
Hamili saya, tuan !
Bab 2
"Bagaimana dengan semua pegawaiku yang belum menerima gajian .?. Ingin rasanya kutembak kepalaku .!"
Pandangannya kabur dengan air mata, dirinya sudah merasa bisnis real estate properti miliknya mengalami kerugian besar. Mendekati rumahnya, cepat - cepat di hapusnya air mata yang mengalir di pipinya. Seorang gadis cantik bertubuh langsing, berkulit mulus seputih salju , berambut panjang lurus , sedang berdiri di dekat pintu pagar dengan membawa segelas air putih .
"Ayaaahhh.... Ayaaahhh pulaanggg...!"
Seru gadis cantik itu dengan riang gembira , tuan Bobby Albern menghentikan mobilnya di depan pagar rumahnya.
"Ayah...ayah... Aku menunggu ayah pulang .!. Ini kubawakan minum buat ayah . Aku sayang ayah.!"
Gadis cantik itu melangkah mendekati tuan Bobby Albern yang keluar dari mobilnya.
"Hei anak cantik kesayangan ayah , sudah menunggu di depan pagar .!"
Sejenak kesedihan juga kekecewaan tuan Bobby Albern terhapus dengan sambutan Chereena Kayona Albern putri sulung kesayangannya.
"Ayo ayah harus minum .!"
Ujarnya dengan riang gembira dan wajah berseri-seri , kedua tangannya menggenggam segelas air putih dan mendekatkan ke bibir tuan Bobby Albern yang akhirnya meminum sampai habis.
"Ayah lapar ya .!. Aku sudah memasak khusus buat ayah. !"
Ujar gadis itu sembari memeluk lengan ayahnya dan menyandarkan kepalanya.
"Apa yang kamu lakukan selama ayah pergi , Chereena Kayona Albern putriku sayang .!?"
Tanya tuan Bobby Albern dengan sikap kebapakan , putrinya langsung mengulurkan tangannya .
"Aku menanam dan itu semua bunga bermunculan , !. Aku juga melukis , ayah .!"
"Hebatnya putri ayah yang satu ini .!. Kamu benar-benar mirip Dionne Alice Kayona ibumu yang gemar menanam dan melukis .!"
Sepasang mata menatap tajam penuh kebencian dan kemarahan dari balik jendela, kedua tangannya mengepal dan mulutnya mendesis...
"Istrinya sudah mati tapi mulutnya masih saja , menyebutkan nama istrinya.!. Dasar laki tua Bangka.!. "
Perempuan setengah tua itu melihat tuan Bobby Albern dan anak gadisnya masuk ke dalam rumah.
"kamu sudah datang , Bobby Albern.?"
Tanya nyonya Jeconia Leandra.
"Aku tidak ke kantor. " jawabnya singkat.
"Kamu belum memberiku uang untuk kebutuhan bulan ini , Bobby Albern."
Sedih hati tuan Bobby Albern mendengar ucapan nyonya Jeconia Leandra istri keduanya , tapi dia diam kebingungan tidak tahu harus bagaimana caranya menjelaskan kepada istrinya jika perusahaan real estate property miliknya sudah di ambang kehancuran. Yang dia tahu saat ini adalah masuk ke dalam kamar untuk ganti baju.
"Ayah lapar , harus makan dulu. Jangan di tanya masalah kerjaan , mama." ucap gadis cantik berusia dua puluh satu tahun itu , sembari menyajikan makanan di atas meja makan.
"Makanya ayahmu jangan terlambat memberi uang pada mamamu ini agar tidak selalu tanya setiap ayahmu pulang.,"
Jawab nyonya Jeconia Leandra pada anak tirinya , dengan nada lembut tapi hatinya dongkol.
"Bukankah minggu lalu , ayah sudah memberi uang pada mama ?!.. tolong mama jangan terlalu boros , kasihan ayah. "
Sahut Chereena Kayona Albern dengan nada lembut , sembari mencium pipi mama tirinya.
Ya seharusnya kamu bekerja dan memberi uang untuk memenuhi kebutuhan rumah , Chereena Kayona Albern anak cantik .!"
