
Gadis Kecil Milik Tuan Nicholas
Bab 3
Nicholas pun melirik Amora dari atas ke bawah hingga membuat Amora langsung kesal karena ditatap seperti itu.
“Kau tidak percaya aku ini atlet? Tenagaku besar dan kau sebaiknya jangan macam-macam padaku!”
“Kalau begitu buktikan seberapa besar,” kata Nicholas.
“Ma-maksudmu buktikan bagaimana?”
Nicholas pun segera menahan kedua tangan Amora hingga membuat tubuh Amora bersandar pada jok mobil, sedangkan respon tubuhnya sangat terkejut karena kini wajah Nicholas berada tepat disepan wajahnya. Amora pun langsung ketar-ketir dan ketakutan jika Nicholas akan berbuat macam-macam terhadap dirinya.
“Nick, lepaskan aku!”
Kedua tangan Amora masih dicengkeram kuat oleh kedua tangan Nicholas, tapi ditengah ketakutannya terhadap sosok Nicholas! Dari jarak sedekat ini Amora bisa melihat jelas betapa simetrisnya wajah Nicholas, hidungnya yang mancung dan lancip, bulu matanya yang lentik, halisnya yang tebal dan bibirnya yang tipis .
“Mana katamu tenagamu lebih besar daripada aku? Kau tidak sanggup melawan bukan?”
Nicholas pun melepaskan kedua tangan Amora kemudian duduk kembali dibangkitkan kemudinya, Amora pun hanya terdiam karena masi shock ketika bertatapan seperti tadi dengan Nicholas.
Sepanjang perjalanan mengantar Amora ke rumahnya, Nicholas mengemudikan mobil sambil membalas pesan dari wanita-wanita yang sedang dekat dengannya.
“Nick, bisakah kau tidak bermain handphone dulu? Bahaya!”
“Diamlah gadis kecil, kau tidak berhak mengatur ku! Sebaiknya pikirkan saja cara agar orang tuamu mau membatalkan perjodohan konyol ini!”
“Aku akan bicara pada orang tuaku tapi please letakkan handphone mu dan fokus menyetir!”
Akan tetapi Nicholas tidak mempedulikan ucapan Amora hingga, akhirnya saat lampu merah Nicholas menabrak mobil yang berhenti di depannya.
Brak.
“Shit, apa aku menabrak?”
“Sudah aku bilang kan berhenti bermain handphone,”
“Shut up, ini bukan waktunya untuk mengomel,”
Benar saja pengemudi didepan pun menghampiri Nicholas, dengan santainya Nicholas membuka kaca jendelanya.
“Maaf mobilmu tidak sengaja aku tabrak, aku akan ganti rugi!” kata Nick lalu menyodorkan kartu namanya.
“Baik Tuan, aku akan mengirimkan tagihan service mobilku ke perusahaanmu,”
Permasalahan pun selesai sampai disitu karena menurut Nicholas tidak ada permasalahan yang tidak dapat diselsaikan dengan uang! Tapi Amora yang sudah sangat kesal dan takut bila berada terus didalam mobil bersama dengan Nicholas yang egois dan tidak peduli atas keselamatan berkendara, Amora pun memutuskan untuk turun dari mobil Nicholas mumpung masih lampu merah.
“Hei, kenapa kau turun?”
Amora pun hanya mengacungkan jari tengah pada Nicholas kemudian naik kedalam taxi, Nicholas pun masa bodo jika memang Amora maunya turun dari mobilnya dan memutuskan pulang naik taxi!
Taxi pun tiba di kediaman Amora, kedua orangtuanya yang memang sengaja menunggu Amora di teras rumah mereka karena yakin Amora akan pulang diantar oleh Nicholas, terheran-heran karena Amora justru pulang dengan taxi.
Dengan wajah menahan kesal, Amora pun menghampiri kedua orangtuanya yang telah meninggalkannya dengan laki-laki brengsek seperti Nicholas.
“Mora, kenapa pulang pakai taxi? Nick mana?”
“Nick? Ibu lihat sendiri kan betapa brengseknya dia? Masih mau aku menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti dia?”
“Loh Mora, sebenarnya ada apa? Cerita sama Ayah kenapa Nick tidak mengantarmu?”
“Sudahlah Yah, Mora capek mau istirahat! Dan satu lagi, jangan pernah menanyakan cowok red flag seperti Nicholas lagi padaku!” kata Amora kemudian Amora pun masuk kedalam rumah.
