
Gadis Penghibur Tuan CEO
Bab 3
Bola mata Ajeng perlahan naik memperhatikan wajah Bill, menatapnya tersenyum di dalam tangisan. Bill menghapus tangisan itu dan menarik lengan Ajeng, mendudukkannya di sebuah kursi berderetan dengan para tamu.
"Percaya saja padaku ... ini tidak akan lama," bisik Bill pelan, tak jarang seseorang melempar tatapan aneh ke arah mereka. Namun kali ini Bill sudah tidak lagi peduli dengan anggapan mereka, yang terpenting saat ini bagaimana caranya Bill bisa menenangkan hati wanita tercintanya.
Ajeng hanya membalas Bill dengan anggukkan dan senyuman yang dibuat terpaksa, lalu Bill meninggalkan Ajeng dan kembali berkumpul bersama keluarga.
Langkah Bill membuat bola mata Susan menatap tajam kedatangannya, belum sempat putranya sampai menghampirinya ... ia dengan cepat bangun dari duduknya, kemudian mencengkram erat lengan Bill menariknya ke arah yang sepi menjauh dari sanak family.
"Bill! Kau lihat pesta di hotel mewah ini? Kau belum sadar sebentar lagi dirimu sudah berstatus suami orang?! Dengan gilanya dirimu menggandeng lengan wanita murahan itu di depan semua tamu! Kau ingin mempermalukan mama? Kau ingin merusak citra keluarga besar kita? Ayolah, Bill ... sekali ini saja, jangan malukan mama di depan semuanya, mama mohon!" Susan berceloteh dengan panjang, fikirannya kini sudah sangat gila memikirkan putranya. Ia tidak habis fikir bagaimana bisa wanita itu masuk dan lolos dari penjagaan ketat bodyguard yang diutus Susan untuk tidak membiarkan wanita murahan itu masuk ke dalam dan mengacaukan semuanya.
Mendengar rentetan ocehan Susan, Bill hanya melangkah dengan kesal meninggalkannya. Kemudian ia berkumpul bersama sanak family kembali.
Sorot mata Susan masih menatap Bill tajam, seolah memberi kode ancaman untuk tidak lagi berbuat macam-macam.
***
"Kita sambut dengan meriah kedua mempelai pengantin kita dan keluarga besar dari kedua mempelai, untuk memasuki ruangan janji suci yang telah disiapkan."
Suara MC itu menyadarkan Ajeng dari lamunannya, semua tamu beranjak dari duduk mereka termasuk Ajeng yang ikut berdiri untuk menyambut kedua mempelai ....
Bill lewat di depan kedua matanya, menggandeng lengan wanita yang sangat begitu cantik dan terlihat begitu terhormat jauh dibanding dirinya.
Air matanya jatuh bersama taburan bunga yang ditabur mengiringi kedua mempelai, dadanya begitu sesak melihat semuanya.
"Bill ... hanya kamu yang selalu aku perjuangkan, hanya kamu harapanku satu-satunya untuk bisa membawaku pergi dari semua masalah dihidupku! Tapi kini?" gumam batin Ajeng terhenti tidak sanggup untuk mengutarakan apa pun lagi.
Sesekali Bill memutarkan bola matanya ke arah Ajeng untuk memastikan wanita tercintanya itu baik-baik saja, tetapi setiap kali Bill mencuri pandang selalu saja mata Susan menangkap sorot netranya dengan tajam.
Untuk sesaat Bill diam menatap wajah wanita yang kini sudah sah menjadi istri di hidupnya, usia Ginni yang bertaut sama dengan Ajeng. Dia cantik ... bisa dibilang kecantikannya melebihi Ajeng, dia sexy ... keringat yang membasahi wajahnya saat ini pun menambah nilai keseksiannya, meski tubuh Ginni tidak semolek dan seindah Ajeng. Ginni pun wanita berpendidikan dengan karir yang bagus ditambah lagi jejak keluarganya yang jauh sekali lebih terhormat dibandingkan Ajeng.
