
Gairah Nakal Sang Billionaire
Bab 2
Bunyi alarm dari ponsel Raisa memaksa Raisa yang masih mengantuk untuk meraihnya dan mematikannya karena Raisa masih enggan untuk bangun pagi ini.
Seluruh tubuh yang sakit dan kepala yang pusing, membuat Raisa ingin sedikit lebih lama lagi terpejam.
Ia meraba-raba untuk mendapatkan ponselnya yang terus berbunyi. Tapi tak sengaja tangannya malah justru menyentuh tangan seseorang yang saat ini tengah tertidur di sampingnya dengan tangan yang melingkar di perutnya.
Tentu hal itu membuat Raisa merasa sangat terkejut. Ia tak berani membuka matanya. Ia terlalu takut jika yang saat ini sedang tidur dengannya itu adalah pria botak yang semalam sudah memberinya obat agar Raisa menjadi buas dan liar.
“Ini mimpi Raisa! Percayalah kalau ini hanya mimpi!” Raisa mencoba untuk meyakinkan dirinya kalau apa yang saat ini terjadi padanya adalah mimpi.
Tapi percuma, sehebat apa pun Raisa memaksa dirinya untuk terpejam. Sekuat apa pun Raisa mencoba untuk membiarkan mimpi kembali menyapanya –kenyataan saat ini ada pria asing yang tidur di sampingnya itu tak bisa ia lupakan dan tak bisa ia hindari.
Dengan sangat pelan ia membuka matanya dan mengerjapkannya. Ia edarkan mata bulatnya ke sekeliling kamar. Mencari tahu di mana sekarang ia berada.
“Ya Tuhan ini adalah kamar yang sama seperti kamar yang semalam! Apa mungkin aku berhasil kembali ditangkap oleh si pria botak itu?” pikir Raisa meringis pilu.
Setelah mengira kalau dirinya kembali ke kamar yang sama dengan kamar durjana yang semalam ia tinggalkan. Raisa beralih pada dirinya. Ia ingin tahu apakah benar dirinya telah kehilangan satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya.
Raisa menurunkan pandangannya, sedikit menyibak selimutnya dan menemukan dirinya yang sudah tak memakai apa pun. Ia ingin menjerit histeris dan ingin sekali menangis sekencang-kencangnya, tapi tak bisa. Ia tak bisa melakukan hal itu karena itu pasti akan membuat si pria yang sedang memeluk dirinya dari belakang terbangun. Dan Raisa belum siap untuk kembali melihat pria tua, botak yang menjijikkan itu.
Padahal sebenarnya, pria yang tidur di sampingnya itu kini telah terbangun karena bunyi alarm dari ponsel Raisa juga memekikkan telinganya. Ia meraih ponsel tersebut dan mematikannya. Ia berpura-pura kembali tertidur dengan tidak melakukan pergerakan apa pun.
Raisa menyadari hal itu. Raisa sadar kalau si pria asing di sampingnya telah terbangun.
Ia juga sadar kalau ini memang nyata. Ini bukan mimpi dan ia memang telah tidur dengan seorang pria asing. Hanya saja yang membuat Raisa tak bisa percaya adalah kenapa kegadisan yang selalu coba ia pertahankan harus jatuh di tangan pria tua hidung belang yang botak dan menjijikan.
Padahal Raisa sudah sangat menjaganya. Bahkan pada kekasih yang sangat ia cintai pun, Raisa tak pernah berniat untuk memberikannya sebelum mereka naik ke pelaminan.
Setelah hampir sepuluh menit ia mencoba menenangkan dirinya. Untuk memastikan apa benar ia telah tidur dengan si pria botak. Raisa pun kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah pria asing itu, tapi dengan mata yang masih terpejam.
Benar-benar sangat lucu, pikir si pria yang kini tengah menatapnya tersebut. Raisa yang semalam liar dan buas pagi ini terlihat sangat menggemaskan dengan matanya yang tak berani ia buka.
