Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Nakal Remaja

Gairah Nakal Remaja

Kedewasaan seseorang tidak selalu diukur dari umur, melainkan dipengaruhi faktor lingkungan dan pergaulan. Kisah ini mengajak pembaca bernostalgia ke masa SMA hingga perkuliahan yang penuh gejolak hasrat serta cinta masa muda. Disajikan secara utuh untuk membangkitkan kenangan indah masa lalu, narasi ini juga mengandung konten eksplisit pada bagian tertentu. Pembaca diharapkan bijak dalam memilah bab karena terdapat adegan khusus dewasa dalam alurnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dendam Kebencian (3)

Regian, Bella dan Jeslyn cukup lama tertegun.

“Ati-ati tuh sama adik kelas kita si Tondy. Dia kan terobsesi banget sama celana dalam lu, sekali dia bisa ngeliat lu pake daleman model gitu bisa pingsan bahagia tu bocil hahaha,” ucap Bella sambil tertawa kecil.

“Biarin aja, entar kalau pingsan lu juga yang ngasi napas buatan hahaha.”

“Ih najis…!!” teriak Bella keras yang langsung disambut gelak tawa oleh Jeslyn dan Regina.

“Gue beli juga ah yang model renda-renda gini buat nyenengin cowok gue hehehe.”

“Sssstt…,” Jeslyn memberi isyarat kepada Bella yang tampak heran dengan isyarat Jeslyn karena tidak mengerti maksudnya.

Sekali lagi Jeslyn memberikan isyarat dengan cara menggelengkan kepala ke arah Regina. Bella lalu menoleh ke arah Regina yang sedang berdiri di samping Jeslyn. Bella melihat wajah Regina yang tampak sedikit berkerut.

Bella pun langsung mengerti maksud sahabatnya tersebut. “Maaf ya Gin, kita-kita gak sengaja ngomongin masalah cowok depan lu.”

“Gak apa-apa kok,” ucap Regina lirih dan mencoba untuk tersenyum. Ivanka dan Bella kemudian mendekati Regina dan memegang pundaknya berusaha menunjukkan kalau mereka benar-benar menyesal.

“Udah ah kok jadi sedih-sedihan gini sih? Hehehe!” Regina menatap ke arah sahabat-sahabatnya.

Walaupun tadi sebenarnya bayang-bayang perselingkuhan Donny memang sempat melintas di kepalanya. Namun Regina berusaha menutupinya agar tidak merusak suasana yang ada. Dari semalam Regina memang sudah merencanakan untuk membalas tindakan Donny yang menyakitkannya itu.

“Maaf ya Gin, maaf banget,” kembali Bella merajuk.

“Iya gak apa-apa, kok.” Regina kembali mencoba untuk menyunggingkan senyum guna menghilangkan rasa khawatir sahabat-sahabatnya.

“Eh makan yuk! Laper banget nih….”

“Lu bener gak apa-apa kan?” Jeslyn mencoba sedikit meyakinkan kalau perasaan Regina saat ini benar-benar baik-baik saja.

“Iya bener gue gak apa-apa kok! Ayo dong, laper banget nih hehehe…” Regina menarik tangan ketiga sahabatnya bersamaan dan memasang wajah memelas.

“Iya deh…!” Ketiganya menyahut kompak.

Kini keempat siswi SMA tersebut telah berada di sebuah café. Mereka sedang asyik menikmati makanannya masing-masing. Sesekali masih terdengar suara tawa menyelingi percakapan mereka.

Suasana café itu terlihat cukup lengang tidak seperti biasanya yang cenderung ramai, mungkin karena jam makan sudah lewat beberapa jam yang lalu. Yang kini terlihat di tempat itu hanyalah geng Regina, seorang laki-laki paruh baya dan dua orang pasangan muda.

Ketika sedang asyik memakan nasi goreng pesanannya, tiba-tiba Regina merasakan tepukan tangan Ivanka di pahanya.

“Ada apaan sih, Van?” tanya Regina kaget.

“Lu duduk sopan dikit dong, Gin,” balas Ivanka sambil berbisik kembali tangannya memegang paha Regina kemudian sedikit mendorongnya.

Regina yang memang merasa kedua kakinya terbuka di bawah meja kemudian mengatupkan kedua pahanya, walau dia sendiri masih belum mengerti maksud Ivanka tadi.

“Eh kalian ngapain sih?” Bella berhenti mengunyah bakso di mulutnya. Akibat pertanyaan Bella , membuat Jeslyn juga menghentikan aktifitas makannya.

“Lu semua liat deh om-om yang makan sendirian itu,” jawab Ivanka.

