Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel FORBIDDEN INLAWS

FORBIDDEN INLAWS

Bagi Alexys, dicintai sepenuh hati adalah impian terbesar. Namun, ia tak menyangka bahwa sosok yang memendam perasaan mendalam padanya justru sang kakak ipar sendiri. Selama ini, Alexys mengira hidupnya akan berjalan normal setelah pernikahan kakaknya, tanpa menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Saat rahasia terlarang ini mulai terkuak, akankah Alexys menyadarinya? Bagaimana nasib hubungan mereka jika Alexys ternyata memiliki rasa yang sama?
Bab
Bagikan

Bab 2

Suara dentingan pintu lift terbuka membuatku urung bertanya. Nanti saja pikirku langsung tanya ke kak Elle. Saking bingungnya aku tidak memperhatikan ujung karpet yang tidak menempel ke lantai. Aku hampir terjerembab kalau saja kak Drian tidak menangkap pinggangku.

"Hati-hati, Lex ..."

Reflek dia menarik perutku sehingga punggungku menabrak dadanya dan aku tersentak. Dadaku berdebar hebat, gila!

Aku sontak melepaskan diri. "S-sorry Kak ..."

Kami berjalan dalam diam sepanjang lorong. Kamar kami terletak paling ujung. Suara karpet meredam langkah kami berdua.

Aku sampai di kamarku dan menoleh sekilas padanya. "Night, Kak ..."

Kak Drian menahan pintu sebelum aku menutupnya.

"Kenapa, Kak?"

Dia menunduk memandang kakiku yang tanpa alas lalu membungkuk. Aku mematung saat dia menempelkan plester dikedua tumit kakiku.

"Jangan kena air dulu. Besok pagi rendam pake air hangat ya ...". Dia lalu bangkit dan mengelus pipiku pelan.

"Night Sis inlaw ..."

Suara pintu tertutup membuatku menghembuskan napas yang sedari tadi ku tahan. Aku masih terpaku dengan apa yang dia lakukan. Sebelumnya dia tidak pernah seperti itu. Aku berjalan dan menjatuhkan tubuhku di sofa kecil.

Apa itu tadi? Apa karena sekarang aku jadi adik iparnya lalu dia berubah jadi perhatian gitu?

Selama kami sering pergi bersama, kak Drian tidak pernah memberi perhatian khusus. Malah kak Brian yang terkesan lebih dekat denganku. Tapi aku sama sekali tidak pernah berdebar seperti tadi.

Aku meraba dadaku, merasakan dentuman jantungku yang tidak biasa. Pasti aku terpengaruh dengan penampilan kak Drian yang berbeda dari hari biasanya. Aku seperti melihat sosok lain. Atau karena dia sekarang jadi iparku sehingga dia merasa aku resmi jadi adiknya sendiri?

Ah entahlah ...

Aku bangkit menuju kamar mandi dan melepas bajuku. Semua pikiran aneh aku buang jauh-jauh. Hari ini aku cukup letih dan aku ingin segera merasakan lembutnya kasur hotel ini.

Setelah mandi aku segera menenggelamkan diriku di ranjang kingsize yang akan aku nikmati sendirian. Dan tak lama pun aku terlelap.

***

Aku bangun dengan perut kacau. Rasanya mual, seolah ada gumpalan tak mengenakkan di tenggorokanku. Aku memukul pelan dada, mengingat bahwa aku hanya sedikit makan saat di acara pesta semalam, aku hampir tidak bisa juah dari kedua mempelai, dan sekarang lambungku meronta minta di isi. Aku memeriksa handphone, sudah pukul setengah delapan pagi, aku bergegas mencuci muka dan mengganti bajuku. Mandinya nanti sajalah ...

Aku menghubungi Mama dan Mama berkata jika mereka sudah turun untuk sarapan pagi. Langkahku gontai berjalan ke arah kamar kak Elle. Aku sudah mengangkat tanganku tapi aku ragu untuk mengetuk pintunya.

Walau aku baru lulus SMA tapi aku tahu apa yang orang lakukan di malam pengantin dan aku tidak ingin jadi pengganggu. Mereka pasti kelelahan setelah pesta kemarin.

Suara pintu tertutup di seberang kamar membuatku menoleh dan aku terkejut melihat kak Drian keluar dari kamar itu.

"Loh? Kok kak An keluar dari situ? Bukannya ...." Aku linglung menunjuk ke kamar kak Elle.

