
Gelora Hasrat sang Presdir
Bab 1
1. Pesta Lajang
"Ngh ...."
Laura Hartley mengerang pelan ketika merasakan sentuhan basah di lehernya. Deru napas seorang pria menggelitik indra pendengarannya.
‘Siapa …?’ batin Laura seiring matanya terbuka untuk mencari tahu identitas sosok di sisinya. Namun, pandangannya buyar akibat efek alkohol yang mendera.
"Ah!"
Lenguhan keras terlontar dari bibir Laura, merasakan sesuatu milik sang pria mulai mendorong dari bawah.
"Tidak ... jangan …," rintih Laura, tahu bahwa hal ini tidak boleh terjadi.
Pria itu sempat menghentikan gerakan, seolah ragu. Namun, desakan gairah yang tak tertahankan menuntutnya untuk kembali beraksi.
"Hentikan ...." Laura mendorong dada pria itu. Akan tetapi, tenaganya terlalu lemah.
Penolakan Laura membuat pria itu mengunci kedua tangannya di atas kepala.
"Maaf ... aku tidak bisa menahannya lagi." Suara berat dan dalam pria itu begitu menggoda, membuat bulu kuduk Laura meremang.
"Ahh ...." Mata Laura membesar saat inti tubuhnya menerima serangan yang begitu menyakitkan.
Manik biru indah milik gadis itu berair. 'Tidak … tidak boleh seperti ini ….'
Bulir bening mengalir menuruni wajah Laura. Dia tidak tahu siapa pria di hadapan, apakah pria itu tunangannya? Akan tetapi, pertanyaan itu tidak bisa terjawab karena otak Laura langsung kosong kala pria itu mulai memacu gerakannya.
"Ah!" erangan penuh kenikmatan tak bisa Laura tahan untuk kabur dari bibirnya. "Tidak … tidak!"
Lenguhan saling beradu dalam ruangan tersebut, terus sampai akhirnya puncak kepuasan tercapai.
Saat itu juga, sentuhan lembut diberikan sang pria pada wajah Laura, mengusap air matanya yang luruh.
"Aku …," bisikan pria itu mulai terdengar, "... akan bertanggung jawab …."
***
"Hah ... hah!"
Laura terbangun dengan napas terengah. Dia mendudukkan diri dan mengusap dahinya yang berkeringat.
'Mimpi?' batin Laura bertanya.
Namun, saat Laura menyingkap selimut yang menutup tubuhnya, matanya seketika terbelalak. Dia tidak mengenakan apa pun!
'Di mana baju–'
Belum sempat ucapan batinnya selesai, mata Laura menangkap gaun merah muda selutut miliknya teronggok di lantai. Dalamannya pun tercecer di sana-sini!
Ketika dia sibuk memerhatikan pakaiannya yang berantakan, sebuah lenguhan dalam terdengar. "Ngh …."
Tubuh Laura langsung membeku. Itu jelas bukan suaranya.
Perlahan, wanita itu menoleh ke sampingnya, hanya untuk berakhir terkesiap ketika mendapati seorang pria asing tidur memunggunginya. Sama sepertinya, pria itu tidak mengenakan busana!
'Apa … apa yang terjadi?!'
'Apa aku tidur dengannya?!'
Dengan wajah ngeri, Laura berusaha mengingat kembali apa yang semalam dia lakukan.
Tadi malam, Laura diajak oleh Nora, adiknya, untuk merayakan pesta pelepasan status lajangnya di sebuah bar hotel karena dirinya akan menikah dalam dua minggu. Tidak pernah pergi ke tempat-tempat seperti itu, Laura awalnya menolak. Namun, Nora merengek dan membuatnya terpaksa menerima.
Di bar hotel tersebut, Laura menenggak alkohol untuk pertama kali dan berakhir mabuk berat. Sempat dirinya meminta untuk pulang, tapi Nora menolak dan lanjut berpesta.
Demi menyadarkan dirinya kembali, Laura berniat mencuci wajahnya di toilet. Namun, sesaat sebelum dia masuk ke dalam toilet, kesadarannya menghilang.
Sekarang, dirinya malah berakhir di sebuah kamar hotel bersama seorang pria asing yang tidak dia kenal!
'Ini … ini tidak boleh terjadi!' pekik Laura dalam hati, merasakan ketakutan mendalam kalau-kalau ada orang lain yang tahu perihal kejadian ini.
Laura akan menikah dalam dua minggu dengan Noah Myers, cinta pertama Laura sekaligus pria yang dijodohkan sang nenek untuknya. Kalau ada yang tahu tentang apa yang terjadi di ruangan ini, Noah akan kecewa, ayahnya akan marah, dan pernikahannya akan dibatalkan!
Tidak ... Laura tidak mau! Laura ingin menikah dengan Noah! Teman masa kecil sekaligus pria pujaannya!
Dengan pemikiran itu, Laura pun mengambil satu keputusan.
'Aku … aku harus pergi!'
Dengan sigap, Laura langsung turun dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit yang menyerang area sensitifnya setiap kali dia bergerak.
Selesai mengenakan seluruh pakaiannya, Laura bergegas lari meninggalkan hotel dan pulang menggunakan taksi. Sejumlah pertanyaan kembali melambung di benaknya.
Kenapa bisa seperti ini? Kenapa dia tak ingat sama sekali perihal apa yang terjadi setelah dirinya tiba di depan toilet?!
Yang terpenting adalah … di mana Nora saat hal itu terjadi? Adiknya itu sudah berjanji untuk memastikan semuanya akan baik-baik saja!
Laura terisak-isak sepanjang perjalanan, mengabaikan kekhawatiran sopir yang terus bertanya perihal keadaannya. Pikiran Laura hanya terpusat pada ketakutan menghadapi keluarga dan calon suaminya.
Mengingat wajah Noah membuat air mata Laura semakin deras mengalir. Rasa bersalah menghantam dada.
"Noah ... maafkan aku," gumam Laura lirih.
Noah begitu baik padanya, tapi ... Laura malah mengkhianatinya.
Ketika taksi berhenti tepat di depan pagar rumahnya yang menjulang tinggi, Laura diam-diam masuk melalui pintu belakang. Dia tak ingin ada yang mengetahui kenyataan dirinya tidak pulang semalaman.
Hanya saja, tepat ketika Laura mendorong terbuka pintu itu, Simon Hartley, ayah Laura … telah berdiri di depannya.
"P-Papa?" Laura memanggil sang ayah dengan tergagap. "Papa, belum berangkat ke–"
PLAK!
Belum sempat Laura mengatakan apa pun, sebuah tamparan dihadiahkan Simon kepadanya.
Kerutan di sekitar mata Simon menunjukkan ketegangan dan kekecewaan mendalam. "Beraninya kau kembali ke rumah ini setelah semua yang terjadi!"
2. Jebakan
"Beraninya kau kembali ke rumah ini setelah semua yang terjadi! Dasar anak tidak tahu malu!" maki Simon.
Makian sang ayah membuat Laura membeku, kenapa sang ayah seperti ini?
Melihat wajah Laura yang kosong, telapak tangan Simon hendak melayang sekali lagi ke wajah putrinya. Namun, Nora, adik tiri Laura, segera mencegah dengan memegang lengan sang ayah.
"Papa! Apa yang Papa lakukan? Kenapa Papa mau memukul Kak Laura, Pa?!" seru Nora dengan wajah khawatir.
Simon menepiskan tangan sang putri. "Jangan ikut campur! Papa harus memberi pelajaran pada kakak sialanmu ini!"
Gilda, istri kedua Simon dan ibu kandung Nora, yang mendengar keributan itu ikut keluar.
Melihat adegan di depan mata, dia langsung membantu putrinya menahan sang suami. "Papa, sabar, Pa! Jangan begini!"
