Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan Maut Ipar dan Mertua

Godaan Maut Ipar dan Mertua

Nikmati rangkaian kisah menarik yang dirancang khusus untuk menghibur dan membawa pembaca hanyut dalam alur tanpa beban konflik yang rumit. Narasi ini hadir sebagai pelipur lara dan teman istirahat di tengah padatnya rutinitas harian. Sangat ideal bagi pembaca dewasa yang mencari penyegaran agar terhindar dari stres, karya ini menawarkan kesenangan murni yang membuat siapa pun ketagihan. Temukan kedamaian lewat cerita yang ringan namun tetap penuh makna mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Fit, kok kamu sekarang seneng pake daster mini gitu sih?” tegur Mas Panji saat memergoki aku sedang mengenakan daster mini sewaktu mengerjakan pekerjaan rumah. Sebenarnya aku juga kaget dan tak menduga setelah berangkat kerja dia malah kembali lagi ke rumah. Tak biasanya ada sesuatu yang ketinggalan.

“Ribet Mas kalau kerja di dapur pake daster yang panjang dan tertutup,” jawabku beralasan.

“Kamu kan biasanya juga pake yang panjang?” Mas Panji kurang senang.

“Mas, kan aku pake pakaian begini hanya dalam rumah aja. Kalau ke warung atau keluar, gak mungkin juga make daster minim begini,” tambahku untuk meyakinkan dustaku agar Mas Panji tidak terus-terusan mempertanyakan perubahan cara berpakaianku saat dia tidak ada di dekatku.

“Iya sih, tapi kan di rumah kadang masih ada ayah, Fit,” sanggah suamiku yang sepertinya masih tetap tidak suka dengan cara berpakaianku.

“Ya ampun Mas, memangnya kenapa dengan ayahmu? Toh aku juga sudah menganggap beliau ayah kandungku. Mana mungkin dia juga berani kurang ajar sama menantunya. Ayah itu seorang yang religus, bahkan sering disebut Pak Ustad sama tetangga. Kamu tu ngaco aja.”

“Fit, setan itu gak kenal sama namanya orang soleh atau solehah, bagi mereka semua manusia itu wajib digoda hingga masuk dalam jajarannya. Ayah juga lelaki normal, Fit.” Mas Panji tetap tidak suka.

“Mas, coba deh perhatiin ayahmu. Beliau juga sepertinya cuek-cuek aja kalau liat aku pake dater begini. Mas kok ada-ada saja sih. Curiga kok sama ayah sendiri, heheheh.” Aku terus berusaha meyakinkan Mas Panji hingga akhirnya dia pun bisa menerima alasanku dengan senyum manisnya.

Jujur saja, aku ingin tertawa ngakak. Mas Panji sering menyuruh atau bajkan memintaku untuk coba-coba menggoda lelaki lain. Namun dalam kenyataannya melihatku berpakaian sedikit seksi dan minim aja, dia sudah kelabakan dan merasa cemburu. Terlihat sekali sikap tidak suka dan posesivenya.

Benar dugaanku jika keinginan anehnya itu benar-benar hanya sebatas kata-kata. Tak bisa kubayangakan bila benar hal itu terjadi, atau seenggaknya aku turuti, mungkin dia akan membunuhku dan lelaki yang meniduri itu. Untung saja aku tidak termakasn dalam jebakannya.

Namun demikian aku semakin senang karena tahu jika suamiku benar-benar bucin dan posesive akut terhadapku. Hampir setiap hari dia selalu mengingatkan aku agar jangan pernah coba-coba berpakaian minim saat sedang berada di luar rumah. Aku pun senantiasa menurutinya. Karena memang aku sendiri tidak ingin digoda lelaki sembarangan. Aku hanya ingin menggoda ayah mertuaku.

Ya obsesiku pada ayah mertuaku semakin hari semakin menggila. Sementara Pak Dahlan sendiri sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan diriku. Apakah ibu mertuaku yang sudah setengah abad itu terlalu syuliiit untuk dilupakan, sehingga tak pernah ada sedikit pun niatan ayah mertuaku untuk mengalihkan dunianya kepadaku. Kurang apa aku ini? Menantunya yang paling cantik, muda dan seksi pula.

Ah sudahlah!