Seharusnya ... Bill beruntung memiliki Ginni yang mau begitu saja menerima perjodohan dari keluarga besar mereka.
Namun, lagi-lagi pandangan Bill tetap memikirkan kekasihnya! Meski Bill sedang menatap Ginni, tetapi di hati Bill hanyalah Ajeng seorang.
"Hey ... dirimu menatapku terlalu dalam, tau!" goda Ginni mengejutkan Bill. Yang merasa Bill sangat kagum akan kecantikannya saat ini.
Bill mengerjapkan matanya dan langsung membuang wajah ke arah lain, sekali lagi Bill mencoba mencuri pandang untuk melihat Ajeng. Tetapi kali ini Ajeng terlihat sangatlah pucat, Bill mulai gelisah ... takut akan hal yang buruk menimpa Ajeng.
Gerak-gerik Bill sudah tidak lagi beraturan, ia mulai terus melihat jam di tangannya berharap acara semua ini segera selesai! Agar dirinya bisa menemui Ajeng dan meminta maaf atas kesakit hatiannya di hari ini.
"B-Bill? Kamu lelah?" tanya Ginni dengan nada yang begitu lembut.
Bill menoleh ke arah Ginni, "Yah! Aku lelah! Aku hanya ingin cepat pulang dari sini!" jawab Bill datar.
"Hmm, kurasa sebentar lagi. Oh iya ... kulihat sedari tadi, kau hanya sibuk melihat ke arah sana ... ada apa, Bill?" tanya Ginni menunjuk ke arah Ajeng.
Bill terkejut mendengar pertanyaan Ginni, "Eh ... hmm, tidak! Tidak ada apa-apa!"
Ginni mengerutkan dahi, "Why, Bill? Ekspresimu terlihat sangat aneh! Hahaha!" tutur Ginni diiringi dengan tawaan yang geli melihat tingkah laku Bill yang begitu menggemaskan.
Bill pun hanya bisa terdiam melihat Ginni yang kini jemari Ginni pun mulai menggengam jemarinya, Bill sempat terkejut awalnya. Tetapi Bill memilih untuk membiarkannya agar tidak terlalu mencolok jika Bill sama sekali tidak mengharapkan Ginni hadir di hidupnya.
Senyuman sumringah sangat menonjol di wajah Ginni, dirinya sekarang merasa bangga dan sangat bahagia telah menjadi istri seorang CEO muda sukses sekaligus yang terkaya di Asia.
***
Acara telah usai, kini Ginni terbaring di atas ranjang dengan balutan kebaya modern yang sengaja tidak ia buka. Berharap Bill akan membuka kebayanya seperti di novel Fizzo romance yang selalu dirinya baca.
Ginni sengaja membuka kain di bawahnya keatas hingga menampakkan kedua belah pahanya yang putih mulus sangat menggoda. Dengan gaya bokong sengaja di buat seksi menungging ke samping, berharap Bill akan sangat tergoda saat melihatnya.
Ceklek!!
Suara pedal pintu berbunyi, Bill datang dari balik pintu dan mendapati Ginni yang sudah bergaya aneh di atas tempat tidur.
Bill tidak menyangka, Ginni yang terlihat sangat anggun bisa-bisanya ia menjelma sebagai Ajeng ketika di kamar.
Paha putih mulus sangat terpampang di depan mata, gumpalan kenyal yang sengaja Ginni tonjolkan berhasil membuat darah Bill berdesir.
Bill mengerjapkan matanya sesaat, dalam hitungan detik Bill menjadi kaku bak manekin dan celananya mulai terasa sesak. Tetapi, Bill masih berusaha tetap tenang sambil melangkah ke arah toilet.
Ia melangkah terburu-buru dan menutup pintu toilet dengan cepat.
Hargh!
