
GAIRAH TERLARANG KAKAK IPAR
Bab 3
Semua saling bersenda gurau diruang keluarga. Renata membawakan teh dan beberapa camilan untuk menemani waktu bersantai mereka. "Wah, kenapa repot-repot? Ayo duduk sini Re!" ucap sang mama mertua. "Tidak repot kok ma," Renata menata cangkir teh satu persatu diatas meja beserta camilannya. Renata duduk disebelah Adi. Namun Adi terlihat menghindar. Rio berjalan dari belakang untuk menyusul. Ia melihat semua itu dan semakin yakin bahwa, mereka ada sesuatu yang disembunyikan dan ditutup-tutupi, karena mereka tidak terlihat romantis sedikitpun. Tidak lama kemudian, ponsel Adi berdering. Ia pergi untuk menjawab telepon tersebut. "Maaf semuanya, aku angkat telepon sebentar ya!" Adi beranjak dan pergi tanpa mendapat jawaban dari siapapun di ruang tamu tersebut. "Hmm, si Adi itu sangat gila kerja. Dirumah saja masih terus menjawab panggilan. Entah dari klien atau dari rekan kerjanya." tutur nyonya Andrea. "Mirip denganmu yang selalu profesional dalam bekerja." balas tuan Hilman. Terlihat keromantisan dari mereka, meskipun sudah berumur sekitar 45 tahun lebih, mereka masih tetap harmonis seperti pasangan yang baru saja menikah. Wajah dan postur mereka bahkan masih seperti berusia 30 tahunan. Masih fresh dan segar. Renata termenung. Ia tahu pasti sebentar lagi, Adi akan pergi dan dia akan tidur sendirian lagi. Seharusnya dia tidak kaget, karena setiap malam selalu seperti itu. "Ma, pa, maaf. Adi harus pergi!" terang Adi sambil berjalan kearah semua orang dan memasukkan ponsel kedalam saku celananya. "Kamu tu ya, orang tua main kesini malah ditinggal pergi." ucap nyonya Andrea.
"Maaf ma, tapi ini dari rekan kerjaku. Ada sedikit pekerjaan dikantor yang harus disiapkan untuk besok. Besok akan ada kunjungan klien dari Australia." jelas Adi.
"Ini sudah jam 20.00 malam di, kamu masih mau pergi? Kenapa tidak biarkan asisten atau sekretarismu saja yang menyiapkannya, kamu tinggal dirumah!" tuan Hilman memberi saran.
"Tidak bisa pa, ini klien besar. Aku harus tahu dan mengerti, aku tidak mau ada kesalahan sedikitpun. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Maaf ya ma, pa!" Adi mencium kedua pipi dan tangan kedua orang tuanya. Kemudian pamit dengan kakaknya yang berdiri dibelakangnya. "Maaf ya bang, Abang bisa tidur dikamar tamu nanti. Tinggal dulu ya bang!" pamitnya pada kakaknya.
"Hm, hati-hati. Kita tidak jadi main catur dan lainnya?" goda Rio.
"Haha, lain kali aja ya bang. Abang akan lama di Indonesia, aku akan main ke apartemen abang. Sudah ya semua, aku udah ditunggu." Kemudian Adi langsung menyabet jaket dan kunci mobil, kemudian benar-benar pergi. "Hmm dasar, benar-benar mirip sepertimu Andrea, sangat pekerja keras. Sampai-sampai tidak memperdulikan keluarga." ucap tuan Hilman sambil menggelengkan kepalanya. "Iya, dia memang mirip denganku." ucap nyonya Andrea. Renata terdiam. Hanya dia yang tidak dicium Adi. Seharusnya pamit kepada istri minimal cium pipi atau kening, tapi ini tidak. "Re? Memang Adi selalu pergi seperti ini?" tanya nyonya Andrea.
"Tidak ma, mas Adi juga selalu dirumah, kadang-kadang aja pergi malam." jawab nyonya Andrea.
"Hmm, syukurlah. Kasihan jika kamu selalu ditinggal tiap malam." ucap tuan Hilman.
