Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Escape

Escape

Emily Watson, model cantik yang terancam bahaya, berada dalam lindungan Ethan Davis, pemilik perusahaan keamanan elite di London. Dr. Watson menyewa jasa Ethan demi menjaga rahasia besar putrinya, sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Di tengah pelarian dan ancaman pembunuhan, Ethan dan Emily harus menghadapi trauma masa lalu mereka yang kelam. Akankah cinta yang lahir dari kegelapan ini mampu menyelamatkan mereka dari intrik mematikan yang mengintai di setiap sudut kota?
Bab
Bagikan

Bab 3

Galeri Hoxton memiliki lokasi yang sempurna di jantung pusat teknologi, seni, desain, dan perbelanjaan East Central London. Ini adalah dalam jarak berjalan kaki singkat dari LSO St.Lukes, The Barbican Centre dan Clerkenwell.

Pagelaran foto yang terselenggara malam itu terasa memikat dengan karya-karya seniman terkenal. Dan betapa membanggakan-nya bagi seorang Alec Dorantes, karyanya dapat bersanding dengan karya seniman hebat.

Alec dengan percaya diri memamerkan hasil bidikannya pada Emily Watson. Bagi Alec totalitas Emily membuatnya terlihat berbeda dari model lainnya yang pernah menjadi objek kamera Alec. Bagi Emily rasanya luar biasa, ia tak pernah membayangkan jika foto dirinya akan dilihat banyak orang.

“Sang penari,” desis seorang pria yang suaranya tertangkap telinga Emily.

Emily berputar di atas tumit sepatunya, mencari asal suara, tak ada yang ia yakini sebagai pemilik suara sebelum ia menoleh ke belakang dari balik bahunya yang terbuka. Emily mengenakan gaun terusan dengan belahan gaun yang memamerkan kemulusan kulit pahanya.

Seorang pria berdiri di hadapan foto yang memamerkan sosok Emily. Foto dirinya yang terpampang tepat di salah satu sisi dinding ruang pameran. Pria itu menatap dengan lurus dan terlihat mengagumi pemandangan yang dilihatnya yang membuat Emily bertanya-tanya dalam benaknya, bermunculan banyak tanya saat seorang pria memandangi foto seorang wanita tanpa sehelai benang di tubuhnya. Apa yang ada di kepala pria itu?

“Pria berengsek,” gumam Emily dalam pikirannya saat menatap pria itu dari samping. Membuat Emily gagal mengenali pria itu. Tampilan yang rapi dan berkelas. Emily juga mendapati sosok Alec, ia muncul dan berdiri bersebelahan dengan pria yang ia amati sedari tadi sebelum posisi mereka membelakangi Emily.

“Alec… dia dan pria itu…” Emily berjalan beberapa langkah mendekat tanpa ingin bergabung. Rasa penasaran menggelitik dalam dirinya.

“Aku akan ambil semua foto-foto ini.” Suara itu membuat Emily terbelalak. Ia tak yakin dengan yang didengarnya. “Anda yakin, Sir?” Alec bertanya dengan suara yang sama tak yakinnya dan pria itu terlihat mengangguk. Alec mengedarkan pandangan matanya dan mendapati Emily yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya. Alec hanya tersenyum dengan wajah yang jelas tampak bahagia.

“Baiklah, saya akan proses segera. Terima kasih untuk partisipasinya. Selamat malam,” ucap Alec sebelum meninggalkan pria itu dan Emily langsung membalikan posisi berdirinya, memunggungi Alec. Emily tak ingin terlihat. Memasang telinga untuk bisa mendengar langkah lebar mendekati yang ia yakin milik Alec. Suara sol sepatu di atas lantai marmer. Emily tetap tenang seakan tak terjadi apa pun, meski pun degup jantungnya mulai merambat naik, ia menghela napas dalam, lalu menghembuskan perlahan sampai Alec meraih bahunya.

“Pria itu membeli semua gambarmu, cantik,” bisik Alec mirip desis ular.

Mata indah Emily membulat saat Alec tersenyum bahagia lalu Emily menoleh ke samping dan keduanya berhadap-hadapan. Alec tersenyum puas, membuat Emily menatapnya curiga, sebelum ia ikut tersenyum. Tampak bahagia terpancar jelas di wajah Alec.