Jeslyn dan Bella terpaksa menoleh kebelakang karena memang saat ini mereka dalam posisi membelakangi Om-om yang dimaksud oleh Ivanka.

“Iya, terus?” sahut Regina.

“Dari tadi tuh om-om ngelirik-ngelirik ke meja kita deh.”

“Terus emang kenapa?” tanya Regina lagi.

“Masalahnya tuh om-om gak cuma ngeliatin kita, tapi juga ngeliatin ke bawah meja kita. Gue perhatiin terus, kayaknya tuh om-om ngintipin paha lu deh, Gin.”

“Aduh masa sih?” Regina kembali melihat posisi kakinya di bawah meja.

“Serius lu, Van? Wah perlu gue damprat juga tuh om-om!” Bella hendak beranjak dari tempat duduknya.

“Udah ah Bel, lu jangan bikin ribut deh,” cegah Jeslyn.

“Om-om genit kaya gitu musti dikasi pelajaran tahu gak sih kalian!” Bella masih ngotot.

“Iya tapi gak enak nih sama yang punya café,” tambah Jeslyn lagi. “Lagian belum tentu kan om-om itu beneran berniat ngintipin Gina.”

“Gimana kalau kita buktiin aja, itu om-om beneran niat ngintipin gue apa gak?” Tiba-tiba Regina nyeletuk.

“Hah, maksud lu?” tanya ketiga temannya hampir bersamaan.

“Lu semua lanjutin makan aja deh.”

Walau masih tersimpan rasa heran dalam benaknya, namun ketiga teman Regina melanjutkan kembali aktifitas makan mereka sebagaimana dikatakan Regina tadi. Regina kembali melanjutkan makannya.

Di atas meja Regina terlihat biasa-biasa saja, namun di bawah meja secara berlahan kembali pahanya dibuka lebar, sambil sesekali melirik ke arah laki-laki paruh baya yang duduk beberapa meja di depannya.

Dan tiba-tiba saja ide gila muncul di benak Regina, ‘Kalau si Donny bisa ngegandeng tente girang, apa salahnya gue juga godain om senang, biar impas kan?’ batin Regina penuh dendam kebencian.

Ivanka yang sekilas melihat ke bawah meja langsung melotot ke arah Regina, “Ngapain sih lu?”

“Hehehe mau ngejebak tuh om om mesum, Van!” balas Regina kalem.

“Wah sakit jiwa nih anak!” bisik Ivanka.

“Apaan lagi sih?” Bella bertanya sambil berbisik pula.

“Ni anak ngangkang tambah lebar di bawah meja, gila banget kan?” Ivanka kesal.

Bella dan Jeslyn hanya tersenyum kecil mendengar omelan Ivanka. Mereka memang tahu kalau Regina terkadang suka berbuat usil menggoda cowok-cowok dengan cara seolah-olah tidak sengaja memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang plaing sensitif. Bibit eksib memang sudah lama bersemi dalam diri Regina.

Namun untuk kali ini mereka cukup salut dengan keberanian Regina menggoda seorang laki-laki paruh baya yang mungkin seumuran dengan ayah mereka. Jeslyn malah berpikir jika Regina mau membalaskan dendamnya pada Donny yang telah menggaet tante-tente girang.

“Kayaknya tuh om-om beneran ngintipin gue deh, liat aja sampe salah tingkah gitu makannya, hehehe.”

“Masa sih?” Bella bertanya tanpa berani menolehkan kepalanya.

“Eh liat deh Gin, kayaknya ada yang nonjol di selakangan tuh om-om genit, hehehe,” ucap Ivanka berbisik.

“Ah gak mungkin keliatan lah Bel, model om-om kaya gitu sih biasanya kecil tuh ukuran kont….”

Ivanka langsung menutup mulut Regina sebelum gadis cantik itu melanjutkan kata-katanya lebih jauh. “Huus… ati-ati kalau ngomong, di sini kan masih ada perawan!”

Wajah Jeslyn langsung memerah mendengar kata-kata Ivanka. Memang diantara ketiga temannya ini hanya Jeslynlah yang belum pernah merasakan nikmatnya persetubuhan.

“Ups… sory, Jes! hehehe…,” bisik Regina.

Dipermainkan seperti itu, kini wajah Jeslyn pun tampak semakin memerah.

“Udahan ah, entar tu om-om beneran konak bisa bahaya lu!” Ivanka yang kemudian kembali berbisik.

“Nggak ah, gue mau ngasih tu om-om sesuatu yang lebih dasyat, hehehe.”

“Maksud lu?” tanya Bella heran. Sedangkan di sampingnya Jeslyn hanya terlihat terdiam tak berkomentar.

