
Gadis Barbar dan Cowok Cupu
Bab 3
Nizam baru menyadari, baju seragam kakaknya yang nampak basah dengan warna kuning. Membuat bra yang Ameera pakai kelihatan jelas,
"Seragam kakak kenapa?" tanya Nizam,
"Ketumpahan jus saat minum," jawabnya asal.
"Masa' sampai basah kek githu,?" tentu saja Nizar tak percaya,
Menyadari warna branya jadi kelihatan, Ameera menutup dadanya dengan kedua tangannya yang menyilang.
"Gue ke toilet dulu," pamitnya,
"Gue ambilin seragam olah raga, kakak ganti pake itu aja." ucap Nizam, perhatian. Ameera hanya mengangguk. Nizar mengikuti Ameera yang berjalan menuju toilet, ia tak pedulikan sorotan mata penasaran anak-anak yang berpapasan dengannya.
Nizar berjalan santai, melewati koridor kelas. Ia mengikuti langkah kakaknya menuju toilet.
Jam terakhir pelajaran setelah istirahat kedua di mulai, jam terakhir di kelas 10 IPA1 adalah fisika.
"Selamat siang anak-anak? Bagaimana PR kemarin sudah di kerjakan?" Tanya Pak Farid, selaku guru mata pelajaran fisika.
"Maaf pak, saya nggak mengerjakan," jawab Nizar tanpa ekspresi. Pak Farid tahu, Nizar adalah putra dari pemilik sekolah, namun hanya di ketahui oleh guru-guru saja. Beliaupun mengerutkan kening,
"Kenapa tidak mengerjakan PR?" Tanya Pak Farid,
"Hhmm.. Anu pak, kemarin saya lupa, kalau buku fisika saya ketinggalan di gudang. Pas ngerjain di sana. Tadi pagi pas saya mau ambil, malah ada suara aneh githu pak, kek gini suaranya 'uuhh.. aah... hhmmm' githu pak, saya takut pak mungkin karena gudangnya jarang di pakai, jadi mungkin ada hantunya, jadi saya tidak jadi ambil buku itu. Apakah saya mau di hukum?" Tanya Nizar, panjang lebar, tentu saja membuat teman sekelasnya bingung, sedangkan pak Farid wajahnya nampak pias.
"Ka.. kamu, bagaimana bisa ke gudang,?" tanya Pak Farid, sedikit tergagap.
"Yaelaah Bapak. Udah di bilangin, buku saya ketinggalan di sana," Jawabnya santai. Tentu saja Nizam tak percaya dengan alasan itu.
"Bukan, maksud bapak kenapa buku itu ada di gudang?" tanya Pak Farid, ia nampak sedikit ketakutan.
"Keknya ada yang sengaja nyembunyiin di sana deh," jawabnya santai,
"Yang bener yang mana? ketinggalan atau ada yang nyembunyiin?" Tanya Irsyad,
"Au ah, gue juga lupa," Jawab Nizar, yang membuat teman sekelasnya merasa heran. Nizam dan Galang pun curiga, tapi mereka lebih memilih menahan untuk tak bertanya. "Jadi gimana, pak? apakah saya mau di hukum?" Tanya Nizar, dengan senyum miring, nampak ada ejekan di wajah imutnya.
"Hm, udah lupain, hari ini saya maafkan," Jawa pak Farid, membuang muka, Tentu ia takut jika aksinya dengan siswa kelas 12 itu di ketahui keluarga Narendra, sang pemilik yayasan, bisa tamat riwayatnya.
"Saya nggak salah loch pak, saya juga nggak pernah minta maaf tuh, kalau mau di hukum-hukum saja," Seakan Nizar memberi kode ancaman.
"Sudah ya anak-anak. Kita lanjutkan saja pelajaran," pak Farid mengalihkan perhatian.
"Ckckck... Baiknya kasih tau Daddy nggak ya," Gumamnya. Tentu di dengar semua orang. Membuat pak Farid melotot menatap Nizar, sedangkan Nizam yang duduk di sampingnya merasa curiga dengan kode-kode yang Nizar ungkapkan ke pak Farid.
Nizar tanpa kata ia berdiri, lalu tanpa kata beranjak pergi dari kelas.
"Woi, mau kemana?" Tanya Galang
"Gue mo ke gudang. Kali aja itu suara uh ah uh masih kedengeran, Gue mau nangkap tuch setan," Jawabnya asal.
"Itu bukan suara setan, anjirr! itu suara loe kawinin anak orang," ledek Galang, tentu saja membuat satu kelas gaduh, mendengar ke absurd-an Galang. Mereka semua tertawa.
"Gue masih perjaka asal loe tahu, gue masih bisa jaga keWARASan gue," timpal Nizar, di ambang pintu. Lalu ia melangkah dengan santai ke luar kelas.
Melihat Pak Farid ia sudah nggak ada mood untuk belajar, ia mungkin akan melaporkan perbuatan bejat guru fisikanya, Ia tak ingin sekolah milik keluarganya citranya menjadi buruk, jika ada guru yang berlaku tak baik di sekolahnya. Apalagi yang ia tiduri adalah anak yang cukup berprestasi dan kelihatannya saja pendiam dan sopan, eh taunya. Memang kita tak bisa nebak isi buku hanya dengan covernya saja. Nizar memilih ke kantin, ia yang tadi sudah kelaparan tidak jadi makan, sebab nemani kakaknya.