“Tak sia-sia kerjaku, kan?” ledek Emily sambil mengerlingkan sebelah matanya yang indah. Alec tersenyum dengan bibir sedikit terangkat. Ia melirik pria pembeli foto-fotonya dari balik bahu Alec. Pria itu masih berdiri di sana. Memandangi foto lainnya. Emily kembali menatap Alec yang berdiri tepat di hadapannya.

“Aku yakin pria itu hyper seks,” desis Emily sambil senyum-senyum.

“Sssttt...” desis Alec dengan jari telunjuk di depan bibirnya. Emily terkejut dan keningnya mengernyit sambil menatap Alec dengan curiga sampai Alec meraih lengannya untuk mendekatkan kepalanya di samping kepala Emily.

“Kau tahu siapa pria itu?” desis Alec kian pelan, Emily melirik dari sudut matanya sebelum menggelengkan kepala cepat. Lebih tepatnya Emily tak peduli siapa pun pria itu.

“Aku tak tahu, dan tak ingin tahu,” timpal Emily sambil berbalik, melepaskan tangan Alec sebelum matanya terbelalak mendapati apa yang ia lihat. Sosok yang teramat ia kenal. Langkahnya berhenti. “Oh my God, Jack,” desis Emily dengan mata membulat.

Dengan gerakan cepat Emily berbalik untuk beranjak pergi, berputar di atas tumit sepatunya sebelum melangkah dengan lebar.

“Aku harus pergi,” ujar Emily cepat sambil meninggalkan tempatnya dan juga Alec. Meninggalkan sahabatnya dengan terperangah.

“Em!” pekik Alec dan Emily mengabaikannya. Emily langsung berlari ke arah pintu belakang, dan selang se-detik teriakan terdengar, dan kali ini bukan dari Alec. “Em!!!” pekik Jack dari pintu masuk. Suara Jack memekik ke seluruh ruangan membuat beberapa pasang mata menoleh mencari asal suara. Ruangan yang berubah gaduh.

Emily terus berlari melewati semua ruangan hingga menuju pintu keluar seiring detak jantungnya yang berubah cepat secara perlahan dan membuat napasnya terasa sesak. Berlari dan terus berlari, hanya itu yang terbesit dalam pikiran Emily saat itu. Ia mencoba mengatur napas di sela kakinya yang berlari dengan sepatu bertumit.

Dengan ketergesa-gesaan-nya bahkan ia nyaris menabrak seorang tamu lainnya saat ia berusaha melewati pintu keluar, tubuh Emily nyaris terhuyung mencari keseimbangan, ia mematung sambil berpegang pada dinding, dan rintik hujan menyambut dirinya saat ia berhasil membuka pintu belakang gedung galeri.

“Oh Tuhan,” desis Emily dengan napas terengah-engah.

“Em!!!” teriak Jack dari dalam.

Emily menoleh sebentar hingga suara yang memekik dan bayangan masa lalu yang kembali berpendar membuat Emily menoleh dengan napasnya yang naik turun. Tenggorokan-nya mulai terasa panas. Ia menatap kakinya yang memerah lalu menoleh ke belakang sekali lagi, terdengar suara orang yang berlari. Derap kaki yang berhamburan.

“Tak ada pilihan lain,” kata Emily pada dirinya sendiri. Ia melepaskan sepatu yang dikenakannya dan meninggalkannya begitu saja secara sembarangan sebelum ia kembali berlari dalam balutan gaun hitam. Menarik gaunnya sedikit ke atas, memudahkan kakinya untuk melangkah. Emily coba menjaga keseimbangan tubuhnya di antara licinnya aspal jalanan. Terus berlari dan terus berlari semampu kakinya.

“Masuklah. Cepat!” Perintah seseorang dari dalam mobil.

Sebuah mobil mewah SUV hitam yang muncul tiba-tiba, berhenti tak jauh dari arah Emily berlari. Mata indah Emily terbelalak. Sesosok pria di balik kemudi yang menurunkan kaca mobilnya. Selintas lalu bayangan semburat wajah, Emily mencoba mengingat wajah pria di dalam mobil. Pria itu melambaikan tangannya untuk memintanya segera masuk ke dalam mobil.

“Ayo cepat, pria itu mengejarmu!” perintahnya dengan suara lantang.

“Em!” teriak Jack.

