Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harta Tahta Kesayangan Duda

Harta Tahta Kesayangan Duda

Apa jadinya jika seorang gadis unik seperti gue mendadak dikejar oleh seorang duda kalem? Rasanya ingin kabur, namun kehadiran anaknya yang menggemaskan justru membuat gue bimbang. Meski takut terlihat cepat tua jika bersamanya, kekayaannya yang melimpah menjadi pertimbangan tersendiri. Saat lamaran tiba, gue pun mengajukan syarat untuk memiliki bayi yang lucu. Jawaban santainya pun membuat masa depan kami kini berada di ujung keputusan yang tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tidak ada hal yang lebih menyedihkan dan menyakitkan selain melihat Ibumu menangis. Itu yang Aksa rasakan sekarang. Sudah beberapa hari ini dia tinggal bersama Ibunya yang masih berduka. Kematian ayahnya yang diakibatkan penyakit jantung membuat Ibunya sangat terpukul, begitu juga dirinya. Tanggung jawab Aksa menjadi semakin besar sekarang.

"Ma?" panggil Aksa masuk ke dalam kamar setelah beberapa menit mengintip Ibunya yang tengah menangis.

"Ya, Nak?" Bu Ratna tampak berpaling dan membersihkan wajahnya dari air mata.

"Sarapan dulu. Udah ditunggu Bian di meja makan. Dia kangen disuapin sama Neneknya."

Bu Ratna tersenyum mendengar itu. Dia memang sedih, tapi sebisa mungkin dia tidak akan terlalu larut dalam kesedihannya. Bu Ratna akan menyembunyikan kesedihannya, tanpa tahu jika Aksa tahu yang sebenarnya.

"Ayo kita sarapan."

Aksa dan Ibunya berlalu menuju dapur. Di sana sudah ada Bian yang tampak lucu dengan seragam TK-nya. Bocah itu tampak menggemaskan dengan mulut yang maju beberapa senti. Saat melihat kedatangan Neneknya, Bian berdiri di atas kursi dan melompat bahagia.

"Akhirnya Nenek bangun pagi!" Bian masih melompat membuat Aksa meringis dan menghampiri anaknya.

"Duduk, Bian."

"Nenek bangun pagi terus kok. Siapa yang bilang Nenek bangun siang?" tanya Bu Ratna sambil mencium pipi gembul Bian.

"Papa yang bilang. Bian percaya soalnya Bian nggak pernah liat Nenek sarapan lagi."

Bu Ratna menatap Aksa yang hanya mengedikkan bahu acuh. Dia tahu anaknya terpaksa berbohong demi kebaikan Bian. Tidak mungkin Aksa berkata jika Neneknya masih bersedih karena ditinggal kakeknya.

"Ya udah, kita sarapan. Bian mau makan apa?"

"Sayur asem, Nek. Sama telur." Bian menunjuk makanan yang dia sukai di meja makan.

Interaksi Bian dan Ibunya membuat Aksa tersenyum. Dia bernapas lega melihat Ibunya yang bisa kembali ceria. Untung saja ada Bian, jika tidak, Aksa tidak tahu lagi harus berbuat apa.

"Kamu langsung ke kantor, Sa?" tanya Bu Ratna yang masih sibuk menyuapi Bian.

"Iya. Udah mulai aktif ngantor."

"Udah ke sekolah?" tanya wanita itu lagi.

Aksa mengangguk, "Kemarin habis dari sana."

"Papa kamu seneng kalau disuruh ke sekolah. Katanya auranya positif banget kalo liat anak-anak muda."

Bian tersenyum kecut, "Sangking positifnya sampai langgar aturan."

"Maklum lah, Sa. Namanya juga masih muda. Kayak kamu nggak pernah bandel aja."

"Papa pernah bandel, Nek?" tanya Bian tiba-tiba.

"Pernah dong, Sayang. Papamu itu dulu pernah ngerokok di kamar mandi sekolah." Cerita Bu Ratna pada Bian.

