
Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
Bab 3
Warning! 21+
POV Wira
Kami bergelut di atas lantai yang dingin, usai menciumnya secara kasar, aku menarik kausnya hingga lolos dari kepalanya. Bongkahan kembar bulat nan padat nampak indah menantang di hadapanku. Aku mulai mencumbui payudaranya yang ranum setelah menyingkirkan bra berwarna hitam dari tubuhnya. Jemariku meremas dan menghisap putingnya yang berwarna coklat muda menggoda.
“Ahh ... ahh.” Dia mendesah ketika aku menggigiti kecil puting susunya.
Tubuhnya seakan kehabisan tenaga tak mampu melawan kekuatan tubuhku yang berkali lipat dari kekuatannya. Rheina terlihat pasrah ketika aku memelorotkan celana kain beserta celana dalam yang dikenakannya. Kedua tanganku masih meremas dadanya, sementara bibirku menciumi kulit tubuhnya terutama di bagian perutnya yang rata dan mulus tanpa cela.
Dia cantik dan sangat mempesona ketika pertama kali aku melihatnya di depan rumah kemarin. Itu sebabnya aku memintanya untuk datang lagi ke sini. Kupikir dia tidak akan datang setelah aku mengerjainya kemarin. Ternyata dia benar-benat datang, membuatku semakin ingin mencumbuinya habis-habisan.
Aku merasakan napasnya masih memburu, menikmati setiap sentuhan ku di inci tubuhnya yang polos.
Saat aku membuka kedua kakinya, nampak vagina berwarna coklat kemerah-merahan di kelilingi oleh rambut halus di sekitarnya. Aku menelan ludah. Kemudian kutekuk kakinya dan membenamkan kepalaku ke bagian pusat gairahnya.
“Ahh ....”
Rheina mendesah atas perbuatan bejatku pada vaginanya yang sudah basah. Lidah hangatku menjilat dan menghisap klitorisnya secara rakus. Rasanya gurih, tapi enak.
Tangannya meremas payudaranya sendiri. Dia mulai menikmati permainan ini. Aku belum pernah melihat gadis cantik dengan rambut acak-acakan mendesah senikmat itu di hadapanku.
Tubuhnya kembali menggelinjang tatkala dua jariku masuk ke dalam pusat gairahnya. Dua jariku mengocok-ngocok pusat gairahnya dengan sangat brutal.
“Ahh ... ahh!”
Kembali, lenguhan dan erangan sensual lolos dari bibirnya yang sedikit tebal. Apa yang aku lakukan pada bagian sensitifnya terbukti sangat membuatnya nikmat.
Aku tak sabar ingin cepat-cepat memasukan kejantananku ke bagian intinya yang terlihat sangat menggoda dan membuatku semakin bernafsu. Setelah puas dengan permainan lidah dan jari, aku mulai mensejajarkan batang kejantananku yang kembali mengeras ke pusat gairahnya yang terlihat berkedut menginginkan dimasuki.
“Akh!”
Terasa sempit, aku menatap Rheina yang memejamkan mata. Kepala penis ku sudah masuk, tetapi aku membiarkannya dulu.
“Sakit, Rhein?” tanyaku. Gadis itu menggeleng lemah.
Kembali aku mendorong penisku masuk menerobos liang kewanitaannya, dan ...
“Akh, sakiit!” Rheina mengerang kesakitan.
Aku tau, dan sedikit menyesal telah mengambil keperawanannya, tapi juga merasa bangga karena berhasil mencicipinya lebih dulu. Aku memang lelaki bejat!
Kubiarkan dulu, batang milikku di sana. Setelah Rheina merasa nyaman aku akan kembali menggenjotnya. Aku mengusap pahanya yang mulus, dan meremas payudara ranumnya. Dia menatapku dengan pandangan sayu.
Setelah, kira-kira Rheina sudah sedikit nyaman dengan penisku di dalam miliknya, aku pun kembali menggenjotnya dengan mantap.
Ahh ... betapa beruntungnya aku mendapat keperawanan Rheina.
Aku mulai memaju-mundurkan kejantananku ke vaginanya yang masih sempit. Dinding kemaluannya mencengkeram kuat batang penisku yang keras. Aku semakin bergairah dengan vaginanya yang sempit.
Kulihat Rheina menikmati permainan ku, dia mendesah dan mengerang nikmat.
“Panggil namaku, Rhein,” kataku saat aku menggenjotnya dengan kecepatan penuh.
“Sia-pa na-ma mu ... ahh ...,” desahnya sensual.
“Wira. Ayo teriakan namaku, Sayang,” bisikku di telinganya.
Aku mempercepat hujamananku di liang vaginanya, napas kami saling memburu akibat gairah dan kenikmatan yang tiada tara.
“Wi-raa ... ahh ... enak!” teriaknya ketika dirinya sampai pada puncak klimaksnya, sementara aku belum sampai pada titik itu. Kedua tangannya mencengkeram kuat di bahuku, sehingga kuku-kuku jarinya menancap yang aku yakin akan meninggalkan luka di sana.