Sementara pasangan ibu dan anak itu berusaha menahan sang ayah, badan Laura gemetaran bukan main. Firasat buruk datang menghampiri. Apakah Simon tahu perbuatannya semalam?
"Diam! Kalian tidak tahu bagaimana aku harus menanggung malu saat Keluarga Smith membatalkan pernikahan karena kebejatan perempuan ini!" bentak Simon membuat semua orang terkejut.
Laura mengangkat kepalanya. "Apa…? Kenapa …?"
Mata Simon semakin berkilat marah karena Laura tak menyadari kesalahannya. Pria itu merogoh saku celana dan melempar sejumlah lembar foto tepat di wajah Laura.
"Lihat pakai matamu sendiri!"
Laura menangkap sebagian foto tersebut. Tangannya langsung gemetaran, bersamaan dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Gambar dirinya sedang bersama seorang pria masuk ke kamar hotel terpampang di depan mata. Pria itu memunggungi kamera, sedangkan wajah Laura terlihat sangat jelas. Posisi tubuh mereka begitu intim sehingga tak perlu dipertanyakan lagi perihal apa yang akan terjadi begitu pintu kamar hotel itu tertutup!
"Kau masih mau bertanya alasannya dengan semua bukti ini?!" geram Simon. "Asal kau tahu, asisten Noah yang datang memberikan foto-foto ini dan menyatakan niatan Noah untuk membatalkan pernikahan kalian! Noah bahkan tidak sudi melihat wajahmu!"
Sontak, kaki Laura lemas hingga dia jatuh bersimpuh di depan Simon.
'Noah tahu semuanya?' batin Laura, sulit untuk percaya.
Di saat itu, Laura mendengar suara Nora berkata, "Pa, pasti ada salah paham! Nggak mungkin Kak Laura berbuat seperti ini!" Gadis itu menoleh kepada Laura. "Kak, ayo jelaskan!"
Mendengar ucapan Nora, Laura menatap sang adik tiri dengan pandangan kosong. Semua ini … bukankah semua ini seharusnya lebih diketahui oleh Nora yang di malam sebelumnya sepenuhnya sadar?!
"Kau yang mengajakku ke sana, Nora …." Tangisan Laura pecah seiring dia memegang lengan adiknya dengan kuat. "Bukankah seharusnya kau yang lebih tahu mengenai apa yang terjadi setelah aku mabuk!?"
"K-Kakak …." Nora memasang wajah terkejut bercampur tak berdaya. "Aku–"
Tudingan Laura kepada Nora membuat hati Simon panas. "Adikmu sudah berbaik hati mengadakan pesta pelepasan masa lajang untukmu, tapi sekarang kau malah melemparkan kelalaianmu padanya?!"
Laura terperangah. Melemparkan kelalaian? Dia bertanya! Lagi pula, Nora yang dari awal memaksanya untuk pergi ke tempat seperti itu! Sang ayah juga tahu!
Sebelum Laura bisa mengatakan apa pun, Nora langsung berlutut di hadapan Simon. "Papa! Kak Laura benar, ini semua terjadi karena salahku! Aku seharusnya tidak mengadakan pesta itu! Jangan salahkan Kak Laura, Pa!" pinta Nora.
Kalimat Nora terdengar membela, tapi kenapa Laura merasa adiknya itu seperti sedang membuat dirinya menjadi orang jahat yang sedang menuduh?!
"Nora! Kesalahannya bukan tanggung jawabmu!" tegas Simon.
Walau terdengar keras, tapi Laura bisa melihat kelembutan dari pancaran mata Simon untuk putri keduanya itu.
Pemandangan itu membuat dada Laura semakin sesak. Kenapa Simon tak pernah menatapnya seperti itu? Bukankah dia juga putri kandungnya!?
Simon melemparkan pandangan mematikan kepada Laura. "Katakan, siapa laki-laki yang bersamamu semalam?!"
"A-aku ... aku tidak tahu," jawab Laura lirih.
Laura hanya melihat wajah pria sekilas saat hendak meninggalkan kamar hotel itu, namun dia benar-benar tak tahu siapa pria itu.
"Tidak tahu?! Jadi … kau menghabiskan malam bersama pria asing yang bahkan tidak kau kenal?!"
Sudah cukup, Simon tidak bisa bertahan lagi.
"Keluar."
Laura menatap sang ayah dengan mata membesar. "P-Papa …."
"Tutup mulutmu! Tidak sudi aku mengakui seorang putri sepertimu!" maki Simon dengan amarah menggebu. "Mulai dari hari ini, kau bukan putriku lagi. Keluar dari rumah ini!"
BRUK!
Laura bersujud di kaki sang ayah. "Papa! Papa jangan lakukan ini padaku!" pintanya dengan memelas.
Ke mana Laura harus pergi kalau dirinya diusir dari rumah ini!?
Dengan dingin, Simon berseru lantang, "Penjaga! Usir perempuan tidak tahu diri ini keluar dari kediaman!"
Tidak perlu waktu lama, sejumlah penjaga kediaman datang. Tanpa bisa menolak perintah sang tuan besar, mereka pun menyeret Laura dan melemparkannya keluar kediaman beserta sebuah koper besar yang berisi barang-barangnya.
"Papa! Papa!' Laura berusaha membuka gerbang kediamannya, tapi tidak ada orang yang mengacuhkannya.
Di dalam kediaman, Simon mendengus. "Jangan ada yang pernah menyebutnya lagi di kediaman ini! Laura Hartley sudah mati!" umum pria itu sebelum berbalik pergi ke kamarnya bersama sang istri.
Sementara itu, Nora tampak menatap Laura yang terus memohon untuk dimaafkan dari jendela kediamannya. "Kakakku yang malang …," gumamnya lirih.
Di saat itu, ponsel Nora berdering. Dia melihat layar dan langsung mengangkatnya dengan wajah tenang.
"Sepertinya kau begitu puas dengan hadiahku tadi malam?" tanya Nora dengan wajah berseri, maniknya memerhatikan bagaimana Laura mulai terlihat menangis di depan kediaman. "Bagaimana rasanya meniduri kakakku?"
Ya, memang benar. Dalang sebenarnya dari malapetaka yang menimpa Laura adalah Nora! Dia itulah yang dengan sengaja menjebak Laura agar mabuk dan bisa ditiduri oleh temannya. Semua demi membatalkan pernikahan kakak tirinya itu dan menggantikan posisinya untuk menjadi nona muda Keluarga Myers, istri dari Noah Myers!
"Apa kau gila?!" maki suara pria di ujung telepon yang lain, sukses membuat Nora mengerutkan kening. "Aku belum berhasil meniduri kakakmu! Dia dibawa pergi pria lain!"
"Apa?" Mata Nora melebar. "Bukankah dia tidur denganmu tadi malam?! Foto yang dikirimkan orangku–"
"Aku memang di foto itu! Tapi, bukan aku yang berakhir menidurinya! Seorang pria datang, menghajarku habis-habisan, dan melemparku keluar kamar! Asal kau tahu, sekarang aku saja ada di rumah sakit! Kau harus tanggung jawab, Nora!"
Nora mengabaikan makian temannya, otaknya sedang berputar mengenai informasi yang baru saja dia dapatkan.
Nora memandang ke arah gerbang, menyadari bahwa Laura sudah tidak ada.
Lalu … kalau bukan temannya, siapa yang tidur bersama Laura tadi malam?!
***
Hotel Star. Kamar 501.
Terlihat sosok seorang pria terbangun ketika mendengar dering ponselnya. Tangannya yang kekar meraih benda pipih itu, lalu menempelkannya di telinga.