"Rio?" kenapa kamu hanya berdiri saja? Kenapa tidak duduk? Pantatmu sakit?" seloroh tuan Hilman.
"Tidak. Ini baru mau duduk." Rio berjalan kemudian duduk disebelah Renata. Tercium bau harum maskulin dari tubuh Rio, yang membuat tubuh Renata tiba-tiba berdesir. Ingin rasanya memeluk tubuh gagah itu. Tubuh Rio lebih gagah dari Adi. Lengan yang kekar tercetak jelas dibalik kaos hitam yang ia kenakan. Belum lagi urat-urat yang meliuk-liuk ditangan dan jari-jarinya. Kalau penampilan luarnya saja begitu bagaimana penampilan dalamnya. Juga terlihat jelas bagian menonjol yang diapit selangkangan. Pasti memiliki ukuran yang tidak biasa. Renata menggelengkan kepalanya cepat. Ia menampik pikiran kotornya dari sang kakak ipar. Bisa-bisanya dia membayangkan hal yang tidak jelas dan jorok tentang kakaknya.
"Hah, aku mungkin sudah gila," batinnya.
"Ma, sudah malam. Kita pulang saja, besok kita harus bangun pagi dan mulai perjalanan." ajak tuan Hilman.
"Betul pa, mama juga sudah lelah ingin segera tidur." tanggap nyonya Andrea.
"Kamu jadi menginap disini kan Rio?" tanya nyonya Andrea.
"Jadi ma, apartemenku belum begitu siap malam ini, aku akan kesana besok. Lagipula semua barang-barangku sedang dipindahkan ke apartemen juga, jadi aku tidak mau tinggal di tempat yang belum siap ku huni." jawab Rio. "Baiklah, kalau begitu kita pergi dulu ya!" kemudian mereka berdua berdiri dan saling mencium pipi satu sama lain.
"Seharusnya mama dan papa, menginap disini saja, besok juga bisa berangkat ke Bandung dari sini." ucap Renata yang kesepian ditinggal sang mama. Meskipun hanya mama mertua, namun Renata sangat dekat melebihi mama kandung.
"Maafin mama ya, mungkin lain kali. Barang-barang kita ada dirumah. Kami tidak mau tergesa-gesa. Ya sudah kita pergi dulu, see you!" Renata dan Rio mengantar orang tuanya sampai didepan mobil mereka. Dan masuk kembali ketika mobil orang tuanya sudah menghilang dibalik gerbang.
***
Renata dan Rio bersama menaiki tangga. Renata menunjukkan kamar Rio yang memang ada disebelahnya. Karena perintah Adi yang meminta Renata untuk menyiapkan kamar abangnya disebelah kamar mereka. "Bang, ini kamar Abang. Selamat beristirahat. Aku pergi dulu," ucap Renata kemudian pergi tanpa menunggu jawaban dari Rio. Rio hanya mengangguk dan merebahkan dirinya di ranjang empuk. Renata pergi ke kamarnya dan berganti baju tidur mini. Siapa tahu Adi akan segera pulang dan akan terjadi sesuatu di malam ini, karena Renata benar-benar sudah ingin sekali malam ini. Ia memakai celana tipis berbahan katun dan baju tidur berbahan katun juga. Sehingga tercetak jelas bukit kembarnya yang super dupper besar.
"Kenapa sih, mas Adi tidak mau denganku? Apakah aku kurang cantik? Kurang s3xy? Kurang menggoda baginya?" gumamnya pelan. Kemudian ia memejamkan matanya sambil mendongak keatas. Ia membayangkan dirinya dan Adi tengah b3rc*nta. Ia membuka kaitan kancing baju secara perlahan secara sensual dan memainkan puncak bukit kembarnya. "Aaahhh ... sssshhh," lenguhnya sambil tubuhnya menggelinjang seperti cacing kepanasan.
"Iya mas, disana aahhh," d3sah Renata memenuhi ruangan. Tangannya pun terus mencubit dan memilin puncak bukit besarnya hingga mengeras, sambil satu tangannya ia gunakan untuk memainkan liang kenikmat4nnya yang sudah basah.