"Aku habis pinjam baju Brian. Mau turun breakfast, Lex?" Wajahnya terlihat santai saat menjawab.

Aku hanya mengangguk. Dan kemudian mengikutinya berjalan ke arah lift. Dia bilang kak Elle masih ngantuk jadi dia turun duluan. Aku tidak bertanya lagi dan langsung bergabung dengan keluargaku.

Aku mendengar beberapa sepupu kak Driann menggodanya dengan bertanya tentang malam pertama dan kenapa istrinya tidak ikut turun.

"Brian kemana, Dri?" tanya tante Lili.

Aku baru sadar tidak melihat pria itu juga sedari tadi.

"Masih tidur kali Mom ...." kak Drian menjawab sambil lalu dan memandangku sekilas. Aku mengerjap dan tersenyum simpul lalu mengalihkan pandanganku. Kenapa aku jadi ngeliatin dia? Aku mengetuk pelan kepalaku dan beranjak mengambil makanan.

Kira-kira satu jam kemudian barulah kami melihat kak Elle turun dengan kak Brian. Kok mereka bisa bareng ya?

Kak Elle duduk di sampingku alih-alih dengan suaminya. Tapi tidak ada yang protes dengan hal itu jadi aku pikir mungkin hanya pikiranku yang berlebihan. Pengantin baru tidaklah harus terlihat selalu bersama. Aku belum mengerti pikiran orang dewasa.

Aku menuntaskan teh susuku saat mendengar Mama mengatakan tentang honeymoon, membuatku teringat untuk bertanya. "Kak ... kok aku ikut ke Jepang sih? Ngapain? Kakak kan honeymoon masa aku ikut?"

"Ya gapapa dong, Dek ... kan kamu lagi libur juga. Sekalian kita jalan-jalan." sahutnya sambil mengunyah.

"Tapi kan kak Elle honeymoon. Aku tau apa itu honeymoon. Tar aku ganggu ...."

"Eh, eh, eh … ternyata kecil-kecil udah tau ya ...." decak kak Brian bergabung dengan kami.

Dan aku tidak menyadari kalau kak Drian sudah duduk terlebih dahulu di depanku.

"Brian juga ikut kok, Dek ...." sahut kak Elle lagi sambil mengambil creamer dan gula untuk kopinya.

"Tapi aneh aja gitu ... masa ikut orang lagi bulan madu?" dengusku.

"Lebih aneh lagi kalau cuma kamu yang ikut sendirian, Dek ...." timpal kak Drian sambil melirik ke arah kakakku.

Kak Brian terbahak mendengar ucapannya dan mereka bertiga kembali larut dalam rencana honeymoon yang membuatku tidak tertarik untuk bergabung. Aku hanya diam entah harus merasa semangat atau tidak.

Aku mau sih ke Jepang, belum pernah aku kesana. Tapi apa iya harus bareng sama orang honeymoon?

Ah, sudahlah. Katanya tiket pesawat kami sudah di beli dan tiga hari lagi berangkat. Berarti memang sejak awal mereka berniat mengajakku, aku hanya berharap tidak akan jadi kambing congek saja.

***

Dugaanku sepertinya tidak terbukti. Akhirnya aku bisa jalan-jalan ke Jepang. Dan tidak buruk juga walau aku pergi dengan pasangan yang sedang berbulan madu. Bisa dibilang aku enjoy dengan liburan ini.

Tapi anehnya, kakakku dan suaminya terlihat bersikap biasa saja. Seperti kalau kami sedang pergi berempat di Jakarta. Apa mereka berusaha bersikap biasa karena tidak enak bila harus bermesraan didepanku dan kak Brian? Padahal aku tidak keberatan kok! Malah gemes, jangankan pelukan, lihat mereka gandengan tangan aja ga pernah!

Tapi urusan mereka lah! Aku pun tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang mereka lakukan jika sedang berdua saja kan?

Sudah empat hari kami di Jepang, dan hampir setiap hari kami jalan-jalan mengunjungi berbagai tempat wisata. Hari ini kami pindah ke Tokyo setelah tiga hari kemarin menginap di Kyoto. Aku sangat bersemangat, tidak sabar ingin menelusuri Harajuku street dan merasakan sensasi Shibuya cross seperti yang sering aku lihat di Utube. Pasti menyenangkan!

Pukul sebelas siang kami sampai di hotel tempat kami menginap. Seperti biasa kami memesan tiga kamar. Aku sendirian, kak Elle dan kan Drian, lalu kak Brian sendiri.