"Tuan Asher! Akhirnya Anda mengangkat telepon saya!" Suara di ujung telepon lain mengejutkan pria tersebut, membuatnya membuka mata perlahan dan memamerkan manik hitam segelap malam yang memesona. "Ke mana Anda tadi malam?!"
Saat pertanyaan itu terlontar, Asher Smith mengerutkan kening dan gegas mendudukkan dirinya. Pria itu memerhatikan sekeliling dan menyadari, ini bukan kamarnya.
Serentak, potongan ingatan perihal apa yang terjadi di malam yang lalu membanjiri benaknya. Bagaimana dia memaksakan diri kepada seorang wanita malang dan bersumpah akan bertanggung jawab.
Teringat hal tersebut, Asher menggertakkan giginya. "Jemput aku sekarang," titah pria itu dengan tegas seraya mendudukkan diri di pinggir tempat tidur. Matanya menatap informasi hotel di nakas. "Hotel Star, kamar 501."
Detik Asher menyibak selimut, matanya terpaku pada noda darah dan sebuah kalung yang teronggok di tengah tempat tidur.
Sadar dirinya bukan hanya memaksakan diri, tapi juga merenggut kesucian wanita asing itu, Asher menyisir rambutnya dengan frustrasi. "Sial …."
Mendengar makian tuannya, asisten pribadi Asher sedikit panik. "Tuan? Apa ada yang salah?"
Dengan cepat, Asher kembali bertitah, "Segera cari tahu siapa yang memesan kamar ini!" Pria itu meraih kalung di tengah ranjang dan menambahkan, "Siapa pun dia … aku harus bertanggung jawab."
3. Berita Mengejutkan
"Bisa-bisanya ayahmu berbuat seperti itu!"
Suara teriakan terdengar dari dalam sebuah kamar salah satu kediaman besar di pinggir kota.
Terlihat sosok Laura tengah duduk di sofa bersebelahan dengan sahabat baiknya, Emma Ruiz, putri dari Keluarga Ruiz.
Laura telah menceritakan semua yang terjadi kepada Emma. Alhasil, temannya itu sangat marah.
"Jelas-jelas Nora yang memaksamu pergi ke tempat itu, tapi kamu yang disalahkan sepenuhnya! Ayahmu kentara sekali pilih kasih!"
Laura diam sembari memeluk lututnya, tak sedikit pun menanggapi komentar Emma. Sebab, dia sudah tahu sang ayah dari dulu lebih menyayangi Nora dibandingkan dirinya.
Bertahun-tahun hidup bersama, ada beberapa hal yang selalu terjadi di kediaman Hartley.
Jika Laura menginginkan sesuatu, Nora pasti akan memintanya. Di saat itu, Simon pasti memaksa Laura untuk mengalah dan memberikan miliknya kepada Nora.
Jika Nora melakukan kesalahan, Laura-lah yang akan dihukum dengan alasan tidak memerhatikan dan menjaga adiknya.
Semua yang Laura miliki harus Nora dapatkan, dan semua yang Nora miliki … tidak boleh dimiliki oleh Laura. Hanya benda yang tidak Nora inginkan yang bisa menjadi milik Laura.
Karena hal-hal itu, Laura dan Nora memiliki penampilan dan sikap yang jauh berbeda. Laura sederhana dan pendiam, sedangkan Nora glamor dan keras kepala. Kalau diumpamakan, Laura terlihat seperti anak pelayan dan Nora adalah anak majikannya.
'Andai Mama masih hidup dan Papa tidak menikah lagi, apa perlakuan Papa kepadaku akan berbeda?'
Pertanyaan seperti itu seringkali melambung di benak Laura.
Callista, ibu kandung Laura dan istri pertama Simon, meninggal karena sakit keras saat Laura baru berusia tiga tahun. Walaupun samar, tapi Laura ingat bagaimana ibunya itu mewasiatkan dirinya untuk selalu menurut dan patuh kepada sang ayah. Itulah alasan Laura tak banyak menuntut kepada Simon.
Namun, saat ini!? Apa Laura bahkan tidak berhak menuntut keadilan!?
Memikirkan hal itu, Laura berakhir menjawab pertanyaannya sendiri, 'Percuma ….'
Ingin menyalahkan siapa pun juga sama saja. Nasi sudah menjadi bubur.
Kesucian Laura tak akan bisa kembali, sang ayah juga telah mengusirnya, bahkan calon suaminya sudah enggan bertemu dengannya.
Melihat kesedihan Laura yang mendalam, Emma merasa sangat prihatin. Dia memeluk Laura dan berkata, "Tidak peduli apa yang terjadi. Aku ada di sini, Lau."
Ucapan Emma membuat mata Laura sontak berair. Gadis itu pun mulai menangis sejadi-jadinya dalam pelukan teman baiknya itu.
Ayah kandungnya enggan untuk mendengarkan penjelasan, sedangkan sahabatnya yang sama sekali tak ada hubungan darah lebih bersimpati kepadanya. Walau bersyukur, tapi hal ini membuat Laura sungguh sakit hati.
Kenapa ayahnya begitu kejam?
Beberapa jam berlalu dengan Laura menangis dalam pelukan sahabatnya itu. Hanya ketika tangisannya berhenti barulah Emma berujar, "Istirahatlah, Lau. Kau pasti lelah."
Dengan mata bengkak, Laura membalas, "Terima kasih banyak, Em. Aku berhutang besar padamu."
Emma memasang senyuman tak berdaya. "Kau sudah seperti saudariku sendiri, jangan bersikap begitu sungkan." Dia juga menambahkan, "Jangan khawatirkan apa pun lagi! Kau bisa tinggal di tempatku selama yang kau mau!"
Mendengar hal itu, Laura mengangguk dan tersenyum tipis.
Dua minggu berlalu sejak Laura tinggal di kediaman Keluarga Ruiz. Walau masih ada saat dirinya diam-diam menangis, tapi senyuman yang lama hilang itu perlahan kembali muncul di wajah Laura.
Dalam dua minggu ini, Laura sempat mencoba menghubungi Noah. Kalaupun dia tahu hubungan mereka tak akan pernah lagi bisa seperti dulu, tapi Laura ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sekaligus meminta maaf karena telah menyakiti dan mengecewakan pria tersebut.
Sayangnya, sepertinya pria itu telah memblokir semua kontak Laura. Oleh karena itu, Laura pun menyerah dan memutuskan untuk melupakan semuanya.
Tak ingin terus berdiam dan membuat Emma beserta keluarganya khawatir, Laura pun bergumam, "Aku … harus melakukan sesuatu."
Dengan langkah yang lebih ringan dari hari-hari sebelumnya, Laura keluar dari kamar untuk mencari sahabatnya. Ketika hampir sampai di lantai satu, Laura melihat Emma dan Alan, kakak Emma, sedang menonton siaran televisi sambil memaki.
"Apa mereka gila?! Teganya mereka melakukan ini kepada Laura!" Suara Emma terdengar diselimuti kemarahan mendalam dari ruang tamu kediaman Ruiz. "Sudah kuduga ada yang salah dengan otak kepala keluarga Hartley!"
Kening Laura berkerut, bertanya-tanya kenapa Emma memaki ayahnya lagi. Alhasil, dia pun lanjut menuruni tangga dan mengarahkan pandangan ke arah televisi yang sedang ditonton oleh Emma dan Alan.
Seketika, mata Laura terbelalak kala melihat berita yang ditampilkan siaran televisi.
[Tidak jadi menikah dengan putri pertama Keluarga Hartley, Noah Myers berakhir mengumumkan rencana pernikahannya dengan putri kedua Keluarga Hartley, Nora Hartley!]