"Aahhh mas Adi, terus masss ... Aaahhhh ...."
***
Di ruang kamar sebelah, Rio kembali terbangun. Saking lelahnya ia sampai ketiduran dengan cepat. Ia memutuskan untuk pergi ke dapur karena lupa membawa air minum sehingga tenggorokannya terasa sangat kering. "Hah, malas sekali jika harus turun kebawah. Tapi mau gimana lagi, disini gak ada air minum." gerutunya malas sambil mengusap wajahnya kasar, untuk menghilangkan rasa kantuknya. Akhirnya, dengan berat ia bangkit untuk menuju dapur. Namun di depan kamar sang adik ipar, samar-samar ia mendengar des4han nikmat yang terdengar dari dalam kamar. Ia tersenyum smirk, ia berpikir mungkin adiknya sedang menghajar istrinya, hingga menuju puncak. Terbukti dengan des4han yang terdengar, tidak ada henti-hentinya. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dan memilih untuk tidak memperdulikannya. Namun baru beberapa langkah, ia tersadar. "Tunggu dulu! Adi kan tidak ada dirumah. Jika Adi tidak ada dirumah, lalu istrinya main sama siapa?" Kemudian Rio kembali kekamar sang adik. Memang ia tertarik dengan istri adiknya, tetapi jika istri adiknya itu membawa pria lain, ia juga tidak terima. Kebetulan pintunya juga terbuka sedikit, membuatnya sedikit leluasa untuk mengintip. Namun, alangkah terkejutnya dia melihat istri adiknya tengah asik bermain single tanpa partner. Rio bisa melihat keseluruhan tubuh molek itu yang hanya terbalut baju tidur tipis yang kancingnya sudah terbuka semuanya. Renata sudah tidak memakai celana, dan hanya polos tidak memakai apapun. Rio dibuat terkesima melihat liang kenikm4tan sang adik ter ekspose bebas. Terlihat lembab, kemerahan dan berair. Mungkin karena aktifitasnya yang panas, yang sedikit memunculkan cairan kenikm4tan. "Damn, d-dia ...?" Rio meneguk salivanya dengan susah payah. Ia merasakan juniornya sudah semakin sesak dibawah sana yang meronta untuk segera dilepaskan. Setelah ia merasa tidak tahan lagi, ia menutup pintunya pelan-pelan dan cepat pergi kedapur kemudian kembali kekamar.
***
Rio berlari menuju kamarnya. Ia memilih untuk mengambil satu botol air mineral dan segera membawanya kekamar untuk persediaan. Ia langsung pergi kekamar mandi untuk menuntaskan hasr4tnya. Karena keinginannya sudah sampai diujung, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeluarkan lahar panasnya.
" hah ... hah ... hah, d4mn Renata, gara-gara dia, aku harus membuang milikku dengan percuma." dengan terengah ia bersandar di dinding kamar mandi dan membersihkan cairannya yang masih menempel di juniornya, juga yang bercecer dikamar mandi. Dengan lemas ia berjalan menuju ranjangnya. "Hah ... sial, kenapa bayangan Renata selalu berputar-putar di otakku. Tubuhnya benar-benar indah. Shit! Aku sudah gila, jika benar-benar menginginkan istri dari adikku sendiri," gumamnya pelan. Kemudian ia memilih untuk tidur, karena ini sudah sangat larut. Besok dia harus kembali ke apartemen untuk menata segala sesuatunya untuk ia tinggali selama di Indonesia.
***
Pagi menjelang, Rio baru terbangun dari tidurnya. Pikirannya masih tentang Renata yang sangat mempesona.
"Hah, si4l. Aku jadi tidak terlalu bisa tidur semalam." Rio memutuskan untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya. Sementara itu, Renata dan bik Inah sedang memasak di dapur. Sesuai dugaannya Adi tidak pulang semalam. Alhasil ia tetap tidur sendiri seperti biasanya.
"Non ini sayurnya,"
"Terimakasih bik. Oh iya, mas Adi apa telepon ke rumah bik? Dia tidak menghubungiku sejak semalam," tanya Renata.