Bill menarik napas panjangnya, mencengkram rambutnya pusing dan ia mendudukkan tubuhnya ke lantai. Harus beginikah hidupnya setiap hari? Hidup bersama wanita yang sama sekali tidak ia cintai, bahkan untuk menidurinya pun Bill sangat tidak ingin! Karena selama ini dirinya hanya boleh berhubungan tubuh pada Ajeng seorang, tidak ada yang lain. Meski sekarang Bill sudah menjadi status suami wanita lain, tetapi bagi Bill kesetiaannya pada Ajeng masih terkunci rapat dan ntah sampai kapan bisa terbuka.
30 menit lamanya Bill mengunci diri di dalam kamar mandi, Ginni mulai mengerutkan keningnya kecewa. Ia beranjak bangun dari tidurnya untuk sekedar berganti baju.
Dengan malas Ginni membuka helai demi helai yang menempel di tubuhnya, hingga akhirnya tubuh itu benar-benar lega tanpa sehelai kain pun menempel disana.
Ckretek!
Suara pedal pintu kamar mandi terputar, mata Ginni membelalak. Kali ini dirinya benar-benar dibuat malu, memperlihatkan tubuhnya begitu saja tanpa permintaan Bill!
Bill keluar dari balik pintu dan sangat terkejut melihat apa yang baru saja ia lihat, sebuah pemandangan yang harusnya dia senang melihatnya. "Hey! are you that cheap?" ucap Bil seraya menutup mata dengan kedua tangannya dan keluar dari kamar tergesa-gesa.
Ginni yang melihat perilaku Bill hanya menatapnya tidak percaya, ia masih berdiri kaku tanpa busana. Otaknya masih tak habis fikir memikirkan suaminya, "Is this what they call the first night? Atau hanya dia yang tidak pandai merayu suaminya?" batin Ginni bergejolak, ia memutuskan untuk memakai lingeri merah dan langsung beranjak tidur lagi tanpa ada niatan untuk membasahi diri.
Dirinya yang masih bingung menghadapi malam pertama mereka, akhirnya ada niatan Ginni untuk mencari informasi seputar malam pertama di sosial media. 'Cara melakukan malam pertama' Ginni mengklik di pencarian dan timbullah seputar pengetahuan disana, seperti harus tenang dan tidak boleh imajinasi mengintimidasi fikiran.
Kini Ginni sadar setelah melihat jawaban dari akses sosial medianya, semua kesalahan memang ada pada dirinya yang terlalu tergesa-gesa untuk melakukan malam pertama bersama Bill. Ia mulai menutup matanya dan perlahan tidur dengan kesendirian tanpa seorang Bill yang baru saja sah menjadi suaminya.
***
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Bill berdiri di depan pintu kamar kost Ajeng dengan gelisah. Ia mengetuk pintu pun tergesa-gesa.
Cklek!
Pintu terbuka dan hadirlah Ajeng dibaliknya yang hanya menggunakan Lingery berwarna hitam tanpa dalaman.
Bill yang masih berdiri di depan pintu, menatap Ajeng penuh nafsu, ia menelan salivanya dan melempar senyuman lebar ke arah Ajeng.
"Ada apa? Bukannya kau seharusnya sedang menghabiskan malam pertama bersama istrimu?" tanya Ajeng ketus.
Bill hanya diam dan masuk begitu saja, mendorong Ajeng sampai ke sudut dinding. "Aku ingin menghabiskan waktu malam pertamaku bersamamu, Sayangku!" Bisik Bill dengan wajah berantakan dan masih menggunakan kemeja putih pengantin.
Ajeng hanya mengerutkan keningnya, tanpa penolakan sedikit pun. Mau bagaimana lagi? Dirinya memang mencintai Bill sepenuhnya, wanita itulah yang merebut Bill darinya.
"Kau ingin menghabiskan malam pertamamu bersamaku, Bill? Baiklah ... kuberi malam pertama yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."
Ajeng mendorong tubuh Bill ke atas ranjang, membuka seluruh pakaiannya dan menarik Bill kedalam kamar mandi, lalu Menidurkan Bill ke dalam bath tub. "Kau harus mandi dulu, Honey ...," ucap Ajeng dengan intonasi yang sangat seksi.