Tampak sosok Nora bersanding dengan Noah sembari menunjukkan cincin pertunangan mereka ke arah kamera. Senyuman lebar menghiasi bibir keduanya.
Laura tak dapat mendengar jelas ucapan reporter berita. Gendang telinganya berdengung untuk sesaat selagi kepala Laura mendadak seperti berputar-putar.
Kenapa Noah bertunangan dengan Nora?
4. Pria Itu
Selagi semua pertanyaan itu melambung di benak Laura, dia mendengar Emma memaki dengan emosi menggebu.
"Dasar rubah licik! Aku yakin dari dulu Nora sudah mengincar Noah! Ini berarti apa yang menimpa Laura pasti ada hubungan dengannya!" Wanita itu tak lupa menambahkan, "Noah juga! Apa dia tidak tahu apa dampak pengumuman ini kepada Laura? Apa dia tidak memikirkan perasaan Laura?! Kalau aku bertemu dua orang hina itu nanti, akan kuhabisi mereka!"
Suara Emma yang semakin lama semakin tinggi membuat Alan mendelik. "Jangan berteriak-teriak, bodoh! Cepat kecilkan volume suara TV! Laura bisa mendengar–"
Mendadak, ucapan pria itu berhenti saat matanya mendarat pada sosok Laura yang membeku di tangga.
"L-Laura!"
Teriakan Alan membuat Emma mengikuti arah pandang sang kakak dan spontan mematikan televisi. Kakak-adik itu membeku di tempat hingga Laura berjalan mendekat.
Emma dan Alan langsung berdiri dan menghampiri Laura.
"Laura, jangan pedulikan dua orang hina itu, oke? Mereka tidak pantas kau pikirkan!"
"Itu benar! Tidak pantas!"
Sepasang kakak-adik itu tampak menghibur Laura dengan panik. Mereka khawatir jika Laura kembali terpuruk karena berita pertunangan Noah.
Namun, di luar dugaan keduanya, Laura menyunggingkan sebuah senyuman manis. "Bisa carikan aku pekerjaan?"
Emma dan Alan mengerjapkan mata. "Apa?" Rasanya, mereka salah dengar.
Laura tersenyum tak berdaya melihat kedua kakak-beradik di hadapannya. "Aku rasa, sudah waktunya aku melakukan sesuatu. Tidak mungkin aku terus-terusan menyusahkan kalian, bukan? Jadi, aku mau mulai bekerja."
"Lau, kau tidak pernah menyusahkan kami! Jangan bicara seperti itu terus!" sanggah Emma seraya menggenggam kedua tangan Laura.
"Em, kalian sungguh baik, dan aku berterima kasih atas hal itu," balas Laura. "Akan tetapi, hidup terus berlanjut, dan tidak mungkin selamanya aku bergantung kepada dirimu dan keluargamu." Senyuman Laura berubah diselimuti tekad. "Aku ingin bangkit kembali dan berdiri sendiri."
"Lau …." Emma tak bisa berkata-kata.
Wajah Laura terlihat cerah, seakan sama sekali tak peduli dengan berita yang baru saja dia dengar. "Oleh karena itu, bisa bantu carikan pekerjaan untukku?"
Emma dan Alan pun saling menatap. Mereka seakan berkomunikasi tanpa suara sebelum akhirnya mencapai satu keputusan.
Alan berkata dengan senyum tipis, "Kalau kau sungguh tertarik … akan kucarikan satu pekerjaan untukmu."
*Beberapa hari kemudian*
Kantor Presiden Direktur Smith Group.
"Pemesan kamar hotel tidak diketahui, pemilik kalung juga tidak bisa ditemukan. Haruskah aku menilai ulang kinerjamu Theo?" ujar Asher dengan wajah gelap setelah menerima laporan asisten pribadinya terkait permintaannya lebih dari dua minggu lalu.
Asisten pribadi pria itu memasang wajah tak berdaya. "Tuan, pemilik kalung tersebut adalah wanita yang kabur dari rumah keluarganya 26 tahun yang lalu. Demikian, keberadaannya saat ini di mana, tidak ada yang tahu."
Pemilik kalung adalah wanita yang kabur 26 tahun yang lalu. Kalau dihitung, berarti umur wanita itu sudah hampir setengah abad. Hal tersebut tak selaras dengan sosok yang menghabiskan malam dengan Asher malam itu.
Samar-samar, sepasang manik biru indah yang menghipnotis membuat Asher menutup mata. Walau buyar, tapi Asher yakin sosok yang menghabiskan malam dengannya adalah seorang wanita muda. Oleh karena itu, kemungkinan terbesar adalah wanita yang bermalam bersamanya adalah putri dari wanita yang kabur itu.
Rumit.
Melihat ekspresi gelap sang atasan, Theo mencoba lagi untuk bertanya, "Bagaimana, Tuan? Perlukah saya mengerahkan lebih banyak orang untuk menyelidiki lebih jauh tentang pemilik kalung itu?"
Sudah kabur 26 tahun yang lalu, apa lagi yang mau dicari? Semua jejak pasti sudah pudar dan sulit ditemukan.
Asher pun membuka mata dan meraih sebuah dokumen di atas meja. "Lupakan," ucapnya. "Lebih baik kau terus coba untuk mendapatkan informasi pemesan kamar 501." Pria itu menatap Theo lurus dan berkata, "Kalau perlu menggunakan uang, gunakan sebanyak yang diperlukan. Aku hanya menginginkan wanita itu."
"Saya mengerti, Tuan," balas Theo.
TOK! TOK!
Suara pintu yang diketuk membuat Theo dan Asher memutar kepala ke arah pintu. Tampak sang resepsionis berdiri dan melapor, "Tuan, calon sekretaris baru Anda sudah tiba. Haruskah saya biarkan menunggu atau–"
"Persilakan masuk."
Mendengar hal itu, resepsionis tersebut menoleh ke belakang dan mempersilakan sosok yang terhalang pintu kaca ruangan Asher untuk masuk.
Saat sosok itu berjalan masuk, pandangan Asher langsung terpaku pada sepasang manik biru yang menghipnotis di hadapannya.
Sama seperti dirinya, wanita tersebut juga membeku di tempat, seakan mengenalinya.
Saat dirinya menarik kursi di depan meja kerja Asher untuk sang sekretaris baru, Theo bingung dengan ekspresi terkejut wanita tersebut.
"Nona Laura Wilson, Anda baik-baik saja?"
Ya, wanita yang baru saja masuk untuk menjalani hari pertamanya sebagai sekretaris Asher adalah Laura!
Laura memutuskan menggunakan nama keluarga ibunya setelah Simon mengusir dan tak mau mengakui dirinya sebagai anak.
Di tempatnya, tubuh Laura bergetar dan ekspresinya yang tadi tenang sekejap berubah diselimuti ketakutan.
'Pria itu … Laura tidak mungkin salah ingat. Dia adalah pria yang merenggut kesuciannya di malam tersebut!'
5. Pencuri
Sadar dirinya membuat bingung Theo, Laura memaksakan sebuah senyuman.
"Y-ya, saya baik-baik saja, maaf ... saya agak gugup." Laura duduk di kursi yang ditunjukkan Theo.
Kedua tangan Laura saling terpaut dan meremas. Dia tak bisa menatap ke arah pria di hadapannya. Hingga sepasang manik matanya yang sedang melihat ke arah meja menemukan benda yang tampak familiar.
Laura memicingkan mata untuk mengamati kalung yang berada di dekat tangan Asher. Setelah dapat melihatnya dengan jelas, kedua bola matanya membulat lebar.
'Kalung itu .…' Laura menyipitkan matanya melihat benda yang familiar yang sedang dipegang oleh Asher.
