
Hasrat Terlarang Janda Tujuh Kali
Bab 3
"Eh, i iya, Mas," jawabku terbata.
"Ya udah duduk dulu," serunya.
"Tapi baju aku basah, Mas."
"Oh, iya ya. Kalau gitu kamu ganti baju. Nah, di belakang ada kamar mandi." Mas Hanum menunjukan sebuah ruangan kecil yang ada di pojok dekat dapur.
Kuarahkan pandangan ke arah tas yang berada di lantai, tepat didepan kakiku. Berharap Mas Hanum mengerti bahwa bajuku basah semua. Namun, pria itu teralihkan karena ada yang membuka pintu depan. Aku melihat seorang perempuan datang menghampiri dengan mengenakan setelan kantor, cantik dan elegan kata itu cocok untuk menggambarkan. Dia menuntun anak kecil yang berseragam sekolah dasar.
"Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam," jawab Mas Hanum. Dia menghampiri perempuan itu, aku rasa istrinya, jelas bisa ditebak saat perempuan dan anak lelaki itu mencium punggung tangan Mas Hanum.
"Aku kesal banget deh, sebaiknya kamu segera cari pengganti baby sitter deh. Aku dimarahi bos tahu!" keluhnya.
"Bunda gimana sih? Jemput anak aja marah-marah mulu." Anak kecil itu bersedekap dan duduk di sofa. Bibirnya mengerucut. Ingin rasanya aku ikat dengan karet bekas nasi uduk rasanya.
Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaanku, lebih baik diam saja pura-pura tidak tahu. Menyaksikan perdebatan orang kaya.
"Eh kamu dah nemuin baby sitter, Sayang?" tanyanya saat melihatku.
"Enak aja. Ini Sarboah sepupu aku, baru datang dari kampung."
"Oh, hallo. Namaku Aquila." Dia mengulurkan tangannya, dengan cepat aku menjabat.
"Sarboah."
"Eh, baju kamu basah ya? Aduh, pasti dingin. Ganti dulu gih, nanti setelah itu kita ngobrol-ngobrol," cicitnya sangat ramah, membuat aku nyaman dibuatnya.
Ternyata Aquila lebih peka, dia melihat ke arah tas milikku. Dia tersenyum tipis dan menepuk bahu, mengatakan bahwa akan meminjamkan baju untuk aku. Dia menaiki anak tangga dan tidak berapa lama kembali dengan menyerahkan baju berbahan rayon.
"Daster gak apa?" tanyanya.
"Iya, makasih. Maaf merepotkan," sesalku.
"Gak apa. Kamu kan saudaranya Mas Hanum, jelas bukan merepotkan."
Tidak pernah menyangka, bahwa perempuan bertubuh ringkih itu orang yang ramah dan baik. Aku pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dengan sabun yang ada di tempat itu. Aku mengeluh, sadar daster ini sangat sempit. Aku menundukan pandang, mendesah karena dadaku tercetak jelas dibalik kain tipis yang dikenakan. Saat kembali sayup kudengar perdebatan, entah apa. Tak jelas dengan jarak tempatku sekarang. Aku mendekat dan ternyata masih membicarakan soal baby sitter. Aku rasa ini kesempatan aku untuk tetap tinggal di rumah ini, agar aku bisa mencari pria yang telah meruntuhkan bahtera rumah tanggaku.
"Aku harus cari kemana? Gak ngasal kalau cari baby sitter, Dek!" Mas Hanum tampak sedikit marah. Istrinya tak kalah marahnya.
"Aduh, terserah deh. Aku gak mau lagi repot!"
"Kenapa sih gak berhenti aja, Dek!"
"Aku gak mau! Bisa cepat tua aku di rumah."
Ah, perdebatan orang kaya. Semua tentang kesibukan, beda denganku yang harus berjuang untuk isi perut. Asal dapat makan sudah Alhamdulillah. Daripada mereka ribut mending aku menawarkan diri aja.
"Permisi Mas, Mbak," seruku.
Mas Hanum menatapku, dia seperti terkesima dengan penampilanku. Dia melihat ke arah dadaku yang montok. Aku yang sudah tujuh kali menikah bisa menebak bahwa pria itu mulai tergoda. Namun pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Mbak Aquila, sepertinya dia tak mau tergoda. Ah, entahlah. Aku tidak peduli. Untuk saat ini harus cari cara agar punya tempat tinggal gratis.
"Sepertinya kekecilan ya," ucap Mbak Aquila. Aku mengangguk.
"Iya, Mbak. Tapi nggak apa. Oh, iya, Mbak. Maaf aku tadi denger pembicaraan Mbak dan Mas soal baby sitter."
"Kenapa? Kamu punya kenalan seorang baby sitter?"
"Nggak sih, Mbak."
"Yah." Mbak Aquila yang tadi tampak antusias kini aku lihat menuduk lesu.
"Kalau boleh aku mau, Mbak. Gak bakat sih, tapi diajarin aja dulu, Mbak."
