oleh kekasihnya tepat di hari pernikahan membuat Rachael hancur dan berhenti memercayai cinta. Namun, takdir membawanya kembali bertemu dengan Andrew Collins. Merasa tak punya harapan lagi dalam asmara, Rachael akhirnya setuju menikahi Andrew yang merupakan putra sahabat ayahnya. Tanpa ia sadari, keputusan ini menjadi awal dari rencana besar takdir yang akan mengubah pandangannya terhadap hubungan dan masa depannya selamanya.
Sampul Novel Hasrat Liar Polwan
7.9
Setiap manusia memiliki kebutuhan biologis yang sangat wajar dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Terlepas dari jabatan atau profesi yang ditekuni dalam kehidupan sosial, kepuasan batin merupakan aspek yang tidak memandang status, kasta, maupun kekayaan seseorang. Kisah ini menyoroti sisi kemanusiaan yang paling mendasar, di mana hasrat dan nafsu tetap hadir di balik seragam, membuktikan bahwa kebutuhan batiniah tidak dapat dibatasi oleh hierarki duniawi.
Sampul Novel Ibu cantik, Ayah licik
8.7
Akibat jebakan keji dari ibu tiri dan kakaknya, pernikahan yang telah direncanakan dengan matang terpaksa dibatalkan karena sebuah alasan mustahil. Bertahun-tahun kemudian, ia akhirnya memutuskan kembali ke kota kelahirannya. Dengan tekad yang sangat kuat, ia berjuang keras melalui berbagai rintangan demi merebut kembali segala hal yang pernah menjadi miliknya. Kini, ia siap menghadapi masa lalu untuk memulihkan haknya yang telah dirampas secara tidak adil.
Sampul Novel Istri Cacat CEO
9.6
Christian Oliver adalah CEO sukses yang tampak memiliki segalanya, namun hidupnya terkekang oleh aturan sang ayah. Di usia 29 tahun, ia dilarang menjalin kasih karena statusnya yang sudah terikat pernikahan sejak remaja dengan Olivia, putri sahabat ayahnya. Meski telah bertahun-tahun mencari, Christian tak kunjung menemukan keberadaan istrinya itu. Ironisnya, tanpa ia sadari sedikit pun, sosok Olivia sebenarnya selalu berada sangat dekat di sisinya selama ini.