Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hamil dengan Mantan Bosku

Hamil dengan Mantan Bosku

Tiga tahun Cynthia menjadi sekretaris sekaligus pendamping setia Juan, namun ia dibuang saat sang bos memilih menikahi wanita lain. Di tengah pelarian, Cynthia harus menghadapi kehamilan dan keserakahan ibunya hingga hidupnya hancur. Lima tahun berlalu, ia kembali sebagai sosok baru yang lebih kuat. Sementara itu, Juan yang selama ini tenggelam dalam penyesalan dan kekacauan, kini memohon agar Cynthia mau kembali ke pelukannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Di sebuah rumah sakit di pusat kota, Cynthia memegang formulir pendaftarannya dan ikut mengantre ke Departemen Ginekologi.

Ketika dia berbelok di tikungan, dia melihat sosok familier yang berdiri hanya beberapa meter darinya.

Bahkan di tengah hiruk pikuk tempat sibuk seperti rumah sakit umum, dia masih mengenali sosok itu pada pandangan pertama.

Jas hitam yang dibuat khusus untuknya menonjolkan bahunya yang lebar dan pinggangnya yang ramping, berpadu sempurna dengan pembawaan diri yang mengesankan.

Juan mengangkat cangkir teh susu kelapa yang baru saja dibelinya dan menyerahkannya pada wanita di sebelahnya. Saat dia melakukannya, kancing lengan berliannya berkilauan terkena cahaya, menusuk mata Cynthia.

Jantungnya berdebar kencang di dalam rongga dadanya, tetapi dia berkata pada dirinya sendiri untuk tidak memalingkan wajah. Dia ingin melihat rupa wanita yang berada di sisi Juan.

Namun, tepat pada saat ini, pria itu tiba-tiba menoleh ke arahnya.

Mata mereka berdua bertemu.

Bahkan di kejauhan, dia bisa melihat ketidaksenangan dingin yang melintas di wajah pria itu.

Cynthia memaksakan diri untuk tersenyum dan mengangguk sopan padanya. Dia ingin menganggap pertemuan tidak terduga ini tidak lebih dari sekadar kebetulan belaka. Akan tetapi, perutnya terasa mual lagi, dan dia bergegas ke kamar kecil terdekat.

Saat dia berpaling dari Juan dan pendampingnya, matanya melihat tanda yang tergantung di koridor tempat pasangan itu berada, Kantor Keluarga Berencana.

Kalau begitu, mereka pasti datang untuk melakukan pemeriksaan pranikah. Dia cukup terkejut karena Juan mau meluangkan waktu untuk datang.

Lalu Cynthia teringat teh susu kelapa, dan bibirnya membentuk seringai pahit.

Benar saja, pria itu akan menunjukkan kepedulian dan perhatian terhadap calon istrinya.

Benar-benar bertolak belakang dengan bagaimana saat pria itu bersamanya. Dalam tiga tahun Cynthia menghangatkan ranjang Juan, dia ragu Juan tahu makanan dan minuman apa yang dia sukai.

Itu tidak penting, dia tidak punya waktu atau tenaga untuk memikirkan hal-hal yang tidak berguna ini. Cynthia menarik napas dalam-dalam dan menahan rasa mualnya sebelum menyeka wajahnya dengan tisu. Kemudian dia membuka pintu bilik kamar kecil dan keluar.

Dia diliputi rasa ngeri ketika menemukan Juan bersandar santai di sisi wastafel umum. Pria itu sedang mengisap rokok, alisnya berkerut. Hanya dengan sekali pandang, Cynthia tahu bahwa pria itu tidak menyukai bau kamar kecil.

Apakah tunangannya juga di sini?

Cynthia segera menundukkan kepala dan pura-pura tidak melihatnya.

Sayangnya, kamar kecil rumah sakit sangat sederhana, dan hanya ada satu baris wastafel. Jika dia ingin mencuci tangannya, dia tidak punya pilihan selain mendekati Juan.

Dia masih mempertimbangkan apa yang harus dilakukan ketika suara dingin pria itu membelah udara. "Apakah kamu hamil?"

Cynthia berbalik, kepanikan dan rasa sakit bercampur aduk bagaikan ombak liar di dalam dirinya.

Bagi Juan, reaksinya merupakan konfirmasi yang dia butuhkan.

