Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Milik Tuan Mafia

Gadis Milik Tuan Mafia

Akiko harus berjuang melawan Leukemia Myeloid Akut di tengah penderitaan akibat kekerasan fisik orang tuanya sejak kecil. Nasibnya kian terpuruk saat ia jatuh ke tangan Glen Xander Mckenzie, seorang pemimpin mafia kejam yang bertekad menghancurkan bisnis keluarga Akiko. Namun, dinamika antara tawanan dan penculik ini berubah total seiring berjalannya waktu. Glen yang semula dingin justru mulai menaruh hati pada gadis yang seharusnya ia hancurkan tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Akiko!" teriakan seseorang, membuat perhatian Akiko teralih dari ponselnya. Saat melihat ke arah samping, ternyata ada Lani yang sedang berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan semangat. 

"Hai," sapa Akiko. 

"Kau ambil kelas Mr. Gio, 'kan?" tanyanya. 

"Iya, kau juga?" tanya Akiko balik. 

"Aku, tidak. Tapi kau akan satu kelas dengan Vivian," gadis lain muncul di samping Lani. 

"Hai, aku Vivian," sapanya. 

"Akiko," sahut Akiko pelan sambil berjabat tangan. Beberapa menit kemudian, Lani pergi karena dia beda kelas. Menyisakan Vivian dan Akiko, yang hanya diam dalam keheningan. Keduanya bukan tipe cerewet dan energik seperti Lani. 

"Vivian, nanti malam ikut ke shoot bar, 'kan?" tanya seorang laki-laki duduk dengan nyaman di sampling Vivian. 

"Nanti malam?" tanya Vivian memastikan. 

"Iya, aku yang bayar, tenang saja!" tegasnya sombong. 

"Tentu, aku akan ikut. Akiko, kau bagaimana?" tawar Vivian. Dia sadar kalau Akiko hanya diam saja sejak tadi. Kemudian, Akiko menggelengkan kepala pelan sebagai tanda menolak. 

"Ini momen langka, loh. Pasti banyak orang populer yang akan datang nanti. Kau tau, kan, susah untuk bergabung dengan circle orang populer?" tukas Vivian. 

"Tidak susah, kok. Iya kan, Akiko?" sambung seorang gadis yang baru memasuki kelas. Dia memakai pakaian kasual, memiliki rambut panjang yang indah dengan tubuh idealnya. Jam tangan classic yang menempel menambah kesan dewasa untuknya. 

"Eh, Halo, Kak Kei," sapa Vivian gugup, sambil berdiri merapikan pakaian. Begitu juga dengan anak lain. 

"Hai, apa aku mengenalmu?" sahut Gadis bernama Keinara itu. 

"Tentu saja, tidak. Mana mungkin senior populer sepertimu mengenal mahasiswa baru seperti aku. Aku Vivian," ia memperkenalkan diri. 

"Teman Akiko?" tanya Keinara. 

"Bukan, kami baru saja kenal. Tapi dia tidak menarik karena terlalu banyak diam," jawab Vivian dengan enteng, bahkan sambil menjauh dari Akiko seolah jijik. Melihat reaksi itu, Keinara tersenyum tipis di sana, lalu kembali menatap Akiko. 

"Akiko, boleh kita bicara nanti?" pertanyaan Keinara, langsung membuat Vivian terdiam bingung. Kenapa Keinara malah bicara pada Akiko, dari pada dirinya? Padahal sudah jelas sekali, Akiko tidak punya ketertarikan pada siapa pun. Sedangkan gadis itu, hanya mengangguk pelan. 

"See you after class," pamit Keinara, lalu pergi begitu saja. 

Melihat interaksi antara Keinara dan Akiko, Vivian merasa cemburu. Padahal dia yang sudah mati-matian berusaha bergabung dengan orang-orang populer agar terlihat keren. Tapi Akiko yang pendiam justru mendapat poinnya. 

"Kenapa Kak Keinara bisa mengenalmu?" tanya Vivian penasaran. 

"Tidak tahu," jawab Akiko singkat karena Mr. Gio sudah datang untuk memberikan materi. 

***

"Kita yang berusaha, dia yang dapat," eluh Vivian sambil melirik tajam pada Akiko yang sedang menata barang-barangnya. 

"Sepertinya, Kak Keinara tidak menyukai Akiko," kata Vivian pada Lani saat bertemu di lorong. 

"Mana mungkin. Kalau tidak suka, dia tidak akan mengajak Akiko bicara berduaan. Kau saja yang iri," jawab Lani. 

"Coba, berpikirlah dengan logika. Kak Keinara itu senior yang sangat populer, dia cantik, pintar dan kaya. Kenapa dia mau mengajak gadis pemurung seperti Akiko? Dia bahkan hanya bisa diam selama berjam-jam tadi," cibir Vivian. 

