Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hanya Suami di Atas Kertas

Hanya Suami di Atas Kertas

Agnes Permatasari, seorang wanita karier, terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan Rama Pratama akibat tekanan mertua dan ipar yang toksik. Setelah bercerai, Rama segera menikahi wanita kaya pilihan ibunya, meninggalkan Agnes dalam bayang-bayang status janda. Di tengah hinaan dan cacian masyarakat, Agnes harus berjuang menentukan arah hidupnya. Apakah perpisahan ini akan membuatnya semakin terpuruk, atau justru menjadi titik balik baginya untuk bersinar?
Bab
Bagikan

Bab 3

Ada apa sih dengan Kak Ayu. Kenapa dia tidak mengangkat telpon adiknya ini? Apa terlalu sibuk kah dia? Atau apakah sakit bapak parah sehingga tidak sempat mengangkat telpon dari adiknya ini?

Beribu pertanyaan menari-nari dalam otak ini. Ingin rasanya raga ini segera terbang untuk bisa menemui bapak yang sudah lama tidak berjumpa. Apalagi sekarang beliau sedang dalam keadaan sakit.

Ku coba sekali lagi menekan tombol yang tertera atas nama Kak Ayu. Untuk kesekian kali tetapi belum juga diangkat olehnya. Entah telpon yang keberapa barulah Kak Ayu mengangkat telponku.

"Assalamualaikum, Kak. Bagaimana dengan keadaan Bapak sekarang? Sudah mendingan atau bagaimana." ku berondong Kak Ayu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

"Tadi Agnes telpon Kakak, tapi kenapa gak Kakak angkat, sih? Aku khawatir banget disini loh, Kak." tanpa terasa air mata ku jatuh berderai membasahi pipi ini dan semakin terisak mengingat betapa kangennya aku dengan cinta pertamaku.

Ya Bapak adalah cinta pertama aku yang tidak akan pernah bisa ku ingkari. Beliau begitu menyayangi kami anak-anaknya. Seluruh perhatiannya tercurahkan kepada aku dan Kak Ayu. 

"Maaf ya, ponsel Kakak ketinggalan. Kakak tadi masih di rumah sakit."

"Bagaimana kondisi bapak sekarang, Kak. Apa sudah membaik?"

"Belum. Sekarang bapak masih dirawat dan beliau sangat lemas. Kamu gak pulang jenguk bapak, Dek? Kasian beliau sering pangil-panggil namamu! Mungkin Bapak kangen sama kamu, Nes." Perkataan Kak Ayu membuat dada ini semakin sesak.

"Agnes, belum bisa pulang, Kak. Ipar aku mau mengadakan pesta penikahan." Ujarku tercekat.

Rasanya diri ini anak yang betul-betul tidak tau diri. Di saat bapak masih sehat beliau selalu saja memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap kami. Sedikit pun beliau tidak mau melihat anak-anaknya menderita.

Tetapi disaat beliau butuh dukungan aku malah  tidak pulang untuk sekedar menghiburnya.

Aku masih teringat dulu masa-masa sekolah, disaat aku diganggu sama Arif. Bapak langsung saja mendatangi rumah anak itu. Arif memang terkenal sangat bandel. Dia sangat sering membocorkan ban sepeda siapa saja yang dia sukai. Kemudian aku melaporkan masalah ini kepada bapak dan bapak bagaikan pahlawan dalam kehidupanku. Beliau menjumpai orang tua Arif dan menasehati Arif supaya tidak mengganggu aku lagi.

Semenjak saat itu dia tidak berani lagi mengganggu. Jangankan mengganggu melihat aku saja dia tidak berani. Setiap kami berpapasan dia akan mencari jalan alternatif sehingga tidak berjumpa dengan anak gadis kesayangan pak Ardi. 

Jangan main-main dengan bapak. Walaupun hanya pegawai rendahan tapi tidak pernah patah semangat apalagi sampai ada orang yang menginjak harga diri dia atau anaknya.

Tetapi sekarang disaat bapak sedang tidak berdaya dan membutuhkan dukungan morel dan spirituil dari kami, malah aku tidak datang. Anak macam apa aku ini!

"Nes ... Nes..." terdengar suara kak Ayu berteriak dari seberang sana.

"I ... I ... ya kak," jawabku gelagepan. Dari tadi aku sibuk dengan pikiran sendiri tanpa menyadari jika aku sedang berbicara dengan kakak semata wayang.

"Kamu kenapa, sih? Kakak ajak bicara dari tadi kenapa diam saja? Capek Kakak berkoar-koar sendiri. Kamu ngapain aja? Kalau gak ada yang  mau di bicarakan bagus kamu tutup aja lah telponnya." Terdengar suara kak Ayu marah-marah.