"Kamu mau, Ah?" Dia beranjak dari duduk dan mengoyak kedua tangan. Saat aku mengangguk. Dia bahkan memukul tubuh seksi ini. Untung perempuan kalau cowok udah minta digoyang.
Sejak saat itu aku bekerja sebagai baby sitter di rumah Mas Hanum. Hari-hari dilalui tanpa ada yang spesial, aku hanya mengantar jemput anak kecil yang bernama Azka, yang baru aku ketahui bahwa umurnya baru tujuh tahun. Aku dan dia juga sudah mulai akrab. Bukan hanya itu, aku juga memasak dan membereskan rumah. Sehingga aku tak punya waktu untuk mencari pria asing yang menjadi tujuan aku datang ke kota ini.
Aku perempuan yang tidak bisa menahan hasrat, tahu kelemahan sehingga tak pernah berani dekat-dekat dengan Mas Hanum. Saat tengah malam dan dirasa sepi, aku selalu mencari kepuasan sendiri. Beruntung ada kamar pembantu yang aku tempati dan kamar mandi di dapur yang jarang dijamah penghuni rumah. Saat hasrat menyerang aku memuaskan diri sendiri dengan caraku. Semua berjalan lancar selama sebulan.
Hingga satu malam yang dingin, aku tidak bisa menahan hasratku. Aku membuka pintu kamar dan melihat semua masih sepi. Kututup kembali pintu kamar tapi tak dikunci, pintu ini sedikit renggang jadi tak tertutup sepenuhnya. Aku enggan mencari anak kunci yang aku lupa disimpan dimana. Udara dingin ini menyiksa membuat aku tak tahan dan kembali mencari kepuasan.
Aku keluar untuk membersihkan diri, karena merasa lengket di bagian bawah saat ku telah mencapai klimaks. Berniat ke kamar mandi dan betapa kagetnya saat membuka pintu aku melihat Mas Hanum berdiri di depan kamar. Pria itu tersenyum dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ma mas, se sejak ka pan?" tanyaku terbata.
"Sejak kapan apa?" Dia mengulang pertanyaan.
"A ada di sini?"
"Wajah kamu tegang gitu kenapa?"
"Nggak kok, Mas," kilahku.
"Buatin kopi, Ah."
Aku mengangguk tapi meminta izin untuk ke kamar mandi. Betapa kagetnya saat aku menyadari bahwa sejak tadi kancing dasterku terbuka dan itu tandanya tadi Mas Hanum melihat belahan dadaku? Ah, sial! Aku malu semalu-malunya. Ini tangan kalau lagi horni bergerak sendiri. Harus cepat cari suami, tapi dimana? Aduh, kenapa aku punya kelainan ini sih?
"Ah, lama banget." Mas Hanum kembali memanggil. Aku berjalan keluar, berusaha tenang.
Kusuguhkan kopi hitam dengan campuran krimer di dalamnya, tentunya sudah sangat hafal apa yang menjadi kesukaan pria ini. Aku melihat Mas Hanum menunduk. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, dari gelagatnya aku bisa menebak dia sedang pusing. Mas Hanum menarik dasi yang dikenakan dan menggulung lengan panjang hingga siku. Aku hanya diam, mengagumi pria tampan yang menjadi sepupu ini. "Keren banget sih, Mas Hanum." Aku membatin.
"Ah, kamu udah nikah?"
"Udah, Mas. Tujuh kali malah, hehe."
"Hah? Serius!" Mata pria itu membola. Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Ada yang aneh?" tanyaku polos.
"Kok bisa?"
"Ya bisa. Orang banyak dari mereka gak kuat melayaniku. Ada yang mati, ada yang minta cerai, katanya gak sanggup tarung tiap malam."
Aku jawab aja jujur. Toh, itu emang kenyataan. Siapa sangka cerita aku membuat Mas Hanum tertawa. Aku ikut aja tertawa, menghargai pikirku.
"Kamu kenapa ketawa, Ah?"
"Ya ikut aja sih," jawabku.
"Dasar! Gak nyangka kamu lucu."
"Apa? Lutung culun."
"Nah, itu tahu."
"Dih, tega." Aku mencebik.
"Enak dong bisa cobain banyak macam."
"Enak gak enak sih."
"Gak enaknya?"
"Elah, Mas. Jadi janda tujuh kali itu jadi omongan orang."
"Jadi kamu udah jadi janda tujuh kali, kirain punya suami tujuh."
"Mana bisa, Mas. Bobrok aku layanin tujuh pria."
Saat berbincang denganku, sepertinya Mas Hanum tampak lebih baik. Tadi aku lihat seperti orang yang sedih sekarang bisa tertawa, entah aku tak tahu apa yang terjadi. Hanya saja berharap bahwa Mas Hanum tidak tahu aksiku tadi di kamar. Tapi dia tahu gak ya? Ah, semoga aja dia ada di depan kamar pas aku udah selesai.
Anda Mungkin Juga Suka





