Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA

GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA

Hidup Yumna hancur seketika saat Ilham membatalkan lamaran mereka tanpa alasan yang jelas. Keputusan sepihak itu memicu gelombang fitnah dan hinaan kejam dari para tetangga yang terus menyiksa batinnya. Namun, di balik rasa sakit itu, sebuah rahasia besar mulai terungkap. Ada fakta mengejutkan mengenai alasan Ilham yang sebenarnya, yang ternyata berkaitan erat dengan peristiwa misterius delapan tahun silam. Kini, Yumna harus menghadapi kenyataan pahit tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 1

Ilham : Maaf, lamarannya aku batalkan karena alasan pribadi.

Aku tercengang melihat pesan yang dikirim Mas Ilham via WhatsApp. Pasalnya dia datang ke rumah melamar dua minggu lalu, tetapi sekarang malah memutuskan sepihak bahkan dengan cara tidak hormat.

Bukan aku ingin dihargai, tetapi hubungan yang melibatkan keluarga itu jika ingin diakhiri seharusnya dilakukan dengan baik. Tidak usah memikirkan perasaanku, cukup orang tua dan keluarga lainnya. Pesan singkat itu teramat melukai hati hingga aku kesulitan mengambil napas.

"Ada apa, Yum?" tanya ibu memecah lamunan. Ponsel yang ada dalam genggaman jatuh ke lantai tanpa mampu aku cegah.

"M-mas Ilham, Bu." Aku menatap kedua mata ibu yang sayu. 

"Kenapa dengan Ilham?"

Tanpa mampu menjawab, aku langsung menghamburkan diri dalam pelukan ibu berharap semua ini hanya mimpi. Selama ini tidak ada praduga akan dilukai calon suami yang kelihatannya taat pada agama dan Tuhannya. Air mata merembes begitu cepat bahkan bahu mulai terguncang. Aku tidak bisa menangis dalam diam.

Ibu mengelus lembut belakangku. Aku mengerti pasti beliau masih bertanya-tanya apa yang terjadi. Mungkin juga menebak kalau Mas Ilham mengalami kecelakaan atau sakit keras. Namun, kurasa hati ini tidak sanggup untuk menyampaikan pesan aksara itu. Terlalu sakit.

"Aku ke kamar dulu, Bu. Nanti kalau sudah tenang baru cerita ke Ibu," ucapku sambil memungut ponsel dan menyembunyikannya dalam kantong gamis.

"Tapi kamu baik-baik saja, 'kan?"

"Iya, Bu. Aku baik-baik saja." Aku berusaha tersenyum walau sebenarnya sulit sekali.

Setelah itu, aku melangkah pelan masuk kamar dan mengunci dari dalam. Sekali lagi kubaca pesan itu untuk memastikan kalau ini bukan halu atau mimpi bahkan sengaja mencubit lengan. Dua detik kemudian aku memberanikan diri menelepon Mas Ilham dan langsung terhubung.

Hening. Aku terlalu takut memulai pembicaraan duluan apalagi kami kenal melalui proses ta'aruf. Sebenarnya sudah lama mengenalnya, tetapi untuk lebih dekat baru enam bulan terakhir. Huh, jantung berdegup begitu cepat.

"Ada apa, Yum?" Suara Mas Ilham terdengar santai seakan pesan yang dikirim itu tidak pernah ada.

Dengan mengumpulkan keberanian, aku mulai membuka suara. "P-pesan yang Mas Ilham kirim t-tadi maksudnya apa?"

"Oh itu ...." Mas Ilham terdengar mengembuskan napas berat, lalu melanjutkan, "lamarannya aku batalkan karena alasan pribadi, Yum. Tolong, kamu sampaikan ini sama orangtua dan keluargamu. Maaf sekali."

Aku yang sedang berdiri langsung terduduk di lantai seraya menggigit bibir menahan luka. Kalimat Mas Ilham bagai petir yang menyambar di siang bolong. Enteng sekali dia mengucapkan itu bahkan seakan aku ini tidak punya hati.

Memutuskan lamaran karena alasan pribadi? Aku tidak mengerti maksud dari kalimat itu, apa karena kami yang bukan keluarga kelas atas atau tinggal di kampung? Bahkan ada prasangka lain bahwa Mas Ilham telah menemukan perempuan yang jauh lebih cantik.

"K-kamu gak lagi bercanda, 'kan?" Aku masih menyimpan secuil harapan.