Sahut mama tirinya dengan nada lembut pula, namun penuh penekanan . Gadis cantik itu tertawa renyah , sembari menjawab...
"Empat lukisanku laku terjual dan ada yang memborong tanaman kaktus milikku , mama ."
"Nah berikan uang hasil penjualan pada mama , anak cantik .!"
Ujar nyonya Jeconia Leandra dengan antusias , kedua matanya berbinar-binar jika mendengar ada uang.
"Aku tidak mau memberi uang pada mama nanti pasti habis tidak karuan. Lebih baik aku yang belanja untuk kebutuhan bulanan dan aku juga harus mengantar ayah check up ke dokter, mama. Tapi mam jangan khawatir nanti sisa uang pasti kuberikan pada mama ."
Tutur Chereena Kayona Albern dengan lemah lembut namun tegas.
"Lalu kamu tidak menerima uang pada Jacinda Leandra Albern adikmu .?"
Tanyanya dengan nada pelan tapi penuh pemaksaan.
"Jelaslah aku harus memberi uang pada Jacinda Leandra Albern adik kesayanganku , ma.!"
Jawabnya dengan nada riang dan wajah berseri-seri. Dari dalam kamar tidur tuan Bobby Albern mendengarkan semua percakapan istrinya dan anak gadisnya . Sejatinya , sakit hatinya dan malu karena merasa tidak becus menafkahi keluarga sampai anak gadisnya turun tangan membantu keuangan rumah tangga.
"Ayah..ayah jangan tidur .!. Ayo bangun , kita harus makan siang bersama !."
Seru Chereena Kayona Albern sambil mengetuk pintu kamar tidur tuan Bobby Albern.
"Iya , Chereena Kayona Albern anak cantik .!"
Tuan Bobby Albern bangkit berdiri dari tepi tempat tidur dan melangkah keluar kamar.
"Aku lapar , mau makan siang bersama ayah .!"
Ucap Chereena Kayona Albern dengan wajah berseri-seri, cepat-cepat di gandengnya tangan tuan Bobby Albern. Mereka berdua melangkah ke ruang makan.
"Aku masak makanan kesukaan ayah .! "
Terbelalak mata tuan Bobby Albern melihat makanan yang tersaji di atas meja makan.
"Pokoknya ayah harus banyak makan .!"
Cetus gadis cantik berambut panjang hitam legam sembari duduk bersama ayahnya dan langsung menyuapi ayahnya sampai habis makanan di piring tuan Bobby Albern.
"Nah sekarang aku yang harus makan banyak tapi ayah harus menungguku sampai habis semua makanku ya, ayah .!"
Tuan Bobby Albern tersenyum sambil mengangguk meng-iya-kan permintaan putrinya tapi di dalam hati beliau menangis.
"Masakanmu lezat sekali , persis masakan ibumu.!"
Mendengar pujian tuan Bobby Albern langsung anak gadisnya menoleh dan tersenyum.
"Benarkah , ayah .?"
Matanya berbinar-binar , membola dengan indahnya. Tuan Bobby Albern tersenyum dan mengangguk dengan penuh kepastian. Nyonya Jeconia Leandra pura-pura tidak mendengar percakapan suaminya Dangan anak tirinya. Dia menunduk dan berusaha menikmati kelezatan makanan yang dikunyah tapi hatinya sangat marah . Istri mana yang tidak marah dan tidak cemburu jika suaminya suka menyanjung almarhum istri pertama secara berlebihan di hadapannya .?. Padahal dirinya sudah menjadi istri resmi dan memberikan seorang putri juga. Sikap tuan Bobby Albern ini yang membuat Nyonya Jeconia Leandra marah dan kecewa. Kemarahan dan kekecewaan inilah yang dilampiaskan dengan gaya hidup mewah yang menggila.
"Aku sudah selesai makan. Sekarang ayah boleh tidur siang tapi nanti sore , kita pergi ke dokter.!"
Ucapan Chereena Kayona Albern membuyarkan lamunan nyonya Jeconia Leandra. Tuan Bobby Albern melangkah masuk ke dalam kamar , namun gadis cantik itu masih duduk menemani mama tirinya yang belum selesai makan.
Anda Mungkin Juga Suka





