Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel HASRAT PENUH LUKA

HASRAT PENUH LUKA

Dominic mengejar sosok yang menyerupai Stella di tengah guyuran hujan deras. Sambil berlutut penuh penyesalan, ia memohon ampunan atas dosa masa lalunya. Namun, luka hati Stella dari kejadian tiga tahun silam telah membeku dan tertutup kegelapan. Dengan sikap yang amat dingin, Stella menegaskan bahwa permohonan maaf Dominic tidak ada artinya. Ia menyatakan bahwa hanya kematian pria itu yang mampu menebus segala penderitaan yang telah ia alami selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ketika pergi, Stella tak mengatakan apa pun, bahkan Kate tak sempat bertanya lebih banyak. Wanita itu dengan raut wajah yang menyedihkan, pergi menyeret sebuah koper besar dengan perasaan hancur dan tak bisa dikatakan dengan kalimat apa pun.

Tubuhnya kurusnya terlihat sangat, sangat menyedihkan. Bahkan ketika dia pergi meninggalkan mansion, dia tak menoleh sedikit pun, seakan mantap dengan langkahnya untuk melupakan semua kenangan yang pernah ada di rumah besar itu.

Lalu apa yang bisa dilakukan Kate untuk menahannya?

Dia hanya seorang kepala pelayan yang tak memiliki kuasa apa pun.

“Maafkan saya,” ujar Kate lemah.

Dominic hanya mengangguk, kemudian berjalan melewati Kate dengan wajahnya yang suram. Dominic melepaskan jas miliknya, lalu menyerahkan pada Kate.

Dia tak pernah berpikir jika Stella berani untuk membuat keputusan seperti itu, pergi meninggalkannya di saat dia tak berada di rumah.

Dominic berjalan ke arah kamar di mana Stella selalu tidur. Dibukanya pintu kamar dengan tenang, tak ada yang berubah pada isi di dalam kamar.

Seprei terlihat rapi seperti semula, bahkan seprei yang dipasang adalah seprei di mana Stella pertama kali datang ke rumah itu, sekarang kamar itu terlihat seperti tak pernah memiliki penghuni sebelumnya.

Dominic bergerak mendekati lemari, diperhatikannya pakaian-pakaian yang pernah dibelikannya untuk Stella, terlipat rapi di dalam lemari, seperti sediakala. Kotak perhiasan yang pernah diberikannya untuk Stella sebagai hadiah pernikahan berada di dalam laci, semuanya utuh. Kartu black card yang diberikannya pada Stella, juga tergeletak rapi di dalam kotak perhiasan. Buku tabungan, segalanya tak ada yang dibawa oleh perempuan itu.

Stella hanya membawa semua rasa sakit yang mengendap di dalam hatinya selama tiga tahun ini, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menyudahi segalanya, daripada berlarut-larut dalam kekecewaan yang semakin mendalam.

“Kau kira, semudah itu pergi dariku, Stella?” gumam Dominic dengan sesungging senyum licik di bibirnya.

Dia tak mencintainya.

Dia tak menginginkannya.

Tapi dia tak ingin melepaskannya?

Bukankah tadi dia begitu menginginkan perceraian?

Dominic mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana.

Dominic :

‘Jadi kau sudah pergi, Stella?’

Lama ditunggunya, Stella tak kunjung membalas pesan yang dikirimkan Dominic padanya. Kali ini raut wajahnya berubah menjadi raut kekesalan.

Dominic :

‘Jadi kau memutuskan untuk pergi dari hidupku, Stella? Kau kira, semudah itu untuk melepaskan diri dariku?’

Masih belum mendapatkan balasan apa pun. Tatapan Dominic yang dingin seakan mampu masuk ke dalam layar ponsel. Dominic menggertakkan giginya, dan mengumpat dengan pelan.

Dominic :

‘Stella, kuberi kau waktu sampai tengah malam untuk kembali ke mansion. Jangan menguji kesabaranku, Stella. Akan kucari dan kubunuh kau, jika sampai tengah malam, kau belum juga kembali padaku!’

Stella mengacuhkan semua pesan masuk yang diterimanya dari Dominic. Saat ini yang ada di pikirannya, dia ingin menyelesaikan segalanya. Dia tak ingin lagi perasaan cinta sepihak yang dirasakannya pada Dominic, perlahan membunuhnya.

Stella telah sampai di Town Square. Bergegas dia menarik koper besar miliknya, dan melangkah dengan mantap masuk ke area elit tersebut. Banyak gedung-gedung besar perkantoran, mall-mall, dan bangunan lainnya. Stella tahu sebagian dari aset di Town Square setengahnya dikuasai oleh keluarga Dominic.

Laki-laki itu adalah seseorang yang sangat pintar dan selalu diandalkan oleh keluarga besarnya.

Saat dia dan Dominic menikah, dia ingat dengan jelas hanya Si Tua Darren—kakek dari Dominic—yang menyetujui dan ikut berbahagia dengan pernikahan keduanya.

