
Fallin Love With Jerk Billionaire
Bab 3
Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Akhirnya hari yang telah ditunggu-tunggu oleh Thania pun tiba, ia sudah tidak sabar untuk menetap dan memulai hari-harinya di New York. Sedari pagi ia telah siap dan berdandan dengan cantik. Ia tampak casual mengenakan jaket denim dipadukan dengan skinny jeans navy yang membalut tubuh tinggi langsingnya dengan sempurna. Rambut panjangnya diikat menjadi satu ke belakang, walau sederhana namun tidak mengurangi kadar kecantikan yang dimiliki gadis itu. Ia memang tidak perlu tampil mencolok hanya untuk mendapatkan perhatian orang-orang disekitarnya, karena aura seorang Thania Callasandra Moran telah menguar dan membuatnya selalu menjadi pusat perhatian.
Kedua orangtuanya dengan setia menemani Thania di ruang tunggu VVIP yang khusus disiapkan untuk mereka. Sesampainya di New York Thania akan dijemput oleh sang kakak nanti, sedangkan disini Thomas dan Clara yang melepas kepergiannya menggunakan private jet milik keluarga Moran.
"Apa Thatha tidak mau berubah pikiran dan membatalkan pernerbanganmu nak?" bujuk Thomas kepada sang putri tercinta
Thomas mencoba peruntungannya kembali, siapa tau sang putri akan mengurungkan niatnya untuk pergi dan menetap di New York.
Thania terkekeh sambil memeluk lengan sang ayah dengan erat "Ayolah Pa, aku hanya pergi untuk mencoba pengalaman baru dan hidup mandiri bukannya berperang"
"Kau tidak kasihan pada Papa? Siapa yang akan menjaga pria tua ini?" tanya Thomas menunjuk dirinya sendiri
Thomas pun memasang mimik wajah sesedih mungkin yang sangat terlihat dibuat-buat sambil menatap putri cantiknya.
"Siapa yang berani mengatakan jika Papaku ini sudah tua? Papa masih sangat tampan dan gagah. Aku yakin Papa bahkan bisa menggaet gadis-gadis muda diluar sana" bisik Thania sambil tergelak
Clara berdecak dan ikut menimpali percakapan ayah dan anak itu "Jangan mengajari Papamu yang tidak-tidak"
Thania dan Thomas kompak memasang cengiran lebar kearah sang ibu. Clara yang melihatnya hanya bisa memutar bola matanya jengah. Thania tertawa lalu mengangkat tangannya, memperlihatkan jari telunjuk dan tengah membentuk simpul peace.
"Ma ayolah aku hanya bercanda. Lagipula Papa itu bucinnya Mama jadi tidak mungkin macam-macam. Dan Papa tolong jaga baik-baik Mamaku yang paling cantik sejagat raya ini ya" kini giliran Clara yang mendapat pelukan hangat dari sang putri tersayang
Clara mengelus puncak kepala putrinya dengan penuh kasih dan mengecup kedua pipi Thania diikuti oleh Thomas juga melakukan hal yang sama.
"Ingat jaga kesehatan kalian. Papa juga jangan terlalu sibuk di kantor dan harus sering-sering menemani Mama di rumah"
Thania berkata sambil melirik jam tangan Rolex yang menghiasi pergelangan tangan kirinya—hadiah ulang tahun yang diberikan oleh sang ayah tahun lalu.
"Ah, sepertinya sudah waktunya berangkat" lanjut Thania lagi pada kedua orangtuanya
Gadis itu lalu bersiap-siap memasuki jet dan tak lupa melambai sambil memberikan ciuman jauh kepada Thomas dan Clara.
"Thatha selalu ingat pesan Papa. Jika nanti ada pria yang mendekatimu beritahu Papa, mengerti?" Teriak Thomas sambil melambaikan tangannya kearah Thania
Clara yang mendengar itu, hanya bisa geleng kepala melihat tingkah protektif Thomas pada anak gadisnya.
"Sayang, apa yang kau khawatirkan hm? Reno pasti akan menjaga adiknya dengan baik disana"
Clara menggandeng tangan suaminya setelah melihat private jet keluarga Moran telah lepas landas.
"Aku hanya takut putri kecilku jatuh cinta dan pergi meninggalkanku bersama laki-laki asing. Aku tidak rela jika dia diambil orang kelak" balas Thomas dengan suara lirih
"Semuanya memang harus dilalui oleh Putri kita sayang, kau tidak bisa selamanya menjaga dan melindunginya. Suatu saat nanti tugas itu akan digantikan oleh orang lain, dia pasti akan bertemu pasangannya dan membina rumah tangga. Kita tidak bisa mengekang ataupun melarangnya lagi, karena itu kehidupan Thania dan demi kebahagiaannya juga" jelas Clara menenangkan hati sang suami tercinta
Thomas pun hanya bisa menghela nafas dan membenarkan perkataan istrinya. Bagaimana pun putri kecilnya sekarang telah beranjak dewasa dan mungkin sebentar lagi akan menemukan pendamping hidupnya. Sampai saat itu tiba ia hanya perlu menerima dan berlapang dada untuk melepas putri kesayangannya itu.
***
Bandara Internasional John F. Kennedy
Akhirnya jet pribadi keluarga Moran mendarat di Bandara Internasional John F Kennedy (JFK) setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 20 jam. Bandara JFK merupakan gerbang penumpang udara internasional tersibuk di Amerika Utara dan merupakan bandara tersibuk keenam di Amerika Serikat. JFK sendiri terletak di kawasan Queens di New York, Amerika Serikat. Setelah melalui imigrasi guna pengecekan paspor serta visa, Thania segera melangkahkan kaki jenjangnya ke sebuah gerai eskrim yang terdapat di dalam bandara tersebut. Sejak turun dari jet tadi ia sangat ingin menikmati eskrim vanilla yang merupakan rasa favoritnya. Dengan langkah anggun Thania menyusuri terminal kedatangan di bandara itu sambil menikmati eskrim ditangannya.