"Maaf non, tidak." jawab bik Inah singkat. Ia merasa iba kepada Renata yang selalu ditinggal sendirian.
"Baiklah, aku akan ke atas memanggil bang Rio untuk sarapan." hela Renata kemudian pergi begitu saja. "Hah, kasihan sekali non Renata. Wanita secantik itu selalu sendirian setiap malam. Apa dia tidak kesepian?" ucap Budi yang tiba-tiba berada dibelakang bik Inah. "Sontoloyo. Uwong kok koyo setan. Tiba-tiba Ono tiba-tiba ngilang, jiambul!" racau bik Inah yang memang khas dengan logat jawanya. "Esok-esok kok yo wes nesu-nesu to bulik, aku gur ngomong biasa lho." jawab Budi seorang tukang kebun yang tidak lain adalah keponakan bik Inah. Mereka merantau dari solo Jawa tengah ke Jakarta untuk bekerja. "Matamu. Yo gek ndang sarapan kono. Gek kerjo seng tenan, ojo luntang luntung koyo gombal amoh." sarkas bik Inah. Budi hanya bisa menghela nafas pasrah, memang beginilah disetiap harinya. Tidak lepas dari amukan sang bibi yang sebenarnya sangat menyayanginya.
***
Renata berjalan menuju kamar kakak iparnya. Ia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban. Sehingga ia memutuskan untuk masuk kedalam kamar saja untuk mencari keberadaan Rio.
"Bang? Dimana? Waktunya sarapan!" Panggil Renata namun tetap tidak ada jawaban. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka menampilkan Rio yang hanya memakai bawahan handuk yang melingkar di pinggangnya. Renata terbelalak melihat Rio, begitu juga Rio yang terkejut karena Renata ada dikamarnya. "Aaarrhhgghh, m-maaf a-aku tidak sengaja masuk." teriak Renata sambil menutup kedua mukanya dengan kedua tangannya. Rio yang terkejut langsung mendekati Renata dan membungkam mulutnya, sehingga mereka kini semakin dekat.
"Sssttt, jangan berteriak! Nanti orang-orang akan menyongsong kita kesini, dikira aku berbuat buruk kepadamu." ucap Rio. Renata membuka matanya dan hanya mengangguk. Bau harum dari sabun dan wajah Rio yang sangat tampan dilihat dari dekat membuatnya ketar-ketir. Mereka berdua saling beradu pandang dan perlahan Rio melepaskan pelukannya dari Renata.
"Ada apa? Kenapa kamu kekamarku?" tanya Rio pada Renata. Renata seketika tersadar dari lamunannya.
"Ah, i-ini, aku ingin menyampaikan pada Abang kalau sarapan sudah siap." terang Renata.
"Oh begitu, oke. Nanti aku akan turun. Aku akan berpakaian dulu," sahut Rio.
"B-baik. A-aku akan turun duluan." tetapi sebelum Renata pergi, Rio mencekal tangannya sehingga membuat langkah Renata terhenti. "E-eh,"
"Kenapa kamu tidak menungguku sampai selesai berpakaian?" desis Rio disamping telinga Renata yang memunculkan sensasi geli dan berdesir secara bersamaan.
"Aku tahu kamu sangat kesepian. Adi tidak pernah menyentuhmu kan? Jadi kamu butuh seorang pria untuk menghangatkanmu setiap malam," goda Rio.
"A-apa? Jangan sembarangan ya bang! Aku ti-" "Aku melihatmu bermain sendirian tadi malam. Seandainya kamu memintaku mungkin aku akan memu4skanmu sampai kamu meminta ampun padaku dan lemas." terang Rio.
Deg, Renata terbelalak mendengar penuturan Rio. Rio kembali mendekati Renata dan mengusap pundaknya.
"Kamu cantik Re, sayang banget kecantikanmu hanya di anggurin begitu aja." Rio meniup telinga dan menj*l4tnya dengan pelan untuk membuat Renata merinding. "Re?"
"A-aku ...."
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





