Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan

Terdesak kemiskinan, Dinda nekat menjual kehormatannya seharga lima ratus ribu rupiah kepada preman. Namun, razia kepolisian menggagalkan rencananya hingga ia bertemu Sergio, polisi tampan yang menolongnya. Meski Sergio sudah berkeluarga, Dinda tetap mengejar cintanya hingga mereka memulai hubungan terlarang secara sembunyi-sembunyi. Akankah rahasia gelap ini terungkap? Bagaimana reaksi istri Sergio saat mengetahui pengkhianatan suaminya tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

Di luar terdengar begitu riuh. Langkah kaki terdengar saling beradu, juga teriakan-teriakan para lelaki maupun wanita memekak saling bertautan.

Sejenak aku tidak tahu harus berbuat apa. Membatu dalam posisi berdiri karena terlalu syok. Belum hilang kepanikan karena hampir di-unboxing, kini ditambah lagi rasa panik karena terkena razia.

“Kabur, gobl*k!” Ucapan lelaki itu membuatku tersadar. Pintu bilik yang terbuka membuat siapa pun dengan mudah untuk menatap ke dalam.

Segera aku merunduk, memungut kaus panjang yang sempat dibuka oleh lelaki yang hampir meniduriku malam ini. Kukenakan kaus itu sembari meraih tas dan berlari dengan cepat.

Namun sial, baru beberapa langkah aku keluar dari bilik, sepasang tangan kekar mencekal lenganku. Sekuat apa pun memberontak, cekalan itu tidak terlepas sama sekali.

Aku diseret paksa untuk mengikuti langkahnya menuju mobil patroli. Di dalam sana, telah tertangkap beberapa orang. Termasuk lelaki yang telah membeliku malam ini.

Tubuhku didorong dengan sangat kasar. Diminta agar ikut duduk dan bergabung dengan mereka.

Keringat dingin kini tidak lagi hanya membasahi jidat. Aku merasakan punggung telah basah karena keringat.

Kedua kaki dan tangan gemetar. Aku tidak bisa diam. Kugerakkan kedua kaki demi menutupi ketakutan.

“Baru pertama kali kena razia ya, Mbak?” Seorang wanita pekerja menyapaku.

Aku mengangguk pelan. Sebagai jawaban iya atas pertanyaan itu.

“Tenang aja, mereka cuma minta duit. Entar sampai kantor polisi ditahan semalam sampe dua malam. Kalau bersih dari narkoba, bakalan dilepasin. Asal ada uang jaminan.” Wanita itu menjelaskan dengan tenang. Sepertinya ia sudah sangat berpengalaman.

Sial! Sungguh sial! Miska sudah membuatku terjatuh ke dalam lobang yang seperti ini. Mau ditaruh di mana wajahku jika teman kerja sampai tahu?

Salahku juga karena menerima tawaran itu. Sudahlah ditawar dengan harga murah, kena razia pula. Miska sialan!

Aku tidak akan pernah ingin melakukan hal yang seperti ini lagi! Tidak akan!

Aku tidak bisa berhenti menggerutu dalam hati. Berada di tengah orang-orang seperti ini membuatku merasa telah gagal menjadi manusia. Hanya karena uang lima ratus ribu, aku harus berdesak-desakan duduk di dalam mobil patroli.

Aku merasa sangat gerah. Selain karena duduk desak-desakan, juga karena terlalu panik dalam menghadapi kejadian barusan.

Para anggota berseragam itu akhirnya ikut masuk dan duduk berdesak-desakan dengan kami. Menit berikutnya mobil berjalan meninggalkan lokasi terkutuk itu.

Sepanjang jalan aku tidak bisa berhenti menyalahkan Miska. Entah di mana gadis itu sekarang. Pasti dia tengah bersantai menikmati uang yang telah ia dapatkan. Sementara aku harus ikut ke kantor polisi dengan memasang wajah tebal. Menanggung malu di hadapan banyak orang.

“Turun!” Kami diminta untuk turun dengan kasar setibanya di kantor yang mereka sebut tempat pengamanan. Kupikir kami akan langsung dimasukkan ke dalam penjara, ternyata tidak.

Satu per satu kami diperiksa dengan sangat teliti. Mungkin mencari barang haram. Aku tidak tahu.

Tiba giliranku, aku diminta untuk mengangkat kedua tangan. Kulakukan apa pun yang mereka perintah.

