
Ganjaran Nafsu
Bab 3
“Arrgghh! Hantu! Hantu!”
Ketika Leon dan Wilbert melihat senyum anehku ini, mereka langsung ketakutan.
Namun beberapa saat kemudian, mereka mulai menggaruk tubuh mereka lagi.
Tak berapa lama kemudian, mereka berdua pun berdarah- darah, tanpa sepotong kulit yang utuh di tubuh mereka.
Aku sangat puas melihat keadaan mereka yang menyedihkan.
Inilah ganjaran mereka setelah berhari-hari melecehkan tubuhku.
Meskipun perilaku mereka aneh, aku tidak berdampak sama sekali. Aku saja masih bisa bertahan dalam keadaan demikian, maka tak heran lagi dengan keadaan mereka.
Teriakan Leon dan Wilbert menarik perhatian orang-orang desa.
Ketika mereka datang untuk memeriksa, mereka melihat dua gumpalan sosok manusia berdarah di lantai.
Semua orang terkejut dan segera berlari keluar.
“Waduh! Apakah itu Leon dan Wilbert?”
“Dari pakaiannya sepertinya iya!”
“Bagaimana mereka bisa menjadi seperti ini?”
“Rasain, pasti dapat ganjaran itu! Sudah berapa banyak kuburan yang mereka gerebek? Mereka mungkin dihantui.”
Mendengar kata-kata itu, wajah para penduduk desa menjadi semakin takut.
“Mau ngapain, untuk apa kalian semua berkumpul di sini?”
Seorang pria paruh baya mendorong masuk ke dalam kerumunan.
“Kepala Desa!”
“Kepala Desa, Leon dan Wilbert dibunuh oleh hantu!”
Kepala desa langsung mengumpat, “Omong kosong! Mana ada hantu di siang bolong gini?”
Dia berjalan menuju rumah.
Aku menatapnya dengan ironis, dan melihat dengan jelas ekspresi ngeri di wajahnya.
Dia memaksakan diri untuk tenang, pandangannya menyapu sekilas kamar dan melihat aku terbaring di tempat tidur.
Matanya langsung berbinar.
Aku melihat nafsu di matanya sama seperti saat Leon dan Wilbert menatapku.
Aku tersenyum sinis.
“Nona?”
Kepala desa melangkahi tubuh Leon dan Wilbert dan menghampiriku.
Aku hanya bisa menggerakkan jari dan ekspresi wajahku sekarang, masih tidak dapat berbicara, jadi aku hanya mengedipkan mata padanya.
“Bisu?” Mata kepala desa berbinar sejenak lalu dia berteriak, “Suruh dua wanita kemari! Sambil bawakan satu setel pakaian lagi!”
Penduduk desa di luar juga melihat aku terbaring di tempat tidur, masing-masing dengan ekspresi terobsesi di wajah mereka.
Ekspresi kepala desa menjadi muram lalu dia keluar dan mengusir semua orang.
Tak lama kemudian, dua orang wanita masuk, mengganti pakaianku dan menggendongku ke rumah kepala desa.
“Nak! Nak! Keluarlah, Ayah telah mendapatkan istri untukmu!”
Kepala desa berteriak begitu dia memasuki rumah.
“Haha, ... istri! Istri!”
Tak lama kemudian, seorang pria jangkung muncul di depanku.
Dia terlihat seperti orang bodoh dengan tatapan kusam dan ingus serta air liur di wajahnya.
Dia terkikik dan bergerak ke arahku.
“Nak, jangan terburu-buru, tunggu aku adakan upacara nikah untukmu dulu.” Kepala desa tersenyum sambil membujuk putranya yang bodoh itu.
Dia memanggil istrinya untuk memandikanku, lalu mengganti pakaianku dengan satu set pakaian pengantin berwarna merah.
Aku tak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku saat melihat pantulan diriku yang mengenakan pakaian pengantin di cermin.
Aku tidak menyangka bahwa pertama kali aku mengenakan pakaian ini adalah setelah aku mati dan untuk menikah dengan orang bodoh.
Semua orang desa segera mengetahui kalau putra kepala desa akan menikah.
Semua penduduk desa datang ke rumah kepala desa untuk melihat siapa yang menikahi putra kepala desa yang bodoh itu.
Malam itu, aku dibawa ke aula oleh istri kepala desa untuk menjalankan upacara nikah bersama putranya yang bodoh.
Aku seperti boneka yang dikendalikan orang dengan seenaknya.
Tak lama kemudian, upacara pernikahan pun selesai.
Penduduk desa mulai berteriak-teriak ingin melihat seperti apa pengantin wanita itu.
Kepala desa tertawa dan mengangkat tudung merah di kepalaku, “Lihat! Cantik sekali, kan?”
Ketika penduduk desa melihat wajahku, mereka semua tercengang.
Tapi ada juga penduduk desa yang menunjukkan ekspresi aneh, mereka adalah penduduk desa yang pergi ke rumah Leon pada siang hari tadi.
Melihat reaksi semua orang, kepala desa tertawa puas dan membawaku ke dalam kamar bersama putranya yang bodoh.
Aku kira aku akan dilecehkan oleh putra bodoh ini, tapi di luar dugaanku, orang yang terlebih dahulu melecehkanku adalah ayahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





