
Godaan kakak iparku
Bab 3
Dengan kaki lunglai menapaki trotoar jalanan lenggang, Air mata sekilas luruh di pipi mulus itu. Hatinya tercabik-cabik dengan perlakuan Deon namun respon tubuhnya sangat sebenarnya menyukai.
Ia teringat dengan ucapan Iren yang mengatainya jalang. Sarah merutuki kebodohannya karena dengan gampangnya menikmati sentuhan Deon meskipun bibirnya selalu saja menolak.
Tinn... tinn..
Suara klakson mobil membuat Sarah mengusap kasar air mata yang sudah luruh dipipinya. Gadis itu menoleh ke belakang, matanya memicing melihat mobil yang sangat familiar di ingatannya.
"Sarah! Kenapa ada disini? bukannya tadi aku udah nganterin kamu pulang," Tanya Gerald teman seangkatan Sarah di fakultas bisnis di kampusnya. " Kau kenapa? kamu habis menangis?" Tanyanya lagi dengan menangkup wajah Sarah dengan penuh perhatian.
Gadis cantik berusia 20 tahun itu kembali meneteskan air matanya yang sedari tadi ditahannya.
"Hiks ... hikkss... aku malu harus jadi wanita lemah seperti ini ,Ge." Sarah berucap dengan mengusap kembali pipinya dengan kasar. "Aku capek hidup kalau terus- terusan kayak gini, aku pengen jadi kayak yang lainnya. Bahagia bersama keluarga."
"Sttt..! Stop it Sarah. Ada aku disini jangan merasa sendiri. Aku akan buat kamu bahagia,"sahut Gerald membawa Sarah kedalam pelukannya. "Plis don't cry. Kamu ikut aku sekarang ya. Ceritain apapun yang ingin kamu ceritakan, Buang semua keluh kesah mu," lanjut Gerald.
Pria tampan itu melerai dekapannya dengan tangan memegang wajah Sarah dengan lembut. Tangan kekarnya menghapus air mata itu dengan penuh iba hingga membuat mata keduanya saling bersitubruk.
"Bahaya keluar malam seperti ini, terlebih kamu anak gadis. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Sekarang ikut aku ya?" seru Gerald penuh perhatian, Pria itu menatap teduh Sarah hingga membuat gadis cantik tersebut mengangguk kepalanya.
"Ayo"
"Apa aku merepotkan mu?"
"No, gak ada yang direpotkan disini!"
"Baiklah"
Sarah mengikuti langkah Gerald ketika pria itu menggiringnya masuk kedalam kursi sebelah kemudi. Meskipun agak ragu, Tapi Sarah menuruti ucapan yang Gerald katakan.
Berteman selam hampir lima bulan membuat keduanya sangat dekat. Bahkan kakak iparnya sendiri mengira Gerald adalah kekasihnya karena terlalu sering mengantarkan dirinya pulang dari kampus.
"Ge," panggil Sarah kala Gerald sudah melanjutkan perjalanannya.
"Iya"
"Apa kekasihmu tak marah?" Tanya Sarah hingga membuat Gerald tertawa.
"Apanya yang lucu?,"tanya Sarah lagi ketika tak ada jawaban dari Gerald." Aku tanya serius Ge, aku gak mau nanti ada salah paham diantara aku dan kekasihmu."
"Aku belum ada kekasih, mungkin beberapa hari lagi akan ada seorang wanita yang berstatus kekasihku," sahut Gerald membuat Sarah manggut-manggut mendengarnya.
"Ohh.. "
"Kenapa? Apa kamu berencana mencalonkan dirimu sebagai kekasihku," seru Gerald dengan sisa tawanya dan hal itu membuat Sarah membulatkan mata secara reflek.
"Kok aku! Jangan gila deh,Ge. Aku kan hanya bertanya saja," tutur Sarah menunjuk dirinya sendiri.
"Ya kali, Aku dengan senang hati menerimanya tanpa perlu menimbangnya lagi." sahut Gerald dengan kekehan kecil.
Sarah yang mendengarnya hanya bisa menelan ludahnya kasar. Bagaimana bisa dirinya menyatakan perasaannya terlebih dulu pada sosok pria tampan disampingnya ini. Meskipun Sarah sendiri sudah menganggap Gerald adalah temannya. Patut digaris bawahi bahwa pesona Gerald sanggup membuat para kaum hawa jungkir balik. Tak terkecuali Sarah yang pernah terpesona dengan Gerald.