Raisa menarik nafasnya dengan sangat dalam. Lalu perlahan mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Samar-samar ia melihat wajah si pria tampan yang semalam ia lihat di dalam lift. Pria yang tak tahu malu bermesraan dengan wanitanya di tempat umum itu kini ada di hadapannya.
Raisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Bahkan ia menguceknya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang salah melihat.
“Kenapa? Enggak nyangka ya bisa tidur sama cowok tampan seperti aku?”
Suara bariton dari Raka Mirza Bramantyo, pria tampan, masih muda dan seorang CEO itu mengagetkan Raisa. Menyadarkan Raisa bahwa pria yang semalam bertemu dengannya di lift, si pria yang menurut Raisa adalah pria tak tahu malu –ternyata pria itu yang saat ini tidur bersama dengannya di atas ranjang yang sama dan di bawah satu selimut yang sama juga.
“Kamu?” Raisa terkejut dan langsung bangkit untuk duduk, melupakan kalau saat ini dirinya sedang bertelanjang.
Sontak tubuh bagian atas Raisa pun terekspose dengan sangat nyata di depan Raka. Membuat seringaian itu terukir jelas di sudut bibir Raka.
“Apa yang sudah kamu lakukan padaku?”
Raisa menarik sekaligus selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Kamu nanya, apa yang sudah aku lakukan padamu? Kamu lupa? Dengan apa yang sudah kita lakukan semalam?
“Kamu itu menggodaku, merayuku dan kamu memperkosa aku!!”
“Apa?” kedua bola mata Raisa terbelalak. Tak bisa ia percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Raka padanya.
“Kamu masuk ke dalam lift lalu pingsan, dan aku menolongmu. Seharusnya kamu berterima kasih padaku. Kamu menjadi sangat liar dan buas saat kamu bangun dari pingsan kamu.
“Lalu kamu memohon-mohon padaku meski aku sudah bilang kalau aku tak mau, aku tak bisa, tapi kamu malah justru memaksa aku dengan melucuti seluruh pakaian kamu di depanku.
“Kamu menggodaku dan bagaimana bisa aku menahan. Bagaimana bisa aku menolak. Apalagi kamu bilang sama aku kalau ini akan menjadi yang pertama untuk kamu.”
Sulit bagi Raisa untuk tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Raka. Dia yang memang sedang ada dalam pengaruh obat yang telah dicampurkan oleh si pria botak dan buncit pastinya akan melakukan semua hal gila yang telah Raka ucapkan.
“Sudah cukup...!” Suara Raisa terdengar bergetar. Bahkan tubuhnya dan kedua bola matanya juga ikut bergetar seperti hendak menangis.
“Tutup mata kamu? Jangan sembarangan melihat apa yang seharusnya tidak kamu lihat lagi.” Wajah Raisa merona menahan malu juga menahan pilu.
“Oh ya? Jadi aku tak boleh melihat tubuh indahmu setelah semalam kamu membuatku harus bekerja keras memuaskan keliaran dan kebuasanmu?”
Raisa mencoba untuk mengingat kembali apa saja yang telah terjadi semalam.
Dengan sangat keras ia memaksa otaknya untuk mengulang rekaman kejadian malam tadi. Namun, apa yang terekam di dalam otaknya itu hanya sampai dirinya yang masuk ke dalam lift dengan kepala yang sudah terasa sangat pusing dan bertemu Raka yang sedang bermesraan dengan seorang wanita, selebihnya ia tak ingat.
“Kamu masih mau melamun?” ucap Raka saat Raisa tak buru-buru merespon. “Kalau begitu lanjutkan saja lamunanmu itu. Dan harus kamu ingat juga, semalam itu kamu benar-benar sangat memuaskan. Kamu liar dan buas. Aku sangat menyukainya!
“Dan satu hal lagi. Itu di atas nakas ada cek yang sudah aku tanda tangani. Kamu boleh menulisnya berapa pun yang kamu mau. Aku harap itu akan cukup untuk membayarmu atas apa yang sudah kita lakukan semalam.