Lelaki tegap itu meraba seluruh inci bagian tubuhku. Hingga di daerah sensitif, ia meraba juga meremas dengan sengaja. Aku tahu itu tidak sesuai dengan prosedur pemeriksaan. Sebab, ia sengaja berlama-lama di sana. Tentu saja aku tidak terima.

“Berani kamu melawan petugas?” Ia menatapku dengan tajam saat kedua tangannya kutepis.

“Anda melecehkan saya!” Aku menjawab tidak terima. Entah seperti apa kondisi wajahku saat ini, aku tidak tahu sama sekali.

Gelak tawa terdengar memenuhi seluruh ruangan. Mereka menganggap kalimat yang aku lontarkan adalah sebuah lelucon yang patut untuk ditertawakan.

Aku semakin kesal. Memasang wajah tidak suka. Sebab, ada banyak pasang mata yang menyaksikan pelecehan itu, tapi tidak ada satu pun yang membela.

“Kita ini PSK, Mbak.” Wanita yang tadi sempat menyapa di mobil, membuka suara kembali. Ia mengingatkanku akan posisiku di sini.

“Jika tidak ingin dilecehkan, ya cari pekerjaan yang halal dong. Kau sendiri tidak menghargai dirimu, bagaimana mungkin kami bisa menghargaimu.” Salah satu petugas berucap dengan datar.

Aku terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka benar. Posisiku di sini adalah seorang PSK yang sedang ditahan. Tidak ada yang bisa kulakukan. Wajar saja jika aku dianggap rendahan.

“Sudah, sudah. Ayo cek urin masing-masing.” Petugas lainnya datang melerai sembari membawa botol kecil.

Aku meraih botol itu sembari terus merungut. Kemudian berjalan menuju toilet dengan bimbingan petugas wanita.

Saat mengantre menggunakan toilet, salah satu petugas lelaki mendatangi tempatku berdiri. Ia mengajak untuk sedikit menepi.

“Kau masih perawan?” Ia bertanya dengan sangat enteng.

Aku terbelalak. Mudah sekali mulut itu menanyakan hal yang semacam itu.

“Sejak di dalam mobil, saya sudah memerhatikan. Saya tahu bahwa kamu masih perawan hanya dengan melihat wajah juga postur tubuhmu.” Ia berucap dengan santai.

“Apa maumu?” Aku bertanya dengan kasar. Berpikir bahwa ia akan berbuat macam-macam.

“Berapa tarifmu dalam semalam?” Ia kembali bertanya.

“Maaf saja, saya tidak berniat untuk menjual diri. Saya berada di sini juga karena suatu alasan.” Aku berucap dengan tegas.

“Saya juga tidak berniat untuk membayarmu. Saya hanya ingin menawarkan kerja sama.” Ia mengeluarkan sebuah kartu.

Aku tidak langsung menerima uluran kartu itu.

“Begini. Saya melihat kualitas yang lebih di dirimu. Jika dipoles sedikit lagi, kau akan telrihat jauh lebih cantik.”

Aku hanya diam, mendengarkan.

“Kita ada tugas untuk menangkap para pejabat yang menyelewengkan uang rakyat. Ada beberapa yang sudah masuk list. Rata-rata uangnya dipakai untuk bermain dengan wanita.”

Aku mengerutkan kening. Lalu, kaitannya denganku apa?

“Kau akan kita jadikan pancingan. Kita butuh bukti transaksi, juga penggerebekan agar bukti lebih akurat.”

Aku semakin mengerutkan kening.

“Pancingan?” Aku bertanya memastikan.

Petugas itu mengangguk dengan tegas.

“Kita sudah ada koneksi untuk menghubungkanmu dengan pejabat itu. Selama ini kami memakai jasa wanita lain. Namun, nampaknya bayaran yang ia dapatkan menjadi simpanan lebih besar, jadi dia memilih untuk berkhianat.”

Aku mulai paham apa yang diinginkan oleh lelaki itu.

“Hei, giliran kamu!” Petugas wanita memanggil agar aku lekas masuk toilet untuk menampung urin.

“Dia aman!” Lelaki di hadapanku memberi isyarat agar aku tidak perlu mengikuti tes narkoba.

“Aku harus apa?” Aku bertanya memastikan.

“Seperti yang kau lakukan sebelumnya. Masuk ke kamar berdua, usahakan agar kalian melepas semua pakaian sebelum kami datang untuk melakukan penggerebekan.”

Aku tertawa tipis. Gila! Sama saja dia meminta aku menjual diri ke pejabat.

“Cari wanita lain saja.” Aku menolak secara mentah-mentah.