Laura kehilangan kalungnya. Dia mulai ingat ketika beberapa minggu yang lalu, ketika mandi, dirinya sudah mencari kemana-mana, namun belum juga menemukannya. Ketika melihat kalung itu ada di tangan Asher, Laura ingin bertanya untuk memastikan apakah itu benar kalung miliknya.
Tanpa Laura ketahui, kalung yang telah dia cari-cari selama beberapa minggu terakhir, ternyata jatuh saat dirinya buru-buru keluar dari kamar hotel itu dan dipungut oleh Asher.
Tanpa kalung itu dan meskipun hanyalah sebuah benda tak bernyawa, hidup Laura serasa tak lengkap. Hanya kalung itu yang dapat mengingatkan Laura kepada mendiang ibunya.
Kegelisahan Laura rupanya tertangkap oleh Asher. Asher melihat Laura dan kalung tersebut bergantian. Dia sengaja menggeser pelan kalung itu dan iris biru Laura mengikuti pergerakannya.
Asher mengangkat salah satu alis keheranan. Mengapa Laura tertarik kepada kalung itu?
"Nona Laura Wilson ... kenapa Anda sepertinya terkejut melihat ini?" Asher menggantungkan kalung tersebut di antara jemarinya. "Apa kau mengenali kalung ini?"
DEG!
Laura tak ingin Asher tahu bahwa dirinya adalah wanita pemilik kalung tersebut. Melihat Asher yang tak mengenali dirinya, juga membawa kalung miliknya, besar kemungkinan jika Asher sedang mencari dirinya.
Meskipun Asher hanya ingin mengembalikan kalungnya, Laura tak ingin membahas tentang malam panas itu. Terlebih lagi, dengan pria itu sendiri!
"T-tidak. Itu kalung yang sangat indah," jawab Laura.
Laura lega setelah Asher mengalihkan pembicaraan pada aturan perusahaan dan pekerjaan yang akan Laura lakukan. Laura hanya mengangguk-angguk dengan pikiran kosong. Hingga dirinya tersentak tatkala Asher menyodorkan kontrak kerja padanya.
"Ingat baik-baik," Asher sedikit menegakkan posisi tubuhnya seraya menatap netra biru milik Laura, "jika kau keluar sebelum waktunya, kau harus membayar biaya penalti. Baca dan pahami sebelum menandatangani."
Laura menelan ludah dengan susah payah. Dia tak pernah mengira jika calon atasannya adalah pria yang telah menghancurkan masa depannya. Akan tetapi, Laura juga tak bisa menyerah sekarang.
Alan sudah susah payah mencarikan Laura pekerjaan. Selain itu, Alan juga membantu untuk mengubah nama belakang pada semua dokumen milik Laura dengan nama keluarga ibunya. Laura tak mau mengecewakan orang-orang yang telah banyak menolongnya.
Lagi pula, mencari pekerjaan juga tidaklah mudah. Laura tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan padanya hanya karena pria di hadapannya.
Yang paling penting, Laura perlu mengambil kalungnya kembali. Laura tak rela jika kalung peninggalan ibunya jatuh di tangan pria itu.
Dengan coretan mantap, Laura membubuhkan tanda tangan di kertas kontrak kerja itu. "Terima kasih karena sudah menerima saya bekerja di perusahaan ini, Tuan Asher Smith," ucap Laura sambil menunduk untuk menghindari menatap mata lawan bicaranya.
"Kau bisa mulai kerja sekarang." Asher beralih menatap Theo. "Tunjukkan meja kerjanya."
"Baik, Tuan." Laura mengamati kalungnya sekali lagi sebelum keluar dari ruangan.
Asher mengangkat tangannya yang sedang memegang kalung itu. Lingkaran dalam kalung sejajar arah dengan punggung Laura yang kian menjauh.
Kalung tersebut memang indah. Wanita mana pun pasti ingin memilikinya. Akan tetapi, reaksi Laura terlalu berlebihan untuk wanita yang hanya ingin memiliki perhiasan yang hanya ada dua di negaranya.
Dan mata biru itu ... Asher seperti pernah melihatnya. Rasanya begitu familiar dan menghangatkan dada tatkala menatap mata indah itu.
Tapi ... di mana dia melihatnya?
***
Satu hari hampir berlalu tanpa kendala. Asher tak meninggalkan ruang kerjanya barang sekali. Bahkan, makan siang pun diantar oleh Theo ke dalam ruangannya.
Laura menjadi semakin gelisah karena sejak tadi, dia menunggu Asher pergi walau hanya sebentar saja. Tentunya, Laura ingin sekali mengambil benda berharga miliknya kembali.
Setelah melihat kalung itu, pikiran Laura menjadi semakin gelisah. Laura sampai mengerjakan tugasnya dengan lambat karena sering melamun dan memikirkan kalung yang dipegang oleh Asher adalah kalung miliknya atau bukan.
Laura ingin memastikannya lagi, bahwa benda yang selama ini dia cari-cari ada di depan mata, tetapi Laura tak dapat walau hanya memegangnya saja.
Kesempatan yang dinantikan Laura pun akhirnya tiba. Pintu ruangan Asher terbuka. Pria itu melangkah keluar meninggalkan ruangannya, melewati meja kerja Laura tanpa melihat ke arahnya.
Setelah memastikan Asher masuk ke dalam elevator, juga tak ada orang lain di sana, Laura bergegas masuk ke dalam ruang kerja Asher. Jantungnya berdetak sangat kencang tatkala kedua tangannya mulai membuka laci untuk mencari kalungnya.
Telapak tangan Laura sangat gemetaran dan berkeringat tatkala mengobrak-abrik satu persatu laci meja kerja Asher. Hingga akhirnya, matanya menemukan benda mengilat itu di laci terbawah.
Laura menutup mulut dengan telapak tangan dan hampir menangis haru kala melihat kalung tersebut ternyata memang benar kalung miliknya, karena ada liontin kecil yang terdapat di bungkusan yang sama dengan kalung tersebut, liontin berbentuk bulan sabit.
Sudut mulut Laura terangkat ke atas melihat kalung yang ia keluarkan dari bungkusan tersebut dan saat ini berada dalam genggamannya.
Namun, Laura segera sadar jika dirinya harus keluar dari tempat itu secepatnya. Laura bergegas berdiri sambil memegangi lututnya yang terasa sakit. Kepalanya sedikit berputar karena terlalu lama berjongkok.
Ketika Laura hendak melangkahkan kaki, di depan meja itu, Asher telah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan bersarang di saku celana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Asher dengan nada dingin.
Laura gegas menyembunyikan kedua tangan di belakang badan. Wajahnya memucat dan keringat bercucuran akibat ketakutan yang begitu hebat.
"S-saya ...." Suara Laura tersekat dalam tenggorokan dan tak mampu melanjutkan ucapan.
Asher mengayunkan langkah lebar mendekati Laura. Tangannya menarik tangan kanan Laura yang memegangi kalung itu dengan kasar. Laura meringis kesakitan merasakan cengkeraman Asher begitu kuat di pergelangan tangannya.
Mata gelap Asher lurus menatap mata biru yang mulai berair di hadapannya. "Apa ini?"
Laura menggeleng-geleng cepat tak mampu menjawab.
Jika Laura mengatakan bahwa dirinya pemilik kalung itu, apakah yang akan Asher lakukan padanya? Laura tak ingin Asher melecehkan dirinya seperti malam itu. Namun, jika Laura tak mengatakannya, dia takut akan kehilangan pekerjaan yang baru saja didapatkannya.
'Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kehilangan kalung ini lagi,' rintih Laura dalam hati.
"Kau mau mencuri kalung ini?!" bentak Asher.
6. Wanita Bermasalah
Laura tersentak dan sontak meneteskan air mata. Bukan hanya karena rasa sakit di pergelangan tangannya, tetapi kata-kata Asher sangat menyakitkan hati.
