
Gadis Titisan Harimau Putih
Bab 3
menjerit dengan sangat kuat dia mengucap asma Allah dengan sepenuh hatinya. Tiba-tiba dia langsung terbangun dari mimpinya itu.
"Alhamdulillah ya Allah. Apa ya arti mimpi itu. Siang hari pun Aku bisa mimpi."gumam Naiya.
Waktu begitu singkat waktu magrib pun tiba, selesai solat magrib keluarga Naiya berkumpul di ruang makan. Tawa dan canda tercipta di antara mereka. Apalagi abang Naiya yang suka sekali menggoda adik bungsunya.
"Nai. Jangan sampai kamu jatuh hati dengan orang tangse ya? Aku nggak mau terima adik ipar orang kampung."ucap Basri, Abang tertua Naiya.
"Ia Naiya. Pilihlah kayak si Razi. Ganteng bin tajir lagi.haha."tungkas Darwis. Abang Naiya yang kedua.
Mustafa hanya bisa tersenyum mendengar cucu laki-lakinya menggoda Naiya.
"Jodoh Aku. Orang special yang pastinya seorang hafiz. Kalian tuh jangan urus jodoh Nai. Bang Basri dan Bang Darwis dulu yang kawin. Jangan sampai di panggil bujang lapuk.hahaha." ucap Naiya.
Umi dan Ali akhirnya melerai mereka bertiga.
"Sudah kita makan dulu, nanti sambung lagi."kata Umi.
Mereka pun meneruskan makan malam mereka.
Suara sendok dan garpun yang menemani mereka semua.
Setelah makan mereka semua ke ruang tengah. Naiya dan Umi membereskan meja makan, seorang asisten rumah tangga bernama Bi Minah membantu mencuci piring.
"Ayah. Besok siapa yang akan antar Naiya ke Tangse? Aku nggak sempat, anak santri sedang ujian."kata Basri.
"Naiya perginya dengan Razi, kamu juga ikut ya Darwis. Nggak baik Naiya berduaan dengan yang bukan mahramnya."titah Ali.
"Baik Ayah. Aku akan ikut, mana tau nanti jumpa jodoh disana."timpal Darwis.
"Di sana Kakek dengar cantik-cantik anak gadisnya, tapi banyak yang nggak menikah."tungkas Mustafa.
Ali, Basri dan Darwis heran dengan apa yang Ali katakan.
"Kalau cantik kenapa nggak ada yang nikahin Kek?"tanya Basri penasaran.
"Itu masih menjadi misteri, Kakek hanya berharap Naiya tidak kenapa-napa disana. Dan dia bisa membantu para gadis yamg disana."jawab Mustafa.
Semuanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Hingga Darwis meminta agar Naiya tidak ke sana.
"Ayah. Jika Naiya tidak pindah tugas kan bisa? Kenapa mesti dia sih?"unggap Darwis.
"Naiya tidak mungkin menolak permintaan Pak Faisal. Dia yang selalu menjadi donatur pesantren kita."kata Ali.
"Sudahlah Darwis. Kita berdoa saja Nai baik-baik saja."ucap Mustafa.
Umi dan Naiya membawa keripik pisang dan buah ke ruang tengah.
"Naiya jam berapa besok kita pigi? Abang yang ikut antar kamu."tanya Darwis.
"Benar nih Bang? Mau antar Naiya atau ada tujuan lain?"goda Naiya.
Darwis menepuk jidat Naiya dengan tangannya.
"Mau nggak Aku antar? Atau nggak pigi sama sekali?"
"Iih. Tambah bodoh nih kepala Nai. Gara-gara Bang. Habis subuh kita langsung berangkat."ucap Naiya.
"Gitu doong, kalau di tanya langsung jawab,"seloroh Basri.
Semua dalam ruangan tersenyum melihat ketiga saudara itu bergaduh.
Basri duduk di samping Naiya dan memeluk adiknya itu.
"Nai. Kamu hati-hati di kampung orang ya? Jaga harga diri kamu baik-baik. Nama keluarga kita sangat baik di masyarakat, jangan sampai kamu membuat malu dan mencoreng nama Ayah kita."nasehat Basri.
"Ia Bang. Insya Allah. Nai minta doanya dari kalian semua terutama ayah dan Umi. Semoga Naiya bisa menjalankan tugas Naiya dan menjaga nama baik keluarga kita."ucap Naiya, air matanya jatuh perlahan di pipi mulusnya.
Umi langsung memeluk putri bungsunya itu.
"Sudah, jangan nangis Kamu sudah dewasa, moga aja ketemu jodoh disana ya?"bisik Umi.
"Ih Umi. Aku kerja disana mana sempat cari jodoh." Naiya tersenyum mendengar perkataan Uminya itu.
Mustafa melihat ke arah jam, waktu isya telah tiba. Dia meminta Basri untuk mengantarnya pulang.
"Bas. Tolong antarkan Kakek pulang ya? Kasian murid kakek di padepokan nggak ada gurunya."kata Mustafa.
"Baik Kek. Yuk kita berangkat sekarang."ajak Basri.
Umi dan Ali serta Darwis menyalami Mustafa. Naiya juga menyalami kakeknya.