“Ayah, bagaimana ini? Kenapa Amora semakin tidak suka pada Nick?”
“Namanya juga masih anak muda Bu, nanti lama kelamaan cinta akan tumbuh diantara mereka percaya sama Ayah,”
Didalam kamarnya, Amora langsung membanting tas miliknya ke atas ranjang dan terus mengutuk Nicholas karena perilakunya yang sangat menyebalkan.
“Gila, seumur hidup itu lama dan aku tidak bisa membayangkan jika harus menghabiskan sisa usiaku dengan laki-laki red flag seperti Nicholas!” umpat Amora.
Setelah pertemuan makan malam itu, Amora dan Nicholas selama beberapa hari ini tidak lagi bertemu! Padahal kedua orangtua mereka masing-masing hampir setiap hari bertemu, karena memang Ayah dan Ibu Amora sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan launchingnya restoran mereka yang cukup besar, menu andalan restoran orangtua Amora yaitu steak, pasta dan ada juga menu-menu lainnya.
Karena itu orangtua Nicholas sering datang berkunjung ke restoran orangtua Amora, bahkan orangtua Nicholas jugalah yang membantu untuk mempromosikan restoran tersebut agar saat grand p pening nanti restoran langsung ramai yang datang.
Malam harinya, Amora pun duduk bersama kedua orangtuanya yang sedang berbincang-bincang di gazebo belakang rumah mereka.
“Bu,”
“Iya Mora, ada apa?”
“Besok hari pertama Mora ngampus, nanti Ayah atau Ibu yang akan antar?”
“Oh itu, iya besok diantar,”
“Oh ya Yah, kapan Mora dibelikan mobil? Kira kan sudah layak kemana-mana bawa mobil sendiri, biar keren,”
“Biar keren, beli mobil lagi kalau belum terlalu butuh ya buat apa Mora? Kuliah kan bisa naik bis umum, atau diantar Ayah,”
“Sebentar lagi kn restoran Ayah buka, terus butik Ibu juga! Kalian akan sibuk, mana sempat antar jemput Mora,”
“Ya kan tetap bisa antar jemput sesekali, sudah sana tidur nanti kesiangan!” kata Bu Anna.
Amora dan keluarganya memang orang yang lumayan berada, meskipun tidak kaya sekali namun mereka berkecukupan! Akan tetapi memang Amora dan kedua orangtuanya hidup selalu sederhana dan biasa-biasa saja, padahal jika mereka mau memanjakan Amora bisa saja mereka membelikan Amora mobil jadi dia bisa wara-wiri atau foya-foya menghabiskan uang orangtua, tapi didikan kedua orangtua Amora tidak seperti itu.
Pagi harinya, suara alarm pun membangunkan Amora sialnya dia memang sangat sulit untuk bangun pagi! Amora pun bangun sambil bermalas-malasan kemudian mandi.
Setelah mandi dan berpakaian rapih, Amora turun ke lantai satu untuk sarapan! Akan tetapi kedua orangtuanya ternyata tidak ada di meja makan , Amora pun bertanya pada asisten rumah tangganya.
“Jenna, kemana Ayah dan Ibuku?”
“Mereka sudah pergi non, katanya Nyonya ada perlu jadi Tuan antar pagi-pagi sekali, tapi mereka berpesan nanti akan ada yang antar non ke kampus pagi ini,”
“Siapa?”
“Aku!” kata Nicholas sambil berjalan kearah Amora.
Amora yang tadinya membelakangi Nicholas pun menoleh ke belakang dan melihat sosok laki-laki berjas rapih menghampirinya.
“Kau, untuk apa kau ada disini?”
“Entahlah, tapi yang pasti bukan aku yang inginkan aku ada disini karena sungguh ini buang-buang waktu!” kata Nicholas sambil mengambil roti tawar yang telah dioles selai coklat.
“Sudah tau buang-buang waktu ya sudah sana pergi jangan ada di rumahku!”
“Cepat duduk dan habiskan sarapanmu! Aku tidak memiliki banyak waktu, jika bukan karena mommy aku tidak akan mau melakukan hal konyol ini!”
Amora pun rasanya semakin kesal saja karena setiap kalimat yang terucap dari bibir Nicholas selalu membuatnya ingin mencakar wajah laki-laki berpangkat CEO itu.
Anda Mungkin Juga Suka