"Jawab aku!"

Juan melangkah ke arahnya, setiap langkah membuatnya semakin menegang. Pria itu sangat tinggi, menakutkan dan ... penuh amarah.

Cynthia tahu dengan sangat pasti bahwa jika dia memang hamil, pria itu sendiri yang akan menyeretnya ke meja operasi.

Tidak ada bagian dari kenyataan di mana Juan akan mengizinkan seseorang seperti dia mengandung keturunannya. Selain itu, anak di luar nikah hanya akan membahayakan pertunangan dan pernikahan penting yang akan segera diselenggarakan.

Tidak menjadi masalah apakah Juan mencintai tunangannya atau tidak. Dia tidak akan pernah berubah pikiran untuk apa pun atau siapa pun.

"Tidak," jawab Cynthia, menegakkan bahunya dan menjaga punggungnya tetap tegak. "Saya hanya mengalami sakit perut. Saya ke sini untuk meminta obat dari dokter."

"Oh, tapi Departemen Gastroenterologi tidak terletak di lantai ini." Mata Juan menyipit. Dia sama sekali tidak memercayai kata-katanya.

Cynthia tertawa pahit di dalam hatinya.

Seberapa takut pria ini pada kemungkinan bahwa dia hamil?

"Kebetulan lift di sini tidak ramai. Pak Juan, jika Anda begitu meragukan saya, silakan temani saya ke Departemen Ginekologi dan minta mereka memeriksa saya."

Cynthia yakin pria itu tidak akan mengiakan gertakannya. Mustahil bagi Juan mengambil risiko tunangannya melihatnya pergi ke departemen ginekologi bersama wanita lain.

Tepat seperti dugaannya, pria itu hanya mendengus, lalu meraih dagunya dengan tangan yang memegang rokok. Cynthia membeku saat Juan menyapukan ibu jari ke bibir bawahnya yang pucat, takut akan tersundut rokok menyala yang panasnya terasa di samping telinganya.

"Kamu tahu harga yang harus kamu bayar jika aku tahu kamu berbohong padaku. Jadilah gadis baik dan penurut. Jangan lupa masuk kerja besok."

Juan melepaskannya, sama mendadaknya saat pria itu memojokkannya.

Saat tangannya menyapu udara di depannya, Cynthia mencium aroma parfum yang samar. Ini mengirimkan gelombang rasa sakit di hatinya.

Setelah berada di ranjang yang sama begitu lama, dia sadar akan hal-hal sepele yang dapat membuat pria itu kesal. Satu hal yang paling dibenci Juan adalah aroma parfum wanita. Namun, sekarang ....

Cynthia menggertakkan gigi. Ternyata dia tidak terlalu ketat dengan peraturannya, hanya pada orang-orang yang boleh melanggarnya.

"Pak Juan, saya ingin mengundurkan diri," ucap Cynthia sebelum dia bisa menahan dirinya sendiri.

Juan yang sudah setengah jalan mencapai pintu, berhenti berjalan. Dia berbalik dan melemparkan tatapan sinis ke arahnya. "Apa yang baru saja kamu katakan?"

"Saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan saya," ulang Cynthia, kali ini terdengar lebih tenang dan penuh tekad.

Untuk pertama kalinya sepanjang ingatannya, pria itu memandangnya, benar-benar menatap memandangnya.

Lalu, bibirnya membentuk senyuman mengejek. "Kalau begitu, apakah kamu berencana menjadi ibu rumah tangga?"

Cynthia bergetar, tetapi tetap menguatkan diri. "Tidak ada yang salah menjadi ibu rumah tangga. Yang terpenting adalah dia bersedia menjadikanku istrinya."

"Apakah kamu menyukainya?" tanya Juan tiba-tiba, suaranya dalam dan sedingin es.

Dada Cynthia terasa sesak napas.

Selama beberapa detik, dia hampir membiarkan dirinya percaya bahwa pria itu marah karena dia akan menikah dengan pria lain.

Akan tetapi, nada bicara Juan berubah menjadi nada menggoda saat melanjutkan, "Apakah menurutmu dia bisa membuatmu bergairah seperti yang kulakukan?"

Cynthia merasa wajahnya merona.