"Naiya. Kamu jangan pernah lupa berzikir pada Allah ya Nak. Hanya pada Allah kita memohon pertolongan. Jangan pernah tergoda dengan tipuan setan yang selalu menyesatkan kita."nasehat Mustafa.
"Ia Kakek. Terimakasih sudah mengingatkan Nai."
Setelah Mustafa pulang, Darwis dan Ali ke mesjid, karena waktu isya telah tiba.
Umi dan Naiya masuk ke dalam kamar masing-masing.
Naiya segera mengambil air wudhu dan menunaikan solat isya. Naiya kembali berzikir dengan khusyuk.
Sekitar setengah jam berzikir, Naiya mengambil al quran dan membacanya.
Sementara itu di rumah Razi, pemuda itu sedang meminta izin pada kedua orang tuanya untuk mengantar Naiya ke tangse.
"Ma.Ayah. Besok subuh Aku ke Tangse ya? Mau antar Naiya. Dia di pindah tugaskan ke sana."kata Razi.
"Naiya kenapa pindah Razi?"tanya Mamanya yang bernama Siti.
"Aku nggak tau kenapa dia dipindahkan, jauh lagi. Kasian Aku liatnya Ma. Dia sendiri yang pindah yang lain nggak."jawab Razi.
"Ya sudah. Kamu antar saja dia. Apalagi dia itu sahabat kamu. Atau kamu minta ikut pindah juga ke sana, biar Naiya ada temannya."kata Ayah Razi,Fazli namanya.
Ketika mereka sedang berbicara datang seorang lelaki tua bertongkat ke arah mereka.
"Siapa yang mau kamu antar Zi? Dan kemana?"tanyanya.
"Itu Kek. Naiya. Kakek kan kenal, gadis yang berjelbab panjang yang selalu berselisih paham dengan Kakek."kata Razi.
"Ooh gadis cantik itu? Calon kamu ya?"
"Hhaha. Kakek ini ada aja. Naiya mana mau sama Aku. Keluarganya semua hafiz, lah Aku ini tidak terlalu paham dengan agama."
Tawa Razi pecah mendengar kata Kakeknya.
"Razi. Tangse itu jauh lho. Kamu beli bekal yang banyak tuh buat Naiya. Pergi aja sekarang kalau subuh mana ada toko yang buka. Beli roti dan keripik pisang atau makanan yang bisa tahan lama."ucap Siti.
"Apa? Tangse? Naiya pindah ke sana? Kalau bisa janganlah Razi. Bahaya tuh kota apalagi desa blang bungong itu."kata Rudy.
Razi kembali bingung dan merasa kasian dengan Naiya. Banyak yang mengatakan kita itu berbahaya.
"Aku juga heran Kek, kenapa Naiya yang di pilih pindah. Padahal kan banyak guru lain di sekolah kami. Hanya saja Naiya yang belum menikah."kata Razi.
Perkataan Razi membuat rasa curiga di hati Rudy.
"Zi. Pak Faisal itu sudah menikah belum? Coba kamu cari tau tentang dia di sekolah. Takutnya dia sengaja menjebak Naiya."ungkap Rudy.
Razi menimang perkataan Kakeknya itu. Ada kejanggalan di balik pindahnya Naiya ke kota tangse.
Dia berjanji akan mencari tau penyebab Faisal memindahkan Naiya ke sana.
"Jika nanti Pak Faisal emang menjebak Naiya. Aku yang akan memasukkan dia ke penjara Kek."ucap Razi geram.
Rudy tersenyum melihat kegalauan di hati cucunya,dia tau kalau Razi menyukai Naiya.
"Razi. Cari tau secepatnya jangan sampai Naiya dalam bahaya disana. Apalagi kamu tidak bersamanya."ucap Rudy.
"Ya Kek. Aku akan meminta beberapa teman untuk memasang perekam dan cctv di ruangan Pak Faisal."kata Razi.
Dia masuk ke dalam kamarnya dan menelpon seseorang.
Setelah itu dia kembali ke tempat ayah dan mamanya.
Dia pamit pada kedua orang tuanya juga kakeknya.
Razi mengemudi mobil menuju ke sebuah toko kue. Dia memarkirkan mobilnya, lalu masuk ke dalam toko.
Razi mengambil sebuah keranjang, dia berkeliling mencari roti untuk Naiya, dia memilih beberapa roti bantal dan juga selai ada selai rasa kacang, strobery kesukaan Naiya. Serta empat buah roti sobek. Juga sebuah kue bolu rasa cokelat.
Razi juga mengambil beberapa minuman kaleng serta makanan ringan.
Setelah berbelanja Razi membayarnya di kasir. Beberapa menit kemudian dia keluar dari toko kue itu. Namun matanya melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berbicara di telpon.
"Itu bukannya Pak Faisal. Aku ke sana aja,"gumam Razi.
Dia melangkah perlahan menuju ke tempat Faisal, langkahnya berhenti sesaat mendengar pembicaran Faisal.
"Ya. Dia besok ke sana.jaga dia baik-baik sebelum ritual kita lakukan."ucap Faisal.
Razi syok mendengar perkataan Faisal dia segera berbalik arah. Namun sebuah tepukan di bahu membuatnya terkejut.
Anda Mungkin Juga Suka





