
Hasrat Membara Bos Baruku
Bab 3
Satu jam setelah perdebatan antara aku dan Bu Yona aku berakhir dengan berdiri di depan pintu si penulis mesum dengan penuh kegugupan dan rasa jengkel yang luar biasa. Jika saja harga diri bisa membantuku bertahan hidup aku pasti sudah memilih untuk menganggur dari pada bekerja dengan bajingan seperti si Jack ini, tetapi karena alasan keuangan aku terpaksa melakukannya karena demi Tuhan penawarannya sungguh menggoyahkan iman dan terlepas dari itu semua, ini adalah bagian dari pada pekerjaannya.
Aku menggenggam tanganku yang berkeringat seraya mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya memtuuskan menekan bel pintu. Aku harus menunggu beberapa detik sebelum akhirnya kenop pintu bergerak di depan mata. Dalam sekejap aku merasakan jantungku berdegup kencang ketika mendapati kehadiran sang iblis pengintai. Pintu terbuka dan sekali lagi aku harus dibuat terkejut lantaran di sana, di depanku, Jack dengan rambut basahnya dan bibirnya yang menyeringai dengan santainya membukakan pintu hanya dengan selembar handuk berwarna putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Shit!
“Selamat datang kembali, Nona,” sapa Jack dengan seringai ketika dia menatapku dengan tatapan mengerling nakal dan senyuman menggoda keimanan.
Aku menelan ludahku sendiri seraya menenangkan pikiranku. Aku tidak bisa hanya berdiri di sana, ternganga seperti orang bodoh dan mempermalukan diriku sendiri lagi seperti sebelumnya. “Selamat sore Pak,” kataku berusaha santai menyapa dengan santai meskipun jauh dilubuk hatiku aku sangat gugup.
Dia tersenyum lalu membuka pintu lebar. “Masuklah,” ucapnya seraya berbalik dan berjalan menuju ke ruang tamu.
Aku menarik napas dalam-dalam lagi, mengikuti pria itu masuk dan menutup pintu dibelakangku. Diam-diam aku melangkah masuk ke ruang tamu dan berdiri di pintu masuk saat aku melihat pria itu sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk sambil melihat ke luar jendela. Pemandangan ini sebenarnya cukup indah dan menggoda, hanya saja jika dipaksa mengingat adegan sebelumnya aku tidak lagi tertarik pada pria ini sebagai pria yang bisa aku pertimbangkan.
“Aku senang Yona berhasil menyeretmu kembali ke sini, karena tadi kita belum sempat berbincang panjang lebar,” kata pria itu sambil berbalik dan menghadapku. Dia benar-benar tampan dan menarik sehingga aku mendapati diriku tiba-tiba terengah-engah saat melihatnya. Kenapa dia bisa memberikan efek seperti ini kepadaku?
“Ya,” sahutku pendek untuk memberikan kesan bahwa aku mendengarkannya. Berusaha sebisa mungkin bersikap normal dan nyaman.
Seringai di bibirnya melebar dan kembali terpasanglah seringai sadis disana. Lalu, tidak hanya sekadar menatapku saja, dia seolah mencoba untuk menggodaku habis-habisan dengan penuh arti, seolah dia ingin aku menggeliat dibawah pandangan matanya yang terlampau tajam. Aku mengerutkan alisku tidak senang, bahkan memberikannya pelototan. “Kenapa Bapak menatap saya seperti itu?”
“Apakah aku terlihat seksi saat sedang membuka pintu?” tanya pria itu secara tiba-tiba yang tentu saja tidak relevan dengan pertanyaanku sama sekali.
Awalnya aku hanya bisa ternganga, dan berkedip. Pernyataan super sialan! Apakah dia merasa perlu menanyakan hal seperti itu kepadaku? apakah sepenting itu pendapatku dibandingkan urusan pekerjaan?
Aku mencoba menenangkan diriku agar tidak terlalu meledak-ledak, selama tiga menit terakhir aku bersama pria ini di ruangan ini, aku merasa bahwa ekspresi cemberut nyaris semi permanen di wajahku dan hal tersebut tampaknya cukup efektif untuk menyembunyikan kegugupan yang sedang aku rasakan. “Bapak benar-benar pria yang brengsek,” balasku sebal.