Selama keintiman penuh gairah mereka dulu, Juan biasanya menanggalkan sikap dinginnya. Dia akan seperti binatang buas yang bebas, berbicara kotor dan tidak menahan diri. Dia senang menggigit telinga Cynthia dan meremas pinggangnya, dan dia semakin senang saat wanita itu mengerang dan memohon padanya.

Juan belum pernah mengungkapkan sisi dirinya ini pada publik, jadi Cynthia cukup malu dengan apa yang baru saja pria itu katakan.

"Sebenarnya aku kenal dengan pria itu," lanjut Juan dengan santai. "Kalian berdua tidak cocok, akhiri hubungan kalian secepat mungkin."

Cynthia memperhatikan dalam diam saat pria itu mematikan rokok dan membuangnya. Wajah pria itu datar, seolah-olah baru saja menugaskannya pekerjaan lain yang harus segera diselesaikan.

Di masa lalu, dia akan menuruti kata-katanya tanpa berkedip. Namun, hari-hari itu sudah berlalu. Cynthia tidak ingin sisa harga dirinya diinjak-injak lebih jauh dan dirusak sepenuhnya oleh pria ini.

Dia mengumpulkan seluruh keberaniannya dan meniru nada mengejek yang pernah Juan gunakan padanya. Dia bahkan memberi senyuman sinis pada pria itu.

"Tapi saya ingin memberinya kesempatan. Mungkin akan lebih memuaskan melakukan itu bersamanya."

Setelah mengucapkan ini, dia membilas tangannya dan pergi tanpa melihat ke arah Juan lagi.

Cynthia gemetar bahkan saat dia keluar dari gedung rumah sakit. Dia bahkan tidak kembali ke antrean untuk menjalani pemeriksaannya karena begitu takut pada Juan.

Dia nyaris tidak pernah menentang atau tidak mematuhinya, dan kejadian ini tentunya jauh dari kata biasa. Cynthia tidak tahu dampak apa yang akan ditimbulkan dari tindakannya tadi. Namun, satu hal yang dia ketahui adalah dia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya dan berada sejauh mungkin dari Juan.

Keesokan paginya, Cynthia berdiri di kamar mandi untuk waktu yang lama, ragu-ragu apakah akan pergi bekerja atau tidak. Kurang dari dua jam kemudian, dia mengetuk pintu kantor Juan, masuk ke kantornya, dan memberikan surat pengunduran dirinya.

"Tolong tanda tangani ini, Pak Juan," ucapnya dengan hormat sambil mengulurkan amplop itu ke arah mejanya.

Sampai saat ini, Juan tidak pernah mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang dibacanya. Akhirnya kata-kata Cynthia membuatnya berhenti sejenak.

Dia melemparkan tatapan tajam penuh ketidakpercayaan, seolah-olah dia tidak pernah membayangkan wanita itu akan seberani ini.

Mereka saling menatap selama beberapa detik. Ketika pria itu tidak bergerak untuk mengambil surat pengunduran dirinya, Cynthia dengan tenang meletakkannya di atas meja dan kembali berdiri tegak, menunggu dalam diam.

Setengah jam berlalu sebelum Juan memberi perhatian padanya. Matanya yang hitam dan muram menatap ke arah Cynthia, menyebabkan jantungnya berdebar kencang karena campuran ketakutan dan penantian.

"Sudahkah kamu memikirkan ini dengan baik?" tanya Juan perlahan, suaranya menyelimutinya seperti selimut berat yang tidak diinginkan.

"Ya, sudah," jawab Cynthia setenang mungkin.

Tiba-tiba, pria itu menyeringai dan mengisyaratkan untuk mendekat menggunakan ujung jari telunjuknya. "Kemarilah."

Cynthia mengatupkan bibir menjadi garis tipis dan tetap diam.

"Apakah kamu ingin aku menyetujui pengunduran dirimu atau tidak?" tanya Juan, terdengar mengundang sekaligus mengancam.

Cynthia berjalan mendekat sambil menghela napas dalam hati, masih waspada. Aroma kayu cendana menyelimuti dirinya, tetapi dia masih merasa tercekik.

Juan menyipitkan matanya melihat ekspresi hati-hati wanita itu dan terkekeh pelan.

