
Hasrat Terlarang Suamiku
Bab 2
Hati Selin patah dan juga hancur, remuk serasa dunianya runtuh seketika. Bagai pecahan kaca yang bertaburan di lantai, begitulah dengan perasaannya yang seakan mati. Melihat sikap sang suami yang begitu kasar, dia tahu jika Edward punya wanita lain dan menjadi duri dalam hubungan mereka.
Dia berlari menuju taman, menangis sepuasnya hingga lelah. Dia tidak menyangka, jika hubungan selama lima tahun tidak berarti apa-apa, bahkan dirinya sudah merelakan semua kepada sang suami. Bagai fatamorgana yang tak bisa disentuh,.begitulah hati Edward yang lebih memilih kekasih dibandingkan dirinya sebagai istri sah.
"Kenapa…kenapa aku yang hanya merasakan sakit hati? Mengapa ini semua terjadi kepadaku? Apa kesalahanku? Bukan keinginanku untuk menjadi istrinya, tetapi hanyalah sebuah perjodohan dengan pihak keluarga. Apa pengorbananku selama ini tidak berarti baginya?" serentetan pertanyaan yang memenuhi kepalanya, menari-nari yang seakan mengolok-oloknya.
Tiba-tiba terdengar suara petir, dan hujan turun dengan sangat deras membasahi sekujur tubuh. Tanpa berniat untuk beranjak dari tempat duduknya. Rasa dingin yang menyeruak masuk ke dalam pori-pori kulit, menembus tulang yang membuatnya kedinginan. Enggan untuk masuk ke dalam, maupun berteduh. Ingin mencurahkan seluruh perasaannya dikala turunnya hujan, yang disertai dengan tangisannya bercampur menjadi satu. Seakan alam ikut bersedih dengan apa yang dialami, nasib malang yang mencintai suaminya tapi malah dikhianati.
Cukup lama dia berada di bawah guyuran air hujan, meresapi setiap tetesan yang mengenainya. Membasahi seluruh tubuh membuat dirinya sedikit merasa tenang, dan beban di pundak berkurang. Wajah yang pucat, dan tubuh gemetaran, kedua tangan yang terlihat keriput terkena air hujan memeluk tubuhnya yang mungil. Berjalan masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar.
Pandangannya ditelusuri ke seluruh ruangan yang tampak sepi, karena dia sekilas melihat suaminya yang pergi lagi. "Apa apa yang harus aku lakukan?" liriknya pelan sembari berjalan menaiki tangga dengan penuh hati-hati, tubuh yang basah membuatnya takut akan terpeleset.
Setelah membuka lemari pakaian, dan mengganti dengan piyama tidur. Segera melangkahkan kaki menuju ranjang dan berbaring dengan meringkukkan tubuhnya. Ruangan yang kosong dan juga hampa, sudah lama dia tidak mendapatkan nafkah batin dari sang suami.
Selin tidur dalam kegelapan, tidak ada cahaya di dalam ruangan itu. Sama seperti dengan keadaan yang dialami saat ini, terpuruk dalam ruang sempit dan juga gelap. Dia segera memejamkan kedua mata kalau rasanya cukup sulit menerima apa yang dihadapi dan juga lewati.
Di pagi yang indah, mentari dengan malu-malu muncul untuk menyapa. Sinar matahari yang menembus kaca, masuk ke dalam pori-pori kulit wanita yang tengah tertidur. Membangunkan Selin, seakan memberikan semangat dan awal yang baru. Dia segera melupakan kejadian semalam, segera melihat ke samping yang ternyata sudah ada sang suami dan dia tidak tahu kapan pria tampan di sebelahnya pulang.
Memandangi wajah tampan dari suaminya yang begitu teduh dan damai, membuat pagi harinya terasa indah Namun, hal itu segera diakhiri karena masih banyak pekerjaan yang menanti dirinya. Walau mempunyai beberapa pelayan, tapi tak membuatnya begitu tergantung pada orang lain, mengandalkan diri sendiri untuk melayani sang suami dengan masakannya. Dia pernah mendengar pepatah, jika ingin merebut hati sang suami lebih dulu penuhi dulu isi perut suami dengan masakan lezat.
Selin segera beranjak dari ranjang, dan segera ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan juga menggosok gigi. Mencepol rambut dan segera pergi menuju dapur, berkutat pada penggorengan yang nanti akan dihidangkan.
Hampir satu jam, Selin berada di dapur menyelesaikan pekerjaannya sebelum sang suami bangun. Menyajikan semua masakan di atas meja makan dengan begitu rapi dan enak dipandang mata. Dia tersenyum dengan begitu tulus, masakan dengan penuh cinta yang akan disuguhkan pada sang suami.
"Akhirnya aku sudah selesai memasak, sebaiknya aku membersihkan diri dan berdandan dengan cantik. Semoga saja Edward melihat ketulusan ku dan juga perubahan penampilanku." Monolognya seraya berjalan menuju kamar.
Selin menyiapkan pakaian dan juga air hangat untuk sang suaminya mandi di pagi hari, sudah menjadi rutinitas hariannya yang selalu melayani dengan sangat baik. Memasangkan jas dan juga dasi merupakan bagian yang sangat dinantikan, bisa menatap wajah tampan sang suami dari dekat. "Apa aku hanya lah seorang pelayan baginya? Tidak menganggapku ada. Aku berada di hadapannya, tapi tatapannya lebih fokus pada ponsel di tangan."