"Mungkin, karena Akiko cantik. Sejak pertama aku melihatnya, dia nampak manis walau pendiam," ucap Lani. Gadis itu memang selalu bersikap positif, makannya banyak teman. 

"Ah, kau tidak paham dengan pemikiranku," cetus Vivian. 

Sementara itu di tempat lain, Keinara sedang bersandar di tembok bersama Akiko yang diam di hadapannya. Keduanya saling menatap, tanpa mengatakan sepatah katapun selama beberapa saat. Sesekali, Akiko meremas pakaiannya sendiri karena tidak menyangka akan bertemu dengan Keinara. 

"Aku–" ucapan Akiko terpotong, karena Keinara tiba-tiba memeluknya erat sambil menangis gemetaran.

"Sudah berapa lama … sudah berapa lama kau tidak menghubungi aku, hah?" lanjutnya. 

"Sorry," lirih Akiko. 

Beberapa saat kemudian, Keinara melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Akiko lembut. "Kau sudah besar, ya?" 

Air mata semakin menetes di pipi Keinara, tangannya gemetaran merapikan rambut pendek Akiko. Sehingga Akiko mengangkat pandangannya, lalu mengelap air mata Keinara. 

"Jangan menangis," pinta Akiko. 

"Bagaimana bisa aku tidak menangis? Akhirnya aku bertemu denganmu, Adikku…," isaknya. 

"Harusnya kita tidak perlu bertemu sampai kapan pun, Kak. Papa akan marah," ucap Akiko. Membuat tangisan Keinara semakin menjadi. 

"Aku tau, aku tau dia pasti masih sama jahatnya. Kau pasti sangat tersiksa selama ini, iya 'kan?" tanya Keinara. 

"Kenapa? Kenapa kau melakukannya? Kau bisa mati karena Papa," tukas Keinara mengingat banyak hal yang Akiko lakukan demi melindunginya. Walau, saat ini Keinara tidak tahu bahwa adiknya itu akanmenjadi tawanan demi melindunginya dan perusahaan. 

"Karena itu menyakitkan," jawab Akiko pelan. 

"Menyakitkan? Lalu kenapa tetap kau lakukan?" sahut Keinara. 

"Karena aku tidak mau Kakak juga merasakan rasa sakit yang sama, cukup aku saja. Kakak adalah orang paling baik yang aku kenal sejak membuka mata. Aku tidak mau Papa memukulmu juga," penjelasan Akiko membuat air matanya semakin berderai. 

Keinara ingat persis, bagaimana dulu tubuh kecil Akiko tersungkur di lantai yang dingin dengan penuh luka karena amarah papanya. Padahal yang sudah merobek file penting itu adalah Keinara, tapi dia terlalu takut untuk mengaku. Jadi, Akiko lah yang maju mengakui kesalahan Kakaknya. 

Setelah kejadian itu, Keinara dan Akiko harus dipisah. Keinara harus masuk ke asrama khusus, karena dia adalah putri pewaris perusahaan keluarga. Walau dia sudah menolak karena tidak mau meninggalkan Akiko, papanya justru marah. Katanya, bakat dan kepintaran Keinara akan terpengaruh jika tinggal bersama Akiko. 

Sementara Akiko, masih ada di tempat yang sama. Bangun dari pingsan, lalu mengobati lukanya sendiri yang tidak kunjung sembuh karena terus bertambah hari demi hari. Hebatnya, dia masih bertahan sampai saat ini. 

Pernahkah Akiko punya pikiran untuk bunuh diri? tentu, tapi dia rasa, bunuh diri bukanlah jalan kematiannya. Jadi, Akiko hanya terus bertahan, selama masih bisa bernafas. 

Dan baru kali ini, Keinara bertemu dengan adiknya kembali. Mungkin, papanya teledor sampai tidak ingat kalau Keinara kuliah di universitas yang sama. Padahal Keinara pikir, dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Akiko lagi. 

Akhirnya, Keinara menghela nafas gusar. "Kau tau? sebenarnya kita bisa jadi lebih kuat jika mau mengikat satu sama lain. Tapi, dulu aku penakut, sedangkan kau selalu menyimpan segalanya sendirian."

"Padahal, sebagai Kakak seharusnya aku berperan menjagamu," tukas Keinara. 

"Maaf … aku sudah menjadi Kakak yang buruk. Aku bahkan tidak tahu makanan kesukaanmu sampai saat ini," lanjutnya. Melihat wajah sedih Keinara, Akiko menatap dalam. 

"Ice cream, aku suka ice cream," mendengar jawaban itu, Keinara tersenyum manis. Akhirnya Akiko mau memberitahunya sedikit hal. 