Mencuri? Bagaimana mungkin Laura mencuri benda miliknya sendiri?
"Apa kau mau bekerja di sini hanya untuk mencuri?!" Asher menatap Laura nyalang, "Nona Laura, aku akan melaporkanmu ke polisi!" tegasnya seraya menarik Laura menuju pintu.
Laura hanya bisa menggeleng sambil menangis terisak. "Tidak! Lepaskan aku!" teriak Laura, "Aku sama sekali tidak mencuri!"
Ucapan Laura membuat Asher menghentikan langkahnya. "Tidak mencuri?" ulangnya. Kening pria itu berkerut seiring dirinya lanjut bertanya, "Kalau tidak mencuri, apa kalung ini milikmu?"
Pertanyaan Asher membuat Laura terdiam. Haruskah Laura mengatakan kebenarannya?
"Aku …!"
Baru saja Laura ingin mengatakan sesuatu, pening yang sangat mendadak menyerang kepalanya.
"Ugh …."
Asher tampak kaget. "Nona Laura?"
Namun, Laura tak mampu untuk bahkan membalas ucapan Asher. Pandangannya yang buram oleh air mata semakin menggelap. Kepalanya seperti tertusuk ribuan jarum. Hingga akhirnya kegelapan menyelimuti kesadarannya, bersamaan dengan tubuhnya lunglai ke lantai.
"Nona Laura!" Asher langsung menangkap tubuh Laura saat hampir ambruk ke lantai. "Sial!"
Asher menggendong Laura dan membaringkan di atas sofa. Dia segera mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang, "Panggil dokter ke ruanganku, sekarang!"
Setelah mematikan panggilan, Asher melirik kalung di tangan Laura dan berusaha mengambilnya kembali. Namun, kepalan tangan Laura masih menegang, seakan-akan tak sudi melepaskan kalung itu.
Kebingungan menyelimuti Asher. Kenapa Laura begitu menginginkan kalung ini? Apa benda tersebut sungguh miliknya?
Beberapa saat kemudian, dokter perusahaan datang bersama Theo. Dokter itu segera melakukan pemeriksaan lengkap terhadap Laura.
"Bagaimana?" tanya Asher saat melihat sang dokter merapikan peralatannya.
Sang dokter berdiri dan berkata, "Nona ini … sepertinya hamil, Tuan."
Seketika, wajah Asher berubah keruh. "Hamil?"
***
Dua jam kemudian, Laura terbangun dari tidurnya. Mata yang dihiasi manik biru indah itu mengerjap seiring dirinya mendapatkan kembali kesadarannya.
"Di mana …?"
"Sudah bangun?"
Pertanyaan itu membuat Laura tersentak dan langsung menoleh ke kanan, pada sosok Asher yang terduduk di sofa selagi menatapnya tajam.
Laura terkesiap dan gegas mendudukkan diri. Kepalanya masih pening, dan hal itu membuatnya meringis.
'Apa yang … terjadi?' batin Laura dengan bingung seraya mencoba mengingat semuanya.
Laura ingat setelah dirinya mengantar Asher dan Theo pergi, dia masuk ke ruangan pria itu. Kemudian, Laura pun lanjut mengambil kalungnya dari laci Ash–
Kalungnya?!
Laura langsung menunduk, menyadari kalung miliknya tidak lagi di tangan.
"Mencari ini?"
Pertanyaan itu membuat Laura mengangkat pandangan ke arah Asher. Pria itu tengah menunjukkan kalung peninggalan ibu Laura di tangannya.
"Berapa banyak uang yang kau perlukan sehingga kau nekat mencuri benda ini dari tanganku?" tanya Asher dengan pandangan dingin.
Laura menggigit bibirnya. "Saya tidak mencuri …."
Balasan Laura membuat Asher menaikkan alis kanannya. "Tidak mencuri? Lalu, apa kalung ini milikmu?"
Pertanyaan itu membuat Laura mengerutkan kening. Haruskah dia mengaku?
Tidak!
"Mirip … hanya mirip dengan kalungku yang hilang. Sebenarnya aku berniat mengembalikannya tadi sebelum Anda datang kembali ke kantor."
Mengembalikan kalung itu? Ha ha … apa Laura pikir Asher akan percaya?
"Bukan hanya pencuri, tapi kau juga penipu ulung …."
Hinaan Asher membuat ekspresi Laura berubah keruh. "Apa?"
"Mengesampingkan masalah kalung ini, dalam data dirimu, tertulis jika kau belum berkeluarga. Kenapa kau berbohong?" tanya Asher dengan mata memicing dan aura yang berubah dingin.
Tuduhan Asher membuat Laura menatapnya kosong. "Berkeluarga …?" Apa maksud pria itu?
Wajah kosong Laura membuat Asher kehilangan kesabaran, mengira wanita itu berpura-pura. "Berhenti berpura-pura di hadapanku. Untuk apa menyembunyikan kenyataan dirimu telah menikah?"
"Menikah?" Laura mengerjapkan matanya dan menjawab lantang, "Saya belum menikah!"
Asher menyodorkan sebuah surat ke hadapan Laura. "Lalu apa ini?” Asher menunjuk satu bagian surat dan berujar, "Dokter mengatakan jika kau positif hamil dan kau mengatakan tidak memiliki suami? Apa janinmu muncul dari udara kosong?"
Mata Laura membesar. Dirinya … hamil?!
“Itu tidak mungkin!" seru Laura seraya berdiri tak terima karena dituduh seperti itu.
Keterkejutan Laura membuat Asher mendengus. "Kau tidak tahu kalau kau sedang mengandung? Atau pura-pura tidak tahu agar tidak disalahkan karena telah memanipulasi data pribadimu?" cibir Asher.
Pelipis Laura kembali berdenyut hebat. Dia merasa sangat pusing.
'Aku sungguh hamil …?' Laura menatap dokumen di atas meja. 'Di perutku ... ada janin pria ini?' Manik biru Laura menatap nanar Asher.
Selagi Laura masih terkejut dengan kenyataan baru yang dia dapatkan, Asher sedang menerka-nerka kebenaran dari pernyataan Laura. Di satu sisi, Asher tak dapat menemukan kebohongan dari gelagat Laura. Namun, di sisi lain, Asher juga teringat perbuatan Laura yang diam-diam hampir mencuri kalungnya.
Wanita ini … adalah masalah.
"Keluar," perintah Asher, membuat Laura tersentak. "Aku tidak ingin memiliki karyawan yang mengancam reputasiku dan perusahaan."
Wajah Laura memucat mendengar ucapan pria tersebut. Dia tidak bisa kehilangan pekerjaannya!
Bukan hanya karena tidak yakin bisa mendapatkan pekerjaan lain, tapi Laura khawatir Alan dan Emma akan kecewa padanya jika dirinya dipecat setelah bekerja hanya beberapa hari!
Selain itu ….
Laura menundukkan pandangan pada perutnya yang masih rata.
Kalau dirinya tidak ada pekerjaan, bagaimana dengan bayi ini?
Melihat Laura diam saja di tempat, Asher mengernyitkan dahi. "Apa kau tidak dengar yang kuucapkan? Kubilang kelu–"
BRUK!
Laura yang tiba-tiba berlutut di depan Asher membuat pria itu tersentak dan menghentikan ucapannya.
"Apa yang kau–"
"Tuan, saya mohon …." Laura tidak lagi peduli jika apa yang sekarang dilakukan sangat memalukan dan merendahkan harga dirinya. "Tolong jangan pecat saya. Saya tidak pernah berniat untuk membohongi Anda, Tuan. Saya bahkan tidak tahu jika saya sedang mengandung," ucap Laura dengan berlinang air mata.
