Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel FENGYING LIE

FENGYING LIE

Kejadian tak terduga menimpa Fengying saat dirinya tiba-tiba diserang oleh dua pria misterius. Pukulan keras salah satu dari mereka membuatnya jatuh tersungkur hingga pergelangan tangannya terluka. Dengan penuh amarah, Fengying bangkit dan memaki pelaku yang menyerangnya. Namun, lawan justru memberikan ancaman mematikan. Mereka menuntut Fengying untuk segera menyerahkan pedang miliknya, atau nyawanya akan dihabisi di tempat itu juga tanpa ampun.
Bab
Bagikan

Bab 2

Namun, kedua orang itu langsung mengejar Fengying yang berusaha menghindari mereka. Hingga pada akhirnya, Fengying pun terdesak di ujung pantai tersebut.

"Aku tidak dapat lari lagi," kata Fengying dalam hati.

Ia sudah tidak dapat lari ke mana-mana lagi, di belakangnya terdapat sebuah sungai besar yang alirannya langsung mengarah ke laut lepas. Di pinggiran sungai tersebut banyak ditumbuhi tanaman liar dan terdapat banyak batu karang yang terjal menghalangi langkah Fengying.

"Hentikan, Anak muda!" seru salah seorang dari mereka.

Dua orang pria bertubuh kekar terus berlari mendekati Fengying yang tengah mencari jalan untuk lari menghindari kepungan dua orang penjahat itu.

"Hai, Anak muda! Mau kabur ke mana lagi kau?" bentak pria yang satunya lagi. "Sudah tidak ada lagi jalan bagimu untuk menghindari kami," sambungnya dengan suara yang semakin keras.

"Aku tidak mau berurusan dengan kalian. Sebaiknya kalian pergi dari hadapanku!" seru Fengying.

Fengying sudah tidak dapat berlari lagi, karena di ujung pantai itu terdapat tebing menjulang tinggi yang berbatasan langsung dengan hutan belantara di ujung pulau Jo Xien.

Dalam keadaan terdesak seperti itu, tentu sangat menyulitkan Fengying. Ia sudah tidak bisa lari ke mana-mana lagi.

"Aku tidak mungkin bisa menaiki tebing ini," desis Fengying tampak putus asa.

Setelah berada di hadapan Fengying, kedua orang itu langsung menghentikan langkah. Kemudian mereka mentertawakan Fengying yang tengah kebingungan mencari jalan kabur.

"Kau tidak mungkin bisa selamat dari kami!" seru penjahat itu.

"Serahkan saja pedangmu itu! Jika kau masih menginginkan untuk hidup!" ancam pria yang satunya lagi sambil melangkah ke arah Fengying yang sudah dalam keadaan pasrah.

"Aku tidak akan menyerah. Kalian langkahi dulu mayatku jika menginginkan pedang ini!" tantang Fengying penuh keterpaksaan.

Sudah tidak ada jalan lain lagi baginya selain berontak dan melakukan perlawanan terhadap dua orang penjahat tersebut.

"Besar sekali nyalimu, Anak muda!" bentak salah seorang dari mereka. Kemudian tertawa lepas, "Hahaha!"

Sikap mereka tampak sombong, dan sangat menyepelekan kemampuan Fengying.

Fengying menjadi semakin gusar, ia merasa dipandang rendah oleh dua orang penjahat itu.

"Majulah! Hadapi aku jika kalian menginginkan pedang ini!" tantang Fengying. "Aku harap kalian mau bertarung denganku satu lawan satu!" sambungnya nekat memberanikan diri untuk menghadapi kedua penjahat itu.

"Baiklah kalau memang seperti itu. Ayo maju!" jawab salah seorang di antara dua penjahat itu, menantap tajam sambil melangkah mendekati Fengying.

"Semoga Dewa melindungiku," kata Fengying dalam hati.

Fengying langsung melangkah maju, dan berhadap-hadapan dengan orang tersebut. Seakan-akan, dirinya mampu menghadapi penjahat itu. Sejatinya, ia hanya bermodalkan keberanian dan nekat saja.

Fengying belum terlalu mahir dalam ilmu bela diri. Namun, karena terdesak, ia pun menjadi berani untuk menghadapi kedua penjahat tersebut, tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.