Ajeng mulai bermain busa bersama tubuh Bill, ia mulai membersihkan tubuh Bill dengan sentuhan yang geli. "Arghhhhh, Sayang. Kau sangat hebat." Bill menggelijang kegelian.
Wanita kecintaanya itu terus merangsang Bill, hingga bermain busa di atas titik paling sensitif pria dan mengulumnya penuh dengan semangat.
Bill sampai dibuat terengah-engah menghadapi rangsangan Ajeng yang begitu kuat. Bill tidak kuat lagi, akhirnya memutar tubuh Ajeng bergantian masuk kedalam bathtub lalu memasukkan benda pusaka Bill kedalam liang kehangatan Ajeng.
Dup!
Suara benturan keras dari dalam liangnya, membuat Ajeng merintih keras. "Akhhhh," Ajeng tersengal sengal menderu keras.
Bill memompa dengan kuat, menaikkan pinggulnya dari atas ke bawah membuat ritme keintiman mereka semakin panas.
Dua jam lamanya mereka berpagut kasih, dengan permainan yang aduhai membuat para pria mana pun selalu mabuk kepayang setelah permainan yang Ajeng mainkan.
Kini Ajeng dan Bill tidur bersama di atas ranjang, seraya berpelukan dengan tubuh yang masih terbuka tanpa balutan kain apa pun.
***
Sinar pagi mulai menyeruak masuk ke dalam kamar, berbarengan dengan bisingnya alarm menunjukkan pukul jam 08:00.
Mata Ginni mulai terbuka perlahan, menoleh kesamping mencari keberadaan Bill yang sedari malam tidak tidur bersamanya. "Semarah itukah dirinya, hingga tidak pulang semalaman?" Ginni menggerutu kecewa atas perilaku Bill yang dianggap Ginni terlalu kekanak kanakan.
Ia beranjak dari tidurnya, membersihkan diri dan berhias natural untuk bersiap-siap sarapan bersama keluarga besar Bill.
Klak ....
Klakk ....
Suara langkah Ginni menuruni anak tangga dengan anggun, memakai dress berwarna white gold dibarengi dengan sendal high hills yang memacu tubuh Ginni semakin terlihat berkelas.
Ginni mengarah pada keluarga besar Bill, "Good Morning semuanya dan terima kasih untuk Tuan Sergey Musk atas luang waktunya menghadiri acara pernikahan kami," tutur Ginni seraya membungkuk di depan meja makan keluarga.
Tuan Sergey Musk salah satu orang terkaya di Asia, yang kekayaannya sebentar lagi akan memasuki deretan orang paling kaya di dunia.
"Hahaha ... formal banget, ya! Ayolah, Nak ... ini rumahmu juga! Mulai sekarang panggil aku papa bukan tuan! Kau harus ingat, aku bukan lagi kolega kerja papamu! Tapi sudah menjadi papa mertuamu! Lagian, jelas saja aku menghadiri pernikahan kalian! Bill adalah anak semata wayangku, jelas sudah pasti aku datang!" ucap Tuan Musk dengan tawaan ringan.
"Sudah ... sudah, duduk disini," ucap Susan seraya memberi kursi kosong pada Ginni. "Dimana Bill sekarang? Apa dia masih tidur karena lelah semalaman?" ucap Susan lagi menggoda Ginni.
Ginni hanya tersenyum kecut membalas pertanyaan Susan, dirinya tidak tahu harus menjawab seperti apa atas pertanyaan ibu mertuanya dan tidak mungkin juga Ginni jujur jika anaknya tidak pulang semalaman karena kecerobohan yang Ginni perbuat.
Disela-sela diamnya Ginni, suara Bill datang dari luar dengan pakaian masih mengunakan kemeja pengantin lusuh. "Selamat pagi, semuanya ...," ucap Bill enteng dengan para mata yang tertuju padanya.
Anda Mungkin Juga Suka