Hari ini kami akan bermain di Universal Studio Japan. Ada Horror Night festival jelang haloween dan kakakku yang pecinta horor amat sangat excited. Aku mau tidak mau ikut karena tidak mungkin aku hanya diam di hotel seorang diri. Walau di sepanjang arena yang kami masuki aku lebih banyak memejamkan mata dipandu kak Brian. Aku benci hal yang berbau horor! Dan tidak ingin liburan ini meninggalkan kenangan menyeramkan.

Ada satu arena bermain dimana kami naik kereta kecil lalu menyusuri lorong gelap. Karena aku tidak mau duduk di depan aku terpaksa duduk dengan kak Drian sedangkan kak Elle dengan kak Brian duduk didepan dengan antusias.

Bulu kudukku merinding saat kereta itu mulai berjalan, kursinya berderit seolah dibuat sengaja demikian demi menambah kesan usang. Suara-suara aneh yang aku yakin akan membuatku tidak akan bisa tidur malam ini terus terdengar. Tanpa sadar aku merapatkan tubuhku ke arah kak Drian.

"Kenapa, Dek? Takut?" tanyanya sambil berbisik, wajahnya mulai hilang saat kami memasuki lorong gelap.

Dan aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Aku memejamkan mata dan menutup telingaku saat mahluk-mahluk seram versi jepang mulai terlihat. Aku meringkuk berusaha menunduk sepanjang perjalanan kereta yang terasa lama. Aku mendengar suara teriakan dan tertawa kakakku. Aku tidak suka seperti ini dan jadi menyesal karena ikut. Seharusnya aku lebih memilih menunggu diluar daripada ketakutan seperti ini.

Entah sudah berapa menit akhirnya kami sampai di ujung wahana dan aku baru sadar kalau sedari tadi kak Drian memelukku.

"Kenapa Dek muka kamu pucet gitu?" tanya kakakku.

Aku bangkit berdiri dan kan Drian terus memapahku. Kakakku malah cuek jalan terus didepan sambil bergurau dengan kak Brian. Ga cemburu apa dia liat suaminya meluk cewek lain?

"Udah aman, Dek ..." sahut suara berat itu dan aku mendongak melihatnya menatapku sambil tersenyum. Aku menjaga jarak walau aku masih meresakan tangannya menempel ke punggungku.

"Thanks Kak ... sumpah aku takut banget tadi ...." Ada rasa lega saat sudah ada ditempat terbuka.

Dia terkekeh pelan mendengar jawabanku. Aku mengedarkan pandangan mencari kak Elle.

"Kak Elle sama kak Bri kemana?"

Dia hanya mengangkat bahu lalu menyerahkan sebotol air mineral dingin yang langsung ku teguk setengahnya.

"Masih mau keliling?" tanyanya.

Aku menggeleng "Cari tempat duduk dulu yuk,Kak ... pusing kepalaku."

Kak Drian menarik tanganku melewati kerumunan disana. Aku rasa aku bisa tersesat dengan ramainya pengunjung wisata itu malam hari.

Kami duduk sambil memperhatikan hiruk pikuk keramaian orang tanpa terlihat tanda-tanda kakakku.

Notifikasi ponselku berbunyi.

Kak Elle

(Dek ... kakak masih mau keliling. Kalau kamu cape kamu balik duluan aja sama Drian ya ....)

Hah? Aku melongo menatap isi pesan itu. Kakakku itu aneh bin ajaib. Kalau udah seru aja lupa ama adek ama suami sendiri! Huh ....

Aku menunjukan isi pesan itu ke kak Drian dan dia bangkit berdiri.

"Aku juga udah capek. Biarin aja deh dua mahluk horor itu keliling."

Aku hanya tertawa mendengarnya dan mengikutinya jalan. Kak Drian kembali menggandeng tanganku. Takut terpisah katanya dan aku membiarkannya. Walau rasanya sedikit aneh karena kami tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mungkin dia juga lebih menjagaku karena sekarang aku adik iparnya kan?

Setelah diluar kak Drian mencegat taksi lewat dan mengatakan nama hotel kami pada supirnya. Walau kami semua tidak bisa bahasa Jepang tapi wajib hapal nama hotep dan jalannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan aku merasa ngantuk karena lelah seharian jalan-jalan.

Mataku terasa berat dan aku sudah terlelap saat taksi baru meluncur sepuluh menit.