Beberapa saat kemudian, salah seorang dari kedua penjahat itu, mulai melancarkan serangannya. Ia menghantam tubuh Fengying dengan pukulan yang sangat keras. Sehingga Fengying terjatuh, Fengying masih harus banyak belajar lagi dalam olah kanuragan. Ia tidak dapat mengantisipasi pergerakan lawannya, sehingga dengan sangat mudah lawannya melakukan serangan terhadap dirinya.

"Kau tidak mungkin dapat mengalahkan kami, Anak muda. Ayo, keluarkan kemampuanmu!" tantang penjahat itu bersikap sombong.

"Jangan sombong kalian! Aku tidak mungkin menyerah begitu saja, aku masih sanggup menghadapi kalian!" bentak Fengying.

Fengying langsung bangkit sambil memegangi bahu kirinya. Sejatinya, ia merasakan sakit akibat pukulan keras dari lawannya. Akan tetapi, Fengying tidak mau menyerah begitu saja.

"Bedebah! Rupanya kau ini memang menginginkan mati di tangan kami, Anak muda!" bentak pria bertubuh kekar yang ada di hadapan Fengying.

Orang itu kembali melakukan serangan, kali ini ia hendak menghajar perut Fengying dengan pukulan yang sangat keras.

Namun, Fengying berhasil mengelak dari serangan pria tersebut, dan balas memukul kepala orang itu hingga jatuh tersungkur di hadapannya.

Kawannya tidak tinggal diam melihat pemandangan seperti itu. Ia pun segera maju dengan melancarkan serangan yang cukup deras ke arah Fengying.

Fengying semakin terdesak oleh tekanan orang tersebut. Pukulan bertubi-tubi hinggap di kepalanya, hingga menyebabkan Fengying jatuh lagi, kepalanya membentur batu karang.

Fengying mengerang kesakitan, darah segar mulai mengalir dari kepalanya hingga membanjiri wajahnya. Seketika, pandangannya pun mulai redup terhalang derasnya darah yang mengalir menutupi penglihatannya.

"Aku sudah mengingatkanmu, bahwa kami bukanlah lawan yang sepadan bagimu, Anak muda."

"Habisi saja anak muda itu!" seru kawannya yang tadi terjatuh kena pukulan dari Fengying.

"Baiklah, akan kubuat pingsan saja anak muda ini. Setelah itu, kita ambil saja pedangnya!" sahut pria yang mengenakan ikat kepala putih.

Dengan serta-merta, ia langsung mengayunkan kaki kanannya, kemudian menendang keras kepala Fengying hingga menyebabkan pemuda itu tak sadarkan diri tersungkur dengan luka yang sangat parah di bagian kepala dan bahunya.

Kedua orang penjahat itu tertawa lepas merayakan kemenangan mereka yang sudah berhasil membuat Fengying tak sadarkan diri.

"Ambil pedangnya! Jika ada uang di dalam sakunya kau ambil sekalian!"

Kawannya langsung melangkah menghampiri Fengying yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, tergeletak di atas pasir pantai. Kemudian, orang itu membungkuk hendak mengambil pedang yang menyanggul di punggung Fengying.

Belum sempat meraih pedang yang menyanggul di punggung pemuda naas itu. Tiba-tiba saja, datang sebuah serangan mendadak tanpa wujud nyata, sehingga orang itu pun jatuh bergelimpangan.

Penjahat yang satunya lagi tampak bingung ketika melihat kawannya jatuh tiba-tiba.

"Kenapa kau terjatuh, Tong Yie?"

"Entahlah, aku pun tidak tahu. Ada yang memukul kepalaku secara tiba-tiba," jawab Tong Yie sambil meringis menahan rasa sakit.

Kawannya langsung membantu Tong Yie untuk bangkit. "Aneh sekali, apa yang terjadi denganmu?" tanya pria berikat kepala putih itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Tong Yie.

"Entahlah, sepertinya ada kekuatan gaib yang melindungi anak muda ini."

"Sebaiknya kita pergi saja dari tempat ini!"

"Aku pikir memang seperti itu. Kita harus segera meninggalkan tempat ini, sebelum makhluk gaib yang melindungi anak muda itu membunuh kita!" sahut Tong Yie tampak ketakutan dan panik.