"Soto betawi satu, lemon tea satu," ucap Nizar, ia sudah di kantin. Di kantin hanya ada beberapa anak yang masih menikmati makan siangnya, sebab ada kelas yang memundurkan istirahatnya karena ada ulangan harian.
Nizar membawa semangkuk soto betawi dan lemon tea, ia berjalan menuju tempat duduk di pojokan. Ia nampak tak peduli, tatapan kakak kelas yang juga masih asyik makan sambil ngobrol di kantin.
"Gila ya, tadi si Dira bisa di bully sama adik kelas yang baru pindah dari Amerika itu." Salah seorang siswa sedang asyik ngobrol, mendengar adik kelas pindahan dari Amerika Nizar langsung paham, yang ia maksud adalah kakaknya.
"Salah sendiri, orang lagi enak makan pakai acara nuangin jus jeruk ke baksonya, udah githu nyiram seragamnya pakai jus jeruk," gadis berambut pendek menimpali.
"Gila, andai saja gue liat langsung, mau ketawa gue liat muka sombongnya Dira yang jadi jelek karena di siram bakso, Hauahahahaha...!!!" Tawa seseorang yang duduk di sebelah gadis berambut pendek,
"Gue salut sama si adik kelas, pen gue kasih hadiah githu. Coz baru kali ini ada yang berani ngelawan Dira, huahahahaha...!"
Nizar tersenyum, ia tahu siapa Dira, gadis kelas 12 IPS2 yang suka semena-mena. Kakaknya di lawan, sumpah nggak bakal menang, kakaknya memang cantik, namun kelihatan tomboy dan wajahnya selalu kelihatan galak. Nizar menghabiskan sotonya dan ia menyesap pelan lemon tea, lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia menuju ke ibu kantin.
"Buk, soto satu, lemon tea satu, sekalian itu lima anak yang duduk di sana gue bayarin, berapa buk?" Tanya Nizar,
"Hhmm..." Ibu kantin diam, ia nampak berpikir.
"Yaudah buk, ini aja. Gue cabut dulu. Bye!" pamitnya, matanya mengedipkan satu mata ke ibu kantin. Ia menyerahkan tiga lembar pecahan warna merah
"Mas ini kelebihan loch," Jawab bu kantin,
"Udah buat ibu aja sisanya," ucapnya, langsung kabur.
Tidak lama kemudian lima gadis yang baru selesai makan sebab sambil ngerumpi menuju ibu kantin, berniat mau membayar makanan mereka.
"Udah di bayarin sama Masnya yang barusan keluar," Ucap ibu kantin, saat kelima anak itu membuka dompet masing-masing. Semua anak melongo, tidak tahu siapa yang di maksud,
"Siapa buk?" Tanya si gadis rambut pendek,
"Ehm.. Kalau di lihat dari seragamnya, kelas 10. Tapi saya lupa namanya, Hhmm siapa ya,?" ibu kantin malah balik bertanya,
"Yeee. Mana kita tahu," balas gadis cantik yang nampak sedikit sipit matanya.
"Apa si kembar itu, ya?" tanya Helen, ia nampaknya tadi melihat Nizar duduk membelakanginya.
"Siapa?" Tanya Yesi.
"Ntar gue tanya Papi," jawab Helen, ia sedikit mengenal Si kembar. Sebab Papinya menjalin hubungan kerja dengannya.
"kok tanya Papi?" Yesi heran,
"Iya, mungkin dia tadi liat gue, jadi kita di traktir karena merasa kenal ama gue," jawab Helen, kePDan.
"Hilih..!" Yesi menonyor kepala Helen, Helen yang di tonyorpun hanya nyengir,
lalu kelima anak itu, kembali masuk ke kelas mereka.
***
Malam itu Nizar tak dapat tidur, pandangannya tertuju ke platfon kamar yang bercat ungu muda, ia menimang-nimang. Antara membicarakan video yang ia rekam, atau memmbiarkannya. Ah membuat kepala Nizar pusing. Swear deh, kepalanya sudah terkontiminasi tadi pagi oleh hal yang belum waktunya ia lihat. Iapun memilih keluar kamar, menuju kamar kakaknya, namun sebelumnya ia mengirim pesan singkat ke kakaknya.
"{udah tidur belum, kak?}" send Kak Amir,
Nampak tanda centang dua, namun masih berwarna abu. Namun tidak ada semenit langsung centang buru, dan ada balasan.
"{blm}" hanya tiga huruf yang kakaknya kirim.
"{gue ke sana}" send Kak Amir. Tanpa nunggu balasan, ia keluar kamarnya, dan menuju kamar pojok, sebab kamar kakaknya ada di pojok, sedangkan kamar Nizar ada di pojok dekat tangga, dan kamar Nizam ada di tengah kamar Nizar dan Ameera.
Anda Mungkin Juga Suka