Emily menoleh ke belakang, sebelum berlari mendekat ke arah mobil. Pintu terbuka lebar di hadapannya sementara Jack kian mendekat. Tak ada waktu untuk berpikir, Emily langsung memasuki mobil dan selang beberapa detik mobil pun meluncur cepat seraya pintu yang tertutup dengan hentakan keras.

“Em! Sial!” Jack memekik dan masih terdengar hingga ke telinga Emily yang tergopoh-gopoh. Napasnya naik turun dengan cepat dan peluh telah membasahi keningnya. Emily mencoba untuk mengatur napas meski terasa berat.

“Aku rasa kau sudah aman.” ucap pria di balik kemudi.

Emily melirik-nya sebelum keduanya bertatapan dan ia memalingkan wajahnya ke depan. Emily masih berusaha untuk bisa bernapas. Hanya tersisa se-bait kata, PRIA YANG SAMA.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dear Clarissa
7.9
Dua tahun di Jakarta, Clarissa berjuang menjaga diri saat bekerja di dunia malam. Namun, misinya terancam sejak Arga hadir sebagai pelanggan tetap yang obsesif. Meski Clarissa benci laki-laki dan berusaha menjauh, kekuasaan Arga membuatnya sulit lepas. Arga harus berjuang keras menaklukkan hati Clarissa sambil menghadapi penolakan saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa menyerah pada pria yang kini terus menguntit hidupnya itu?
Sampul Novel Iblis Suci
9.1
Limdong tumbuh dalam kesendirian setelah orang tuanya tewas demi publik. Ia dikucilkan karena kekuatan dahsyat di tubuhnya sering meledak tanpa kendali, membuat siapapun tak berdaya melawannya. Demi mencari perhatian yang tak pernah ia dapatkan, Limdong sering bertingkah jahil, namun hal itu justru membuatnya kian dijauhi. Di tengah pengasingan sosial tersebut, ia memendam ambisi besar untuk menjadi Raja. Mampukah sosok yang dianggap aneh ini meraih mimpinya?
Sampul Novel Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak
8.5
Tepat di hari peringatan kematian putra kami, aku memergoki suamiku bersama selingkuhannya yang hamil di vila kami. Dia mengirim undangan pernikahan dan rekaman suara yang menghinaku karena trauma masa lalu. Terungkap pula bahwa dia sengaja membuatku mandul demi mencari pewaris lain. Dia bermimpi membangun dinasti baru yang megah, namun aku akan datang ke pesta pernikahannya bukan untuk memberi restu, melainkan menghancurkan segalanya hingga menjadi abu.
Sampul Novel Pengabdian dan Cinta
9.7
Ardi dan Bara, dua polisi tangguh, berusaha keras menjatuhkan jaringan mafia yang kebal hukum. Namun, tragedi melanda saat Bara tertembak dalam pengintaian hingga misi mereka berujung kegagalan fatal. Situasi kian pelik ketika Ardi menemukan fakta mengejutkan bahwa Arkana, sang gembong kriminal, adalah ayah kandungnya sendiri. Terjepit antara loyalitas keluarga dan tugas negara, Ardi akhirnya memilih melepaskan tembakan maut demi pengabdiannya pada hukum.
Sampul Novel Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka
7.9
Niat tulus Lira menolong seorang pelayan justru menjerumuskannya ke dalam bahaya besar. Setelah disergap oleh kelompok misterius, ia jatuh ke kekuasaan Arion, pria dingin yang mendambakan keintiman. Setiap momen bersama Arion terasa mencekam namun memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Kini, Lira terjebak dalam dilema antara menuruti hasrat Arion yang meluap atau mencari cara untuk kabur dari jeratan pria tersebut sebelum segalanya terlambat.
Sampul Novel Axia : The Assassin Who Reincarnated Into The Princess of The Kingdom
8.3
Ma Axia adalah pembunuh bayaran legendaris asal Tiongkok yang dijuluki iblis berdarah dingin. Setelah dikhianati dan dibunuh oleh organisasinya sendiri karena masalah gaji, jiwanya justru terbangun di raga permaisuri Kerajaan Zhang yang dikenal lemah dan tidak berguna. Berbekal ingatan serta keahlian dari kehidupan masa lalunya, Axia kini harus menjalani takdir baru dalam tubuh seorang wanita yang dianggap sampah. Bagaimana sang pembunuh profesional menghadapi dunia barunya ini?