"Ma," tegur Aksa, "Bian masih kecil."

"Ya nggak papa lah. Biar Bian bisa belajar dan nggak niru tingkah papanya."

Bian menatap Nenek dan Ayahnya bergantian. Matanya yang bulat terlihat menggemaskan dengan pipi yang penuh dengan nasi. Bukan rahasia lagi jika Bian cukup pintar untuk anak seusianya, hanya saja dia sedikit manja mengingat jika hanya ada Ayah serta kakek-neneknya yang mengurusnya sejak kecil.

"Papa kan nggak ngerokok, Nek." Bian masih bingung dengan percakapan dua orang dewasa di hadapannya.

"Papa kamu cuma nyoba waktu itu. Penasaran katanya, tapi dia kapok. Ternyata rokok nggak enak." Bu Ratna terlihat menjulurkan lidahnya untuk berakting muntah.

"Rokok kan bukan makanan, Nek. Ya nggak enak lah."

"Makanya jangan dicoba." Aksa berdiri dan meraih tasnya. Dia mencium kepala Bian sebentar dan berpamitan, "Aku berangkat dulu, Ma. Jemputan Bian habis ini dateng."

"Oh iya, Sa. Kamu udah ke panti belum?"

Langkah Aksa terhenti. Dia menepuk keningnya pelan. "Lupa, Ma. Nanti deh liat jadwal dulu."

"Kalau sibuk, biar Mama aja yang ke panti sekalian jemput Bian nanti."

Aksa mengangguk lega. Jadwalnya memang cukup padat dan dia mulai bingung karena harus membagi waktu. Namun dia bersyukur jika Ibunya bersedia membantu dan kembali aktif dengan kegiatannya.

Perusahaan Kusuma adalah perusahaan yang bergerak di bidang farmasi. Banyak anak perusahaan yang tersebar di beberapa kota besar. Selain itu, perusahaan Kusuma juga peduli akan lingkungan dan pendidikan. Oleh karena itu Kusuma Wijaya, selaku pendiri pertama yang juga merupakan ayah Aksa membuat sekolah dan panti asuhan yang diurus langsung oleh dirinya. Beliau memang menyukai anak-anak karena memiliki aura yang positif dan membahagiakan.

***

Sebuah mobil berhenti tepat di depan yayasan panti. Bian membuka mobil dan berlari keluar, meninggalkan neneknya yang tersenyum melihat tingkah Bian yang semangat.

"Kak Era!" teriak Bian saat melihat Era yang tengah menyiram tanaman.

Era mengalihkan pandangannya dan terkejut melihat Bian yang berlari ke arahnya.

"Jangan lari, Bian. Ini belum agustusan," ujar Era saat Bian berhasil memeluk kakinya.

"Kangen. Udah lama Bian nggak main ke sini."

"Iya nih, Kak Era juga kangen. Bian bawa es krim nggak?"

Bian melepaskan pelukannya dan menatap Neneknya bingung. "Nek, Bian lupa bawa es krim."

"Yah, gimana dong? Nenek juga lupa. Minta maaf dulu sama Kak Era."

Bian kembali menatap Era dengan wajah lucunya. Mata Bian yang bulat menatapnya dengan memelas. "Bian minta maaf ya, Kak. Bian lupa bawa es krim."

Era tersenyum dan menyamakan tingginya dengan Bian. Tangannya mengacak pelan rambut halus itu dan mencubit pipinya gemas. "Nggak papa kok. Biar hari ini Kak Era yang traktir es krim."

"Beneran, Kak?!" tanya Bian kembali senang.

"Iya dong, sana masuk dulu. Ibu Asih udah goreng sosis banyak tadi," ucap Era sambil merentangan kedua tangannya.

Melihat Bian yang sudah masuk ke dalam panti, Era beralih pada Bu Ratna dan mencium tangannya sopan. "Akhirnya kanjeng ratu dateng juga. Bu Asih kangen tuh."