“Sekarang aku harus mandi karena aku harus berangkat ke kantor.” Tanpa berniat untuk menutupi tubuhnya yang bertelenjang Raka pun langsung turun dari atas ranjang dan melangkahkan kakinya dengan santai menuju kamar mandi.
Raka berlalu meninggalkan Raisa yang saat ini memalingkan wajahnya karena merasa tak pantas melihat tubuh Raka yang bertelanjang.
Raisa yakin sekali semalan dirinya dan Raka sudah melakukannya. Mereka melakukan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Setelah tubuh gagah perkasa itu menghilang di balik pintu kamar mandi, Raisa melirik ke sampingnya dan menemukan selembar cek yang tadi sudah Raka sebutkan.
Entahlah apa yang saat ini harusnya Raisa rasakan. Apa dia harus merasa sedih karena apa yang paling berharga pada dirinya telah terenggut. Atau ia harus merasa senang karena dia berhasil mendapatkan uang untuk biaya operasi papanya.
“Papa?!” kedua bola mata Raisa terbeliak kaget mengingat ia harus segera ke rumah sakit untuk menyerahkan uangnya agar papanya itu bisa segera dioperasi.
Tanpa menunggu Raka selesai mandi, Raisa pun langsung memakai kembali bajunya. Ia bergegas pergi dari kamar durjana itu.
Dan saat Raka telah usai mandi, Raka hanya menyeringai melihat kamarnya sudah kosong dan cek yang telah ia simpan di atas nakas juga sudah tak ada. Namun ada satu benda yang sangat menarik perhatian Raka, ponsel milik Rania.
Entah kenapa Raka merasa sangat senang melihat ponsel tersebut. Dengan penuh semangat, Raka pun mencoba untuk membuka layar ponsel Raisa dan Raka merasa lebih senang lagi saat ia bisa menemukan banyak informasi tentang Raisa dari ponselnya.
“Gadis yang sangat menarik,” gumam Raka.
***
Raisa kembali ke rumah sakit. Ia melihat orang tuanya tak ada di ruang rawat. Untungnya ada perawat yang memberi tahunya kalau papanya sekarang sedang dioperasi.
“Sebentar Sus, apa boleh saya nanya?”
“Nanya apa Mbak?”
“Saya belum bayar DP operasi papa saya, tapi kok bisa sih papa saya sudah masuk ruang operasi?”
“Oh kalau itu Mbak bisa langsung tanya saja sama bagian administrasi. Karena saya tidak tahu apa-apa soal itu.”
“Oh begitu ya Sus! Ya sudah terima kasih ya Sus.”
Raisa sudah merasa cukup lega dengan ayahnya yang sudah ada di ruang operasi. Mungkin sekarang akan lebih baik kalau dia menyelesaikan urusan administrasinya saja, pikir Raisa.
“Semua biaya operasi Pak Arifin sudah lunas, Mbak! Bahkan uang depositnya saja sudah lebih dari cukup untuk biaya rawat inap Pak Arifin selama satu bulan ke depan.”
“Apa? Siapa yang sudah membayarnya?”
“Saya kurang tahu, karena orang itu tidak memberi tahu siapa namanya.”
“Dia seorang wanita apa pria?”
“Seorang pria paruh baya Mbak!”
“Oh... Ya sudah terima kasih ya Sus!”
“Sama-sama, Mbak!”
Raisa pergi menuju ruang operasi untuk menemui mamanya. Ia akan bertanya pada mamanya, apakah mamanya mengenal siapa orang yang sudah menolong mereka atau tidak.
Tapi Raisa sangat yakin mamanya pasti tidak kenal. Karena kalau dia kenal sudah tentu mamanya akan menghubunginya untuk memberi tahunya.
Raisa merasa semakin bingung memikirkan masalah ini. Ia tak tahu siapa orang yang sudah membayar semua biaya rumah sakit ayahnya, namun satu hal yang pasti. Raisa nanti akan mencari tahu jika memang mamanya benar tak tahu. Dan Raisa akan mengembalikan semua uangnya itu padanya.
Bersambung.....
Anda Mungkin Juga Suka