"Aku akan membelikan banyak ice cream untukmu," gurau Keinara. Akhirnya, dia bisa melihat senyuman di wajah adik kecilnya itu setelah sekian lama. 

Di balik senyuman itu, Akiko sedang menyembunyikan sebuah fakta bahwa dia sudah dijual oleh papanya demi perusahaan. Tapi, dia tidak ingin Keinara tau. Dia ingin Kakaknya hidup dengan baik tanpa masalah apa pun. Di tengah suasana sedih itu, tiba-tiba seorang laki-laki menendang Akiko sampai gadis itu terguling dari anak tangga ke lantai bawah. 

"Kurang ajar!" desisnya, menatap benci pada Akiko. Lalu, ia berjalan menuruni tangga dan langsung menarik rambut Akiko kasar. 

"What are you doing?!" panik Keinara menyusul. 

"Diamlah, aku ingin memberi pelajaran pada bocah ini. Berani-beraninya kau membuat Keinara menangis!" bentaknya. 

"Hggkk!" nafas Akiko tercekat karena jambakan rambutnya semakin kencang, bahkan beberapa helaian rambut sampai rontok. 

"She is my Sister!" Keinara langsung mendorong laki-laki itu agar melepaskan Akiko. Sedangkan Akiko hanya bisa diam, seperti biasa. Lalu, mengambil bukunya yang berserakan di lantai. 

"Tidak mungkin…," lirih laki-laki itu sambil mundur. Tak lama kemudian, datanglah banyak orang karena mendengar keributan. Termasuk Vivian, yang datang paling depan. 

"Itu benar, aku melihat Akiko tidak sopan pada Kak Keinara sampai menangis. Pasti karena Akiko iri! dia pasti tidak suka karena Kak Keinara terkenal di kampus ini!" papar Vivian dengan suara lantang. 

"Kau tau apa tentang aku, hah!" geram Keinara. 

"Ichiko Keinara Eloise, Kakak kandung dari Akiko Eloise. Kau bahkan tidak tau nama asliku, tapi kau sudah berani masuk ke kehidupanku? dasar lantang," tegasnya dengan tatapan penuh amarah. 

"Lalu apa ini?" laki-laki tadi menunjukkan video yang Vivian kirim. Yaitu saat Keinara sedang menangis di hadapan Akiko, dia pikir Keinara sedang dibully. 

"Aku sudah lama tidak bertemu dengan adikku. Dan kau malah menghajar adikku dengan alasan konyol?" cibir Keinara pada laki-laki, yang berstatus sebagai kekasihnya. Kemudian, datanglah Dosen untuk melerai perdebatan. Dia kaget karena baru kali ini Keinara membuat masalah. Sebab, Keinara terkenal dengan prestasi dan kecantikannya. 

"Aku ingin dia dikeluarkan dari kampus ini atau aku yang akan keluar, kalau dia masih ada di sini. Dan anda tahu, Pak, siapa yang harus anda pertahankan," ancam Keinara, karena dia punya prestasi bagus di kampus ini. Pasti, pihak kampus memilih Keinara agar tetap bertahan. 

"You okay?" tanya Keinara lembut. Akiko mengangguk pelan sambil menahan sakit di bagian lengan. 

"Selagi kau bisa bergerak, lawan saja. Jangan biarkan orang lain mengganggumu," ujar Keinara. 

"Aku tidak sepertimu, Kakak. Aku sudah cukup lelah untuk melawan," lirihnya sambil menahan tangis karena tidak mau Keinara khawatir. 

Sedangkan Keinara, langsung memeluk tubuh kurus adiknya erat, seolah menyalurkan kehangatan. Sejak kecil sampai sekarang, rasanya Keinara gagal melindungi Akiko. Tangisan kembali pecah, apalagi saat melihat wajah menyedihkan Akiko yang menyimpan begitu banyak kesedihan. 

"Aku suka pelukan hangat Kakak," ucap Akiko pelan. Ingat sekali, dia hanya punya Keinara sebagai tempat ternyaman waktu kecil dulu. Bahkan sampai sekarang, Akiko ingin terus berada di pelukan itu. 

"Ini," Akiko melepaskan gantungan kunci yang ada di tasnya. 

"Kura-kura?" bingung Keinara. "Lucu, mirip denganmu."

"Tidak, kura-kura tidak mirip denganku," sahut Akiko. 

"Kenapa?" tanya Keinara. Namun, pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman tipis. 

"Aku ingin pulang," kata Akiko. 

"Sekarang? Boleh aku ikut?" hardik Keinara semangat. Namun justru mendapat tolakan mentah-mentah dari Akiko. 

"Aku akan pindah, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi," mata Keinara terbelalak kaget mendengar ucapan itu. Wajahnya langsung berubah marah, seolah tidak terima dengan keputusan Akiko. 