"Tidak, aku serius. Maafkan aku karena tidak bisa datang meminta maaf secara langsung. Jangan hubungi aku lagi karena ... lupakan saja!"

"Hubungan kita sudah melibatkan orangtua, ini cara yang tidak baik untuk membatalkan lamaran, Mas!" kataku dengan suara tertahan.

"Baiklah, nanti ummi akan menelepon keluargamu. Assalamu'alaikum, Ukhti Yumna."

Belum sempat aku menjawab salam lelaki itu, panggilan sudah terputus. Aku hanya bisa mengembus napas kasar untuk melonggarkan dada yang terasa sesak. Air mata jatuh membentuk anak sungai. Hati sudah sangat hancur dan entah bagaimana cara menyampaikan ini pada keluarga.

Terutama Mas Dika yang kemarin membujukku untuk menolak lamaran Mas Ilham. Dia selalu berasumsi bahwa lelaki itu bukan yang terbaik karena firasat padahal mereka tidak saling mengenal. Aku yang selalu berusaha menerima takdir dengan prasangka baik tidak peduli dengan penolakan Mas Dika.

Ponsel berdering memecah lamunan, nomor baru ini mungkin milik orangtua Mas Ilham. Dengan tangan gemetar aku menekan ikon hijau hingga panggilan terhubung. Perlahan benda pipih itu aku dekatkan ke telinga dan berucap salam, ada jawaban dari seberang sana.

"Ini ummi, Nak. Maaf sekali dengan keputusan Ilham. Ummi juga kaget karena tidak diberitahu lebih dulu dan sekarang tidak tahu harus melakukan apa. Untuk ke rumahmu meminta maaf dan menjelaskan semua ini rasanya sulit," lirih perempuan paruh baya yang aku panggil ummi sejak resmi menjadi calon menantunya.

"Ummi, apa kalian tidak memikirkan perasaanku diperlakukan seperti ini? Bukan hanya aku, tetapi orangtua dan keluarga besar lainnya. Kabar pernikahan yang akan dilangsungkan dua bulan ke depan sudah beredar di kalangan tetangga dan kerabat–"

"Maafkan kami, Nak. Kami sebagai orangtua Ilham tidak tahu harus melakukan apa karena ini sudah menjadi keputusannya." Ummi memotong kalimatku. Beliau seperti ingin membela diri.

Dengan berat hati aku memutus panggilan telepon sepihak. Rasanya benar-benar hancur bahkan tidak sanggup rasanya jika berita ini diketahui tetangga. Mereka tidak akan ragu untuk menggunjing bahkan mungkin saja menyalahkan jilbabku. Takdir begitu kejam merenggut kebahagiaan yang baru dimulai.

Ponsel kembali berdering, ada telepon dari nomor yang sama. Aku mengusap wajah gusar, lalu beralih memijit kening. Ingin sekali berteriak untuk meminimalisir luka, tetapi apa kata tetangga? Sungguh, aku frustrasi dengan keputusan yang tidak terduga ini.

"Tuhan, aku harus apa? Tidak terbayang bagaimana terlukanya ayah sama ibu kalau sudah tahu lamaran ini batal," monologku disertai senyum getir.

Ketukan di pintu membuatku terperanjat. "Yumna, ibu mau masuk!"

Terpaksa aku beranjak, mengusap air mata dan meraih kenop pintu. Ibu menatap sendu dan langsung menyeretku pelan masuk kamar. Beliau menggeleng sambil menggenggam erat tangan ini.

"Ada apa? Ceritakan sama ibu, Yum!"

Ponsel kembali berdering untuk kedua kalinya. Tanpa ragu lagi, aku mengangkan telepon itu dan menyerahkan pada ibu. Selebihnya biar Tuhan yang mengatur. Aku sudah siap dengan semua cemooh atau hinaan dari tetangga. Semoga Allah melindungiku dan sekeluarga.

"Loudspeaker dulu, Yum! Ibu tidak bisa mendengar jelas!" titah ibu, aku pun menekan ikon speaker. Setelah itu beliau melanjutkan, "silakan diulang, Bu!"

Embusan napas berat dari ummi terdengar sekali. Aku bisa mengerti bagaimana malunya beliau menyampaikan keputusan yang sangat tidak beretika ini. Namun, bagaimana lagi karena Mas Ilham sudah memilih yang bahkan alasan jelasnya belum diungkapkan.