"Malam ini aku tidak bisa pulang, banyak pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan."
"Sudahlah, aku tahu kamu berbohong dengan beralasan pekerjaan kantor dan juga sibuk lembur. Aku tahu, jika kamu telah selingkuh dan menghianati kepercayaanku," ungkap Selin sudah tidak tahan dengan alasan yang selalu dikatakan oleh Edward.
Edward menaikkan kedua alisnya sedikit terkejut dengan wanita di hadapan, yang mengetahui hubungannya dengan wanita lain. "Bagus jika kamu mengetahuinya, dengan begitu aku tidak perlu repot-repot bersembunyi lagi di saat berkencan." Ungkapnya yang tidak peduli dengan perasaan Selin yang sangat rapuh hingga terpuruk di jurang terdalam.
Selin menghentikan untuk memasang dasi sama suami, menatap dalam mata Edward hingga keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. "Apa makna dari pernikahan yang kita jalani selama lima tahun, apa aku tidak ada artinya di depanmu?"
Edward tak menjawab, segera menarik dasi dan memasang sendiri membelakangi Selin, dan fokus saat memasang dasinya.
"Apa yang harus aku lakukan hingga kamu melihat keberadaanku?" Selin menatap suaminya dan benar berharap, jika suatu hari nanti sang suami bisa berubah dan mengakui keberadaannya dia hadapan publik.
"Tidak ada, Aku ingin kamu tidak muncul dihadapanku berhentilah bersikap kekanak-kanakan." Ucap Edward yang pergi meninggalkan kamarnya menuju meja makan. Sementara Selin sangat sedih, dia tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi, berdoa jika suaminya bisa berubah dan melupakan hasrat terlarangnya.
Di meja makan Selin menyiapkan sarapan untuk suaminya seperti biasa, namun perhatian yang dia tunjukkan selama lima tahun tidak ada artinya apa-apa, makan dia seperti seorang pelayan di rumah yang besar itu.
"Aku harus pergi, tidak perlu menunggu ku pulang." Ucap Edward yang segera beranjak dari kursi, segera pergi tanpa menoleh membuat hati Selin lagi-lagi terluka.
"Aku harus menyelesaikan ini dengan wanita itu," gumamnya segera membersihkan meja makan dan bersiap-siap untuk pergi menemui kekasih dari suaminya.
****
Selin mencari keberadaan dari kekasih suaminya, mendapatkan informasi dari beberapa orang. Dia sekarang berada di sesi pemotretan dari kekasih suaminya, yang jadi model dalam proyek perusahaan Edward untuk brand ambassador terkenal. Dia menunggu hingga sesi pemotretan selesai, segera menghampiri wanita itu dengan baik-baik. "Aku ingin berbicara denganmu dan ini sangat penting!"
Wanita yang sebagai model itu melirik penampilan Selin yang jauh dari kata layak, tidak ada kata menarik membuatnya tersenyum miring. "Memangnya kamu siapa dan datang menemuiku?" ucapnya yang pura-pura tidak tahu.
"Ikut aku sebentar ada yang ingin aku tanyakan dan tidak akan lama."
"Baiklah," sahut wanita cantik yang bernama Tari.
Selin menarik tangan Tari dengan pelan, membawanya ke suatu tempat yang sepi dan saling berkontak mata dengan tujuan yang tersirat. "Aku ingin kamu menjauhi suamiku!"
"Maaf, suamimu yang mana ya?" celetuk Tari yang tersenyum miring.
"Jangan berpura-pura, aku tahu kalian ada hubungan dan aku melihatnya di pusat perbelanjaan. Kamu ini masih cantik, sebaiknya mencari pria lain saja. Masih banyak laki-laki di luar sana yang bisa kamu dapatkan, tetapi jangan suami orang karena karma akan berlaku."
"Apa salahku? Suamimu lah yang mengejarku, walau aku sudah berusaha untuk memutuskan hubungan dengannya. Lagipula aku juga berpikir secara materialistis, suamimu itu sangat tampan dan juga kaya. Siapa yang tidak tertarik untuk menjadi yang kedua," ungkap Tari yang tidak ingin berbasa-basi lagi, menyindir wanita yang sebagai istri sah berpenampilan layaknya seorang.
"Jangan menjadi perusak rumah tangga orang, karena suatu hari, entah kapan aku juga tidak tahu. Karma akan menghampirimu, jadi sebelum itu aku mengingatkan untuk menjauh dari suamiku."
"Kamu ini sangat lucu, datang tiba-tiba menasehatiku seperti itu. Bukan aku yang mengejarnya, tetapi suamimu, sudah aku tegaskan dan tidak akan aku ulangi lagi. Seharusnya kamu sadar, penampilanmu yang bahkan tak ada yang menarik dilihat wajah yang kusam kulit yang seperti bersisik, dan juga tangan yang kasar. Apa kamu ini seorang kuli bangunan? Jadi, di situ terlihat perbedaan antara aku dan kamu. Segera pergilah dari sini atau aku akan meminta satpam mengusirmu! "
"Karma itu ada, semoga kamu bisa menghindarinya!" Selin segera pergi dari sana menahan air mata yang menyeruak keluar, dia terus menahannya agar tidak terlihat lemah di mata sang pelakor.
"Wanita yang sangat malang, melabrak aku tapi dia yang sial." Gumam Tari tersenyum puas dapat menghina istri sah kekasihnya.
Anda Mungkin Juga Suka