Thania mengedarkan pandangan guna mencari-cari keberadaan sang kakak yang telah berjanji akan menjemputnya disini. Karena tak kunjung melihat batang hidung Reno, ia pun memutuskan untuk segera menghubungi kakaknya itu. Thania yang sibuk memainkan ponselnya tidak memperhatikan jalan hingga tanpa sengaja menabrak seorang pria. Sialnya lagi eskrim vanilla yang ia pegang tumpah dan mengenai jas pria tersebut.
"Ups, my bad. I'm so sorry Sir" ucap Thania sambil merogoh tissue dari dalam tas Gucci kesayangannya
Saat ia hendak membersihkan noda eskrim pada jas pria itu tangannya ditepis kasar. Karena pria yang ditabraknya itu memiliki tinggi sekitar 187cm sedangkan Thania hanya 170cm jadilah ia harus mendongakkan wajah agar dapat menatap langsung orang tersebut.
Seketika itu juga Thania seakan terhipnotis, bagaimana tidak pria yang ditabraknya ternyata pria yang sangat tampan. Sepasang mata tajam bernetra hijau yang terkesan dingin, hidung mancung, bibir tipis berwarna merah alami dengan rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu halus membingkai sempurna wajah rupawannya. Ditambah setelan kerja mahal berwarna hitam mengkilap yang dipadukan dengan kemeja putih membalut tubuh atletisnya. Begitu tampan dan mempesona.
Melihat tak ada respon dari pria di depannya Thania bergumam pelan "Apa mungkin bisu?"
Pria itu pun ikut memperhatikan Thania secara seksama dari ujung kaki hingga kepala gadis itu, dengan masih menampilkan raut wajah datarnya.
"Percuma cantik tapi sayang bodoh" dengus si pria sebelum melangkah lebar pergi meninggalkan Thania diikuti beberapa pengawalnya
Selang beberapa detik akhirnya Thania tersadar akan kata-kata yang dilontarkan pria tadi padanya hingga membuat wajahnya cemberut menahan jengkel.
"Percuma tampan tapi sayang menyebalkan" teriak Thania lantang pada sang pria yang sudah berjalan menjauh
Entah didengar atau tidak ia tidak peduli. Ia terlanjur kesal dengan pria arogan yang sayangnya amat tampan itu. Disaat Thania sedang tersungut-sungut, tiba-tiba sepasang lengan kekar memeluk tubuhnya dari arah belakang.
"Long time no see sweetheart" bisik Reno—sang kakak sambil memeluk adik kesayangannya
"Kak Reno, i miss youuuu..." pekik Thania melengking bahkan sampai membuat perhatian beberapa orang teralih kepada sepasang kakak beradik itu
"Kau sudah besar sekarang little girl. Aku tidak menyangka adikku yang cerewet bisa menjadi secantik ini" Reno mencubit hidung Thania dengan gemas
Thania hanya mencebik diperlakukan seperti anak kecil, apalagi saat Reno mengacak-ngacak rambutnya. Kebiasaan yang selalu kakaknya itu lakukan sejak mereka kecil.
"Kau baru sadar? Dari dulu aku memang sudah cantik. Kak Reno juga makin tampan, sudah berapa gadis yang kau permainkan?" goda Thania sambil merapikan kembali rambutnya
Selain cerewet Thania memang bermulut tajam, ia tidak akan segan mengucapkan apa yang diinginkan atau dipikirkannya secara terang-terangan.
"Jangan sok tau princess, kakakmu ini pria baik-baik dan berbudi luhur jadi tidak mungkin mempermainkan wanita" Reno terkekeh pelan menanggapi ucapan Thania
"Kalau Mama yang mendengarnya mungkin dia akan percaya, tapi aku sudah sangat tau dan hafal sepak terjangmu diluar sana"
Reno tersenyum geli memandang wajah cantik di depannya yang terlihat menggemaskan. Ia hanya tergelak sambil menggandeng tangan sang adik untuk menuju mobilnya yang telah berada di parkiran khusus VVIP.
"Kau ingin mampir ke mansion atau langsung ke penthouse Tha?" tanya Reno setelah mereka berdua berada di dalam mobil mewah itu
"Langsung ke penthouse saja, Valerie sudah menungguku disana" sahut Thania
Gadis itu tampak sibuk melakukan selfie lewat ponsel pintarnya dan langsung dikirim kepada kedua orangtuanya.
"Siapa Valerie?" Reno mengernyit melirik Thania penasaran
"Kak Reno tidak ingat Valerie? Dia sahabatku saat kuliah, kau juga sempat berkenalan dengannya waktu mengunjungiku di Inggris"
Reno tampak berpikir sambil mengetuk-ngetuk jemarinya pada setir kemudi "Apa dia gadis yang cantik? Biasanya aku selalu mengingat gadis cantik dan juga seksi"
Thania mendengus "Terlalu banyak wanita dalam hidupmu, jelas saja kau tidak bisa mengingat semuanya"
Reno pun terkekeh sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, benar-benar berbahaya pikir Reno. Adiknya tau segala hal tentang dirinya, jika sampai gadis itu mengadukan kepada ibu mereka bisa tamat riwayatnya. Reno bergidik ngeri, membayangkannya saja sudah horor. Bisa-bisa ia diseret paksa untuk pulang ke Indonesia jika ibunya tau reputasi Reno di kalangan para wanita teman kencannya selama ini.
Anda Mungkin Juga Suka