"Tidak tahu?" Alis Asher tertaut. Apa maksudnya wanita itu tidak tahu?
Laura mengepalkan tangan, kepalanya tertunduk selagi dia menggigit bibirnya.
Bagaimana ini? Apa dia harus mengaku kepada Asher tentang bayi dalam kandungannya?
Akan tetapi, bagaimana kalau pria itu memang sering melakukannya dengan banyak wanita dan Laura hanya salah satu di antara mereka? Apakah Asher akan peduli padanya?
Atau jangan-jangan, pria itu malah akan meminta Laura menggugurkan kandungannya!? Tapi … bayi itu tidak bersalah!
Dengan semua ketakutan dan pikiran buruknya, Laura pun hanya bisa berkata, "S-saya ... diperkosa, Tuan."
7. Batas Kebohongan
Hening. Tidak ada yang bersuara.
Laura mengangkat pandangan, lalu melihat wajah Asher tampak kebingungan.
"Diperkosa?"
Laura tidak bohong. Dirinya memang tak berdaya di kala Asher merudapaksa dirinya. Hanya saja, pria itu tak mengenalinya … atau bahkan tidak peduli.
Dengan air mata yang mengalir turun menuruni wajahnya, Laura pun mulai bercerita, "Ya … saya diperkosa … dan itulah yang membuat saya ditendang keluar dari keluarga saya tanpa harta apa pun." Dia bersujud di hadapan Asher. "Saya tinggal di kediaman teman saya, tapi tidak bisa untuk waktu yang lama. Itulah alasan saya berusaha mencuri kalung itu, untuk mendapatkan uang dengan lebih cepat!"
Laura tidak berbohong, tapi juga tidak sepenuhnya jujur. Dia memang diperkosa oleh Asher, juga ditendang keluar oleh Simon. Hanya saja, mengenai alasan dirinya mencuri, itu adalah sebuah kebohongan besar.
Asher menatap bagaimana tubuh Laura bergetar selagi bersujud di hadapannya. Sepasang manik hitamnya mempelajari setiap gerak-gerik Laura, terlebih makna dari pancaran mata wanita tersebut saat tadi menatapnya.
Tepat pada saat itu, Laura mengangkat kepalanya. "Saya mohon Tuan, jangan pecat saya …," pintanya. "Berikan saya satu kesempatan lagi …."
Sepasang manik biru wanita itu membuat sesuatu dalam diri Asher bergejolak, terlebih air mata yang mengalir menuruni wajahnya. Entah kenapa … ada tarikan dari netra indah sebiru lautan itu.
"Bangun."
Mendengar ucapan itu, Laura membeku. "Tuan?" Dia melihat pria itu menghela napas kasar.
"Jangan bersujud padaku," ucap Asher dengan wajah dingin seperti biasa. "Aku tidak perlu sujudmu."
Laura pun mengusap air matanya, lalu berdiri mengikuti perintah Asher.
"Aku tidak peduli dengan apa yang telah terjadi padamu," ujar pria itu, membuat Laura merasa usahanya untuk menjelaskan sudah sia-sia. Namun, Laura tak menyangka Asher akan melanjutkan, "Satu kali."
Laura mengerjapkan mata, tampak bingung.
Satu kali?
Asher menjelaskan, "Satu kali kesempatan kuberikan. Kalau ada kesalahan lagi, segera tinggalkan perusahaan ini."
Mendengar ucapan Asher, mata Laura kembali berkaca-kaca. Ada rasa syukur yang mendalam di hatinya.
"Terima kasih, Tuan Asher! Terima kasih!" Wanita itu membungkuk beberapa kali membuat Asher memalingkan wajah.
"Pergi kalau tidak ada masalah lain."
"S-saya mengerti!"
Melihat kepergian Laura, Asher terdiam di tempatnya. Wajahnya tampak kesulitan, seakan tak menyangka dirinya bisa berbuat baik kepada orang lain. Namun, tanpa mengatakan apa pun, dia menutup mata.
‘Manik biru itu … membuatku gila ….’
***
Satu minggu berlalu sejak Laura diketahui mengandung. Akan tetapi, tidak ada satu pun orang dari Keluarga Ruiz yang tahu mengenai hal ini.
Laura sebenarnya ingin menceritakan kegelisahan tentang kehamilannya kepada Emma. Tetapi, Laura tahu bahwa Emma bisa-bisa mengamuk dan mendatangi tempat kerja Laura untuk menuntut Asher saat tahu mengenai hal itu.
Alhasil, selain Laura, Asher, dokter rumah sakit, dan juga Theo yang mengantarkan surat laporan tes kehamilan, tidak ada lagi orang lain yang tahu perihal kehamilan tersebut.
"Bawakan semua laporan kemari," perintah Asher saat baru saja datang dan melewati meja Laura.
"Baik, Pak," jawab Laura seraya membawa berkas yang dimaksud dan segera mengikuti Asher.
Pekerjaan Laura sejauh ini cukup baik, dan walau Asher tidak mengatakannya, pria itu juga mengakui bahwa kinerja wanita itu memuaskan. Sampai saat ini, tak ada sedikit pun niat bagi Asher untuk memecat wanita tersebut. Pria itu bahkan memberikan gaji Laura bulan itu lebih awal dengan peringatan wanita tersebut tidak boleh lagi mencuri.
Di siang yang tenang itu, Laura mendengar Theo memberitahukan Asher perihal sebuah pertemuan. "Tuan Myers sudah ada di lantai dasar, Tuan."
'Myers?' Laura tampak kaget mendengar nama itu. Itu merupakan nama belakang Noah.
Namun, keterkejutan itu tidak bertahan lama. Laura menggeleng pelan, 'Apa yang kau kagetkan Laura, ada banyak yang memiliki nama belakang itu.' Dia melanjutkan dalam hati, 'Lagi pula, aku belum pernah mendengar Keluarga Myers menjalin kerja sama dengan perusahaan Smith.'
"Nona Laura." Suara Asher yang memanggil Laura menyentak wanita tersebut dari lamunannya. Melirik Asher, pria itu menambahkan, "Ikut."
"B-baik, Tuan!"
Laura berlari kecil menyusul Asher dan Theo. Meskipun sempat gugup saat mendengar nama itu, Laura tak ingin merusak konsentrasinya. Dia harus tetap profesional.
Namun, kala Theo membuka pintu dan mereka masuk ke dalam ruangan, langkah Laura sontak terhenti. Hal itu terjadi bersamaan dengan sepasang netra cokelat yang mendarat kepada dirinya dengan ekspresi terkejut.
"Laura …?"
Di sana, berdirilah seorang pria dengan jas berwarna biru gelap dengan wajah tampan yang lembut.
Dalam hati, Laura tak elak mengucapkan nama pria itu dengan lembut, 'Noah ….'
Ya, pria itu adalah mantan tunangan Laura, Noah Myers.
Kenapa … kenapa pria itu bisa ada di sini?!
Selagi Laura dan Noah saling bersitatap, sebuah suara lain yang familier terdengar memanggilnya, "Kak Laura?"
Laura pun menoleh kepada sosok yang berdiri di sebelah Noah.
Detik itu juga, dunia Laura terasa berhenti.
Itu … adalah Nora.
8. Bertemu Masa Lalu
Selagi ketiga orang itu saling bertatapan dengan kaget, Asher mengerutkan keningnya dengan bingung. "Kalian saling mengenal?"
Pertanyaan Asher mengalihkan fokus semua orang.
Laura terlihat sedikit canggung. "Ah … ya, saya–"
Belum sempat Laura selesai menjawab, Nora langsung buru-buru berkata, "Kami kenalan lama!" Dia menatap Laura dan memberikan pandangan penuh makna. "Laura adalah mantan karyawan perusahaan keluarga saya."
