
Godaan Bini Orang
Bab 3
Dunia berputar pada porosnya hingga waktu pun terus bergulir sesuai fitrahnya.
Kehidupan Lisda sebagai seorang perempuan sangatlah sempurna. Bagaimana tidak? Saat ini dia sedang berada pada titik terindah kehidupan rumah tangganya bersama Rhido. Titik kehidupan yang tentu saja banyak didambakan oleh pasangan muda, terkhusus oleh pasangan wanitanya.
Lisda mendapatkan anugerah terindah dalam hidupnya yang hampir saja tidak ada halangan yang berarti. Semua berjalan dengan sangat alami, menyenangkan dan luar biasa. Jauh melebihi ekspetasi yang selama ini dia pintakan kepada Tuhan dalam asa dan segala doa sucinya sebagai hamba yang tak berdaya.
Dua tahun yang lalu, setelah menyelesaikan kuliahnya, Lisda langsung menikah dengan Rhido yang merupakan kekasih juga kakak kelasnya saat kuliah. Mereka bahkan nyaris tak pernah putus selama berpacaran. Rhido melamar dan menikahi Lisda secara sah, tiga minggu setelah Lisda resmi menyandang gelar Sarjana Ekonimi. Sementara Rhido sendiri sudah terbilang mapan dengan karir dan penghasilannya.
Kebahagiaan Lisda sebagai seorang istri semakin lengkap dengan kehadiran jabang bayi dalam kandungannya yang tak terasa kini telah memasuki usia sepuluh minggu. Penantian yang hampir dua tahun lamanya itu disambut suka cita oleh seluruh keluarga besar, kerabat dan sahabat mereka.
Lisda semakin mantap, optimis dan bahagia dengan keadaan rumah tangganya. Rhido adalah sosok suami yang sangat sempurna di mata Lisda. Selain pandai mencari nafkah, dia pun berpenampilan sangat gagah, berparas tampan rupawan dan ditunjang dengan keperkasaannya di atas ranjang. Namun yang tak kalah pentingnya, Rhido senatiasa melimpahkan cinta, kasih sayang dan perhatiannya pada keluarga.
Lisda tahu, jauh sebelum mereka pacaran, Rhido bukanlah lelaki yang jalan hidupnya lurus-lurus saja. Lelaki dari kalangan berada itu sempat memiliki deretan mantan yang terabaikan serta segudang masalah kenakalan remaja terutama dalam urusan ranjang. Namun Lisda tak mempedulikan itu. Dirinya menikahi Rhido yang sekarang yang siap menyongsong masa depan gemilang.
Impian Lisda untuk menjadi wanita karir pun hilang dengan sendirinya pasca dirinya dinyatakan positif hamil. Sebagai gantinya, Rhido membelikan dia rumah baru, mobil baru juga membangunkan kost-kostan di belakang rumah mereka. Pekarangan yang awalnya berupa semak belukar berganti menjadi sebuah bangunan sederhana dengan lima kamar di dalamnya.
“Biar kamu punya penghasilan sendiri, sekaligus tidak terlalu kesepian saat aku tidak ada di rumah,” ucap Rhido saat Lisda bertanya mengapa harus membangun kost-kostan sekarang.
Letak rumah mereka memang di luar kota. Namun sebagai kota berkembang yang terkenal dengan banyak kampusnya, kost-kostan itu pun dengan cepat memiliki penghuninya. Rhido pun segera menarik Bi Isah dan Mang Juni, tetangga kompleksnya untuk menemani sekaligus membantu Lisda mengurusi rumah dan segalanya.
Sebagai seorang arsitek muda yang juga pebisnis handal, Rhido terkadang terpaksa harus tidak berada di rumahnya, bahkan berhari-hari. Untung saja lingkungan tempat tinggal mereka relatif aman dan tenang. Rhido pun semakin bersemangat dalam menjalankan tugasnya mencari nafkah demi lebih memakmurkan dan mensejahterakan keluarga kecilnya.
Tak ada gading yang tak retak.
Akhir-akhir ini hati Lisda mulai gelisah dan gundah. Senantiasa dihantui perasaan bersalah dan berdosa pada suaminya. Dia merasa sudah tidak bisa lagi memberikan pelayanan yang maksimal pada Rhido saat di atas ranjang. Hal ini terjadi sejak dirinya dinyatakan postirif berbadan dua.
Entah karena sugesti kehamilan pertama, atau ada hal lain. Yang pasti Lisda selalu merasa kesakitan dan ketakutan saat bersebadan dengan suaminya. Terlebih setelah usia kehamilannya semakin bertambah. Rhido memang tidak pernah protes dengan hal itu. Namun Lisda bisa melihat raut kekecewaan pada suami gantengnya.