“Gue pinjem kunci mobil lu dong, Van.” Regina menatap Ivanka.

“Lu mau ngapain, Regina?” Ivanka kaget.

“Udah pinjem bentar,” paksa Regina.

Dengan ragu Ivanka mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku roknya dan menyerahkannya kepada Regina. Sedangkan Bella dan Jeslyn hanya bisa terheran-heran melihat tingkah aneh dari kedua sahabatnya tersebut.

“Tunggu bentar ya,” dengan santainya Regina beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar café tersebut.

Bella memberikan isyarat kepala kepada Ivanka seolah-olah menanyakan kemana Regina akan pergi. Ivanka lalu menggelengkan kepalanya menandakan kalau dia juga tidak tahu kemana sahabatnya yang mendadak aneh itu akan pergi.

Akhirnya mereka hanya bisa menunggu sambil menikmati minuman masing-masing yang masih belum habis.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KXV" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KXV
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Butuh Belas Kasihanmu!
9.2
Kania berjuang sendirian menyelamatkan Arka, putranya yang kritis di ICU, setelah diceraikan suaminya karena dianggap melahirkan anak penyakitan. Cobaan kian berat saat mantan mertuanya terus menghalangi setiap upaya pengobatan bagi sang buah hati. Meski merasa terpojok oleh dunia yang kejam, sebuah peristiwa tak terduga akhirnya memaksa Bagas menghadapi kenyataan pahit yang selama ini ia hindari. Kania membuktikan ia tidak butuh belas kasihan siapa pun.
Sampul Novel Baby Daddy
8.2
Bastian Cokro, CEO F&B berusia 30 tahun, diterpa isu miring mengenai kemandulan yang membuatnya tetap melajang. Sementara itu, Eva Sania adalah penyiar berita sukses yang menikmati hidup bebas bersama pasangan FWB-nya. Namun, dunianya jungkir balik saat sang ibu memberikan perintah tak terduga. Alih-alih mendesak Eva untuk menikah, ibunya justru meminta Eva segera memiliki anak tanpa perlu mencari suami. Kini, pencarian pria sehat untuk membuahinya pun dimulai.
Sampul Novel Bercinta Dengan Sang Presdir
9.0
Impian Alice Harper untuk menikah dengan Dean Walcott sirna akibat pengkhianatan adik tirinya. Dipermalukan di altar, Alice lari ke Birmingham untuk memulai lembaran baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Dastan Lancaster, mantan kekasih yang dulu menghilang misterius. Pesona sang presdir membangkitkan cinta lama yang belum padam. Saat Dastan melamarnya secara tiba-tiba di depan publik, akankah Alice menemukan kebahagiaan sejati yang sempat hilang dari hidupnya?
Sampul Novel CINTA DI BALIK CADAR
8.0
Katrina terpaksa berpisah dari Reyhan karena perbedaan keyakinan dan pindah ke Surabaya. Satu dekade kemudian, mereka bertemu kembali. Namun, Reyhan tak mengenali sosok Katrina yang kini telah mualaf dan bercadar. Meski saling mencari, takdir justru menguji mereka lewat perjodohan Katrina dengan Hardin, sahabat Reyhan. Di sisi lain, Reyhan berencana menikahi Anggia. Akankah cinta lama mereka menemukan jalan pulang atau berakhir duka di tengah rumitnya hubungan ini?
Sampul Novel CINTA SEJATI SANG PESULAP
8.5
Jaime bekerja sebagai pelayan restoran cepat saji meski memiliki bakat sulap luar biasa. Ia memilih menyembunyikan kekuatannya demi mendukung impian wanita yang ia cintai. Perjuangan itu membawanya pada takdir besar yang menembus ruang dan waktu. Namun, meski telah mencapai puncak kejayaan, Jaime tetap terobsesi mengejar cinta lamanya tanpa memedulikan risiko. Ia tidak menyadari ada seseorang yang setia menanti dan tulus menerima dirinya apa adanya.
Sampul Novel Dalam Dekapan Dosen Tama
8.1
Dalam suasana penuh ketegangan, Tama berusaha meyakinkan Runa agar tidak menolak kehadirannya. Dengan suara serak yang sarat akan emosi, ia mendekap Runa dan menghirup aroma tubuh istrinya tersebut dengan penuh damba. Di tengah pergolakan batin yang terjadi, Tama membisikkan penegasan bahwa hubungan intim mereka adalah hal yang sah secara hukum dan agama. Sebagai sepasang suami istri, ia merasa tidak ada lagi alasan bagi Runa untuk terus menghindar darinya.