Ucapan Nora sukses membuat Laura dan Noah mengerutkan kening. Kenalan lama? Mereka adalah kakak-adik!
Di tempatnya, Noah menatap Nora dengan ekspresi keruh. "Nora, kamu–"
"Kak Noah …," panggil Nora dengan suara rendah. Pandangan gadis itu tampak menegaskan sesuatu seiring dirinya berucap dengan suara yang hanya bisa didengar Noah. "Jangan mempersulit keadaan."
Kalimat Nora membuat Noah bungkam, paham bahwa gadis itu sedang memperingatkan bahwa situasi Laura sudah cukup rumit. Simon sudah menghapusnya dari daftar keluarga, jadi tak ada yang boleh mengungkit latar belakang Laura sebagai Laura Hartley!
Di tempatnya, Laura hanya tersenyum pahit, terutama melihat kedekatan Nora dan Noah.
Asher sendiri tampak curiga, tapi memutuskan menepiskan hal tersebut karena tak ingin terlalu peduli dengan masa lalu karyawannya. "Begitukah?"
Nora tersenyum. "Kalau tidak keberatan, saya ingin bicara sebentar dengannya."
Entah kenapa, gerak-gerik Nora membuat Asher sedikit jengkel. Baru juga masuk dan belum memperkenalkan diri, tapi wanita itu sudah berani meminjam sekretarisnya. Namun, mengingat wanita itu adalah calon istri Noah Myers, dia pun menganggukkan kepala.
"Lima belas menit," titah Asher dingin sebelum lanjut berjalan dan duduk di sofa yang berada di seberang daerah Noah duduk tadi.
Nora lantas menarik tangan Laura setelah Asher mengizinkannya.
Setelah sampai di luar, Nora memastikan tak ada orang yang ada di sekitar mereka. Nora langsung memeluk Laura.
"Kakak, bagaimana kabarmu …?" Gadis itu melepaskan pelukannya kepada sang kakak. "Aku sangat mengkhawatirkanmu!"
Melihat raut wajah sedih dan penuh penyesalan adik tirinya, Laura merasa serba salah. Bagaimanapun, wanita itu masih menyimpan kebencian atas kejadian yang menimpa dirinya akibat kelalaian sang adik.
Selain itu, kalau Nora sungguh khawatir, kenapa tidak ada satu pun telepon yang Laura terima dari gadis itu sejak kejadian sampai sekarang!?
"Aku baik-baik saja …," jawab Laura singkat.
Ada banyak pertanyaan yang ingin Laura ajukan pada Nora, tapi sekarang rasanya sudah percuma. Dia tak ingin tahu lagi lantaran tak ada gunanya.
Karena Laura tak berbicara, mata Nora pun berkaca-kaca. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya dan mulai menangis.
"Kakak pasti membenciku setelah semua yang terjadi …," ujar Nora membuat Laura terkejut, menjadi semakin serba salah. "Maafkan aku, Kak. Maafkan aku …."
Tangisan Nora membuat sejumlah orang yang baru saja lewat di tempat tersebut melirik dirinya dan Laura. Mereka bahkan tak segan melemparkan wajah tak suka kepada Laura karena mengira wanita itu membuat seseorang menangis.
Dengan senyuman yang dipaksakan, Laura berkata, "Nora, Nora … Kakak tidak membencimu."
Hati Laura sedikit sakit mengatakan hal itu, karena jauh di lubuk hatinya yang terdalam, sebenarnya ada rasa benci yang tersimpan untuk Nora atas bencana yang menimpanya. Namun, dirinya harus menerima kenyataan kejadian malam itu juga terjadi karena kelalaiannya sendiri.
"Sungguh?" Nora mengangkat kepala dan menatap Laura. Melihat kakaknya itu mengangguk, Nora pun tersenyum. "Bagus kalau begitu, aku pikir Kakak akan menyalahkanku karena berakhir menggantikanmu untuk menikahi Noah. Padahal, itu adalah keputusan Papa dan Keluarga Myers! Karena Kak Noah juga setuju, aku juga tidak bisa apa-apa!"
Penjelasan Nora membuat dada Laura gak sesak. 'Ah … jadi … Noah juga setuju.'
Kesedihan di wajah Laura membuat Nora tersenyum. 'Lihat wajahnya … sungguh memuaskan,' batinnya melihat kakak tirinya itu tersiksa.
Dengan senyuman yang semakin dipaksakan, Laura berkata, "Aku tidak masalah. Semoga semuanya lancar sampai acara pernikahan."
Mendengar hal itu, Nora pun tersenyum haru. Kemudian, gadis itu pun melontarkan pertanyaan yang menjadi tujuan utamanya menarik Laura keluar dari ruangan itu, "Kenapa Kakak bisa di sini?"
Laura menjawab dengan senyuman tipis, "Bekerja. Aku adalah sekretaris Tuan Asher."
Sedetik setelah menjawab pertanyaan Nora, Laura melihat wajah adiknya itu berubah agak keruh bercampur khawatir.
"Kakak, aku rasa tidak baik Kakak bekerja di sini. Bagaimana kalau Kakak bertemu dengan anggota Keluarga Myers yang lain dan mereka mencaci Kakak?"
Pertanyaan Nora membuat Laura bingung. "Apa maksudmu?"
Mata Nora membesar. "Kakak tidak tahu? Asher Smith adalah paman Kak Noah."
Laura terbelalak di tempat. "Apa?"
***
"Jadi, apa yang akan kau gunakan untuk bahan dasar dari desain perhiasan itu?" tanya Asher kepada Noah yang terduduk di depannya.
Satu detik, dua detik, lima detik. Tak ada jawaban.
Asher mengangkat pandangan dari desain di tangan dan menyadari pandangan Noah terpaku pada pintu yang tertutup. Hal itu membuat Asher memicingkan matanya.
Sedari awal Noah bertemu dengan Laura, keponakan Asher itu tampak tak bisa fokus sepenuhnya dengan pekerjaan di depan mata. Terlebih sejak Laura pergi keluar ruangan bersama Nora, Noah sudah sepuluh kali melemparkan pandangan ke arah pintu!
Menyadari ada yang salah, Asher pun menutup dokumen di tangan dan memanggil, "Noah." Masih tidak dijawab. "Noah!"
Bentakan Asher membuat Noah tersentak dan mengalihkan pandangan kepada sang paman. "Y-ya, Paman Asher?"
"Ada apa denganmu?"
Sadar dirinya melamun, Noah langsung membenarkan posisi duduknya. "M-maaf, aku sepertinya agak lelah."
Kalimat Noah membuat Asher mendengus. "Jangan berbohong padaku. Selain ibumu, aku adalah orang kedua yang paling mengenalmu," tegasnya. Sembari menyandarkan punggungnya dan menatap lurus mata keponakannya, Asher pun bertanya, "Kenapa kau terlihat begitu terganggu?"
Noah pun menghela napas kasar karena dicecar oleh sang paman. Dia menyisir rambutnya ke belakang dan berkata dengan frustrasi, "Bagaimana aku tidak terganggu, Paman?" Pemuda tampan itu menjelaskan dengan wajah pahit. "Bertemu dengan mantan tunangan yang mengkhianatiku dua minggu sebelum pernikahan, bagaimana mungkin aku bisa tenang?"
Sontak, wajah Asher berubah keruh. "Apa katamu?"
Pandangan Noah terarah pada Asher, bingung karena pamannya itu tampak tidak mengetahui hubungan dirinya dan Laura. "Paman … sekretaris Paman itu adalah mantan tunanganku, Laura Hartley!"
Anda Mungkin Juga Suka