Setelah cukup lama terobsesi dalam fantasi gila yang mengombang-ambingkan diriku dalam ketidakpastian dan kegaulauan tingkat dewa, akhirnya secara diam-siam aku merancang strategi baru. Memutuskan untuk mulai memercikan bara api syahwat pada ayah mertuaku dengan cara-cara yang lebih ekstrem. Lebih tepatnya mulai melancarkan godaan-godaan yang lebih frontal.

Jarak rumah dengan kantor tempat Mas Panji bekerja cukup jauh. Dia selalu berangkat kerja sekitar pukul setengah tujuh pagi. Ibu mertuaku berangkat ke rumah makannya kurang lebih setengah jam kemudian. Terkadang juga berangkat bareng dengan Mas Panji karena searah. Sementara Pak Dahlan, biasanya berangkat kerja sekitar pukul jam sembilan pagi karena kantornya tidak terlalu jauh dari rumah, bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Mempelajari dan melihat rutinitas orang-orang rumah seperti itu, aku mulai berpikir untuk menggoda ayah mertuaku pada pagi hari, tepatnya setelah suami dan ibu mertuaku berangkat kerja. Ya aku rasa, waktu yang tersisa dua jam itu sangat bisa kumanfaatkan dengan maksimal untuk menjalankan segala rancangan dan ide-ide gilaku dalam menaklukan Pak Dahlan, sang ayah mertua soleh nan kharismatik itu.

Ya aku memang sudah makin gelap mata. Semakin hari semakin menggila. Bayangan rudal ayah mertuaku yang tampak besar, panjang dan seksi selalu menggoda jiwaku. Bahkan sudah mulai mengalahkan gairahku terhadap suamiku. Terlebih lagi dalam beberapa bulan terakhir, Mas Panji sudah mulai sedikit lalai dalam menjalankan kewajibannya karena sibuk dengan kerjanya. Dia seolah melupakan jika Fitri, istri tercintanya ini seorang wanita yang meledak-ledak hasrat seksualnya bahkan cenderung hyper.

Pagi itu. Setelah Mas Panji dan Bu Marni berangkat kerja, aku yang semula mengenakan daster panjang, langsung menggantinya dengan daster berukuran yang jauh lebih mini dari biasanya dan berbahan katun tipis dengan bukaan leher yang lebar. Aku yakin, dengan penampilan yang semakin berani ini akan mampu menggoda dan menaklukkan ayah mertuaku.

Aku memang sengaja membeli pakaian-pakaian minim dan murahan, tanpa sepengetahuan suamiku karan kusimpan di tempat rahasia dan hanya akan aku pakai saat dia sudah berangkat kerja. Dengan pakaian super mini seperti aku akan makin leluasa melancarkan aksi menggodaan yang kuharap bisa lebih menyedot perhatian ayah mertuaku.

Bagaimana tidak? Ketika sedang menyapu, sengaja aku membungkuk dan setengah nungging, terutama saat membersihkan kolong-kolong furniture, tentu saja mempertontonkan gelantungan bukit kembar di dadaku serta bongkahan pantat seksiku. Ketika sedang mengepel lantai, aku pun selalu berjongkok memperlihatkan bagian dalam paha dan celana dalam miniku.

Ketika mencuci pakaian, aku pun sering tidak memakai beha, dan sengaja membasahi bagian atasan dasterku agar bisa memperlihatkan bentuk payudaraku dalam siluet basah. Pada saat menjemur cucian, aku sengaja memilih lokasi yang terkena sinar matahari, supaya bisa menampilkan siluet yang menerawang pada seluruh lekuk tubuhku pada Pak Dahlan yang biasanya memperjatikan aku dari ruang keluarga.

Semua itu aku lakukan demi satu tujuan, mendapat perhatian khusus dari ayah mertuaku. Dan ternyata lambat laun hasilnya pun sudah mulai kurasakan. Memang betul pepatah mengatakan ‘Tidak ada usaha yang mengkhianati hasilnya.’

Setiap kali aku melakukan pekerjaan rumah dengan cara-cara yang super erotis dan menggoda itu, aku mulai sering mendapati Pak Dahlan curi-curi pandang mengintipku. Dan ketika aku berpura-pura tak sengaja melirik ke arahnya, beliau pun langsung buru-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil mesem-mesem.

Pernah juga aku melihat dia membetulkan selangkangannya saat aku sedang mengepel dalam posisi semi nungging di depannya. Entah apa yang ada dalam benaknya setiap kali menyaksikan aksi super nekad itu. Namun yang pasti aku sangat yakin dia mulai menikmati pertunjukan yang nyaris tiap pagi aku pertontonkan kepadanya.

