
Gairah Liar Ayah Mertua
Bab 3
Tak lama kemudian, sudah kurasakan tangan kanan ayah berada di payudaraku. Ia mulai melakukan rabaan di sana. Rabaan itu perlahan-lahan berubah menjadi remasan. Nafasku semakin tidak karuan. Biar bagaimanapun aku masih memiliki nafsu yang apabila dirangsang maka akan melahirkan birahi yang menagih untuk dipuaskan.
Remasan tangan ayah semakin lama semakin membuatku nyaman. Nafsuku mulai bangkit dan kini aku hanya memejamkan mata. Apalagi saat ayah memainkan puting susuku dengan jemarinya. Ah, itu makin membuat geli keenakan. Ingin rasanya aku memegang milik ayahku, tapi aku tak berani. Apalagi ayah makin pintar merangsangku dengan puting susuku. Kurasa selangkanganku basah.
Sialnya, tanpa melepaskan remasannya, tangan kirinya berusaha membuka pahaku. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku hanya menuruti saja apa yang diperintahkan: aku pun membuka pahaku. Kini tampaklah memekku di depan ayahku. Memek yang belum aku rapikan bulunya. Sialnya memekku ini sudah basah karena rangsangan ayah sebelumnya.
Kulihat ayah seperti seekor singa hendak menerkam begitu ia melihat area terlarangku. Lalu kurasakan tangan kirinya mulai menyentuh memekku. Ah, ayahku sekarang tahu bahwa di sana sudah basah. Betapa malunya aku.
Perlahan kurasakan jari ayah bergerak naik turun bermain di bibir vaginaku. Aku juga tak bisa menyembunyikan responku atas hasil rangsangan itu.
"Ahhh...ahhh...ahhh..." Aku mulai mendesah.
Sementara jari ayah terus bermain di sana. Bahkan ayah mulai menyentuh klitorisku. Aku makin tak kuat untuk tidak mendesah.
"Ahhh....ahh...."
Aku hanya bisa memejamkan mata merasakan kenikmatan ini. Kupastikan bahwa memekku sudah makin basah. Apalagi tangan kanan ayah tetap tidak lepas dari payudaraku dan putingku.
Oh, ingin rasanya aku memegang milik ayah mertuaku. Aku ingin tanganku masuk ke dalam sarungnya dan menemukan barang paling berharganya. Barang yang selama ini sering hadir dalam imajinasiku. Saat aku membuka mata dan kulihat sarung ayah, rupanya sudah tercetak jelas bahwa kontolnya sudah tegak berdiri.
Sepertinya ayah paham apa yang aku mau. Ia mendekatkan duduknya agar aku bisa meraih selangkangannya.
Kini, tanpa arahan darinya lagi, aku sudah langsung menyingkap sarung ayah dan memegang kontolnya. Kontolnya sudah mengeras. Bentuknya sempurna: panjang dan besar. Perlahan aku mulai mengocoknya.
"Ah...enaknya..." kataku dalam hati. Ayah mertua kini mulai memasukkan jarinya ke dalam lubang memekku. Dalam bayanganku, buka jarinya yang masuk melainkan kontol yang aku pegang. Apa aku jujur saja pada ayahku?
Tapi aku belum cukup berani.
Pinggulku perlahan melakukan gerakan mengimbangi permainan tangan ayah. Nikmat rasanya. Sejujurnya aku sudah ingin disetubuhi. Tapi ini tak mungkin dilakukan karena sangat berbahaya. Lagi pula aku belum punya cukup keberanian untuk itu. Sementara gerakan mengocokku di kontol ayah juga makin cepat seiring permainan tangan ayah di selangkanganku.
Semakin lama kenikmatan ini makin membuatku melayang. Aku merasa sebentar lagi akan mencapai orgasmeku. Apalagi kelihaian jemari ayah makin membuatku tak tahan.
"Ahhh...aaa...yaahh..." desahku.
Tapi tiba-tiba perbuatan kami itu harus terhenti karena ada suara kedatangan anakku.
"Ibuu..."
Kami langsung menghentikan kegiatan kami. Aku langsung buru-buru melepaskan tangan dari kontol ayah dan langsung memasang handukku. Sementara ayah meninggalkan permainan tangannya di tubuhku. Ia dengan cepat beranjak dari kasur dan keluar dari kamar. Tak lama kemudian anakku datang dari luar.
"Kakek mau ke mana itu, Bu?" tanya anakku yang ternyata melihat kakeknya keluar dari kamar.
"Ke kamarnya," jawabku sekenanya. "Kamu kok sudah pulang?"
"Rizal mau minta uang. Mau beli layangan."
Setelah anakku kembali pergi, dengan kaki yang masih sakit, aku beranjak dari kasur dan segera mengenakan pakaian. Apa yang kurasakan sedikit menjengkelkan: aku harus berhenti setelah hampir akan mencapai orgasme. Padahal aku sudah berharap sesuatu yang lebih akan terjadi.
Bagaimana dengan ayah? Kurasa dia juga merasakan hal yang sama. Aku ke luar kamar dan mencari ayah. Aku ke kamarnya dan tak menemukan siapa pun. Ke mana ayah? Apakah dia langsung ke sawah? Aku ke arah kamar mandi dan kudapati pintunya tertutup. Apakah ayah di dalam? Aku mengintip dan kulihat ayah memang di dalam. Ia sedang mengocok.
Kulihat tangannya bergerak maju mundur di kontolnya. Sementara kepalanya mendongak seperti menahan kenikmatan. Aku fokus pada kontolnya yang tegak berdiri itu. Perlahan birahiku kembali bangkit. Tanganku perlahan turun ke arah selangkangan dan aku mulai melakukan masturbasi sambil tetap mengintip ke dalam kamar mandi. Aku membayangkan ayah sedang menggagahiku dengan kontol kudanya itu.