“Kau tidak berminat? Gajinya lumayan. Bisa puluhan juta hanya dalam satu malam. Kau bebas untuk melakukan apa pun. Terserah, kau disentuh atau tidak. Yang terpenting kami masuk saat kalian berdua tanpa pakaian.” Ia menegaskan.

Sejenak aku mulai goyah. Namun, tetap saja itu bukan pekerjaan yang aku inginkan.

“Aku tetap tidak mau.” Aku kembali menolak.

“Kau coba pikirkan dulu. Ini ambil kartu nama saya. Hubungi saya jika kau berubah pikiran.” Ia memberikan kembali kartu nama yang sejak tadi tidak kunjung kuterima. Menit berikutnya ia berlalu begitu saja.

Tuhan! Tawarannya sangat menggiurkan!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calon Istri Tuan Muda Dingin
8.9
Althafandra Alatas menolak menikah demi menunggu kekasihnya, meski ditekan keluarga untuk segera memiliki pewaris. Tanpa diduga, ibu dan neneknya menjodohkan Fandra dengan Vivana Rosiana berdasarkan wasiat kakeknya. Vivana terpaksa tinggal di mansion Alatas meski ditentang keras. Namun, saat perasaan Fandra mulai tumbuh untuk Vivana, kekasih lamanya kembali muncul. Kini ia terjebak antara kesetiaan masa lalu dan cinta baru, sementara rahasia janji Vivana perlahan terungkap.
Sampul Novel CEO itu Tunanganku
8.8
Dua dekade berlalu, Melisa masih menanti cinta masa kecilnya hingga hatinya mati rasa. Saat mencoba membuka hati, ia justru terjebak pria oportunis. Di sisi lain, Rommy kembali dari perantauan sebagai sosok perkasa namun membawa luka lama. Meski Rommy datang melamar, Melisa justru menolak tanpa tahu mereka telah dijodohkan sejak kecil. Di tengah cobaan yang bertubi-tubi, mampukah rahasia perjodohan itu menyatukan kembali takdir cinta mereka yang sempat terputus?
Sampul Novel Ganti Rugi Nyawa Putriku
8.2
Setelah dikhianati dan dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri demi membalas dendam atas kematian sang mantan kekasih, Wina, seorang pilot wanita mendapatkan kesempatan kedua. Ia terbangun kembali di hari saat putrinya mengalami serangan jantung. Di kehidupan sebelumnya, suaminya menuduhnya berbohong demi mendarat darurat lebih dulu. Kini, sang suami sengaja memutus komunikasi demi menyelamatkan Wina, tanpa menyadari keputusan egois itu justru merenggut nyawa putri kandungnya sendiri.
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Dua tahun berlalu sejak Sari tiada, Mas Duda menjalani hari-harinya sebagai guru SD dengan penuh kesederhanaan. Meski mencintai profesinya, pria berusia 35 tahun ini tak mampu menghalau rasa sepi yang kian menghimpit batinnya. Tekanan dari keluarga dan sahabat untuk mencari pendamping baru pun mulai berdatangan. Namun, di tengah kekosongan jiwa tersebut, ia masih didera keraguan dan belum sepenuhnya siap untuk membuka kembali pintu hatinya bagi cinta yang lain.
Sampul Novel Kala Hidup Mengalir dengan Damai
8.8
Tiga tahun pernikahan hanya mendatangkan kebencian dari Kayden Farista kepada Calista Lisano. Saat Nadia Farista kembali, Kayden merancang rencana ekstrem untuk memalsukan kematiannya demi melepas status pewaris dan kawin lari dengan Nadia. Namun, rencana yang diucapkan di ruang operasi itu terdengar oleh Calista. Tanpa ragu, Calista langsung meminta pengacaranya menyiapkan surat cerai dan menghubungi kakak laki-lakinya di luar negeri, memilih untuk menyerah dan pergi selamanya.
Sampul Novel Lyana
8.4
Lyana adalah wanita sederhana yang bekerja keras demi menyokong hidup keluarganya di desa. Namun, masa depannya hancur seketika setelah bertemu dengan Justin, seorang pria kaya raya yang memiliki sifat sangat angkuh. Dalam kondisi mabuk berat dan hilang kesadaran, Justin melakukan tindakan keji yang merusak hidup Lyana. Kini, Lyana terjebak dalam nestapa akibat perbuatan Justin. Apakah sang miliarder akan bertanggung jawab, atau justru melarikan diri?