Dia adalah tipe pria yang jarang tertawa. Paling-paling, dia hanya akan melengkungkan sudut bibir ke atas. Jadi, kekehan ini bukan artinya dia berada dalam suasana hati yang baik. Justru, ini pertanda bahaya besar yang akan datang.

Kepala Cynthia berputar saat Juan mulai bertindak. Dalam satu gerakan yang lancar, dia menarik wanita itu ke arahnya dan menjepitnya ke meja dengan tubuh berototnya. Tumpukan kontrak bernilai ratusan miliar rupiah berceceran ke lantai, tetapi tidak ada yang memedulikannya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Suamiku Pura-Pura Buta Demi Menyembunyikan Kebohongan Besar
8.7
Selena Atmadja diceraikan Davin Hartanto tepat setelah akad karena skandal kehamilan wanita lain. Demi menjaga martabat, Madame Ratih memaksa Selena menikahi putra keduanya, Leonard Hartanto, pria dingin yang penuh misteri. Meski awalnya menolak, Selena akhirnya terjebak dalam pernikahan hampa bersama pria yang terasa asing. Keadaan berbalik saat Selena mengungkap rahasia besar bahwa Leonard hanya berpura-pura buta. Apa motif di balik sandiwara ini dan mampukah Selena bertahan?
Sampul Novel Istri Kelima Sang Presdir
8.3
Menjadi istri Presdir kaya mungkin impian banyak orang, namun bagi Cassandra, hal itu adalah jebakan maut. Lewat siasat licik Bardolf Konstantino, ia terikat kontrak sebagai istri kelima. Hidupnya penuh penghinaan dan ia dipaksa melahirkan anak demi bertahan hidup. Demi melindungi masa depan sang adik dari ancaman keluarga Konstantino, Cassandra harus bertahan. Kini ia bertekad memenangkan hati suaminya yang dingin, meski pria itu tampak tak punya perasaan.
Sampul Novel Jodohku Seorang Janda Kaya Raya
8.6
Lintar, seorang pemuda gigih, jatuh hati pada Dewi, CEO sukses yang berstatus janda. Meski pertemuan awal mereka canggung, benih cinta tumbuh di antara keduanya. Namun, asmara mereka terhalang restu paman Lintar yang menentang keras hubungan tersebut. Tak gentar, Lintar berjuang meyakinkan orang tuanya demi mempertahankan cintanya pada sang janda kaya. Ikuti perjalanan emosional Lintar menggapai kesuksesan dan kebahagiaan sejati bersama wanita pilihannya.
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Sang CEO
8.9
Pasca bercerai, Bella yakin hidupnya akan tenang tanpa bayang-bayang mantan suaminya. Namun, sang CEO yang dulu angkuh justru datang bersimpuh dan memohon pengampunan agar mereka bisa memulai kembali. Meski pria itu menundukkan kepala dengan penuh penyesalan, luka hati Bella sudah terlanjur dalam. Ia dengan tegas menolak bunga serta permintaan maaf tersebut karena merasa semuanya sudah terlambat. Kesempatan kedua yang diharapkan sang mantan kini terasa sia-sia.
Sampul Novel My Absurd CEO
8.8
Enzo Delwyn, seorang CEO berusia 28 tahun, secara mengejutkan mengejar Aylin, siswi kelas XI SMA. Berbeda dari pemimpin perusahaan pada umumnya, penampilan Enzo sangat tidak lazim. Di balik sikap uniknya, Enzo dan kakaknya menyimpan misi rahasia untuk menuntut balas pada Aylin atas kejadian di masa lalu. Kini, ia terjebak dalam dilema antara menuntaskan ambisi dendamnya atau mengikuti perasaan. Akankah Enzo tetap menjalankan rencana awalnya terhadap Aylin?
Sampul Novel My Possessive CEO
8.3
Sinta adalah gadis malang yang berulang kali nyaris menjadi korban pelecehan seksual. Beruntung, Biru yang merupakan seorang CEO muda selalu muncul untuk menyelamatkannya. Meski awalnya hanya kebetulan, Biru ternyata telah jatuh hati sejak pandangan pertama. Namun, Sinta justru merasa sangat takut untuk memulai hubungan asmara karena trauma masa lalu yang menghantuinya. Akankah kegigihan Biru mampu meluluhkan hati Sinta yang penuh luka? Simak kisah romansa dewasa ini.