Bu Ratna tertawa mendengar ucapan Era. Setelah hampir seminggu tidak bertemu, gadis itu masih sama saja. Malah terlihat semakin tengil.

"Kamu nggak kangen sama kanjeng ratu?" tanya Bu Ratna berakting sedih.

"Kalo bawa es krim niatnya kangen sih, tapi ternyata nggak bawa apa-apa."

Bu Ratna berdecak, "Kamu itu ya, makanan mulu yang dipikirin. Lagian kenapa kamu di rumah? Nggak sekolah?"

Era meringis mendengar itu. Perlahan dia memeluk bahu Bu Ratna untuk membawanya masuk ke dalam panti. "Rafi lagi sakit, Bu. Makanya aku yang jagain dia hari ini."

"Rafi sakit apa? Udah berobat?"

Era menggeleng, "Demam, Bu. Udah minum obat kok. Udah mendingan juga demamnya."

"Ya syukur kalau udah mendingan." Bu Ratna merasa lega mendengar itu.

"Tante Ratna udah makan belum?" tanya Era saat mereka sudah berada di dalam panti.

"Belum, Bu Asih masak apa?"

"Kebetulan. Ibuk masak sayur nangka muda."

"Ah mantap!"

***

"Warna biru kalau dicampur wana kuning jadi apa?" tanya Era pada Bian yang duduk di depannya. Di tengah mereka terdapat meja kecil dengan buku gambar dan krayon di atasnya.

Sudah menjadi rutinitas Era saat Bian datang berkunjung. Selain membawa banyak makanan, Bian juga membawa banyak PR-nya. Kadang Era bertanya-tanya kenapa tugas anak TK tak kalah banyak dengannya yang duduk di bangku SMA? Meskipun tugas Bian begitu mudah, tapi tetap saja menurut Era tugas itu tidak sepatutnya ada.

Bikin pusing.

"Ungu?" jawab Bian dengan takut.

Mendengar itu, Era memejamkan matanya erat. "Warna biru sama kuning, Bian. Coba ayo gambar di sini terus kasih tau jadinya warna apa?"

Bian mengangguk dan mulai meraih krayon. Tangannya dengan lincah menggambar dengan bibir yang maju beberapa senti, tampak serius dengan apa yang dia lakukan. Era merasa gemas melihat itu. Tanpa bisa dicegak Era meraih pipi Bian dan menciumnya berulang kali.

"Kak Era! Pipiku basah, ihh!" gerutu Bian mencoba menghindar.

"Bian lucu banget sih! Cetakannya siapa ini?!" geram Era menggigit pipi Bian.

"Nenek! Pipiku dimakan Kak Era!" teriak Bian mencoba melarikan diri.

Mendengar teriakan cucunya, Bu Ratna muncul dengan tas Bian di tangannya. Wanita itu tersenyum melihat Bian yang tampak tertawa di pelukan Era dengan ciumannya yang membabi buta.

"Udahan dulu mainnya. Ayo Bian siap-siap, habis ini papa kamu jemput."

Era melepaskan Bian dan napas keduanya terengah. Dia membantu Bian untuk memasukkan buku gambarnya ke dalam tas.

"Bukannya papa kamu di Jogja ya?" tanya Era pada Bian.

"Sekarang papa udah di Jakarta, Kak. Jadi papa nggak bolak-balik lagi kalau mau ketemu Bian."

Era mengangguk paham. Dia melirik Bian dan menyenggol bahunya pelan. "Bian seneng dong akhirnya nggak jauhan lagi sama papa?"

"Seneng dong, Kak. Bian juga bisa minta es krim langsung nanti."

"Kak Era juga mau es krimnya dong?" tanya Era jahil.

"Minta aja langsung ke papa." Setelah mengatakan itu, Bian berlari dan tertawa.

"Ya kali minta langsung. Dasar bocah."