Selama ini Rhido tetap bersabar walau malam-malamnya selalu kentang. Dia sangat memahami keadaan fisik dan mental istrinya. Lisda sudah berkonsultasi pada dokter kandungan yang menanganginya. Namun setelah mendapat penjelasan ilmiah nan logis pun, Lisda masih belum sanggup membuang sugesti rasa takutnya akan risiko keguguran jika dia berhubungan intim.
“Ya, kalau Rhido masih bisa nerima sih gak masalah, Lis.” Bu Kades sering kali memberi masukan dan nasihan pada Lisda, seperti siang itu.
“Sebenarnya Mas Rhido gak pernah mempermasalahkannya, Bu. Tapi justru saya yang makin tersika dengan keadaan ini. Bener-bener merasa berdosa dan kasihan sama dia.”
“Hmmm,” balas Bu Kades sedikit bingung.
“Tapi ketika saya mencoba melawan perasaan aneh itu, justru Mas Rhido yang merasa tidak nyaman. Menurutnya, gak tega ngeliat saya yang sepertinya berusaha keras melawan rasa sakit dan ketakutan.” Lisda menjelaskan lebih rinci.
“Udah jalani aja seperti biasa, yang penting kalian sama-sama mengerti. Jangan ada yang merasa terpaksa apalagi tersiksa. Insya Allah semua akan baik-baik aja. Mungkin di luar sana juga ada yang mengalami hal yang sama, Ris. Ya, namanya juga kehamilan pertama selalu aja ada ceritanya, hehehehe.”
“Banyak sih yang ngalamin, tapi kata Dokter Mahfud ME, bumil yang lain itu setelah berkonsultasi rata-rata bisa bersikap normal seperti semula. Beda dengan saya.”
“Bisa jadi, kan emang masing-masing orang punya alurnya. Yang penting sekarang Lisda fokus jaga kesehatan, terutama jabang bayinya. Jangan terlalu banyak pikiran yang aneh-aneh, nikmati segala yang ada. Suamimu sudah berjuang luar biasa untuk membahagiakan kalian,” hibur Bu Kades selanjutnya.
“Siaaap Ibu, terima kasih sudah setia nemenin saya menjalani dan berusaha melewati semua ini,” balas Lisda sambil memeluk tetangganya itu.
“Ah sudahlah jangan lebay. Lisda sama Rhido sudah ibu anggap anak sendiri. Kalian kan jauh sama keluarga masing-masing. Siapa lagi kalau bukan tetangga yang jadi keluarga terdekat, iya gak?” Bu Kades membalas pelukan Lisda.
Hanya pelukan, ciuman dan air mata bahagia yang biasanya Lisda berikan pada Bu Kades. Dia benar-benar merasa sangat beruntung memiliki tetangga yang sangat perhatian pada keluarganya. Tak ada hari tanpa kehadiran Bu Kades di rumahnya, terlebih jika suaminya sedang dinas luar.
“Apa mungkin karena senjatanya Mas Rhido ya, Bun?” Tiba-tiba Lisda bertanya serius sambil melepaskan pelukannya.
“Maksudnya? Emangnya Rhido punya senjata?” Bu Kades sedikit tersentak.
“Punyalah Ibu. Kalau gak punya senjata, mana mungkin bisa besar begini perut saya? hehehe,” jawab Lisda sambil tersenyum malu-malu dan mengelus-elus perutnya yang sudah telihat buncit.
“Ooooh senjata itu ternyata, hahahaha.” Bu Kades tiba-tiba ngakak tak kuasa menahan geli, “Memang kenapa dengan rudalnya Rhido, Lis?” lanjutnya sambil mesem-mesem menahan geli.
“Hmmm apa ya, ukurannya upnormal, Bu. Jauh di atas rata-rata orang Indonesia,” jawab Lisda dengan wajahnya yang seketika bersemu merah.
“Hah!” seru Bu Kades terperangah. Lisda sudah sangat sering curhat pada dirinya dengan banyak hal. Tetapi baru kali ini membahas sesuatu yang sangat sensitif dan cukup privacy.
“Maksud saya, besar dan panjangnya di atas rata-rata orang kita. Kalau Ibu pernah lihat rudalnya orang barat, ya kaya gitu itu. Hanya mungkin agak kecilan dikit sih.” Lisda kembali menjelaskan lebih rinci.
“Hah, masa sih? Tapi kan emang sesuai juga sama posturnya tubuhnya Rhido. Tapi, eh….” Bu Kades agak gelapan, merasa canggung dan sedikit risih untuk melanjutkan ucapannya.
Anda Mungkin Juga Suka