"Ma ... Maaf, kak. Tadi Agnes melamun. Agnes kepikiran terus bagaimana kondisi bapak saat ini. Aku takut kehilangan bapak, Kak." Dan lagi-lagi aku menangis untuk yang kesekian kalinya.

"Udahlah. Kamu doain saja semoga bapak segera sembuh dan kita bisa berkumpul lagi ramadhan dan idul fitri tahun ini." terdengar suara serak seakan kak Ayu sedang menahan tangisnya di ujung sana. Aku tidak bisa membayangkan wajah kakakku saat ini, yang jelas sekarang rasa khawatir dalam benak ini semakin menjadi-jadi.

Setelah aku tutup telponnya segera aku bersiap siap untuk menjenguk bapak. Aku gak mau tau. Siap pesta Sinta, mau diberi izin atau gak sama Mas Rama aku tetap pulang kampung. Ku buka lemari dan mengambil beberapa potong baju melipat dan memasukkan ke dalam koper.

Cukuplah beberapa potong saja karena aku dikampung hanya seminggu saja.

Mas Rama jangankan khawatir dengan kondisi bapak mertuanya bertanya saja dia gak mau. Terlalu sibuk mengurus pesta adik semata wayangnya. Begitu sayangnya dia terhadap adiknya sehingga kondisi aku dan anakku Niken tidak diperdulikan. 

Aku sudah biasa diperlakukan seperti ini. Diri ini sudah kebal. Sambil terus melipat baju baru aku sadari ternyata aku belum meminta izin sama ibu Kepala Sekolah.

'Seharusnya aku meminta izin dulu kepada Kepala Sekolah.' batinku bermonolog.

Kuambil ponsel diatas ranjang dan menekan tombol dengan nama bu Mirna sang Kepala Sekolah.

Bunyi dering ketiga akhirnya telpon diangkat sama beliau. 

"Hallo, Assalamualaikum." sapa bu Mirna di seberang sana. 

"Wa alaikum salam, Bu."

"Iya. Ada apa bu Agnes? Apa ada yang bisa saya bantu?"

"Begini, Bu. Saya mau ijin gak masuk kelas seminggu karena mau menjenguk orang tua di kampung."

"Lama banget kalau cutinya sampe seminggu , Bu Agnes." protes bu Mirna.

"Saya tau, Bu. Tapi bagaimana, ya? Bapak saya sakit keras dan sudah dua hari ini masuk rumah sakit. Tidak ada anaknya yang menjaga beliau dirumah sakit. Kami cuma dua bersaudara, Bu. Jadi saya mohon ibu memaklumi kondisi kami." aku berusaha menjelaskan sama bu Kepala Sekolah. Dan semoga saja beliau bisa memberikan ijinnya. Gak dapat seminggu beberapa hari saja pun boleh juga.

"Waduh ... bagaimana, ya?"

"Saya mohon, Bu. Sekali ini aja berikan saya ijin pulang menjenguk orang tua saya. Jangan sampai beliau sudah tidak ada saya baru pulang." Ujarku tergugu.

"Maafkan saya, Bu. Bukan maksud memaksa. Tetapi orang tua saya sangat membutuhkan kehadiran anak-anaknya. Beliau terus saja memanggil-manggil nama saya, Bu." ujarku terisak.

"Oh ... Ya udah, Bu Agnes. Saya kasih surat jalan nanti, ya. Kapan ibu akan berangkatnya?"

"Gak sekarang, Bu. Nanti setelah pesta adik ipar saya baru bisa kesana. Jadi saya gak nunggu beres-beres rumah. Soalnya 'kan masih ada orang lain yang bisa bantu ibu dan Sinta."

"Oh ya udah. Nanti saya buatkan surat ijin dan surat jalannya ya, Bu. Semoga bapaknya segera diberi kesembuhan. Aamiin."

"Aamiin. Terima kasih doanya, Bu." jawabku dan langsung mengakhiri telpon.

Kepala Sekolah sudah aku hubungi untuk meminta izin tidak masuk kelas selama seminggu. Sekarang aku mau melanjutkan menyiapkan segala perlengkapan pulang kampung.

"Dek, mau kemana?" aku sampai kaget ketika Mas Rama masuk kamar tanpa mengetuk pintu dulu. 

"Mau menjenguk bapak nanti siap pesta Sinta."

"Tapi, Bapak sudah sehat apa masih dirawat sih,Dek? Mas kok jadi khawatir sama kesehatan beliau."

"Belum tau juga, Mas. 'Kan Adek masih disini. Belum sempat menjenguknya."

"Nanti Mas aja yang antar Adek, ya. Gak usah naik bus." entah ada apa gerangan tiba-tiba saja Mas Rama begitu baik dan perhatian kepada keluarga aku. 