Dada berdebar tak ubahnya pacuan kuda menunggu kalimat ummi. Aku bahkan ingin menghilang saja karena tidak sanggup melihat kesedihan di wajah ibu. Bukan mungkin, pasti beliau menitikkan air mata mengetahui anak gadisnya batal dipersunting lelaki yang dulu dibanggakannya.

"Kami minta maaf, Bu. Dengan berat hati lamaran Yumna Alishba Nazafarin dibatalkan," lirih ummi yang berhasil membuat air mata kembali tumpah tanpa permisi. Ibu memandangku dengan linangan air mata.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 12 Wasiat Dari Ayah
8.6
Dira terjebak dalam hubungan toksik dengan ibunya, seorang wanita penghibur yang mengalami gangguan mental. Di tengah kebencian yang mendalam, Dira mendambakan sosok ayah yang telah lama menghilang. Namun, berita kematian sang ayah membawa kebenaran pahit: Dira bukanlah anak kandungnya. Melalui buku merah berisi dua belas wasiat peninggalan almarhum, Dira harus menuntaskan misi terakhir. Akankah wasiat ini memperbaiki ikatan dengan ibunya atau justru mengungkap rahasia lain?
Sampul Novel GAIRAH LIAR ISTRI BOSKU
9.7
Theresa menjalin hubungan gelap dengan pengawal pribadinya, Aaron Parker, demi membalas pengkhianatan suaminya, Charles Bosley. Namun, pesona Theresa juga memikat Sean Dalbert, politikus Italia yang ambisius. Setelah Charles tersingkir, persaingan sengit pecah antara Aaron dari Organisasi EXO dan Sean yang mengincar kursi walikota New York. Di tengah intrik politik dan perebutan kekuasaan, Theresa terjebak dalam pilihan sulit antara sang bodyguard atau sang politikus.
Sampul Novel I Love You, Om
8.2
Vina, seorang mahasiswi, harus menghadapi kenyataan pahit setelah ditinggal pergi oleh ayahnya tanpa alasan yang jelas. Sebelum menghilang, sang ayah menitipkannya untuk magang di perusahaan milik sahabat dekatnya. Namun, kedekatan yang terjalin selama mereka tinggal bersama justru menumbuhkan benih asmara yang tak terduga. Vina jatuh hati pada pria berusia 29 tahun tersebut. Kini ia terjebak dalam dilema, akankah ia tetap bertahan atau memilih pergi?
Sampul Novel Mertua Awal Pembawa Petaka
9.3
Kanaya terbiasa hidup mandiri setelah kepergian orang tuanya yang dulu menikah tanpa restu. Meski sukses menjadi asisten CEO dan memiliki suami tampan bernama Lukman, duka menyelimuti tahun keempat pernikahan mereka karena belum hadirnya buah hati. Kepercayaan Kanaya hancur saat mengetahui Lukman ternyata telah berpoligami. Kepedihan kian mendalam karena ibu mertuanya justru merestui pengkhianatan tersebut. Mampukah Kanaya bertahan di tengah badai ini?
Sampul Novel Penyesalan yang Terlambat
9.1
Pasca kecelakaan yang membuatnya buta, hanya Elara yang bersedia menikahi Kurnia. Namun, saat penglihatannya pulih tiga tahun kemudian, Kurnia justru menceraikannya demi kebebasan. Elara pergi dalam diam meski dihina, hingga identitas aslinya sebagai maestro perhiasan, dokter ajaib, dan putri Presiden terungkap. Saat Kurnia memohon kesempatan kedua, seorang miliarder kejam menghadangnya dan menegaskan bahwa Elara kini adalah istrinya yang tak tersentuh.
Sampul Novel Perjanjian Takdir: Suami Miliarderku
8.1
Pasca dikhianati kekasihnya, Katherine nekat menikahi Esteban, pria yang ia anggap miskin dan hampir bangkrut. Meski tampan, Esteban tampak biasa saja hingga Katherine menyadari semua masalah hidupnya mendadak tuntas dengan mudah. Esteban berdalih ini hanya faktor keberuntungan. Katherine yang menjadi tulang punggung keluarga pun percaya, sampai rahasia besar terungkap bahwa suaminya adalah miliarder kaya raya. Kini, Katherine harus menghadapi realitas baru di balik pelukan hangat suaminya.