Bahkan keluarga angkatnya sendiri terlihat kurang menyukai saat Dominic dan Stella menikah, mereka terpaksa menyetujui Stella menggantikan posisi Stefani saat itu karena Stefani menghilang di saat acara pertunangannya dengan Dominic.

Sedangkan saat itu media massa dan seluruh kota telah mengetahui jika putera sulung Keluarga Anderson akan menikah setelah acara pertunangan, jika saja Stella tak menggantikan posisi adik angkatnya itu, maka seluruh keluarganya akan mengalami kesulitan di kota.

Dominic dengan mudah meratakan kehidupan perekonomian Keluarga Wilson, dan Stella tak ingin hal itu terjadi!

Stella merasakan getaran di tas selempang miliknya, ponselnya sudah berkali-kali bergetar, dan dia sengaja memasang mode getar, karena kali ini dia sedang tak ingin diganggu.

Tapi ponselnya tak kunjung berhenti, bahkan getara konstan itu terus dirasakannya.

Dengan enggan dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas ranselnya, dan seperti biasa nama Dominic ada di layar.

“Ada apa Tuan Muda Davis?” tanya Stella dengan nada dingin pada suaranya.

“Kau sudah baca pesan yang aku kirimkan?” tanya Dominic tak kalah diinginnya. Dominic benar-benar berang begitu mengetahui Stella mengangkat teleponnya dengan nada sinis.

Perempuan itu sangat menyebalkan di mata Dominic.

Dia tak habis pikir, kenapa dulu dia menyetujui keputusan gila dari Si Tua Bangka Anderson untuk menikahi Stella. Lebih parahnya lagi Tuan Besar Tua Anderson menyukai perempuan itu, bahkan berkata jika Stella jauh lebih baik dari Stefani.

“Tentu saja aku sudah membacanya,” jawab Stella santai seakan tak ada beban. Meski dia tahu, jika saat ini Dominic berdiri di hadapannya, Dominic akan habis-habisan memakinya seperti sedang memaki seorang pelayan.

“Kau kembali sekarang juga!”

“Kalau aku tak mau, apa yang akan kau lakukan, Tuan Muda Anderson?” tanya Stella dengan pertanyaan yang sangat menantang dan memancing emosi Dominic.

“Aku akan menyuruh orang untuk menyeretmu kembali ke mansion. Kau pergi tak berpamitan denganku?”

“Apakah saya harus berpamitan, sedangkan selama tiga tahun ini Anda menganggap saya tak pernah ada. Saya ada atau pun tidak di dalam rumah itu, apakah membuat Anda kehilangan? Saya rasa tidak, Tuan Muda Anderson!” seru Stella.

Jauh di hati kecilnya, Stella tak pernah bisa meninggalkan Dominic. Rasa cinta yang ada selama tiga tahun ini, adalah sebuah yang cinta yang sebenarnya.

Dominic memintanya kembali ke rumah?

Rasanya tak mungkin laki-laki itu merasa kehilangan dirinya yang selama ini tak pernah terasa istimewa di mata suaminya itu.

“Hmmm.” Dominic bergumam.

“Ada lagi yang ingin Anda katakan?”

“Kau benar-benar tak patuh padaku?”

“Dengan ancaman Anda yang mengatakan Anda akan membunuh saya, jika saya tidak kembali ke rumah? Apa yang perlu saya takutkan? Saya tahu Anda memiliki kekuasaan tanpa batas, tapi saya bukan budak Anda yang bisa Anda perlakukan semau Anda. Paham?”

“Kau—“

Dominic semakin berang mendengar kata-kata Stella yang sangat tajam. Kedua tatapan Stella saat ini benar-benar tajam dan menakutkan seakan hanya dengan menatap, dia mampu membuat orang lain mengejang dan mati di tempat.

“Kalau begitu kuijinkan kau pergi setelah kau menemaniku jam delapan malam ini ke rumah Keluarga Wilson,” ujar Dominic penuh percaya diri.

Setidaknya saat dia datang ke acara ulang tahun mendiang Stefani, dan tentunya dia yakin keluarga besarnya pun akan datang, jadi tak ada salahnya dia menjaga image dengan berpura-pura rukun dengan Stella.

Jika dia tak bisa memperlihatkan kerukunan di depan Pak Tua Anderson, mungkin lelaki tua berusia 75 tahun itu pasti akan merutuknya dengan segala sumpah serapah. Laki-laki itu tak pernah mau untuk dilawan, dan siapa pun yang berusaha melawannya, dipastikan akan angkat kaki dari Manor milik keluarga besar.

“He-eh? Kau memintaku menemanimu? Apa kau tak jijik berdekatan denganku?”

“Bisa kah kau menutup mulutmu dan mengikuti apa yang aku pinta, Stella Wilson Yang Terhormat?” sindir Dominic.

“Tentu saja Tuan Muda Anderson Yang Agung! Tapi sesuai kata-katamu, setelah acara selesai, biarkan aku pergi.”

“Kenapa kau begitu ingin pergi dari sisiku, Stelly?”