Aku merasa kepalaku ditarik ke samping dan aku bersandar pada sesuatu yang nyaman. Entah berapa lama kami dijalan hingga aku merasakan saat tubuhku terangkat. Mataku terasa berat hingga aku tidak sanggup membukanya. Hembusan napas hangat terasa dipipiku seolah membuai lelapku.

Aku mengerang pelan saat tubuhku menempel di ranjang empuk dan aku tidak sudi membuka mata. Usapan ringan terasa di pipiku. Aku merasa sepatuku sedang dibuka. Dan aku tidak merasakan apa-apa lagi. Aku kembali terlelap.

***

Aku menarik napas berusaha memasok udara yang hilang seketika di paru-paru saat aku terbangun pagi ini. Mataku membelalak tidak percaya saat membuka selimut.

Aku hanya memakai bra dan celana dalam!

Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi?

-tbc-

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy
9.0
Alexandria Serenata Atmadya pindah ke megapolitan demi pekerjaan baru, namun sifatnya yang sulit menolak justru menjebaknya dalam skema Ragnala Firaz Himawan. Ragnala yang manipulatif memaksa Alexandria masuk ke pernikahan berkedok kesepakatan rahasia. Di tengah persaingan kecerdikan mereka, muncul fakta mengejutkan tentang seorang anak berusia empat tahun. Alexandria pun harus menghadapi taktik manis Ragnala demi memperjuangkan cinta di tengah pahitnya masa lalu.
Sampul Novel CATATAN SENJA
8.9
Senja Abhinaya menganggap Langit Ananta sebagai sosok yang selalu ada namun pasti akan pergi. Sebaliknya, Langit melihat Senja bak keindahan sesaat yang akan kembali pada waktu yang tepat. Meski memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang, semesta justru mempertemukan mereka secara tidak sengaja. Inilah kisah perjalanan takdir antara Langit dan Senja, sebuah romansa masa muda yang disaksikan oleh semesta dalam jalinan rencana Tuhan yang tak terduga.
Sampul Novel GAIRAH CINTA CEO MESUM
9.8
Jeff Sebastian, CEO ternama pendiri Tokopedio, jatuh hati pada Sarah melalui aplikasi kencan. Sarah mengaku sebagai lulusan Harvard sekaligus pemilik restoran sukses. Namun, Sarah tiba-tiba menghilang dan memutus kontak karena identitas aslinya hanyalah Viola, seorang supervisor marketing biasa. Viola merasa tak pantas bersanding dengan miliarder dan memilih bersembunyi. Ternyata, Jeff sudah mengetahui rahasia itu. Ia tetap mengejar Viola demi mendapatkan cintanya.
Sampul Novel Istri ku tengil
8.8
Alexa memiliki paras menawan namun perilaku nakalnya sering memicu emosi. Meski hidup bergelimang harta, ia merasa kesepian akibat kurangnya kasih sayang dari orang tua yang gila kerja. Demi mencari perhatian, Alexa kerap berbuat onar hingga akhirnya ia dipaksa masuk ke dalam jerat perjodohan. Akankah pernikahan dengan pria misterius ini mengubah sikap iblisnya menjadi manis, atau justru ia akan semakin membuat kekacauan dalam kehidupan rumah tangga barunya?
Sampul Novel Istri Yang Di Jual Suami
8.2
Kehidupan Audrey Giana Maheswari, ibu muda berusia 25 tahun, berubah menjadi mimpi buruk akibat salah memilih pasangan. Di tengah perjuangan mencari biaya pengobatan bagi anaknya yang sakit parah, ia harus menghadapi kenyataan pahit memiliki suami pemabuk yang tidak setia. Puncaknya, sang suami tega menjual Audrey kepada pria asing demi mendapatkan uang instan dalam semalam. Akankah Audrey mampu bertahan menghadapi pengkhianatan keji ini?
Sampul Novel Lebih Baik Kita Berpisah
8.6
Ranti memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya meski masih mencintai sang suami. Alasan utamanya bukanlah orang ketiga, melainkan penolakan keras dari keluarga mertua yang tak pernah menghargai pengorbanannya. Meski ia telah bekerja keras demi kesejahteraan mereka, Ranti justru dituduh melakukan guna-guna. Saat terpuruk, keluarga suaminya pun tak pernah peduli. Kini, ia harus mempertimbangkan apakah meninggalkan ayah dari enam anaknya adalah jalan terbaik.