Bukan aku tidak bersyukur dengan perubahan suamiku. Tapi biasanya dia akan menjadi baik jika mau meminta sesuatu. 

Ah ... Gak baik juga berprasangka terus pada suami. 

'Mas Rama merupakan Imam dalam rumah tanggaku. Kenapa aku harus mencurigai tanpa alasan yang jelas. Suami begitu baik dan perhatian masih saja aku curigai.' batinku.

"Hmmm ... Dek, ngomong-ngomong uang di ATM Adek tinggal berapa?"

"Maksud Mas bagaimana?"

"Uang gaji Adek 'kan masih ada sisa di ATM. Kemaren gak jadi di tarik semua 'kan? Mas takut nanti saat menjenguk bapak malah gak cukup untuk ongkos dan biaya makan kita selama disana. Uang sama Mas masih ada sih. Tapi ya itulah ... masih dipegang ibu."

"Oh ... kalau masalah itu, gampang. Uang di Atm Adek masih cukup kok untuk keperluan kita sehari-hari disana. Malah keperluan untuk sebulanpun masih cukup, kok."

"Kalau gitu, Mas pinjam dulu, ya?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BUKAN FILOSOFI
8.1
Alaska menentang keras keinginan orang tuanya yang memaksakan sebuah perjodohan. Sebagai pria dewasa, ia merasa berhak menentukan pilihan hidupnya sendiri. Padahal, Alaska adalah sosok pelindung yang mencintai kekasihnya dengan tulus. Namun, keberanian dan kesetiaannya justru dibalas dengan pengkhianatan yang sangat menyakitkan. Di tengah luka hati tersebut, ia harus menghadapi tekanan keluarga. Mampukah Alaska bertahan saat cinta dan komitmennya diuji habis-habisan?
Sampul Novel Finding A True Love
9.3
Bagi Kanaya Amelitta, cinta hanyalah luka yang harus dihindari. Ia menutup hati rapat-rapat hingga Gavin Januartha hadir membawa kehangatan. Meski merasa nyaman, Kanaya justru kabur saat Gavin menyatakan perasaan. Delapan tahun berselang, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi rumit yang mengikat keduanya, padahal Gavin sudah memiliki komitmen lain. Di tengah rasa benci dan takut, mampukah Kanaya mengabaikan Gavin yang kini bersikap sangat keras kepala?
Sampul Novel Gairah panas my Daddy
8.6
Aldo Bimantara merupakan pria matang dari keluarga terpandang yang tetap terlihat awet muda meski sudah memasuki usia pernikahan. Sebagai sosok sukses, ia mengelola dua cabang restoran besar yang berlokasi di Medan dan Semarang. Di balik statusnya sebagai putra konglomerat, Aldo berjuang menyeimbangkan tuntutan hidup dengan kariernya yang gemilang. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup sang pengusaha kaya dalam menghadapi dinamika romansa modern.
Sampul Novel Istri Yang Tak Diinginkan
8.5
Menikah dengan orang tercinta adalah impian semua orang, namun tidak bagi Aleeya. Usai kehilangan sang ibu, ia justru terpaksa menjalani pernikahan dengan Richo, pria yang menentang keras penyatuan mereka sejak awal. Hidup Aleeya berubah menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai karena suaminya sendiri tidak pernah menganggap kehadirannya. Kini, ia harus berjuang menghadapi hari-hari penuh pengabaian di tengah rumah tangga yang hampa tanpa cinta.
Sampul Novel Ketika Suamiku Tak Mencintaiku Lagi
8.2
Setelah empat tahun terperangkap dalam kegelapan akibat kecelakaan tragis, Bella akhirnya menjalani prosedur pembukaan perban matanya. Di usia dua puluh tujuh tahun, harapan untuk kembali melihat dunia kini berada di depan mata. Sosok yang paling ingin ia temui adalah Galas, suami tercintanya. Namun, sukacita Bella seketika berubah menjadi tanda tanya besar saat menyadari bahwa sang suami justru menghilang secara misterius tepat di saat ia kembali melihat.
Sampul Novel Menantu Hina Ternyata Kaya Raya
8.5
Randi terus menghadapi hinaan dan sikap rendah dari mertuanya yang tidak tahu siapa dia sebenarnya. Di balik penampilannya yang sederhana, ia menyimpan kekayaan luar biasa yang tak terbayangkan. Saat identitas aslinya sebagai miliarder mulai terungkap, apakah rasa benci keluarga istrinya akan berubah menjadi penyesalan? Ikuti kisah transformasi menantu yang tertindas ini saat ia menunjukkan kekuasaan dan harta miliknya yang tak terhingga.