Bibir vaginanya berkedut dan menjepit batang penisku semakin kuat. Cairan hangat miliknya meleleh ke lantai keramik. Aku kembali menghujamnya tanpa henti. Hingga sampai pada puncaknya.
Aku menarik keluar kejantananku yang masih menegang dan menyemprotkan cairan kentalnya di atas payudara Rheina.
“Ahh ...,” lenguhku puas.
Aku mengangkat tubuh polos Rheina ke atas sofa dan mendudukkan tubuhnya di atas pangkuanku yang sama-sama telanjangnya.
“Enak?” tanyaku seraya merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajahnya yang cantik.
“Huum,” gumamnya malu.
Dia sangat menggemaskan, membuatku ingin terus melumat bibirnya dengan kasar, dan dia tidak menolak. Tanganku mengusap punggungnya yang mulus. Kupikir dia sudah tidak perawan mengingat Raka adalah pemuda brengsek yang hobinya meniduri anak gadis orang. Ya, aku mengenal Raka Satya, kakak Rheina. Dulu kami satu sekolah menengah yang sama, tetapi aku tidak terlalu akrab dengan dia.
“Kamu udah janji mau antar aku ke Sarah,” katanya setelah aku menyudahi ciumannya.
“Iya.”
Usai bercinta di ruang tamu kami mandi bersama di sumur belakang. Aku yang sudah selesai lebih dulu menungguinya di dapur sembari menyesap kopi hitam. Tidak lama kemudian, Rheina muncul dengan pakaian yang sudah lengkap.
“Kenapa rumahnya sepi?” tanya Rheina, kepalanya memindai seluruh ruangan.
“Bapak kabur, ibu di rumah sakit,” jawabku acuh. Mataku kembali memindai tubuh molek itu dengan tatapan lapar.
“Ibu kamu di rumah sakit?” tanya Rheina terkejut. “Berarti Sarah di rumah sakit juga?” katanya lagi.
“Gak. Ibu di rumah sakit di temanin Bibi, adiknya ibu.”
“Lalu, Sarah?”
Aku bangkit dari dudukku dan menghampirinya berdiri tepat di hadapannya.
“Kamu cerewet sekali, huh!” ucapku ketus seraya menangkup pipinya dan melumat bibirnya rakus.
Rheina mendorong tubuhku menjauh darinya. Aku tersenyum miring. Bisa saja aku menerkamnya dan mengajaknya bercinta lagi. Hanya saja aku tidak akan lakukan itu, mengingat ini baru pertama kalinya dia lepas keperawanan.
“Sarah di mana?” tanyanya lagi masih tak mau kalah menodongku.
“Dia menjadi jaminan di rumah Tuan Kasman.”
“Jaminan? Jaminan apa?” tanyanya penasaran. “Kenapa Sarah bisa menjadi jaminan?”
Gadis ini benar-benar bikin aku horny lagi. Bangsat!
“Bapak meminjam uang dengan nominal besar pada Tuan Kasman untuk bermain judi dan Sarah menjadi jaminan nya, tanpa sepengetahuan ibu dan aku. Bapak kalah judi dan tidak bisa membayar semua hutangnya, lalu Tuan Kasman menyuruh anak buahnya membawa Sarah.”
“Kenapa kamu tidak mencegah mereka? Kakak macam apa kamu sebenarnya, sih?”
Astaga! Gadis ini! Kalau bisa, aku ingin menyekapnya saja dan kujadikan budak seksualku. Biar tau rasa dia!
“Saat kejadian itu aku masih berada di luar kota. Bibi yang menghubungiku mengabari kalau bapak kabur, ibu jatuh pingsan, terkejut karena putrinya di bawa kabur anak buah Tuan Kasman.
Aku mendatangi kediaman Tuan Kasman dan dia memintaku untuk membawa uang supaya bisa menebus Sarah,” ungkapku panjang lebar semoga saja gadis sialan itu paham dengan penjelasanku.
“Oh, seperti itu,” ucapnya dengan mimik lucu yang membuatku gemas ingin menidurinya lagi. “Bawa aku ke sana!”
“Kemana?”
“Ke tempat Tuan Kasman, kemana lagi?!”
“Untuk apa? Dia akan tidak tahan dengan gadis cantik bisa-bisa kau bakal dijadikannya tawanan juga,” kataku menakutinya.
“Apa menurutmu aku cantik?” tanyanya.
“Siapa bilang kamu cantik?!”
“Tadi kamu yang bilang secara tidak langsung kalau aku ini cantik.”
“Kamu masih di bawah rata-ratanya, bahkan aku pun tidak tertarik denganmu!”
“Yakin kamu tidak tertarik padaku?” katanya menantang.
“Jangan terlalu besar kepala, Nona.”
Rheina melepas kausnya kembali untuk mengujiku.
“Sialan! Kau memang gadis jalang!” Aku langsung mengangkat tubuh langsing gadis itu dan mencium bibirnya. Sudah kupastikan kami akan melakukan ronde kedua.
Anda Mungkin Juga Suka