Tapi, Sarah merasakan hal aneh pada rasa terpesonanya dengan Gerald. Ia merasakan ada sesuatu yang belum ia ketahui, hatinya janggal ketika ingin menumbuhkan perasaan pada seorang pria manapun.
"Yah, ngelamun," seru Gerald ketika melihat Sarah hanya diam saja.
"Kenapa? apa ucapanku mengganggu pikiranmu?" Tanya Gerald ketika Sarah masih terdiam.
"Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya Ge?," tanya Sarah tiba-tiba.
"Pernah"
"Bagaimana rasanya?"
"Aku bahagia melihatnya bahagia, Aku sedih ketika air matanya jatuh membasahi pipinya. Aku cemburu ketika dia bersama pria lain, Bahkan aku tak rela ketika aku berjauhan dengannya. Dan yang paling penting, Jantungku selalu berdetak tak menentu ketika bersanding denganmu ," Papar Gerald menggapai tangan Sarah dan menaruhnya didadanya .
Mata pria itu fokus kedepan, namun ucapannya sangat menyentuh bagi Sarah. "Rasakan detakan ini ,Sarah. Jantungku selalu berdetak ketika bersamamu."
Hah..
"Maksu-tnya?" tanya Sarah masih tak mengerti.
"Biarkan waktu yang menjawabnya, perasaanku pasti akan kamu rasakan nantinya."
Sarah secepat kilat menarik tangannya dari genggaman Gerald. Gadis itu tak mengerti, tapi ada makna yang sedikit dimengerti dirinya. Namun ia enggan berbesar kepala ketika Gerald meng-kode bahwa mempunyai perasaan padanya, biarkan nanti pria itu yang berterus terang secara langsung padanya tanpa adanya kode ataupun yang lainnya.
"Jantung berdebar! Apa sama seperti yang aku alami jika berdekatan dengan kak Deon?" Batin Sarah bertanya- tanya. "Jantungku tak biasa jika berdekatan dengan kak Deon. Berbeda ketika dekat dengan Gerald, hanya ada sebuah kekaguman disana," Batinnya lagi.
Sebagai gadis yang belum pernah menjalin hubungan dengan pria. Ia masih belum fasih tentang perasaannya, apalagi dengan pria yang disukainya.
"Sarah, Mau digendong apa mau di seret," Celetuk Gerald membuat Sarah terjingkat kaget . Pasalnya pria itu sudah berada disampingnya dengan pintu mobil yang sudah terbuka lebar.
Ehhh.
"Sud- ah sampai," gerutu Sarah gugup, apalagi posisi Gerald sangat dekat dengannya.
"Ge, Awas"
"Kenapa?"
"aku mau keluar ihh, minggir"
"Janji, setelah sampai didalam kamu harus cerita apapun yang kamu rasain. Aku gak mau kamu menanggung semuanya sendiri. Aku ingin beban kamu, aku juga merasakannya," ujar Gerald masih menghalangi Sarah untuk keluar dengan memposisikan dirinya di pintu mobil sebelah Sarah.
Deg..
Haruskah Gerald tau masalahnya dengan kakak maupun kakak iparnya. Apa semua itu tak terlalu berlebihan.
Tapi melihat ketulusan di mata Gerald, membuat gadis cantik itu akhirnya menganggukkan kepala. Bahkan Sarah terharu karena Gerald masih mau ikut terbebani olehnya.
Dalam perjalanan menuju apartemen milik Gerald. Tangan Sarah tak sekalipun terlepas dari genggaman tangan Gerald. Pria itu sudah seperti kekasih Sarah yang teramat posesif pada kekasihnya. Enggan melihat kekasihnya dilirik pria lain karena Sarah hanya berjalan seorang diri.
"Terimakasih, Ge," ucap Sarah ketika dirinya dan Gerald sudah memasuki lift.
"Buat?"
"Kebaikanmu, apalagi udah mau menampungku sementara waktu."
"Semoga kamu secepatnya sadar ya," Lirih Gerald hingga membuat Sarah samar mendengarnya.
"Hah, apa?"
"Apaan?"
"Salah denger kah! aku pikir kamu ngomong sesuatu," seru Sarah menatap Gerald yang tengah membuang pandangannya kearah lain.
Awal pertemuan pertama dengan Sarah membuat pria itu langsung menyukai Sarah. Apalagi melihat kelembutan dan ke kaleman yang dimiliki Sarah membuat Gerald sangat penasaran dengan Sarah.
Hingga beberapa bulan terakhir ini, membuat dirinya dan Sarah dekat. Bahkan kedekatannya membuat siapapun iri, termasuk fans dari Gerald sendiri.
bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