“Why? Thank you. Sekarang tolong jawab saja pertanyaannya,” sahut pria itu, seringai menyebalkan masih terpampang nyata diwajahnya.
Sungguh, aku tidak akan pernah merasa sedikitpun terintimidasi oleh pertanyaannya yang sama sekali tidak berguna. Jika saja matanya itu tidak terlalu mempesona aku pasti sudah mencoloknya dengan pena sekarang juga. Astaga, aku tidak bisa berkelit ketika aku menyadari seberapa besar pengaruh kedua mata pria itu terhadapku. Dia membuatku tidak nyaman, dan merasa … panas?
“Sekarang bisakah kita langsung bicarakan saja soal pekerjaan Pak? Saya kemari sebagai asistenmu dan saya harus memastikan naskahmu cukup bagus dan selesai dalam batas waktu yang telah kami berikan,” kataku yang mencoba mengalihkan pikiranku sendiri dan membawa pria itu langsung to the point terhadap topiknya. Senang rasanya bisa memberi tahu dia bahwa aku disini semata-mata untuk urusan bisnis.
Dia mengangkat alis, tatapannya kini tertuju padaku dan memberikanku sebuah definisi akan sarkasme lewat gesture tubuhnya. “Oh? Kupikir kau seharusnya memasak untukku, membersihkan rumah, dan menghiburku saat aku sedang bosan. Bukankah itu yang dinamakan dengan pekerjaan seorang asisten?”
Aku hanya menatapnya dengan rasa yang kompleks, rasa marah, dan juga terhina menjadi yang paling dominan dari seluruh gemuruh perasaan yang ada di dalam lubuk hatiku. Sekarang aku tahu kenapa ada banyak orang yang tidak betah bekerja dengannya, karena barangkali dia adalah sosok bajingan yang paling parah yang pernah hidup di dunia.
“Berarti yang kau butuhkan adalah seorang pembantu dan bukan aku. Kalau itu yang kau mau dariku, aku pergi dari sini!” sahutku seraya menghentak kaki dengan keras untuk memperlihatkan seberapa marahnya aku saat diremehkan. Aku jadi tidak peduli lagi kalau-kalau Bu Yona menggangguku soal si Jack sialan ini. Aku merasa masih bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain meskipun memang tidak sepadan dengan gaji yang bisa aku dapatkan dengan menjadi asisten pria gila ini. Aku bekerja sebagai asisten seorang penulis dan bukan untuk menjadi pembantu bagi mereka.
“Sialan!” aku bergumam seraya meraih kenop pintu, hendak membukanya ketika sebuah tangan besar tiba-tiba saja menahan pergerakan tubuhku dari belakang. Aku bisa merasakan kehadiran Jack yang memabukan dari belakang tubuhku. Aku memutar kepala untuk melotot kepadanya dan terkejut bukan kepalang ketika aku menyadari seberapa dekat wajahnya dengan wajahku. Ini terlalu dekat! Apa dia sudah gila dan otaknya tidak berfungsi dengan benar?
“Apa-apaan ini?!” sergahku emosi mencoba untuk melepaskan diri. Tetapi hasilnya malah semakin sulit bagiku untuk keluar dari jeratannya.
Dia melingkarkan tangannya di pinggangku dengan cara yang sungguh posesif bahkan seolah tidak mendengar teriakanku dia malah menarik diriku untuk lebih mendekat padanya. Punggungku langsung membentur dadanya yang keras dan membuatku menggigil karena sesuatu yang sulit untuk dapat di jelaskan. Pria ini dan maskulinitasnya membuatku tidak berkutik. Dia sungguh berbahaya. Bahkan hanya dalam waktu yang terbilang singkat dan entah bagaimana mulanya, Jack kemudian mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat lagi denganku sehingga kami benar-benar merapat satu sama lain, saat itulah pikiranku tiba-tiba saja keluar dari kepala. Apalagi ketika aku menyadari tangannya yang semula berada di pinggangku secara lembut dan perlahan-lahan mulai menelusuri diriku dan kini tepat berada di selangkanganku. Dia …
Oh tidak! mati aku!
Anda Mungkin Juga Suka