Tidak lama kemudian, kulihat kocokan ayah mertua makin cepat. Sampai akhirnya, aku lihat kontolnya menyemburkan sperma. Kudengar ayah mendesah. Spermanya banyak sekali dan berjatuhan di lantai. Sementara aku terus saja melakukan masturbasi. Jariku sudah keluar masuk di memekku.
Tanpa kuduga, kulihat ayah sudah akan keluar dari kamar mandi. Buru-buru aku merapikan baju dan segera masuk ke dalam kamar dan melanjutkan masturbasiku di sana. Kulakukan sampai aku mencapai orgasmeku.
Tentu saja dengan bayangan ayah mertuaku yang sedang menindihku.
Selepas itu, aku duduk di pinggiran kasur. Membayangkan apa yang barusan sudah terjadi. Kenapa aku bisa melakukan hal seberani itu bersama ayah mertua? Kenapa aku juga hanya diam saja ketika ayah mulai bertindak nakal padaku? Mungkin benar, aku juga menginginkannya. Aku menginginkan ayah mertuaku sendiri.
Ah, aku benar-benar sudah gila.
*****
Kejadian pada saat aku terjatuh kemarin bagai lampu hijau bahwa hubungan itu bisa berlanjut ke arah yang lebih. Setidaknya itu yang aku rasakan. Keberanian ayah mertuaku menunjukkan bahwa pada suatu saat bisa saja ia melakukan hal yang lebih. Sedangkan diriku, tidak melakukan perlawanan apa pun terhadap perlakuan dari ayah. Kurasa jika ayah melakukan hal yang lebih, aku juga tidak akan melawan. Aku harus berani mengakui bahwa diriku merasa senang melakukan hal seperti di kamar kemarin.
Meski aku merasa bahagia dengan kejadian kemarin, tapi aku tidak menunjukkan di depan siapa pun. Suamiku atau bahkan ayah mertuaku. Aku tidak ingin terlihat sebagai pihak yang paling bahagia dengan kejadian kemarin. Bukan karena aku takut ayah akan semakin nakal padaku, tapi ini soal rasa gengsi semata. Kurang elok rasanya jika wanita terlalu tampak rasa inginnya.
Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaan ayah. Ia tidak menujukkan gelagat apa pun. Tapi kurasa ia juga bahagia dengan kejadian kemarin.
Suatu siang, pada saat aku di dapur, ayah baru datang dari sawah. Sebelum ia membersihkan diri, ayah menghampiriku.
"Rin," sapa ayah. "Ayah minta maaf soal kejadian kemarin. Sekali lagi ayah sudah kurang ajar."
"Iya, yah. Aku juga salah kok."
"Ayah ga bisa bohong, Nak," kata ayah. "Sebagai laki-laki dan seorang duda, ayah tidak kuasa menahan nafsu. Apalagi melihatmu seperti kemarin."
"Sudahlah, yah," jawabku. "Semua udah terjadi. Apalagi ayah udah mau bantu aku kemarin."
"Oh ya, kakimu udah membaik?"
"Sudah, yah."
"Syukurlah kalo gitu."
Malam harinya, tepat pada malam Jumat, suamiku meminta jatah padaku. Sebagai istri yang patuh pada suaminya, aku mengiyakan permintaannya. Pada saat aku baru datang dari kamar mandi, kudapati suamiku hanya mengenakan sarung. Ia langsung tersenyum padaku: sebuah kode. Dia langsung berdiri dan menghampiriku. Kami berpelukan dan langsung berciuman.
Kurasakan ada sesuatu yang bergerak dalam sarung suamiku. Tangan suamiku juga mulai bergerilya menyusuri badan bagian belakangku. Daster bagian belakang ia singkap hingga menemukan bongkahan pantatku yang terbalut celana dalam. Suamiku melakukan remasan pada pantatku sementara kami terus berciuman. Tanganku sendiri juga mulai menyingkap sarung suamiku. Kudapati ia sudah tidak mengenakan apa pun di baliknya.
"Tutup pintunya," kata suamiku menghentikan kegiatan kami. Aku menutup pintu kamar.
Kulihat suamiku kini sudah melepaskan sarungnya dan ia lansung telanjang bulat. Pada saat aku menghampirinya kembali, suamiku yang membuka bajuku satu per satu. Mulai dari daster sampai celana dalam. Suamiku duduk di tepian ranjang dan memelukku yang masih berdiri sambil melahap kedua payudaraku yang tepat berada di depannya. Ia melahap keduanya secara bergantian. Aku makin terangsang dengan perlakuan suamiku itu. Apalagi saat suamiku melumat kedua puting susuku.
"Ahh..." aku mulai mendesah.
Tangan suami kini meraba bagian selangkanganku. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat dengan ayah. Kemarin ayah juga melakukan hal yang sama padaku. Jadilah aku makin bernafsu membayangkan ayah yang melakukannya. Kurasakan memekku sudah sangat basah.
Menyadari hal itu, suamiku memintaku untuk tidur di ranjang dan ia langsung menindihku. Kulihat kontolnya sudah tegang. Lagi-lagi aku terbayang pada kontol ayah. Kenapa kontol suamiku tidak sama dengan milik ayah? Oh, andaikan kontol yang akan menggagahiku adalah milik ayah. Suamiku membuka pahaku. Ia langsung mengarahkan kontolnya ke memekku.
Malam itu, suamiku berhasil memberiku kepuasan. Entah itu karena memang kemampuannya atau karena aku yang membayangkan bahwa ayah mertuaku yang sedang menindihku.
~~~
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