"Aku hanya ingin istirahat sebentar, aku lelah," lanjutnya. 

"Istirahat saja di rumahku. Aku tidak akan membiarkan papa melukaimu lagi," ujar Keinara. Sangat berharap Akiko jauh ikut dengannya dan mereka tidak akan berpisah. 

"Tidak, Kak. Aku ingin sendirian," akhirnya, Keinara hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia juga paham, kalau adiknya itu pasti tidak mau lagi ikut campur urusan keluarga. Jika papanya sampai tau mereka bertemu, maka dia pasti akan marah besar. 

"Jaga dirimu baik-baik, okay?" Keinara mengusap rambut Akiko pelan. Sedangkan Akiko hanya mengangguk, lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Keinara, yang bingung menatap gantungan kura-kura di tangannya. 

"Kura-kura tidak mirip denganku," gumam Keinara mengikuti ucapan Akiko. Karena penasaran, akhirnya ia mencari tahu makna dari kura-kura. Saat melihat maknanya, Keinara langsung terdiam membeku. 

"Simbol kura-kura adalah berumur panjang. Artinya…," lirih Keinara. 

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GSB" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GSB
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sang Pewaris Lumpuh
8.6
Erios Danbert, pria kaya yang lumpuh, harus mencari istri meski hatinya tertutup rapat. Takdir mempertemukannya dengan Emery Olivia La Carlistee, putri keluarga pembunuh bayaran yang mengincar kekuasaan Erios. Awalnya Emery hanya memanfaatkan situasi, namun ia justru terjebak dalam pusaran bahaya yang mengintai sang pewaris. Meski saling curiga dan mengejar ambisi pribadi, benarkah ada cinta tulus saat topeng dan motif asli Emery akhirnya terungkap?
Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Aliya kehilangan segalanya saat kekayaan orang tuanya memicu tragedi berdarah. Gadis lembut ini bertransformasi menjadi dewi kematian yang haus balas dendam demi mengungkap dalang pembunuhan keluarganya. Di tengah teka-teki rumit di sekolah, ia harus mencari Samudra, pangeran bermata biru yang kini tak lagi mengenalinya. Meski penolakan terasa menyakitkan, Aliya tetap mengejar jawaban di balik badai rahasia yang mengancam nyawanya. Darah harus dibayar darah.
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Pasca kematian gurunya, Zhao Erhu menerima wasiat terakhir yang sangat mengejutkan. Ia diperintahkan turun gunung untuk menemui tujuh kakak perempuan seperguruannya. Tugasnya bukan sekadar mencari mereka, melainkan harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Instruksi aneh ini membuat semua orang tercengang, namun sang guru menegaskan bahwa ini adalah misi penyelamatan nyawa. Tanpa melakukan hubungan intim itu, nyawa kakak-kakaknya akan berada dalam bahaya besar.
Sampul Novel Dunia Pelita
9.8
Pelita adalah model tangguh dari keluarga retak yang sangat menjaga kehormatannya. Namun, sebuah insiden tragis merenggut kesuciannya dan menyeretnya ke dalam kehidupan Adhim, pemimpin geng motor sekaligus putra kiai. Meski Adhim berniat menebus dosa dengan pernikahan, Pelita bimbang karena ia tak pernah berencana menjalin hubungan. Perbedaan latar belakang yang kontras menjadi ujian berat. Mampukah cinta tumbuh di tengah konflik dan masa lalu yang kelam?
Sampul Novel GADIS TAWANAN SANG MAFIA
8.9
Selena terjebak dalam nestapa setelah diculik Jeno Kusuma, putra pemimpin mafia Sembilan Naga yang bengis. Aksi nekat ini adalah bentuk balas dendam Jeno karena ayah Selena dianggap bertanggung jawab atas kematian papanya sekaligus mencuri stempel rahasia organisasi. Di tengah siksaan menjadi pemuas nafsu, Selena mencoba berbagai cara termasuk mengakhiri hidup demi lepas dari cengkeraman Jeno. Akankah ia berhasil bebas, atau justru terpaksa tunduk selamanya?
Sampul Novel I'm The Beast
9.0
Rodolfo Silas adalah pembunuh bayaran yang beralih menjadi pelindung desa saat teror makhluk aneh melanda. Di tengah misteri hilangnya manusia setiap bulan purnama, Rodolfo berjuang sendirian menghalau pasukan serigala berkat kemampuan tempurnya yang luar biasa. Namun, nasibnya berubah drastis ketika pasukan elite werewolf menculiknya dan mengubahnya menjadi monster mengerikan. Kini, ia harus menghadapi kenyataan baru sebagai bagian dari kaum yang ia lawan.