Era tersenyum melihat tingkah Bian. Dia yakin jika sudah besar nanti, Bian akan menjadi pria yang pintar dan bijaksana. Bahkan sejak dini, Bian sudah bisa berpikir lebih dewasa dari teman-temannya. Tak jarang Bian juga menasehati Era yang suka menjahili bu Asih.

Sungguh anak ajaib.

***

TBC

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CRAZY RICH MENIKAHI GADIS POLOS
8.8
Havva, gadis 17 tahun asal desa kecil di Ankara, terpaksa menikahi Irlan demi membiayai pengobatan ibunya dan meringankan beban ayahnya. Irlan yang kaya raya jatuh hati pada kecantikan alami Havva saat berlibur di penginapan tempat ayah Havva bekerja. Namun, pernikahan ini menjadi mimpi buruk karena Irlan sudah beristri. Bilqis, sang istri pertama yang modis dan sinis, terus mengintimidasi Havva. Mampukah gadis polos ini bertahan di tengah tekanan istri tua?
Sampul Novel Gadis Simpanan
8.4
Rachel Oktaviani kehilangan segalanya saat sang paman merampas harta warisannya. Nasib tragis membawanya menjadi jaminan utang judi hingga ia nyaris tertabrak mobil mewah saat melarikan diri. Daren Beltrand, sang pengemudi, menyelamatkannya namun dengan niat terselubung. Rachel kini terperangkap bagai burung dalam sangkar emas sebagai simpanan Daren. Tanpa disadari, pria itu ternyata sudah beristri. Bagaimana hancurnya hati Rachel saat rahasia kelam Daren terungkap?
Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis
8.2
Manfred Argianta Bergmans atau Gian menjalani hidup penuh penderitaan akibat perundungan keluarga dan teman sekolahnya. Hanya Alicia yang setia mendukungnya, meski hal itu memicu intimidasi yang lebih parah. Setelah menolong kucing malang, Gian menerima warisan kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius dalam mimpi. Didampingi seekor tikus putih sebagai mentor, ia memulai misi balas dendam. Namun, saat dianggap monster dan Alicia menjauh, sanggupkah Gian memenangkan perang ini?
Sampul Novel IDOL
8.6
IDOL
Raelyn Agatha menjalani hidup pahit, berpindah dari satu rumah kerabat ke rumah lainnya demi bertahan hidup. Di tengah keputusasaan untuk melarikan diri dari nasibnya, ia bertemu Min Ho, idol populer yang membawa keceriaan baru. Namun, kebahagiaan mereka terancam oleh kebencian publik dan penolakan keras dari orang-orang di sekitar sang bintang. Mampukah Raelyn mempertahankan cinta dan perasaannya meski seluruh dunia menentang hubungan mereka?
Sampul Novel Lover in Law (Ketika Dua Pengacara Saling Jatuh Cinta)
9.4
Milly merasa hidupnya dipenuhi kesialan sejak harus dimentori oleh Zayn, seorang pengacara senior yang sangat angkuh. Zayn pun membenci Milly yang dianggapnya ceroboh dan keras kepala. Meski awalnya saling muak, kedua pengacara cerdas ini justru terjebak dalam perasaan cinta yang tidak terduga di tengah persaingan profesional mereka. Apakah takdir akan menyatukan dua hati yang keras ini, ataukah ego masing-masing akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel My Crazy Teacher
8.6
Arkana Bimantara adalah guru pengganti tampan sekaligus cucu pemilik SMA ternama di Bandung. Meski digilai banyak siswi karena kemapanannya, perhatian Arka hanya tertuju pada Nayena Lim, seorang murid penerima beasiswa. Terpikat oleh pesona Naya, Arka menghalalkan segala cara untuk mendekati gadis itu. Ia tak segan melampaui batas kewajaran seorang pendidik dan memanfaatkan kekuasaannya demi memastikan Naya selalu menuruti setiap keinginannya.