Perubahan sikap lainnya, Pak Dahlan kini lebih sering berdiam diri di halaman samping ketika aku sedang beraktivitas di dalam ruangan. Sepertinya beliau mulai tak tahan dengan godaan-godaanku dan berusaha menghindarnya. Namun aku yang sudah merasa kepalang tanggung berbuat, tidak mungkin menghentikannya. Aku pun makin berani berpakaian minim mondar-mandir keluar masuk rumah.

Cukup sering aku melakukan kegiatan tak senonoh itu yang lambat laun juga mulai menjadi sebuah rutinitas yang benar-benar kunikmati dengan sepenuh hati. Dan sepertinya ayah mertuaku juga sudah mulai mengaggapnya biasa. Bahkan tak jarang dia tersenyum penuh misteri saat beradu pandang denganku. Berbeda dengan saat Mas Panji dan Bu Murni sedang ada di rumah.

Dadaku semakin berdebar-debar dan tak sabar menunggu hasil selanjutnya. Setiap melihat senyum menawan penuh misteri dari ayah mertuaku itu, aku memiliki kepuasan tersendiri yang sangat susah untuk aku ungkapkan. Aku benar-benar seperti abegeh yang sedang kasmaran atau jatuh cinta pada seorang lelaki pujaan hati yang sudah lama diidam-idamkan dan lelaki itu mulai memberikan tanda-tandanya, sehingga aku sangat meyakini ayah mertuaku yang taat beribadah itu pun mulai terbawa arus permainanku dan menikmatinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Suka Kamu, Tapi ....
8.6
Sena kini dikenal sebagai aktris populer, meski karier tersebut hanyalah alat untuk membalas dendam masa lalu. Namun, takdir justru membawanya kembali bertemu dengan pria yang pernah menghancurkan hatinya. Terjebak dalam perasaan yang sama, Sena harus bergulat antara cinta yang bersemi kembali dan ketakutan akan luka lama. Di tengah bayang-bayang trauma, ia berusaha menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya oleh orang yang serupa.
Sampul Novel HASRAT PENUH LUKA
9.7
Dominic mengejar sosok yang menyerupai Stella di tengah guyuran hujan deras. Sambil berlutut penuh penyesalan, ia memohon ampunan atas dosa masa lalunya. Namun, luka hati Stella dari kejadian tiga tahun silam telah membeku dan tertutup kegelapan. Dengan sikap yang amat dingin, Stella menegaskan bahwa permohonan maaf Dominic tidak ada artinya. Ia menyatakan bahwa hanya kematian pria itu yang mampu menebus segala penderitaan yang telah ia alami selama ini.
Sampul Novel Ketika Dokter Menentang Perwira
7.8
Nayra Adeline, dokter ortopedi yang gila kerja, tewas akibat kelelahan usai operasi 48 jam. Keajaiban membawanya terbangun di Bandung tahun 1975 sebagai Ratri Larasati, wanita pemalas bertubuh tambun yang dibenci lingkungan asrama militer. Nayra harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya, Kapten Ardan Wicaksana, sangat dingin dan enggan menyentuhnya karena reputasi buruk Ratri. Di tengah keterbatasan zaman, Nayra berjuang memperbaiki hidup barunya.
Sampul Novel Kutunggu Jandamu
9.8
Benara terjebak dalam situasi rumit setelah menjadikan Laras sebagai kekasih palsu demi ayahnya. Ia tak menyangka bahwa wanita itu ternyata sudah bersuami. Namun, setelah menyaksikan perlakuan buruk sang suami terhadap Laras, niat Benara berubah. Alih-alih menjauh, ia justru memanfaatkan keadaan tersebut untuk mendekati Laras secara ugal-ugalan. Benara bertekad mengejar cinta Laras meski status pernikahan wanita itu menjadi penghalang besar bagi mereka.
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.
Sampul Novel ORANG KETIGA
9.5
Lea Khalilea tidak pernah bercita-cita menjadi orang ketiga atau merebut Varrell Damington dari pelukan orang lain. Namun, rentetan peristiwa dalam hidup memaksanya mengambil langkah ekstrem hingga ia terjebak dalam dunia yang asing baginya. Melalui kisah ini, Lea mengajak siapa pun untuk memahami alasannya sebelum menghakimi pilihannya. Bersiaplah mendengarkan sisi lain dari sebuah pengkhianatan yang dibungkus dalam rumitnya realita cinta masa kini.