Dengan demikian, kedua orang tersebut langsung meninggalkan tempat itu. Mereka tampak ketakutan, menganggap bahwa ada makhluk gaib yang melindungi Fengying.

Fengying dibiarkan begitu saja, tubuhnya tergeletak di atas pasir. Kepalanya terluka parah akibat benturan keras mengenai batu karang yang ada di tepi pantai tersebut.

Setelah dua orang penjahat itu berlalu dari hadapan Fengying. Tiba-tiba saja, muncul sesosok makhluk menyeramkan. Wajahnya merah, bertaring, dan memiliki tanduk di atas kening menjulur ke depan.

"Kasihan anak muda ini, Tapi sayang sekali, aku tidak mungkin bisa membawanya," desis makhluk tersebut memandangi Fengying yang tergeletak di hadapannya. "Pedangnya itu memiliki kekuatan tinggi, jika aku menyentuh tubuh anak muda ini. Maka tubuhku akan hangus terbakar. Semoga ada manusia yang baik yang datang ke tempat ini, dan mau menolong anak muda ini," sambungnya.

* * *

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta, Pengkhianatan dan Dendam: Godaan Mantan Istri yang Tak Tertahankan
8.0
Dikhianati hingga menjadi pembunuh, Maria menceraikan James dan pergi membawa dendam. Enam tahun berselang, ia kembali bersama rival mantan suaminya dengan identitas baru yang tangguh. Meski bekerja sama dengan James hanya demi membalas sakit hatinya, Maria tidak menyadari bahwa ia justru masuk ke dalam jebakan pria itu. Di tengah pergolakan antara gairah dan niat balas dendam, mereka terjebak dalam permainan perasaan yang sangat berbahaya.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan mobil, punggungku hancur oleh luka bakar. Selama empat tahun masa komanya, aku setia merawatnya. Namun setelah sadar, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat aku diserang preman. Baginya, aku hanyalah beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya menuju bandara.
Sampul Novel Kronik Kenikmatan Abadi
9.6
Di balik harapan tinggi dan persahabatan baru, ia menyembunyikan sisi manipulatif yang luar biasa. Meski terlihat mendukung orang-orang di sekitarnya, ia sebenarnya mengendalikan setiap aspek kehidupan mereka melalui rangkaian pesta mewah dan perjalanan panjang. Dengan mendominasi festival serta hari libur di kotanya, ia mengubah tatanan dunia demi kepentingan pribadi. Bagi para mantan penjahat, ia adalah mimpi buruk nyata yang mengatur takdir mereka dalam kendali absolut.
Sampul Novel My Devil Bodyguard
8.1
Apa jadinya jika pelindungmu justru berubah menjadi ancaman terbesar? Vello, mahasiswi yang kerap menjadi korban perundungan, seharusnya merasa aman saat Dexter hadir sebagai pengawalnya. Namun, pria itu malah menjerumuskannya ke dalam penderitaan yang tak terbayangkan. Meski disiksa dalam jeratan neraka yang diciptakan Dexter, Vello justru memilih tetap bertahan. Walau ada banyak kesempatan untuk melarikan diri, ia enggan beranjak dari sisi sang bodyguard.
Sampul Novel Peace Hunter
7.9
Rid Archie, pemuda dari desa manusia, mulai meragukan ketenangan dunianya. Di balik kedamaian yang tampak, perbudakan dan diskriminasi rasial masih merajalela. Situasi ini hanyalah gencatan senjata rapuh antara ras Iblis dan Malaikat yang bisa pecah kapan saja menjadi perang besar. Menyadari bahwa keharmonisan saat ini hanyalah semu, Rid bertekad kuat untuk menciptakan kedamaian sejati. Namun, mampukah ia mewujudkan impian mustahil itu di tengah dunia yang penuh konflik?
Sampul Novel Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum
9.0
Hidup Liana hancur saat Revan, suaminya, menjualnya demi utang judi kepada Dominic Valente, bos mafia Eropa yang kejam. Meski dikenal dingin, Dominic justru terpikat oleh ketulusan Liana hingga mereka menghabiskan malam bersama yang membuahkan janin. Sebelum Dominic sempat menyelamatkannya, Revan menyeret Liana kembali untuk disiksa sebagai budak. Saat Dominic membakar dunia mencarinya, Liana harus bertahan di tengah penderitaan demi darah daging sang mafia.