‘Stelly’ panggilan kecil Stella diucapkannya dengan sangat lembut, seakan dia begitu mencintai dan menyayangi Stella. Padahal Stella sadar, tak ada rasa apa pun di dalam hati laki-laki yang dingin itu.

Di dalam hatinya hanya ada satu nama.

Bahkan jika dia terpaksa harus mengambil hati itu dari tubuh Dominic, tetap saja Dominic akan memindahkan nama tersebut ke tempat lain di dalam dirinya.

“Karena kau menginginkannya,” jawab Stella.

“Aku memang ingin bercerai denganmu, tapi apa aku pernah mengatakan setelah itu kau bisa pergi dari sisiku, Stella?”

“Benarkah? Bukankah tadi pagi kau bilang, kau akan merelakan aku pergi dari sisimu?”

“Aku meralatnya. Kau tak akan bisa pergi dari sisiku tanpa seijinku!”

“Peduli setan, Dominic! Setelah urusan malam ini selesai, aku akan meninggalkanmu!” maki Stella.

Terdengar desah frustasi Dominic di seberang sana.

Stella tak mengerti, apakah Dominic memiliki gangguan psikologis atau ada penyebab lain yang bisa mengubah suasana hati semaunya?

“Silakan, jika kau bersikeras pergi maka aku akan mematahkan kedua kakimu!”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Haram Milik Suamiku
8.1
Kebahagiaanku sebagai istri dan ibu hancur dalam sekejap setelah sebuah pengakuan mengejutkan terucap dari mulut suamiku. Ternyata, anak angkat yang selama ini kami asuh dengan penuh kasih sayang dari panti asuhan adalah darah dagingnya sendiri hasil hubungan gelap dengan wanita lain. Janji tentang surga rumah tangga yang ia tawarkan dulu kini terasa seperti dusta menyakitkan. Aku terjebak dalam kenyataan pahit saat pernikahan kami berada di ambang kehancuran.
Sampul Novel Boss Lady: Mantan Suamiku Ingin Aku Kembali
8.9
Selena dianggap parasit oleh suaminya, Kenneth. Setelah lelah disakiti, ia menuntut cerai dan pembagian harta. Kenneth setuju karena ingin bebas, namun Selena justru bangkit menjadi pengusaha sukses yang dikelilingi pria. Terkejut melihat transformasi mantan istrinya yang mandiri, Kenneth mulai mengejarnya kembali. Saat Selena meluapkan kemarahannya, Kenneth justru mengakui kegilaannya dan memohon untuk rujuk demi menyatukan kekayaan serta masa depan mereka.
Sampul Novel Ceo itu ayah anakku
9.1
Queen Azalea berusaha keras melupakan Sean Alexander, pria masa lalu yang menolak putri mereka karena takut memikul tanggung jawab. Namun, takdir mempertemukan kembali sang CEO dominan itu dengan Queen. Saat Sean tak sengaja bertemu Lilly, ia merasakan ikatan batin yang kuat. Di tengah pengejaran Sean, rahasia pilu terungkap: Lilly mengidap kanker darah. Sean pun memohon kesempatan untuk menebus kesalahan dan menjadi ayah sejati di sisa waktu berharga putri kecilnya.
Sampul Novel Fragile Heart (Hati yang Rapuh)
8.0
Hidup Jasmine hancur setelah ditinggalkan kekasihnya tanpa alasan pasti. Bertahun-tahun ia berjuang mengobati luka hati dan melupakan kenangan pahit tersebut. Namun, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Xavier, pria yang dahulu membuangnya. Luka lama Jasmine kian perih saat mengetahui Xavier adalah calon suami kakak kandungnya. Kini ia terjebak dalam dilema antara memendam rasa atau menghancurkan kebahagiaan kakaknya demi cinta masa lalu yang kelam.
Sampul Novel Hasrat Dendam Suamiku
8.4
Banyak yang menganggap Briella Moretti sangat beruntung dapat dinikahi oleh putra sulung keluarga Maven yang terpandang. Namun, di balik kemewahan itu, Adrian Maven hanya menyimpan niat keji untuk menghancurkan hidup Briella sebagai bentuk balas dendam pribadi. Adrian bertekad menyiksa batin sang istri, tapi ketulusan hati Briella justru mulai menggoyahkan komitmennya. Kini, Adrian terjebak antara ego dendamnya atau perasaan cinta yang mulai tumbuh.
Sampul Novel Lost In Heart
9.7
Kehidupan Pricila Putri Patty hancur saat sang suami berselingkuh, mengulang luka lama ayahnya yang pergi demi wanita lain. Di tengah keputusasaan, ia memulai perjalanan ke Bromo demi mencari ketenangan jiwa. Tak disangka, ia bertemu Yohan Pratama, pria dewasa yang pernah menolongnya dulu. Melalui berbagai peristiwa dan pelajaran hidup dari Yohan, benih cinta mulai tumbuh di hati Cila. Mampukah Cila menemukan kedamaian sejati dan kebahagiaan baru dalam petualangan ini?